Headlines News :

    Histats

    Pagerank

    Wayang Kulit

    Sesuai dengan namanya, wayang kulit terbuat dari kulit binatang (kerbau, lembu atau kambing).
    Wayang kulit dipakai untuk memperagakan Lakon lakon dari Babad Purwa yaitu Mahabarata dan Ramayana, oleh karena itu disebut juga Wayang Purwa.
    Sampai sekarang pertunjukan wayang kulit disamping merupakan sarana hiburan juga merupakan salah satu bagian dari upacara-upacara adat seperti: bersih desa, ngruwat dan lain-lain.
    Untuk mementaskan pertunjukan wayang kulit secara lengkap dibutuhkan kurang lebih sebanyak 18 orang pendukung.
    Satu orang sebagai dalang, 2 orang sebagai waranggana, dan 15 orang sebagai penabuh gamelan merangkap wiraswara.
    Rata-rata pertunjukan dalam satu malam adalah 7 sampai 8 jam, mulai dari jam 21.00 sampai jam 05.00 pagi.
    Bila dilakukan pada siang hari pertunjukan biasanya dimulai dari jam 09.00 sampai dengan jam 16.00.
    Tempat pertunjukan wayang ditata dengan menggunakan konsep pentas yang bersifat abstrak.
    Arena pentas terdiri dari layar berupa kain putih dan sebagai sarana tehnis di bawahnya ditaruh batang pisang untuk menancapkan wayang.
    Dalam pertunjukan wayang kulit, jumlah adegan dalam satu lakon tidak dapat ditentukan. Jumlah adegan ini akan berbeda-beda berdasarkan lakon yang dipertunjukkan atau tergantung dalangnya.
    Sebagai pra-tontonan adalah tetabuhan yang tidak ada hubungannya dengan ceritera pokok, jadi hanya bersifat sebagai penghangat suasana saja atau pengantar untuk masuk ke pertunjukan yang sebenarnya.
    Sebagai pedoman dalam menyajikan pertunjukan wayang kulit biasanya seorang dalang akan menggunakan pakem pedalangan berupa buku pedalangan.
    Namun ada juga dalang yang menggunakan catatan dari dalang-dalang tua yang pengetahuannya diperoleh lewat keturunan.
    Meskipun demikian, seorang dalang diberi kesempatan pula untuk berimprovisasi, karena pakem pedalangan tersebut sebenarnya hanya berisi inti ceritera pokok saja.
    Untuk lebih menghidupkan suasana dan membuat pertunjukan menjadi lebih menarik, improvisasi serta kreativitas dalang ini memegang peranan yang amat penting.
    Warna rias wajah pada wayang kulit mempunyai arti simbolis, akan tetapi tidak ada ketentuan umum di sini.
    Warna rias merah untuk wajah misalnya, sebagian besar menunjukkan sifat angkara murka, akan tetapi tokoh Setyaki yang memiliki warna rias muka merah bukanlah tokoh angkara murka.
    Jadi karakter wayang tidaklah ditentukan oleh warna rias muka saja, tetapi juga ditentukan oleh unsur lain, seperti misalnya bentuk (patron) wayang itu sendiri.
    Tokoh Arjuna, baik yang mempunyai warna muka hitam maupun kuning, adalah tetap Arjuna dengan sifat-sifatnya yang telah kita kenal. Perbedaan warna muka seperti ini hanya untuk membedakan ruang dan waktu pemunculannya.
    Arjuna dengan warna muka kuning dipentaskan untuk adegan di dalam kraton, sedangkan Arjuna dengan warna muka hitam menunjukkan bahwa dia sedang dalam perjalanan.
    Demikian pula halnya dengan tokoh Gatotkaca, Kresna, Werkudara dan lain-lain.
    Perbedaan warna muka wayang ini tidak akan diketahui oleh penonton yang melihat pertunjukan dari belakang layar.
    Alat penerangan yang dipakai dalam pertunjukan wayang kulit dari dahulu sampai sekarang telah banyak mengalami perubahan sesuai dengan perkembangan teknologi.
    Dalam bentuk aslinya alat penerangan yang dipakai pada pertunjukan wayang kulit adalah blencong, kemudian berkembang menjadi lampu minyak tanah (keceran), petromak, sekarang banyak yang menggunakan lampu listrik.

    reff  : http://ki-demang.com

    Wayang

    Dalam bahasa Jawa, kata wayang berarti "bayangan".
    Jika ditinjau dari arti filsafatnya "wayang" dapat diartikan sebagai bayangan atau merupakan pencerminan dari sifat-sifat yang ada dalam jiwa manusia, seperti angkara murka, kebajikan, serakah dan lain-lain.
    Sebagai alat untuk memperagakan suatu ceritera wayang.
    Dimainkan oleh seorang dalang yang dibantu oleh beberapa orang penabuh gamelan dan satu atau dua orang waranggana sebagai vokalisnya.
    Di samping itu, seorang dalang kadang kadang juga mempunyai seorang pembantu khusus untuk dirinya, yang bertugas untuk mengatur wayang sebelum permainan dimulai dan mempersiapkan jenis tokoh wayang yang akan dibutuhkan oleh dalang dalam menyajikan ceritera.
    Fungsi dalang di sini adalah mengatur jalannya pertunjukan secara keseluruhan.
    Dialah yang memimpin semua crewnya untuk luluh dalam alur ceritera yang disajikan.
    Bahkan sampai pada adegan yang kecil-kecilpun harus ada kekompakan di antara semua crew kesenian tersebut.
    Dengan demikian, di samping dituntut untuk bisa menghayati masing-masing karakter dari tokoh-tokoh yang ada dalam pewayangan, seorang dalang juga harus mengerti tentang gending (lagu).
    Desain lantai yang dipergunakan dalam permainan wayang berupa garis lurus, dan dalam memainkan wayang, seorang dalang dibatasi oleh alas yang dipakai untuk menancapkan wayang.
    Dalam pertunjukan wayang dikenal set kanan dan set kiri.
    Set kanan merupakan kumpulan tokoh tokoh atau satria-satria pembela kebenaran dan kebajikan, sedangkan set kiri adalah tempat tokoh-tokoh angkara murka.
    Walaupun demikian ketentuan ini tidak mutlak.
    Untuk memperagakan berbagai setting/dekorasi dan pergantian adegan biasanya dipakai simbol berupa gunungan.
    Pertunjukan wayang bisa dilakukan pada siang maupun malam hari, atau sehari semalam.
    Lama pertunjukan untuk satu lakon adalah sekitar 7 sampai 8 jam.
    Instrumen musik yang digunakan dalam mengiringi pertunjukan wayang secara lengkap adalah gamelan Jawa pelog dan slendro, tetapi bila tidak lengkap yang biasa digunakan adalah dan jenis slendro saja.
    Vokalis putri dalam iringan musik yang disebut waranggono bisa satu orang atau lebih.
    Di samping itu, masih ada vokalis pria yang disebut penggerong atau wirasuara, yang jumlahnya 4 sampai 6 orang dan bertugas mengiringi waranggana dengan suara "koor".
    Vokalis pria ini bisa disediakan khusus atau dirangkap oleh penabuh gamelan, sehingga penabuh gamelan adalah juga penggerong.
    Dalam menentukan lakon yang akan disajikan seorang dalang tidak bisa begitu saja memilih sesuai dengan kehendaknya.
    Ia dibatasi oleh beberapa faktor.
    Diantaranya adalah:
    (1) jenis wayang yang dipergunakan sebagai alat peragaan;
    (2) kepercayaan masyarakat sekitarnya;
    (3) keperluan diadakannya pertunjukan tersebut.
    Jenis wayang akan mempengaruhi lakon yang bisa disajikan lewat wayang-wayang tersebut.
    Seperangkat wayang kulit misalnya hanya dapat dipakai untuk memainkan ceritera-ceritera dari Mahabarata atau Ramayana.
    Wayang kulit tidak bisa di pakai untuk menampilkan babad Menak.
    Sebaliknya perangkat wayang golek tidak dapat digunakan untuk melakonkan Mahabarata, ini dikarenakan tokoh tokoh yang ada dalam wayang-wayang tersebut memang sudah dibuat untuk pementasan lakon-lakon (ceritera-ceritera) tertentu.
    Dalam suatu masyarakat, terutama masyarakat pedesaan, yang masih patuh pada tradisi dan adat istiadat peninggalan para leluhurnya, banyak kita jumpai pantangan-pantangan atas suatu lakon tertentu untuk pertunjukan wayang.
    Sebagian masyarakat misalnya beranggapan bahwa lakon Bharatayuda tabu untuk dipentaskan dalam upacara perayaan perkawinan.
    Apabila pantangan ini dilanggar, orang yakin bahwa keluarga tersebut akan mengalami kesusahan.
    Entah akan ada anggota keluarga yang meninggal, akan terjadi perceraian dalam keluarga tersebut, atau malapetaka lainnya.
    Di daerah-daerah pedesaan juga masih banyak kita jumpai upacara-upacara adat yang diselenggarakan dengan pertunjukan wayang.
    Untuk suatu upacara tertentu, lakon wayang yang dipentaskan juga tertentu.
    Pada upacara bersih desa, yaitu selamatan sesudah panen, lakon yang harus dipertunjukkan adalah "Kondure Dewi Sri" (Pulangnya Dewi Sri), sedangkan untuk upacara ngruwat lakonnya adalah Batara Kala.
    Selain batasan-batasan ini lakon wayang sering kali juga ditentukan oleh permintaan penanggap2 atau atas kesepakatan antara pihak dalang dan penanggap wayang.
    Mengenai asal mula timbulnya wayang di Indonesia pendapat dari beberapa ahli dapat digunakan sebagai pedoman untuk memaparkan hal ini.
    Salah satu pendapat yang didukung oleh data yang kuat disampaikan oleh Sri Mulyono. Mengenai timbulnya pertunjukan wayang ini Mulyono berpendapat bahwa pertunjukan wayang kulit dalam bentuknya yang asli, yaitu dengan segala sarana pentas / peralatannya yang serba sederhana, yang pada garis besarnya sama dengan yang sekarang kita lihat, yaitu dengan menggunakan wayang dari kulit diukir (ditatah), kelir, blencong, kepyak, kotak dan lain sebagainya, sudah dapat dipastikan berasal dan merupakan hasil karya orang Indonesia asli di Jawa, sedangkan timbulnya jauh sebelum kebudayaan Hindu datang.
    Pertunjukan wayang kulit ini pada dasarnya merupakan upacara keagamaan atau upacara yang berhubungan dengan kepercayaan untuk menuju "Hyang", dilakukan di malam hari oleh seorang medium (syaman) atau dikerjakan sendiri oleh kepala keluarga dengan mengambil ceritera-ceritera dari leluhur atau nenek moyangnya.
    Upacara ini dimaksudkan untuk memanggil dan berhubungan dengan roh nenek moyang guna memohon pertolongan dan restunya apabila keluarga itu akan memulai atau telah selesai menunaikan suatu tugas.
    Upacara semacam ini diperkirakan timbul pada jaman Neohithik Indonesia atau pada ± tahun 1500 SM.
    Dalam perkembangannya kemudian upacara ini dikerjakan oleh seorang yang memiliki keahlian, atau menjadikannya suatu pekerjaan tetap, yang disebut dalang.
    Dalam kurun waktu yang cukup lama pertunjukan wayang kemudian terus berkembang setahap demi setahap namun tetap mempertahankan fungsi intinya, yaitu sebagai suatu kegiatan yang berhubungan dengan sistim kepercayaan dan pendidikan.
    Berkenaan dengan perkembangan kesenian wayang ini sebagai ibu kota kerajaan Mataram Baru, Yogyakarta telah memberikan tempat hidup yang subur bagi kesenian wayang, sebagaimana tercermin dan didirikannya sekolah dalang Habiranda pada tahun 1925 di kota ini.
    Kini para dalang lulusan sekolah Habiranda banyak tersebar di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta.
    Mengenai jenis wayang yang dikenal oleh masyarakat Jawa, ternyata ada beberapa jenis yaitu: Wayang Kulit/ Purwa; Wayang Klithik; Wayang Golek dan Wayang Orang.

    Hadits, Sunnah, Khabar, dan Atsar

    Hadits, Sunnah, Khabar, dan Atsar
    1. Pengertian Hadits
    Menurut bahasa kata hadits memiliki arti;
    1) al jadid minal asyya (sesuatu yang baru), lawan dari qodim. Hal ini mencakup sesuatu (perkataan), baik banyak ataupun sedikit.
    2) Qorib (yang dekat)
    3) Khabar (warta), yaitu sesuatu yang dipercakapkan dan dipindahkan dari seseorang kepada orang lain dan ada kemungkinan benar atau salahnya. Dari makna inilah diambil perkataan hadits Rasulullah saw.
    Secara terminologi, ahli hadits dan ahli ushul berbeda pendapat dalam memberikan pengertian hadits. Di kalangan ulama hadits sendiri ada juga beberapa definisi yang antara satu sama lain agak berbeda. Ada yang mendefinisikan hadits, adalah : “Segala perkataan Nabi SAW, perbuatan, dan hal ihwalnya”. Ulama hadits menerangkan bahwa yang termasuk “hal ihwal”, ialah segala pemberitaan tentang Nabi SAW, seperti yang berkaitan dengan himmah, karakteristik, sejarah kelahiran, dan kebiasaan-kebiasaanya. Ulama ahli hadits yang lain merumuskan pengertian hadits dengan :
    “Segala sesuatu yang bersumber dari Nabi, baik berupa perkataan, perbuatan, taqrir, maupun sifatnya“.
    Ulama hadits yang lain juga mendefiniskan hadits sebagai berikut : “Sesuatu yang didasarkan kepada Nabi SAW. baik berupa perkataan, perbuatan, taqrir, maupun sifatnya”.
    Dari ketiga pengertian tersebut, ada kesamaan dan perbedaan para ahli hadits
    dalam mendefinisikan hadits. Kasamaan dalam mendefinisikan hadits ialah
    hadits dengan segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi SAW, baik perkataan maupun perbuatan. Sedangkan perbedaan mereka terletak pada penyebutan terakhir dari perumusan definisi hadits. Ada ahli hadits yang menyebut hal ihwal atau sifat Nabi sebagai komponen hadits, ada yang tidak menyebut. Kemudian ada ahli hadits yang menyebut taqrir Nabi secara eksplisit sebagai komponen dari bentuk-bentuk hadits, tetapi ada juga yang memasukkannya secara implisit ke dalam aqwal atau afal-nya.
    Sedangkan ulama Ushul, mendefinisikan hadits sebagai berikut :
    “Segala perkataan Nabi SAW. yang dapat dijadikan dalil untuk penetapan hukum syara’”.

    Berdasarkan rumusan definisi hadits baik dari ahli hadits maupun ahli ushul, terdapat persamaan yaitu ; “memberikan definisi yang terbatas pada sesuatu yang disandarkan kepada Rasul SAW, tanpa menyinggung-nyinggung prilaku dan ucapan shabat atau tabi’in. Perbedaan mereka terletak pada cakupan definisinya. Definisi dari ahli hadits mencakup segala sesuatu yang disandarkan atau bersumber dari Nabi SAW, baik berupa perkataan, perbuatan, dan taqrir. Sedangkan cakupan definisi hadits ahli ushul hanya menyangkut aspek perkataan Nabi saja yang bisa dijadikan dalil untuk menetapkan hukum syara’.
    Jamaknya adalah hudtsan, hidtsan dan ahadits. Jamak ahadits-jamak yang tidak menuruti qiyas dan jamak yang syad-inilah yang dipakai jamak hadits yang bermakna khabar dari Rasulullah saw. Oleh karena itu, hadist-hadits Rasul dikatakan ahadits al Rosul bukan hudtsan al Rosul atau yang lainnya.
    Dalam hal ini, Allah juga menggunakan kata hadits dengan arti khabar, dalam firman-Nya;
    ??????? ????? ???? ?? ????? ??????.
    “maka hendaklah mereka mendatangkan khabar yang sepertinya jika mereka orang yang benar” (QS. At Thur; 24).
    Hadits menurut istilah ahli hadits hampir sama (murodif) dengan sunah, yang mana keduanya memiliki arti segala sesuatu yang berasal dari Rasul, baik setelah dingkat ataupun sebelumnya. Akan tetapi kalau kita memandang lafadz hadits secara umum adalah segala sesuatu yang diriwayatkan dari Nabi Muhammad saw. setelah diangkat menjadi nabi, yang berupa ucapan, perbuatan, dan taqrir beliau. Oleh sebab itu, sunah lebih umum daripada hadits.
    Menurut ahli ushul hadits adalah segala pekataan Rosul, perbuatan dan taqrir beliau, yang bisa bisa dijadikan dalil bagi hukum syar’i. Oleh karena itu, menurut ahli ushul sesuatu yang tidak ada sangkut pautnya dengan hukum tidak tergolong hadits, seperti urusan pakaian.
    Sesuai difinisinya ada tiga macam hadits :
    1. Hadits yang berupa perkataan (Qauliyah), contohnya, sabda Nabi SAW ;
    “Orang mukmin dengan orang mukmin lainnya bagaikan sebuah bangunan, yang satu sama lain saling menguatkan.” (HR. Muslim)
    2. Hadits yang berupa perbuatan (fi’liyah) mencakup perilaku beliau, seperti tata cara shalat, puasa, haji, dsb. Berikut contoh haditsnya, Seorang sahabat berkata : “Nabi SAW menyamakan (meluruskan) saf-saf kami ketika kami melakukan shalat. Apabila saf-saf kami telah lurus, barulah Nabi SAW bertakbir.” (HR. Muslim)
    3. Hadits penetapan (taqririyah) yaitu berupa penetapan atau penilaian Nabi SAW terhadap apa yang diucapkan atau dilakukan para sahabat yang perkataan atau perbuatan mereka tersebut diakui dan dibenarkan oleh Nabi SAW. contohnya hadits berikut, seorang sahabat berkata ; “Kami (Para sahabat) melakukan shalat dua rakaat sesudah terbenam matahari (sebelum shalat maghrib), Rasulullah SAW terdiam ketika melihat apa yang kami lakukan, beliau tidak menyuruh juga tidak melarang kami ” (HR. Muslim)
    2. Pengertian sunah
    Sunah menurut bahasa adalah perjalanan (jalan yang ditempuh), baik terpuji atau tidak. Jamaknya adalah sunan.
    Sunah menurut istilah Muhadditsin adalah segala sesuatu yang berasal dari Nabi baik berupa perkataan, perbuatan, taqrir, sifat, kelakuan, maupun perjalanan hidup, baik setelah diangkat ataupun sebelumnya.
    Sunah menurut istilah ahli ushul fiqh adalah segala sesuatu yang berasal dari Nabi-selain al Qur’an- baik berupa perkataan, perbuatan ataupun taqrir yang bisa dijadikan dalil bagi hukum syar’i.
    Suah menurut istilah Fuqoha adalah sesuatu yang diterima dari Nabi Muhammad saw, yang bukan fardlu ataupun wajib.
    Sunnah menurut bahasa berarti : “Jalan dan kebiasaan yang baik atau yang jelak”. Menurut M.T.Hasbi Ash Shiddieqy, pengertian sunnah ditinjau dari sudut bahasa (lughat) bermakna jalan yang dijalani, terpuji, atau tidak. Sesuai tradisi yang sudah dibiasakan, dinamai sunnah, walaupun tidak baik.
    Berkaitan dengan pengertian sunnah ditinjau dari sudut bahasa, perhatikan sabda Rasulullah SAW, sebagai berikut :
    “Barang siapa mengadakan sesuatu sunnah (jalan) yang baik, maka baginya pahala Sunnah itu dan pahala orang lain yang mengerjakan hingga hari kiamat. Dan barang siapa mengerjakan sesuatu sunnah yang buruk, maka atasnya dosa membuat sunnah buruk itu dan dosa orang yang mengerjakannya hingga hari kiamat” (H.R. Al-Bukhary dan Muslim).
    Sedangkan, Sunnah menurut istilah muhadditsin (ahli-ahli hadits) ialah segala yang dinukilkan dari Nabi SAW., baik berupa perkataan, perbuatan, maupun berupa taqrir, pengajaran, sifat, kelakuan, perjalanan hidup baik yang demikian itu sebelum Nabi SAW., dibangkitkan menjadi Rasul, maupun sesudahnya. Menurut Fazlur Rahman, sunnah adalah praktek aktual yang karena telah lama ditegakkan dari satu generasi ke generasi selanjutnya memperoleh status normatif dan menjadi sunnah. Sunnah adalah sebuah konsep perilaku, maka sesuatu yang secara aktual dipraktekkan masyarakat untuk waktu yang cukup lama tidak hanya dipandang sebagai praktek yang aktual tetapi juga sebagai praktek yang normatif dari masyarakat tersebut.
    Menurut Ajjaj al-Khathib, bila kata Sunnah diterapkan ke dalam masalah-masalah hukum syara’, maka yang dimaksud dengan kata sunnah di sini, ialah segala sesuatu yang diperintahkan, dilarang, dan dianjurkan oleh Rasulullah SAW., baik berupa perkataan maupun perbuatannya. Dengan demikian, apabila dalam dalil hukum syara’ disebutkan al-Kitab dan as-Sunnah, maka yang dimaksudkannya adalah al-Qur’an dan Hadits.
    Pengertian Sunnah ditinjau dari sudut istilah, dikalangan ulama terdapat perbedaan. Ada ulama yang mengartikan sama dengan hadits, dan ada ulama yang membedakannya, bahkan ada yang memberi syarat-syarat tertentu, yang berbeda dengan istilah hadits. Ulama ahli hadits merumuskan pengertian sunnah sebagai berikut :
    “Segala yang bersumber dari Nabi SAW., baik berupa perkataan, perbuatan, taqrir, tabiat, budi pekerti, atau perjalanan hidupnya, baik sebelum diangkat menjadi Rasul, seperti ketika bersemedi di gua Hira maupun sesudahnya”.
    Berdasarkan definisi yang dikemukakan di atas, kata sunnah menurut sebagian ulama sama dengan kata hadits. “Ulama yang mendefinisikan sunnah sebagaimana di atas, mereka memandang diri Rasul SAW., sebagai uswatun hasanah atau qudwah (contoh atau teladan) yang paling sempurna, bukan sebagai sumber hukum. Olah karena itu, mereka menerima dan meriwayatkannya secara utuh segala berita yang diterima tentang diri Rasul SAW., tanpa membedakan apakah (yang diberitakan itu) isinya berkaitan dengan penetapan hukum syara’ atau tidak. Begitu juga mereka tidak melakukan pemilihan untuk keperluan tersebut, apabila ucapan atau perbuatannya itu dilakukan sebelum diutus menjadi Rasul SAW., atau sesudahnya.
    Ulama Ushul Fiqh memberikan definisi Sunnah adalah “segala yang dinukilkan dari Nabi Muhammad SAW., baik berupa perkataan, perbuatan maupun taqrirnya yang ada sangkut pautnya dengan hukum”. Menurut T.M. Hasbi Ash Shiddieqy, makna inilah yang diberikan kepada perkataan Sunnah dalam sabda Nabi, sebagai berikut :
    “Sungguh telah saya tinggalkan untukmu dua hal, tidak sekali-kali kamu sesat selama kamu berpegang kepadanya, yakni Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya”
    (H.R.Malik).
    Perbedaan pengertian tersebut di atas, disebabkan karena ulama hadits memandang Nabi SAW., sebagai manusia yang sempurna, yang dijadikan suri teladan bagi umat Islam, sebagaimana firman Allah surat al-Ahzab ayat 21, sebagai berikut :
    “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu”.
    Ulama Hadits membicarakan segala sesuatu yang berhubungan dengan Nabi Muhammad SAW., baik yang ada hubungannya dengan ketetapan hukum syariat Islam maupun tidak. Sedangkan Ulama Ushul Fiqh, memandang Nabi Muhammad SAW., sebagai Musyarri’, artinya pembuat undang-undang wetgever di samping Allah. Firman Allah dalam al-Qur’an surat al-Hasyr ayat 7 yang berbunyi:
    “Apa yang diberikan oleh Rasul, maka ambillah atau kerjakanlah. Dan apa
    yang dilarang oleh Rasul jauhilah”.
    Ulama Fiqh, memandang sunnah ialah “perbuatan yang dilakukan dalam agama, tetapi tingkatannya tidak sampai wajib atau fardlu. Atau dengan kata lain sunnah adalah suatu amalan yang diberi pahala apabila dikerjakan, dan tidak dituntut
    apabila ditinggalkan. Menurut Dr.Taufiq dalam kitabnya Dinullah fi Kutubi Ambiyah menerangkan bahwa Sunnah ialah suatu jalan yang dilakukan atau dipraktekan oleh Nabi secara kontinyu dan diikuti oleh para sahabatnya; sedangkan Hadits ialah ucapan-ucapan Nabi yang diriwayatkan oleh seseorang, dua atau tiga orang perawi, dan tidak ada yang mengetahui ucapan-ucapan tersebut selain mereka sendiri.
    3. Pengertian khabar
    Khabar menurut bahasa adalah berita yang disampaikan dari seseorang kepada orang lain.
    Khabar menurut Muhadditsin adalah warta dari Nabi, Shahabat, dan Tabi’in. oleh karena itu, hadits marfu’, maukuf, dan maktu’ bisa dikatakan sebagai khabar. Dan menurutnya khabar murodif dengan hadits.
    Sebagian ulama berpendapat bahwasannya hadits dari Rosul, sedangkan khabar dari selain Rosul. Dari pendapat ini, orang yang meriwayatkan hadits disebut Muhadditsin dan orang yang meriwayatkan sejarah dan yang lain disebut Akhbari.
    Adapun secara terminologi terdapat perbedaan pendapat terkait definisi khabar, yaitu:
    1. Kata khabar sinonim dengan hadits;
    2. Khabar adalah perkataan, tindakan, dan ketetapan seseorang selain Nabi Muhammad. Sedangkan hadits adalah perkataan, tindakan, dan ketetapan Nabi Muhammad.
    3. Khabar mempunyai arti yang lebih luas dari hadits. Oleh karena itu, setiap hadits dapat disebut juga dengan khabar. Namun, setiap khabar belum tentu dapat disebut dengan hadits.
    Selain istilah Hadits dan Sunnah, terdapat istilah Khabar dan Atsar. Khabar menurut lughat, berita yang disampaikan dari seseorang kepada seseorang. Untuk itu dilihat dari sudut pendekatan ini (sudut pendekatan bahasa), kata Khabar sama artinya dengan Hadits. Menurut Ibn Hajar al-Asqalani, yang dikutip as-Suyuthi, memandang bahwa istilah hadits sama artinya dengan khabar, keduanya dapat dipakai untuk sesuatu yang marfu, mauquf, dan maqthu’. Ulama lain, mengatakan bahwa kbabar adalah sesuatu yang datang selain dari Nabi SAW., sedang yang datang dari Nabi SAW. disebut Hadits. Ada juga ulama yang mengatakan bahwa hadits lebih umum dari khabar. Untuk keduanya berlaku kaidah ‘umumun wa khushushun muthlaq, yaitu bahwa tiap-tiap hadits dapat dikatan Khabar, tetapi tidak setiap Khabar dapat dikatakan Hadits.
    Menurut istilah sumber ahli hadits; baik warta dari Nabi maupun warta dari sahabat, ataupun warta dari tabi’in. Ada ulama yang berpendapat bahwa khabar digunakan buat segala warta yang diterima dari yang selain Nabi SAW. Dengan pendapat ini, sebutan bagi orang yang meriwayatkan hadits dinamai muhaddits, dan orang yang meriwayatkan sejarah dinamai akhbary atau khabary. Ada juga ulama yang mengatakan bahwa hadits lebih umum dari khabar, begitu juga sebaliknya ada yang mengatakan bahwa khabar lebih umum dari pada hadits, karena masuk ke dalam perkataan khabar, segala yang diriwayatkan, baik dari Nabi maupun dari selainnya, sedangkan hadits khusus terhadap yang diriwayatkan dari Nabi SAW. saja.
    4. Pengertian Atsar
    Secara etimologi atsar berarti sisa reruntuhan rumah dan sebagainya. Sedangkan secara terminologi ada dua pendapat mengenai definisi atsar ini. Pertama, kata atsar sinonim dengan hadits. Kedua, atsar adalah perkataan, tindakan, dan ketetapan Shahabat.
    Atsar menurut lughat ialah bekasan sesuatu, atau sisa sesuatu, dan berarti nukilan (yang dinukilkan). Sesuatu do’a umpamanya yang dinukilkan dari Nabi dinamai: do’a ma’tsur. Sedangkan menurut istilah jumhur ulama sama artinya dengan khabar dan hadits. Dari pengertian menurut istilah, terjadi perbedaan pendapat di antara ulama. “Jumhur ahli hadits mengatakan bahwa Atsar sama dengan khabar, yaitu sesuatu yang disandarkan kepada Nabi SAW., sahabat, dan tabi’in. Sedangkan menurut ulama Khurasan, bahwa Atsar untuk yang mauquf dan khabar untuk yang marfu.
    5. Perbedaan Hadits dengan as-Sunnah, al-Khabar, dan al-Atsar
    Dari keempat istilah yaitu Hadits, Sunnah, Khabar, dan Atsar, menurut jumhur ulama Hadits dapat dipergunakan untuk maksud yang sama, yaitu bahwa hadits disebut juga dengan sunnah, khabar atau atsar. Begitu pula halnya sunnah, dapat disebut dengan hadits, khabar dan atsar. Maka Hadits Mutawatir dapat juga disebut dengan Sunnah Mutawatir atau Khabar Mutawatir. Begitu juga Hadits Shahih dapat disebut dengan Sunnah Shahih, Khabar Shahih, dan Atsar Shahih.
    Tetapi berdasarkan penjelasan mengenai Hadits, Sunnah, Khabar, dan Atsar ada sedikit perbedaan yang perlu diperhatikan antara hadits dan sunnah menurut pendapat dan pandangan ulama, baik ulama hadits maupun ulama ushul dan juga perbedaan antara hadits dengan khabar dan atsar dari penjelasan ulama yang telah dibahas. Perbedaan-perbedaan pendapat ulama tersebut dapat disimpulkan sebagai berikut :
    (a) Hadits dan Sunnah : Hadits terbatas pada perkataan, perbuatan, taqrir yang bersumber dari Nabi SAW, sedangkan Sunnah segala yang bersumber dari Nabi SAW baik berupa perkataan, perbuatan, taqrir, tabiat, budi pekerti, atau perjalan hidupnya, baik sebelum diangkat menjadi Rasul maupun sesudahnya.
    (b) Hadits dan Khabar : Sebagian ulama hadits berpendapat bahwa Khabar sebagai sesuatu yang berasal atau disandarkan kepada selain Nabi SAW., Hadits sebagai sesuatu yang berasal atau disandarkan kepada Nabi SAW. Tetapi ada ulama yang mengatakan Khabar lebih umum daripada Hadits, karena perkataan khabar merupakan segala yang diriwayatkan, baik dari Nabi SAW., maupun dari yang selainnya, sedangkan hadits khusus bagi yang diriwayatkan dari Nabi SAW. saja. “Ada juga pendapat yang mengatakan, khabar dan hadits, diithlaqkan kepada yang sampai dari Nabi saja, sedangkan yang diterima dari sahabat dinamai Atsar”.
    (c) Hadits dan Atsar : Jumhur ulama berpendapat bahwa Atsar sama artinya dengan khabar dan Hadits. Ada juga ulama yang berpendapat bahwa Atsar sama dengan Khabar, yaitu sesuatu yang disandarkan kepada Nabi SAW., sahabat dan tabi’in. “Az Zarkasyi, memakai kata atsar untuk hadits mauquf. Namun membolehkan memakainya untuk perkataan Rasul SAW. (hadits marfu)”. Dengan demikian, Hadits sebagai sesuatu yang berasal atau disandarkan kepada Nabi SAW. saja, sedangkan Atsar sesuatu yang disandarkan kepada Nabi SAW., sahabat dan tabi’in.

    Difinisi Hadits

    1.Difinisi Hadits
    Secara bahasa Hadits mempunyai arti “Baru”, “Dekat”, atau “Berita”. Makna yang terakhir inilah yang dipakai oleh para ulama untuk mendifinisikan Hadits sebagai :“Segala ucapan, perbuatan, keadaan, serta perilaku dan ketetapan (peneguhan) Nabi Muhammad S.A.W. atas berbagai peristiwa.”

    Disamping itu ada beberapa istilah sinonim yang sering dipakai oleh berbagai kalangan Ulama untuk menyebut Hadits, yakni Khabar, Sunnah, dan atsar. Secara bahasa arti khabar adalah “Berita”, Sunnah berarti “Jalan”, dan atsar berarti “Bekas” atau bisa juga “Nukilan”.


    Namun ada juga Ulama yang membedakan istilah “Khabar” dan “Atsar” tersebut dengan Hadits. Khabar di katakan sebagai “Segala sesuatu yang disandarkan atau berasal dari Nabi S.A.W. maupun selain Nabi S.A.W. bisa dari kalangan sahabat atau tabiin”. Sedangkan Atsar dipakai untuk perkataan-perkataan selain Nabi SAW, yakni ; sahabat, tabiin, ulama salaf, dan lain sebagainya” Maka ada baiknya kita memperhatikan penggunaan istilah-istilah tersebut ketika mendengar atau membaca buku-buku keagamaan.

    2. Sesuai definisinya ada tiga macam hadits :
    1. Hadits yang berupa perkataan (Qauliyah), contohnya, sabda Nabi SAW ; "Orang mukmin dengan orang mukmin lainnya bagaikan sebuah bangunan, yang satu sama lain saling menguatkan." (HR. Muslim)
    2. Hadits yang berupa perbuatan (Fi’liyah) mencakup perilaku beliau, seperti tata cara shalat, puasa, haji, dsb. Berikut contoh haditsnya, Seorang sahabat berkata : “Nabi SAW menyamakan (meluruskan) saf-saf kami ketika kami melakukan shalat. Apabila saf-saf kami telah lurus, barulah Nabi SAW bertakbir.” (HR. Muslim)
    3. Hadits penetapan (Taqririyah) yaitu berupa penetapan atau penilaian Nabi SAW terhadap apa yang diucapkan atau dilakukan para sahabat yang perkataan atau perbuatan mereka tersebut diakui dan dibenarkan oleh Nabi SAW. contohnya hadits berikut, seorang sahabat berkata ; “Kami (Para sahabat) melakukan shalat dua rakaat sesudah terbenam matahari (sebelum shalat maghrib), Rasulullah SAW terdiam ketika melihat apa yang kami lakukan, beliau tidak menyuruh juga tidak melarang kami ” (HR. Muslim)

    3. Fungsi Hadits
    Hadits adalah sumber hukum kedua agama Islam sesuai firman Allah SWT "apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Amat keras hukumannya."QS Al-Hasyr ; 7 & "Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah Aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."QS Ali Imran ; 31 Allah memerintahkan kita untuk menaati Rasul SAW sebagaimana menaati Allah SWT. Kedudukan Hadits terhadap Alquran sedikitnya mempunyai tiga fungsi pokok :

    1. Memperkuat dan menetapkan hukum-hukum yang telah ditentukan oleh Alquran, misalnya tentang syirik Allah berfirman ; “... jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta” (QS Al-Haj ; 30) maka Rasulullah tegaskan lagi dalam hadits berikut ; “.... kuberitahukan kepadamu sekalian tentang sebesar-besarnya dosa besar, sahut kami, baiklah Rasulullah beliau bersabda ; menyekutukan Allah,...”
    2. Memberikan penafsiran terhadap ayat-ayat yang masih bersifat umum dan mutlak, misalnya perintah shalat, Dalam Alquran perintah shalat hanya disebutkan dengan : “dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat).” (QS Al Isra’; 78) di sana tidak ada rincian mengenai ; cara pelaksanaannya. Kapan waktunya yang tepat. Nah disinilah rasulullah SAW mengajarkan kita rinciannya yang dapat kita lihat dalam hadits-hadits.
    3. Menetapkan hukum aturan-aturan yang tidak didapati/diterangkan dalam Alquran, misalnya masalah nikah. banyak sekali hadits-hadits tentang pernikahan yang hukum-hukumnya tidak terdapat dalam Alquran misalnya soal haramnya menikahi saudara sepersusuan, haramnya mengumpulkan (poligami) antara seorang perempuan dengan bibinya, dsb

    B. Hadits – hadits yang diterima ( Hadits maqbul )
    Pembagian hadits dari segi kedudukan dalam hujjah ( dalil)
    Sebagaimana telah dijelaskan bahwa suatu hadis perlu dilakukan pemeriksaan, penyelidikan dan pemhahasan yang seksama khususnya hadis ahad, karena hadis tersebut tidak mencapai derajat mutawatir. Memang berbeda dengan hadis mutawatir yang memfaedahkan ilmu darury, yaitu suatu keharusan menerima secara bulat. Sehubungan dengan hal tersebut di atas, hadis ahad ahad ditinjau dari segi dapat diterima atau tidaknya terbagi menjadi 2 (dua) macam yaitu hadis maqbul dan hadis mardud.
    Pada makalah ini yang kami bahas sesuai dengan judulnya adalah hadits-hadits yang dapat di terima atau yang sering disebut hadits makbul
    a. Hadits Maqbul

    Hadits makbul bila di tinjau dari segi tingkatan kualitasnya dibagi menjadi 2 bagian pokok, yaitu. Hadits shahih dan hadits hasan, dan masing-masing terdiri dari 2 bagian, yaitu shahih lidzatihi, shahih lighairihi dan hasan lidzatihi, hasan lighairihi
    Maqbul menurut bahasa berarti yang diambil, yang diterima, yang dibenarkan. Sedangkan menurut istilah ulama hadits (urf Muhaditsin) hadis Maqbul ialah:

    Artinya:
    “Hadis yang menunjuki suatu keterangan bahwa Nabi Muhammad SAW menyabdakannya.”
    Jumhur ulama berpendapat bahwa hadis maqbul ini wajib diterima. Sedangkan yang temasuk dalam kategori hadis maqbul adalah:
    • Hadis sahih, baik yang li-dzathi maupun yang li-gairih.
    • Hadis hasan baik yang li-dzaihi maupun yang li-gairih.

    1. Hadits shahih

    Hadis sahih menurut bahasa berarti hadis yng bersih dari cacat, hadis yang benar berasal dari Rasulullah SAW. Batasan hadits sahih, yang diberikan oleh ulama, antara lain :

    Artinya :
    “Hadis sahih adalah hadtis yang susunan lafadnya tidak cacat dan maknanya tidak menyalahi ayat (al-Quran), hadis mutawatir, atau ijimak serta para rawinya adil dan dabit.”
    1.1. Syarat-Syarat hadits shahih
    • Rawinya bersifat adil, artinya seorang rawi selalu memelihara ketaatan dan menjauhi perbuatan maksiat, menjauhi dosa-dosa kecil, tidak melakukan perkara mubah yang dapat menggugurkan iman, dan tidak mengikuti pendapat salah satu mazhab yang bertentangan dengan dasar syara’
    • Sempurna ingatan (dhabith), artinya ingatan seorang rawi harus lebih banyak daripada lupanya dan kebenarannya harus lebih banyak daripada kesalahannya, menguasai apa yang diriwayatkan, memahami maksudnya dan maknanya
    • Sanadnya tiada putus (bersambung-sambung) artinya sanad yang selamat dari keguguran atau dengan kata lain; tiap-tiap rawi dapat saling bertemu dan menerima langsung dari yang memberi hadits.
    • Hadits itu tidak ber’illat (penyakit yang samar-samar yang dapat menodai keshahihan suatu hadits)
    • Tidak janggal, artinya tidak ada pertentangan antara suatu hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang maqbul dengan hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang lebih rajin daripadanya.

    1.2. Hukum hadits shahih
    Berdasarkan ijma’ ( konsensus ) ulama ahli hadits, ulama ahli ushul fiqh dan ulama ahli fiqh, hadits shahih wajib diamalkan karena ia merupakan salah satu hujjah (dasar) syari’at islam.
    1.3. Tingkatan hadits shahih
    Pendapat ahli hadits tentang adanya sanad paling shahih, sehingga kedudukan hadis shahih mempunyai beberapa tingkatan:
    a. Tingkatan yang paling tinggi adalah hadits yang diriwayatkan melalui sanad yang terdiri dari “Malik dari Nafi’ dan Nafi’ dari Ibnu Umar”
    b. Tingkatan dibawahnya adalah hadits yang diriwayatkan melalui snad yang terdiri dari “hammad bin salmah dri tsabit dari anas”
    c. Tingkatan dibawahnya lagi adalah hadits yang diriwayatkan melalui sanad yang terdiri dari “ Suhail bin Shaleh dari ayahnya dari Abu Hurairah”
    Atas dasar rincian tersebut diatas, maka hadits shahih terbagi menjadi 7 ( tujuh ) tingkatan yaitu:
    1. Hadits yang “muttafaq ‘alaih” atau yang disepakati oleh kedua imam hadis al bukhari dan muslim tentang sanadnya.
    2. Hadits yang hanya diriwayatkan (ditakhrij) oleh al-Bukhri sendiri
    3. Hadits yang diriwayatkan (ditakhrij) oleh muslim sendiri
    4. Hadits yang diriwayatkan menurut syarat-syarat al-Bukhari dan muslim sedang keduanya tidak mentakhrijnya
    5. Hadits yang diriwayatkan menurut syarat al-Bukhari sedang dia sendiri tidak mentakhrijnya
    6. Hadits yang diriwayatkan menurut syarat Muslim sedang dia sendiri tidak mentakhrijnya
    7. Hadits shahih menurut imam-imam hadits terkenal yang lain, yakni tidak menurut salah satu syarat al-Bukhari dan muslim, seperti hadits shahih menurut ibn Huzaimah, menurut ibn Hibban dn lain sebagainya.

    1.4. Klarifikasi hadits shahih
    1.4.1 Hadits shahih li-ghairih
    Hadits shahih yang memenuhi syarat-syarat seperti diatas, dinamakan “ hadits shahih li-dzthi”, dan syart kedlabithan seorang perawi kurang sempurna , turun nilainya menjadi “hadits hasan li-dzathi”. Sedangkan hadits hasan li-dzathi bisa naik nilainya menjadi shahih li-ghairih apabila juga diriwayatkan melalui jalur sanad lain yang serupa atau ;ebih kuat, karena keshahihannya tidak disebabkan dari sanadnya itu sendiri, namun karena tergabungnya snad lain tersebut. Kualitas hadits shahih li-ghairih lebih tinggi daripada hadits hasan li-dzathi.
    Contoh hadits shahih li-ghairih, hadits riwayat muhammad Bin’amr dari abi Salmah dari abu Hurairah ra :
    Artinya : bahwa rasulullah SAW, telah bersabda: seandainya saya tidak khawatir menyusahkan umatku, tentu saya menyurhnya mereka mentikat gigi (bersiwak) setiap akan shalat.
    Meurut ibn Shalah, Muhammad bin ‘Amr bin Alqamah tergolong orang yang terkenal kejujurannya dan terjaga dari dosa, tetapi dia tidak tergolong cermat dalam menyadap hadits, sehingga sebagian ulama hadits mendla’ifkan karena haflannya buruk. Sebagian ulama menilai dia sebagai orang yang terpercaya karena kejujuran dan keagungannya, maka haditsnya bernilai sanad lain, maka kekurangn di atas menjadi tertutupi, yakni kurangnya hafalan muhammad ‘Amr bin Alqamah. Dengan demikian kualitas hadits tersebut naik menjadi shahih, hanya saja keshahihannya karena faktor lain sehingga ia menjadi shahih al-ghairih
    2. Hadits Hasan
    Menurut bahasa, hasan berarti bagus atau baik. Menurut Imam Turmuzi hasis hasan adalah :

    Artinya :
    “yang kami sebut hadis hasan dalam kitab kami adalah hadis yng sannadnya baik menurut kami, yaitu setiap hadis yang diriwayatkan melalui sanad di dalamnya tidak terdapat rawi yang dicurigai berdusta, matan hadisnya, tidak janggal diriwayatkan melalui sanad yang lain pula yang sederajat. Hadis yang demikian kami sebut hadis hasan.”
    2.1. Kedudukan hadits hasan
    Tingkatan hadits hasan berada sedikit dibawah tingkatan hadits shahih, tetapi para ulama berbeda pendapat tentang kedudukan hadits hasan sebagai sumber ajaran Islam atau sebagai hujjah dalam bidang hukum apalagi dalam bidang Aqidah, ada yang menolak hadits hasan sebagai hujjah ada yang menerimanya sebagai hujjah baik untuk bidang hukum maupun bidang Aqidah, pendapat inilah yang paling banyak dianut.

    2.2. Tingkatan hadits hasan
    Sebagaimana hadits shahih, hadits hasan juga mempunyai tingkat kualitas tertentu. Al-Dzahabi membagi kualitas hadits hasan menjadi 2 tingkatan :
    1. Tingkatan yang paling tinggi, yaitu hadits hasan yang diriwayatkan melalui Bahz bin Hakim dari ayahnya dari kakeknya, dan ibn ishaq dari al-Taimi serta contoh lainnya dari hadits shahih yang berkualitas paling rendah.
    2. Kemudian peringkat dibawahnya, yaitu hadits yang masih diperselisihkan keshahihan dan kedla’ifannya, seperti yang diriwayatkan oleh al-harits bin Abdullah, Ashim bin Dlamrah, Hujjaj bin Aratah dan lain sebagainya.

    2.3. Hukum hadits hasan
    Hadits hasan sama nilainya dengan hadits shahih yakni sma-sama bisa dipakai sebagai hujjah, walaupun kekuatannya berada di bawah hadits shahih. Oleh karena itu semua ulama akli fiqh memakainya sebagai hujjah dan mengamalkannya, demikian juga debagian besar ulama ahli jadits dan ushul fiqh, sebagian juga ada dari go;ongan garis keras yang menolak sebagian ulama seperti Ibn Hibban, al-Hakim dan Ibn Huzaimah terlalu gegabah memasukkan hadits hasan ke dalam kategori hadits shahih, walaupun diakui bahwa hadits hasan lebih rendah nilainnya daripada hadits shahih.




    2.4. Klarifikasi Hadits hasan
    2.4.1 Hadits li-dzathi
    Yaitu hadits hasan yang telah memenuhi syarat-syaratnya. Atau hadits yang bersambung-sambung sanadnya dengan orang yang adil yang kurang kuat hafalannya dan tidak terdapat padanya sydzudz dan illat.
    Di antara contoh hadits ini adalah:
    ???? ?? ??? ??? ???? ??????? ??????? ??? ?? ????
    Artinya: Seandainya aku tidak memberatkan umatku, maka pasti aku perintahkan untuk menggosok gigi setiap waktu shalat
    1.1.1. Hadits li-ghairih
    Yaitu hadits hasan yang sanadnya tidak sepi dari seorang mastur (tak nyata keahliannya), bukan pelupa yang banyak salahnya, tidak tampak adanya sebab yang menjadikan fasik dan matan haditsnya adalah baik berdasarkan periwayatan yang semisal dan semakna dari sesuatu segi yang lain.
    Ringkasnya, hadits hasan li ghairihi ini asalnya adalah hadits dhaif (lemah), namun karena ada ada mu'adhdhid, maka derajatnya naik sedikit menjadi hasan li ghairihi. Andaikata tidak ada 'Adhid, maka kedudukannya dhaif.
    Di antara contoh hadits ini adalah hadits tentang Nabi SAW membolehkan wanita menerima mahar berupa sepasang sandal:
    ????? ?? ???? ????? ??????? ????: ???? ????? "Apakah kamu rela menyerahkan diri dan hartamu dengan hanya sepasang sandal ini?" Perempuan itu menjawab, "Ya." Maka nabi SAW pun membolehkannya.
    Hadits ini asalnya dhaif (lemah), karena diriwayatkan oleh Turmuzy dari 'Ashim bin Ubaidillah dari Abdullah bin Amr. As-Suyuti mengatakan bahwa 'Ashim ini dhaif lantaran lemah hafalannya. Namun karena ada jalur lain yang lebih kuat, maka posisi hadits ini menjadi hasan li ghairihi.
    Kedudukan Hadits Hasan adalah berdasarkan tinggi rendahnya ketsiqahan dan keadilan para rawinya, yang paling tinggi kedudukannya ialah yang bersanad ahsanu’l-asanid.
    Hadits Shahih dan Hadits Hasan ini diterima oleh para ulama untuk menetapkan hukum (Hadits Makbul).
    Hadits Hasan Naik Derajat Menjadi Shahih
    Bila sebuah hadits hasan li dzatihi diriwayatkan lagi dari jalan yang lain yang kuat keadaannya, naiklah dia dari derajat hasan li dzatihi kepada derajat shahih. Karena kekurangan yang terdapat pada sanad pertama, yaitu kurang kuat hafalan perawinya telah hilang dengan ada sanad yang lain yang lebih kuat, atau dengan ada beberapa sanad lain.

    Kedudukan Al-Qur'an dalam Hukum Islam

    Kedudukan Al-Qur’an Sebagai Sumber Hukum Islam

    Pendahuluan
    Al-Quran dan Nabi dengan sunnahnya merupakan dua hal pokok dalam ajaran Islam. Keduanya merupakan hal sentral yang menjadi ”jantung” umat Islam. Karena seluruh bangunan doktrin dan sumber keilmuan Islam terinspirasi dari dua hal pokok tersebut. Oleh karena sangat wajar dan logis bila perhatian dan apresiasi terhadap keduanya melebihi perhatian dan apresiasi terhadap bidang yang lain.
    Seperti kita ketahui bahwa al-Qur’an merupakan buku petunjuk (kitab hidayah) khususnya bagi umat Islam serta umat manusia pada umumnya.[1] Al-Qur’an juga menjadi Manhajul hayah (Kurikulum kehidupan) bagi manusia di dalam meniti hidup di gelanggang kehidupan ini. Satu hal yang juga disepakati oleh seluruh ummat Islam ialah kedudukan al-Qur’an sebagai sumber utama hukum Islam, pembahasan berikut akan menjelaskan berbagai alasan (hujjah) yang menguatkan kesepakatan umat tersebut.


    1. Pengertian Al-Qur’an
    Di kalangan para ulama dijumpai adanya perbedaan pendapat di sekitar pengertian al-Qur’an baik dari bahasa maupun istilah. As-Syafi’i misalnya mengatakan bahwa Al-Qur’an bukan berasal dari kata apa pun, dan bukan pula ditulis dengan hamzah. Lafadz tersebut sudah lazim dipergunakan dalam pengertian kalamullah (firman Allah) yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Sementara Al-Farra berpendapat bahwa lafadz al-Qur’an berasal dari kata qarain jamak dari kata qarinah yang berarti kaitan ; karena dilihat dari segi makna dan kandungannya ayat-ayat al-Qur’an itu satu sama lain saling berkaitan. Selanjutnya Al-Asy’ari dan para pengikutnya mengatakan bahwa lafadz al-Qur’an diambil dari akar kata qarn yang berarti menggabungkan sesuatu atas yang lain; karena surah-surah dan ayat-ayat al-Qur’an satu dan lainnya saling bergabung dan berkaitan.[2]
    Pengertian-pengertian kebahasaan yang berkaitan dengan al-Qur’an tersebut sungguh pun berbeda tetapi masih dapat ditampung oleh sifat dan karakteristik al-Qur’an itu sendiri, yang antara lain ayat-ayatnya saling berkaitan satu dan lainnya. Oleh karena itu penulis mencoba pula untuk memaparkan pengertian al-Qur’an secara etimologis dan terminologis berdasarkan pendapat beberapa ahli.
    Secara etimologis, al-Qur’an merupakan Masdar dari kata kerja “Qoroa” yang berarti bacaan atau yang ditulis[3], sedang menurut Quraish Shihab berarti bacaan yang sempurna[4].
    Secara terminologis para ulama mengemukakan berbagai definisi sebagai berikut :
    Safi’ Hasan Abu Thalib[5] menyebutkan :
    Al-Qur’an adalah wahyu yang diturunkan dengan lafal Bahasa Arab dan maknanya dari Allah SWT melalui wahyu yang disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW, Ia merupakan dasar dan sumber utama bagi syariat.
    Dalam hubungan ini Allah sendiri menegaskan dalam firman-Nya :
    Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al-Qur’an dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya. (QS. Yusuf : 2)[6]
    Sedangkan menurut Zakaria al-Birri[7], yang dimaksud al-Qur’an adalah :
    Al-Kitab yang disebut al-Qur’an dalah kalam Allah SWT, yang diturunkan kepada Rasul-Nya Muhammad SAW dengan lafal Bahasa Arab dinukil secara mutawatir dan tertulis pada lembaran-lembaran mushaf.
    Sementara Al-Ghazali dalam kitabnya al-Mustasfa menjelaskan bahwa yang dimaksud al-Quran adalah [8] :
    Al-Qur’an yaitu merupakan firman Allah SWT.
    Dari ketiga definisi di atas, pada dasarnya mengacu pada maksud yang sama. Definisi pertama dan kedua sama-sama menyebutkan bahwa al-Qur’an adalah wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dengan menggunakan bahasa Arab. Adapun bedanya definisi kedua lebih menegaskan bahwa al-Qur’an dinukil secara mutawatir. Adapun definisi ketiga, yang dikemukakan oleh Al-Ghazali ternyata hanya menyebutkan bahwa al-Qur’an merupakan firman Allah SWT, akan tetapi , Al-Ghazali dalam uraian selanjutnya menyebutkan bahwa al-Qur’an bukanlah perkataan Rasulullah, beliau hanya berfungsi sebagai orang yang menyampaikan apa yang diterima dari Allah SWT.[9]
    Nabi hanya berfungsi pembawa atau penyampai apa-apa yang diterima dari Allah, bahwa Allah menetapkan hukum-hukum.
    Untuk lebih memperjelas definisi al-Qur’an ini penulis juga nukilkan pula pendapat Dawud al-Attar. Di mana beliau menyebutkan bahwa, Al-Qur’an adalah wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad secara lafaz (lisan), makna serta gaya bahasa (uslub)-nya, yang termaktub dalam mushaf yang dinukil secara mutawatir.[10]
    Definisi di atas mengandung beberapa kekhususan sebagai berikut :
    a. Al-Qur’an sebagai wahyu Allah, yaitu seluruh ayat Al-Qur’an adalah wahyu Allah; tidak ada satu kata pun yang datang dari perkataan atau pikiran Nabi.
    b. Al-Qur’an diturunkan dalam bentuk lisan dengan makna dan gaya bahasanya. Artinya isi maupun redaksi Al-Quran datang dari Allah sendiri.
    c. Al-Qur’an terhimpun dalam mushaf, artinya Al-Qur’an tidak mencakup wahyu Allah kepada Nabi Muhammad dalam bentuk hukum-hukum yang kemudian disampaikan dalam bahasa Nabi sendiri.
    d. Al-Qur’an dinukil secara mutawatir, artinya Al-Qur’an disampaikan kepada orang lain secara terus-menerus oleh sekelompok orang yang tidak mungkin bersepakat untuk berdusta karena banyaknya jumlah orang dan berbeda-bedanya tempat tinggal mereka.[11]
    Sebetulnya masih terdapat sejumlah definisi lain yang dirumuskan oleh para Ulama, tetapi kelihatannya mengandung maksud yang sama meskipun secara redaksional berbeda.
    Dalam kaitannya dengan sumber dalil, al-Qur’an oleh ulama ushul sering disebut dengan al-Kitab. Umumnya di dalam kitab-kitab ushul, para ulama ushul dalam sistematika dalil yang mereka susun menyebut al-Quran dengan al-Kitab.[12]
    Hal ini tentu saja bisa dipahami, sebab di dalam al-Qur’an sendiri sering disebut al-Kitab –yang dimaksud adalah al-Qur’an. Seperti firman Allah :

    Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa. (QS. Al-Baqarah : 1 ).[13]
    Dari definisi-definisi di atas dapat disimpulkan bahwa Al-Qur’an merupakan kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi SAW dengan menggunakan bahasa Arab, yang penukilannya disampaikan secara mutawatir, dari generasi ke generasi, hingga sampai sekarang ini, Penukilan al-Qur’an dilakukan oleh para sahabat dengan menghafalnya dan menyampaikan ke generasi setelah mereka melalui sanad yang mutawatir. Dengan demikian otentisitas dan keabsahan al-Qur’an dan terpelihara sepanjang masa serta tidak akan pernah berubah. Hal dibenarkan oleh Allah dalam firman-Nya :

    Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (QS. Al-Hijr : 9)[14]
    2. Kehujjahan Al-Qur’an
    Sebagaimana disebutkan oleh Abdul Wahab Khallaf[15], bahwa kehujjahan Al-Qur’an itu terletak pada kebenaran dan kepastian isinya yang sedikitpun tidak ada keraguan atasnya. Dengan kata lain Al-Qur’an itu betul-betul datang dari Allah dan dinukil secara qat’iy (pasti). Oleh karena itu hukum-hukum yang terkandung di dalam Al-Qur’an merupakan aturan-aturan yang wajib diikuti oleh manusia sepanjang masa. Sementara M. Quraish Shihab[16] menjelaskan bahwa al-Qur’an sebagai wahyu , merupakan bukti kebenaran Nabi Muhammad SAW sebagai utusan Allah, tetapi fungsi utamanya adalah sebagai petunjuk bagi seluruh umat manusia.
    Sebagai sumber ajaran Islam yang utama al-Qur’an diyakini berasal dari Allah dan mutlak benar. Keberadaan al-Qur’an sangat dibutuhkan manusia. Di kalangan Mu’tazilah dijumpai pendapat bahwa Tuhan wajib menurunkan al-Qur’an bagi manusia, karena manusia dengan segala daya yang dimilikinya tidak dapat memecahkan berbagai masalah yang dihadapinya.[17] Bagi Mu’tazilah al-Qur’an berfungsi sebagai konfirmasi, yakni memperkuat pendapat-pendapat akal pikiran, dan sebagai informasi terhadap hal-hal yang tidak dapat diketahui oleh akal. Di dalam al-Qur’an terkandung petunjuk hidup tentang berbagai hal walaupun petunjuk tersebut terkadang bersifat umum yang menghendaki penjabaran dan perincian oleh ayat lain atau oleh hadis. Petunjuk al-Qur’an terkadang memang bersifat global sehingga menerapkannnya perlu ada pengolahan dan penalaran akal manusia, dan karena itu pula al-Qur’an diturunkan untuk manusia berakal. Kita misalnya disuruh spuasa, haji dan sebagainya. Tetapi cara-cara mengerjakan ibadah tersebut tidak kita jumpai dalam al-Qur’an, melainkan dalam hadis Nabi yang selanjutnya dijabarkan oleh para ulama sebagaimana kita jumpai dalam kitab-kitab fiqih.
    Dengan demikian jelas bahwa kehujjahan (argumentasi) Al-Qur’an sebagai wahyu tidak seorangpun mampu membantahnya –di samping semua kandungan isinya tak satupun yang bertentangan dengan akal manusia sejak awal diturunkan hingga sekarang dan seterusnya. Lebih-lebih di abad modern ini, di mana perkembangan sains modern sudah sampai pada puncaknya dan kebenaran Al-Qur’an semakin terungkap serta dapat dibuktikan secara ilmiah.
    3. Al-Qur’an Sebagai Sumber Hukum

    4. Dalalah Al-Qur’an
    Yang dimaksud dengan dalalah dalam konteks pemahaman makna atau pengertian dari nash ialah petunjuk yang dapat dijadikan pegangan untuk membawa kepada pengertian yang dikehendaki. Dengan kata lain, dalalah berkaitan dengan bagaimana pengertian atau makna yang ditunjukkan oleh nash dapat dipahami. Menurut istilah Muhammad al-Jurjani dalam kitab al-Ta’rifat disebut dengan Kaifiyah dalalah al-lafdz ‘ala al-ma’na. [20]
    Dalam kajian Ushul Fiqih, untuk dapat memahami nash apakah pengertian yang ditunjukkan oleh unsur-unsur lafalnya itu jelas, pasti atau tidak. Para ulama ushul menggunakan pendekatan apa yang dikenal dengan istilah qat’iy dan zanniy. Terma ini digunakan untuk nash-nash yang lafalnya menunjukkan kepada pengertian atau makna yang sudah jelas dan tegas serta tidak mungkin diragukan.[21]
    Tentang terma qat’iy dan hubungannya dengan nash, maka ulama ushul membaginya kepada dua macam yaitu :
    1. Qat’iy al-Wurud yaitu Nash-nash yang sampai kepada kita adalah sudah pasti tidak dapat diragukan lagi karena diterima secara mutawatir.
    2. Qat’iy al-Dalalah yaitu Nash-nash yang menunjukkan kepada pengertian yang jelas, tegas serta tidak perlu lagi penjelasan lebih lanjut.
    Sedangkan terma Zanniy dan hubungannya dengan nash, terbagi dua macam pula yaitu :
    1. Zanniy al-Wurud yaitu Nash-nash yang masih diperdebatkan tentang keberadaannya karena tidak dinukil secara mutawatir
    2. Zanniy al-Dalalah yaitu Nash-nash yang pengertiannya tidak tegas yang masih mungkin untuk ditakwilkan atau mengandung pengertian lain dari arti literalnya.
    Dalam hubungan ini, bila dihubungkan dengan al-Qur’an dari segi keberadaannya adalah qat’iy al-Wurud karena al-Qur’an itu sampai kepada kita dengan cara mutawatir yang tidak diragukan kebenarannya. Bila al-Qur’an dilihat dari segi dalalahnya, maka ada yang qat’iy dalalah dan zanniy dalalah.
    Umumnya nash-nash al-Qur’an yang dikategorikan qat’iy al-dalalah ini, lafal dan susunan kata-katanya menyebutkan angka, jumlah atau bilangan tertentu serta sifat nama dan jenis.
    Salah satu contoh ayat yang qat’iy al-dalalah :
    Dan bagi kamu (suami-suami) mendapat seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh istri-istri kamu, jika mereka tidak mempunyai anak … (QS. Al-Nisa : 12)[22]
    Ayat ini berbicara tentang pembagian harta pusaka/warisan. Ayat ini dalalahnya qat’iy, jelas dan tegas, karena terdapat kata nisfun (seperdua) yang tidak ada pengertian lain kecuali menunjukkan kepada maksud yang dikehendaki oleh kata itu sendiri, yaitu jumlah tertentu.
    Kemudian , nash al-Qur’an di samping qat’iy al-dalalah ada juga yang zanniy al-dalalah. Nash-nash al-Qur’an yang dikategorikan pada kelompok yang disebutkan terakhir ini adalah bila lafal-lafalnya diungkapkan dalam bentuk ‘am, musytarak, dan mutlaq. Ketiga bentuk lafal ini dalam kaidah ushuliyah mengandung makna atau pengertian yang banyak dan tidak tegas. Dalam penelitian ulama ushul ternyata banyak nash-nash al-Qur’an yang dikategorikan zanniy al-dalalah ini, dan pada bagian ini banyak menimbulkan perdebatan di kalangan ulama ushul. Contoh berikut ini dapat dilihat secara jelas :
    Wanita-wanita yang ditalak (diceraikan) hendaklah mereka menahan diri (menunggu) selama tiga kali quru. (QS. Al-Baqarah : 228)[23]
    Yang menjadi persoalan di sini adalah pengertian kata “quru” yang musytarak yaitu mengandung arti lebih dari satu. Kadang dalam bahasa Arab diartikan “al-Tohr” (suci) dan kadang-kadang diartikan pula al-Haydoh (haid). Masing-masing dari arti dari lafadz quru ini menghasilkan deduksi hukum yang berbeda. Artinya jika quru diartikan dengan suci dan tentu masa ‘iddahnya lebih lama atau lebih panjang daripada arti haid. Hal ini karena penghitungannya ditekankan setelah suci (bersih) dari haid secara berturut-turut tiga kali.
    Berbeda halnya jika lafal quru diartikan dengan haid, artinya jika wanita yang ditalak oleh suaminya telah nya dan terbukti haid berturut-turut tiga kali, maka habislah masa ‘iddahnya dan tidak mesti menunggu sampai ia suci (bersih).
    Pada prakteknya kalangan mazhab Hanafi berpegang bahwa lafal quru berarti haid, karena berdasarkan qarinah bahwa sasaran ‘iddah tersebut adalah terkait dengan wanita apakah rahimnya bersih dari benih-benih kehamilan atau tidak dan hal ini hanya bisa dibuktikan dengan haid bukan suci. Sementara itu kalangan mazhab Syafi’i berpendapatr bahwa lafal quru berarti suci, karena qarinahnya menunjukkan kata bilangan muannas (jenis perempuan) sedangkan yang terbilang (al-ma’dud) adalah muzakar yaitu al-tohr. Demikian penjelasan Abdul Wahab Khalaf dalam bukunya.
    Dari contoh di atas dapat dipahami bahwa dalil nash yang dikelompokkan kepada zanniy al- dalalah memberi peluang untuk terjadinya perbedaan pendapat di kalangan mujtahid di dalam mengambil istinbat hukum, sehingga tidak bisa dihindari terjadinya produk hukum yang berbeda.
    5. Penutup
    Dari berbagai penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa al-Qur’an memiliki kedudukan yang paling penting di dalam pengistinbatan hukum Islam sehingga sangat logis jika ia menjadi sumber utama hukum Islam.


    reff   : http://myant2526.blogspot.com

    Makna Dua Kalimat Syahadat

    A. Laailahaillallah

    Kalimat Laailahaillallah mempunyai kedudukan yg agung. Ia memiliki aturan, syarat-syarat, makna khusus & konsekuensi. Barang siapa yg mengucapkan dgn jujur maka Allah akan memasukannya dalam surga & barang siapa yg mengucapkannya dgn dusta maka darah & hartanya masih terjaga di dunia akan tetapi kelak di akhirat hisabnya diserahkan kepada Allah Ta’ala.

    “Maka sesungguhnya Allah mengharamkan atasnya neraka bagi orang yg mengucapkan Laailahaillallah karena merapkan wajah Allah” (HR Bukhari & Muslim)

    Kalimat ini pendek lafadznya, sedikit hurufnya & ringan diucapkan, namun memiliki bobot yg sangat berat di dalam timbangan keadilan. Ibnu Hibban & Al Hakim telah meriwayatkan dari Abu Sa’id Al Khudri bahwa Rasulullah SAW bersabda:

    “Musa pernah berkata wahai Tuhanku, ajarilah aku sesuatu yg dapat aku pakai untuk ingat kepada-Mu & do’a kepada-Mu, Allah berfirman: Wahai Musa ucapkanlah ‘Laailahaillallah’, Musa berkata: Semua hamba-Mu mengucapkan hal ini. Allah berfirman: Wahai Musa seandainya tujuh langit & penghuninya selain Aku & tujuh bumi ini di salah satu timbangan & Laailahaillallah diletakkan di daun timbangan lainnya, niscaya Laailahaillallah akan lebih berat dari itu semua” (HR Hakim & Ibnu Hibban dalam Maurid Adh Dhom’an)

    Hadist ini menunjukkan Laailahaillallah merupakan dzikir yg paling utama. Sebagaimana yg ditegaskan oleh hadist dari Abdullah Ibnu Umar, Rasulullah bersabda:

    “Sebaik-baik do’a adlah do’a di hari ‘arafah & sebaik-baik do’a yg aku ucapkan demikian pula para nabi sebelumku adalah do’a Laailahaillallah wahdahu laa syarikalah, lahulmulku walahul hamdu wahuwa ‘ala kuli syai-in qadiir (Tidak ada yg berhak disembah kecuali Allah Yg Esa tidak ada sekutu baginya, milik-Nya segala kekuasaan & pujian & Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu)” (HR Ahmad & Tirmidzi dalam Ad Da’awat No. 3579)

    Diantara dalil yg juga menunjukkan Laailahaillallah memiliki bobot yg sangat berat di dalam timbangan keadilan adalah hadist yg diriwayatkan oleh Tirmidzi, ia menghasankannya An Nasa’I & Al Haakim, ia berkata hadist ini shahih atas syarat Imam Muslim dari Abdullah bin ‘Amr, Rasulullah SAW bersabda:

    “Akan dipanggil seorang dari umatku di atas para pemuka makhluk pada hari kiamat kemudian dibentangkan baginya 99 sijjil (catatn amal) masing-masing sijjil sepanjang pan&gan mata. Lalu dikatakan kepadanya: ‘Apa kamu mengingkari hal ini?’ Ia menjawab: ‘Tidak wahai tuhanku’. Ia ditanya apa kamu punya alasan lain atau kebajikan?’ Dgn rasa takut ia menjawab: ‘Tidak punya.’ Lalu ia diberi tahu: ‘Sesungguhnya kamu memiliki beberapa kebajikan di sisi Kami & kamu tidak akan didzalimi sedikitpun kemudian dikeluarkan baginya sebuah bithaqah (kartu ucapan amal) yg di dalamnya tertulis -Asyhadu anlaailaha illallah wa asyhadu anna muhammadarrasulullah-‘ Maka ia berkata: ‘Wahai tuhanku apa maksud dari bithaqah & sijjil ini?’ Dikatakan kepadanya: ‘Engkau tidak akan didzalimi sedikitpun’. Lalu sijjil-sijjil itu diletakkan di salah satu daun timbangan & bithaqah di daun timbangan lainnya, tiba-tiba sijjil itu menjadi ringan se&gkan bithaqah malah tambah berat.” (HR Tirmidzi No. 2641 dalam Al Imaan, Al hakim (1/5-6) & selain keduanya)

    Kalimat Laailahaillallah memiliki 2 (dua) rukun, yaitu:
    1. Annafyu artinya meniadakan seluruh sesembahan selain Allah Ta’ala
    2. Al Itsbaat artinya menetapkan bahwa yg berhak disembah hanyalah Allah Ta’ala saja.

    Kalimat Laailahaillallah tidak bermanfaat bagi orang-orang yg mengucapkannya kecuali dgn memenuhi 7 (tujuh) persyaratan, yaitu:
    1. Al Ilmu artinya mengetahui maknanya.
    2. Al Yakin artinya meyakini sepenuhnya kebenaran kalimat itu tanpa ragu & bimbang sedikitpun.
    3. Al Ikhlas artinya ikhlas tanpa disertai kesyirikan sedikitpun.
    4. Ash Shidqu artinya jujur tanpa disertai sifat kemunafikan.
    5. Al Mahabbah artinya mencintai kalimat ini & segala konsekuensinya serta merasa gembira dgn hal itu.
    6. Al Inqiyaad artinya tunduk & patuh melaksanakan hak-hak kalimat ini dgn cara melaksanakan kewajiban atas dasar ikhlas & mencari ridha Allah, ini termasuk konsekuensinya.
    7. Al Qabuul artinya apa a&ya tanpa menolak, hal ini dibuktikan dgn melaksanakan perintah & meninggalkan larangan Allah.

    Al Imam Ibnu Rajab berkata: “Dari sini jelaskah bahwa ucapan-ucapan hamba Laailahaillallah merupakan pengakuan ia tidak memiliki sesembahan selain Allah. Se&gkan makna Al Ilaahu adalah zat yg dita’ati & tidak dimaksiati disertai rasa takut, memuliakan, mencintai, mengharap, tawakkal, meminta & berdo’a kepada-Nya. Ini semuanya tidak pantas diberikan kecuali hanya untuk Allah. Walhasil, bahwa orang yg mengucapkan kalimat tauhid Laailahaillallah harus mengetahui maknanya & mengamalkan konsukuensinya secara lahir & bathin”.

    Dari keterangan di atas jelaslah bagi kita bahwa makna ‘Laailahaillallah’ adalah ‘Tidak ada yg berhak disembah kecuali Allah’. Adapun menafsirkan kalimat Laailahaillallah dgn makna ‘Tidak ada pencipta kecuali Allah’, ‘Tidak ada yg mengatur kecuali Allah’, ‘Tidak ada tuhan kecuali Allah’ adalah kurang & menyelisihi Al Quran & Sunnah.

    Juga diantara konsekuensi Laailahaillallah adalah menerapkan nama-nama & sifat-sifat Allah yg telah ditetapkan oleh Allah & Rasul-Nya.


    B. Muhammadarrasulullah

    Konsekuensi dari syahadat …Muhammadarrasulullah adalah:

    1. Mentaati perintahnya.
    “Hai orang-orang yg beriman, taatlah kepada Allah & Rasul-Nya, & janganlah kamu berpaling dari-Nya, sedang kamu mendengar (perintah-perintahnya)” (QS 8:20)

    “Katakanlah: Taatlah kepada Allah & taatlah kepada Rasul, & jika kamu berpaling maka sesungguhnya kewajiban rasul hanyalah apa yg dibebankan kepadanya, kewajiban kamu adalah apa yg dibebankan kepadamu. & jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. & tiada lain kewajiban rasul hanya menyampaikan (amanatAllah) dgn terang.” (QS 24:54)

    “Setiap umatku akan masuk ke dalam syurga, kecuali yg enggan. Mereka berkata siapakah yg enggan ya Rasululloh? Beliau menjawab: Siapa yg mentaatiku maka ia akan masuk syurga & siapa yg mendurhakaiku, maka dialah yg enggan.”

    2. Membenarkan apa yg di kabarkannya.
    “Apa yg diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. & apa yg dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah, & bertaqwalah kepada Allah sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya.” (QS 59:7)

    “Aku diperintah untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi tak ada yg berhak di sembah kecuali Allah & sampai mereka percaya kepadaku & apa yg aku bawa” (HR Muslim)

    Allah mengancam dgn neraka Sa’iir bagi mereka yg tidak percaya terhadap apa yg di kabarkannya, “& barangsiapa yg tidak beriman kepada Allah & Rasul-Nya maka sesungguhnya Kami menyediakan untuk orang-orang yg kafir neraka yg bernyala-nyala.” (QS 48:13)

    Abu Bakar Ash-Shiddiq: “Aku tidaklah meninggalkan apa yg diperintahkan oleh Rasul kecuali akan aku kerjakan & aku takut jika meninggalkan satu saja & perintah Rasul maka kebinasaan akan menimpaku”.

    3. Meninggalkan apa yg di larangnya tanpa ada sifat ragu.
    Ada yg mengatakan: “0. . . hukum ini tidak ada dalam Al-quran” sebagaimana yg di lakukan oleh Inkaarus Sunnah.

    Sesungguhnya As-Sunnah itu adalah menafsirkan & menjelaskan Al-Quran sebagaimana firman Allah ta’ala:
    “& Kami turunkan kepadamu al-Quran, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yg telah diturunkan kepada mereka supaya mereka memikirkan” (QS 16:44)

    Dari Miqdam bin Ma’di Yakrib Rasululloh bersabda:
    “Ketahuilah bahwa aku di berikan Al Quran & sepertinya bersamanya (yaitu Assunah)”.

    Salah satu contoh pentingnya As-Sunnah untuk memahami Al Quran:
    “Katakanlah: Siapakah yg mengharamkan perhiasan dari Allah yg telah di keluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya & (siapa pulakah yg rnengharamkan) rezeki yg baik. Katakanlah: Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yg beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat. Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yg mengetahui.” (QS 7:32)

    4. Tidak beribadah kepada Allah melainkan dgn cara yg telah di syariatkan.
    Allah telah menyempumakan agamanya, wahyu telah terputus & kenabian telah ditutup sebagaimana firman Allah:
    “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu & telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku & telah Kuridhai Islam itu jadi agamamu“ (QS A1-Maidah:3)

    5. Syahadat ini juga memiliki konsekuensi yaitu tidak meyakini bahwa nabi Muhammad memiiki sifat rububiyyah yg punya pengaruh di alam semesta & tidak berhak disembah.
    Beliau hanyalah seorang hamba, seorang Rasul yg tidak didustakan & seorang hamba yg tidak mampu mendatangkan mamfaat atau menolak mudharat bagi dirinya atau orang lain kecuali atas izin & kehendak Allah.

    Katakanlah: “Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, & tidak (pula) aku mengetahui yg ghaib & tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku ini malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yg telah diwahyukan kepadaku. Katakanlah: “Apakah sama orang yg buta dgn orang yg melihat”. Maka apakah kamu tidak memikirkan(nya). (QS 6:50)

    Hendaknya kita menempatkan nabi Muhammad pada kedudukan & martabat yg telah Allah berikan kepadanya yaitu sebagai hamba & utusan.

    Semoga salawat & salam tetap tercurah kepadanya.

    Contoh Surat Undangan Berbahasa Jawa

    1. Contoh Surat Undangan Tasyakuran, Tahlilan, Tanggab Warsa (Ulang Tahun), Walimahan dsb...

    Mugi Katur Panjenenganipun Bpk./Ibu/Sdr.________
    wonten ing Palenggahan.
    Bissmillahirohmaanirrohim
    Assalamu 'alaikum Wr. Wb.
    Rinenggo sagunging pakurmatan.
    Kanthi hangajab nugrahing Gusti Ingkang Maha Agung, mbok bilih wonten dhanganing penggalih saha longgaring wekdal, kula sak kluwarga nyuwun kanthi sanget rawuh panjenengan mbenjang ing,

    Dinten : Setu Wage
    Suryo Kaping : 18 September 2010
    Wanci : Tabuh 19:00 wekdal iring kilen (Ba'da Isya')
    Panggenan : Griyo Kula RT.01, RW.02, Dusun Kauman, Kelurahan Pacitan, PACITAN
    Wigatosing Atur : Walimatul Khitan *)
    (*) bisa diganti sesuai keperluan)
    Wasana sanget ing pangajeng-ajeng kawula awit agunging kawigatosan rawuh panjenengan, mugi Gusti Ingkang Maha Asih tansah peparing berkah wilujeng ing sedayanipun. Amin.
    Wassalamu 'alaikum Wr. Wb.

    Atur Taklim Kawulo

    ttd

    Bpk. SUGENG sakluarga

    2. Contoh Surat Undangan Pernikahan

    Contoh 1 :

    Bismillahirrohmaanirrohim
    Assalaamu 'alaikum Wr. Wb.
    Nuwun. Hawiyosipun serat punika sesulihing badan kawula sowan wonten ing ngarsa panjenengan sekaliyan.
    Mbok bilih Gusti Allah SWT hangganjar wilujeng ing samudayanipun, kula sebrayat badhe hanggadhahi niat ningkahaken yoga kula ingkang nami,

    PUTRI INDRASWARI DEVIE
    binti SUDARMADJI

    pikantuk,

    ANGGER DANANG WISNU DARPITO
    bin SUWADJININGRAT


    Ugi hangajab rawuhipun para sutresna, hangestreni khajat nikah ingkang bade rinakit mbenjang ing,

    Dinten : Minggu Kliwon
    Surya kaping : 19 September 2010
    Wanci : tabuh 11:00 wekdal iring kilen ~ sak bibaripun.
    Panggenan : Gedung Graha Bhayangkara Kabupaten PACITAN
    Mbok menawi panjenengan sekaliyan wonten dhanganing penggalih sarta mboten pikantuk alangan sak tunggal punapa, kula aturi anyekseni lan angrawuhi khajat lan niat kula kasebat.
    Awit saking rawuhipun para sutresna, keparenga kula nelak aken agunging panuwun.

    Cekap semanten atur serat ulem punika.
    Tuhu langgeng trisno.
    Wassalaamu 'alaikum Wr. Wb.

    Atur Taklim Kula,
    Kulawarga Bapak lan Ibu SUDARMADJI (Pacitan)

    Kulawarga Bapak lan Ibu SUWADJININGRAT (Ngayogyakarta)

    DEVIE & DANANG


    Contoh 2 :

    Pacitan, __ September 2010

    Katur dhumateng Bpk./Ibu/Sdr. SUMARNO wonten ing Dusun Jethak, Pringkuku, PACITAN
    Bismillahirohmaanirrohim
    Assalaamu 'alaikum Wr. Wb.
    Kairing Sagunging Pakurmatan.
    Nuwun. Sesarengan kalian serat menika kula nyaosi pirsa, mugi Gusti Allah SWT tansah hangganjar kawilujengan ing samudayanipun. Kula badhe hanggadhahi khajat hangemah-emahaken yoga kula estri ingkang nami, PUTRI INDRASWARI DEVIE badhe kadhaupaken kaliyan nak mas ANGGER DANANG WISNU DARPITO putra kakungipun Bapak SUWADJININGRAT saking Nyamplung, Ambar Ketawang, Gamping, Sleman, NGAYOGYAKARTA.

    Menggah ijab kabulipun badhe kaangkah ing,

    Dinten : Minggu Kliwon
    Surya kaping : 19 September 2010
    Wanci : tabuh 09:00 wekdal iring kilen.
    Panggenan : Masjid Besar Al-Akbar Kabupaten PACITAN
    Ingkang menika, menawi sepen ing sedaya reribetan saha dhangan ing penggalih, keparenga kula ngaturi rawuh panjenengan sekaliyan ing pahargyan dhauping pinanganten mbenjang,

    Dinten : Minggu Kliwon
    Surya kaping : 19 September 2010
    Wanci : tabuh 11:00 wekdal iring kilen ~ sak bibaripun
    Panggenan : Gedung Graha Bhayangkara Kabupaten PACITAN
    Saperlu hangestreni saha paring donga pangestu
    dhumateng pinanganten kekalih sumrambah ing sedayanipun.

    Mekaten atur kula, awit rawuh saha paring donga pangestunipun Bapak Ibu sekaliyan, kula ngaturaken agunging panuwun.
    Matur nuwun.
    Wassalaamu 'alaikum Wr. Wb.

    Atur taklim kula,

    ttd

    Bpk. SUDARMADJI sakluarga.

    3. Contoh Surat Undangan Khitanan

    Pacitan, __September 2010
    Bismillahirrohmaanirrohim
    Assalamu 'alaikum Wr. Wb.
    Winantu sagunging pakurmatan.
    Kanthi lumaraping nawala sedhahan, minangka sesulih pisowan kula wonten ing ngarsa panjenengan.
    Sinartan nyadhong berkahing Gusti Ingkang Maha Tunggal, kula sabrayat hanggadhahi pangangkah badhe ngawontenaken tasyakuran tuwin pawiwahan KHITANAKEN yoga kula ingkang nami, SATRIO BAGUS ARIYANTO mbenjang ing,

    Dinten : Minggu Kliwon
    Suryo Kaping : 19 September 2010
    Wanci : tabuh 09:00 wekdal iring kilen ~ sak bibaripun.
    Mapan ing : Griyo kulo RT.01 RW.02, Dusun Kauman, Kelurahan Pacitan, PACITAN
    Setuhu badhe damel bombong saha mongkoging manah kula sabrayat, mbok bilih dhangan ing penggalih saha sepen ing sambekala, bapak/ibu saha sederek sekalian keparenga rawuh hangestreni saha paring puja pangastuti dhumateng yoga kula sri pengantin, supados dados putra ingkang shaleh saha ngabekti dhumateng tiyang sepah kekalih, amin.
    Wasan kula sagotrah hangaturaken agunging panuwun saha nyuwun lubering pangaksami sadaya kekirangan dalah kalepatan kula.
    Wassalamu 'alaikum Wr. Wb.

    Atur Taklim Kula,

    ttd

    Kulawarga Bpk. SUGENG RIYADI

    Mungkin ini yang bisa saya post untuk sekarang, lain kali akan kami perbanyak lagi. kalau ada yang membutuhkan silahkan saja di copy dan kalau kurang silahkan kasih komentarnya. terima kasih.

    Tujuan dan Hikmah pernikahan


    Kompilasi Hukum Islam merumuskan bahwa tujuan perkawinan (pernikahan) adalah "untuk mewujudkan kehidupan rumahtangga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah:, yaitu rumahtangga yang tenteram, penuh kasih sayang, serta bahagia lahir dan batin.
    Rumusan ini sesuai dengan firman Allah SWT :
    Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. (QS. Ar-Ruum (30) : ayat 21)
    Tujuan dan Hikmah pernikahan
    Tujuan perkawinan tidak hanya terbatas pada hal-hal yang bersifat biologis yang menghalalkan hubungan seksual antara kedua belah pihak, tetapi lebih luas, meliputi segala aspek kehidupan rumah tangga, baik lahiriah maupun batiniah.
    Sejalan dengan tujuannya, perkawinan memiliki sejumlah hikmah atau keuntungan bagi orang yang melakukannya. Dalam Ensiklopedi Tematis Dunia Islam (3, Ajaran, Perkawinan halaman 66), serta menurut Sayid Sabiq, ulama fikih kontemporer (I. Istanha, Mesir, 1915) dalam bukunya Fiqh as-Sunnah, mengemukakan sebagai berikut :

    1. Dapat menyalurkan naluri seksual dengan cara sah dan terpuji.
    Bagi manusia, naluri tersebut sangat kuat dan keras serta menuntut adanya penyaluran yang baik. Jika tidak, dapat mengakibatkan kegoncangan dalam kehidupannya. Dengan perkawinan, kehidupan manusia menjadi segar dan tenteram serta terpelihara dari perbuatan keji dan rendah (QS. Ar-Ruum (30) : ayat 21).

    2. Memelihara dan memperbanyak keturunan dengan terhormat, sehingga dapat menjaga kelestarian hidup umat manusia.
    Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. (QS. An-Nisa' (4): ayat 1)

    Allah menjadikan bagi kamu isteri dari jenis kamu sendiri dan menjadikan bagimu dari isteri kamu itu, anak-anak dan cucu-cucu, dan memberimu rezeki dari yang baik-baik. Maka mengapakah mereka beriman kepada yang bathil dan mengingkari nikmat Allah ?" (QS. An-Nahl (16): ayat 72)


    3. Naluri keibuan dan kebapakan akan saling melengkapi dalam kehidupan rumahtangga bersama anak-anak.
    Hubungan itu akan menumbuhkan rasa kasih sayang, sikap jujur, dan keterbukaan, serta saling menghargai satu sama lain sehingga akan meningkatkan kualitas seorang manusia. (QS.30:21, 16:72).

    4. Melahirkan organisasi (tim) dengan pembagian tugas/tanggungjawab tertentu, serta melatih kemampuan bekerjasama.
    Tugas intern pengaturan rumahtangga termasuk memelihara dan mendidik anak yang umumnya menjadi tugas utama isteri dan tentunya harus bekerjasama dengan suami; mencari nafkah yang menjadi kewajiban suami dapat dibantu oleh istrinya; pengelolaan keuangan yang sebaiknya menjadi bagian dari isteri, namun dengan seijin suami dalam pembelanjaannya. Ini semua meningkatkan sikap disiplin, rajin, kerja keras, syukur, sabar, dan tawakal.

    5. Terbentuknya tali kekeluargaan dan silaturahmi antar keluarga, sehingga memupuk rasa sosial dan dapat membentuk masyarakat yang kuat serta bahagia.

    Syair untuk Pemuda


    Wahai kawula muda
    Tulang punggung negara
    Pemuda sekarang
    Generasi yang akan datang

    Menangislah di masa remajamu,
    kelak engkau kan tertawa di masa tuamu.
    Apabila tertawa di masa muda,
    Kelak engkau akan menangis di masa tua.

    Masa muda masa paling berharga,
    maka jangan sampai berlalu begitu saja.
    Manfaatkan utk mencari ilmu,
    buat bekal besuk di hari tuamu.
    Masa muda cuma sekali saja,
    jangan sampai digunakan untuk foya-foya.
    Ketahui sesudah tua nanti,
    tidak mungkin kau akan kembali muda lagi.

    Masa muda masa yang sangat riskan,
    untuk itu jaga diri dan kuatkan iman.
    Jangan sampai kau salah pergaulan,
    akibatnya hanya menimbulkan penyesalan.

    Hai pemuda singsingkan lengan baju,
    demi untuk menyongsong hidup masa depanmu.
    Belajarlah dan bekerja yang giat,
    biar tidak dijadikan sasaran nasehat….

    Serat Jayengbaya

    Anggitan : R. Ng. Ronggawarsita.

    Asmaradana

    19.
    Baya ijih enak dadi,
    topeng tanggon tetanggapan,
    angreceh carut cangkeme,
    dhasar jogetku wis kondhang,
    kalamun dadi klana,
    yen kang seneng padha kenyut,
    nyatane asung meruba.
    (Isih luwih enak dadi topeng sing kondhang. Mangan enak ora ana lerene.Dhasare aku wis kondhang yen njoged klana. Sing seneng padha katut, nyatane dheweke menehi persen)

    20.
    Rupa dandanan adi-adi,
    terkadang tur-atur arta,
    kecukup sakala bae,
    mulih nopeng katon kapang,
    pra bedhang padha ngadhang,
    kang akeh mung bangsa bakul,
    bakune kang baresetan.

    (Arupa dandanan kang endah-endah, terkadhang sok menehi dhuwit sing cukup sanalika iku uga, mulih saka tanggapan, para bedhang wis padha ngadhang. Ning akeh-akehe para bakul. Pokoke seneng dandan).

    21.
    Prapteng panti durung nganti,
    nggaleyeh banjur binayang,
    kumroyok rebut pijete,
    tan nganggo gigu reh agal,
    anggepku lir kaunggar,
    sengga anggoning aluhung,
    nanging kang dadi sumelang

    (Durung nganti tekan omah, leyehan banjur didabyang, kabeh rebutan arep mijeti, wis ora nganggo gigu. Aku rumangsa diuja, kaya-kaya dadi panggedhe. Nanging sing dadi sumelangku ...)

    22.
    Saupama aku lagi,
    dadi Klana Sewandana,
    duk kirab gendhinge gebyog,
    jogedku ajanggilengan,
    galak ulat njalalat,
    siyut prog tibaning kepruk,
    topengku angemprak-emprak.

    ( Saupamene aku lagi dadi Klana Sewandana, nalika njogedi gendhing, praenku (ulat) galak,jlalatan mata tajem. Dumadakan dikepruk wong, topengku ajur sawalang-walang)

    23.
    Prapteng rai rahku mili,
    lir lilin lembau abang,
    bengep praenku kabeh,
    iba ta wirangku mana,
    bareng ingsun waspada,
    yen parang rusak anganjur,
    ngunyeri mata astanya.

    (Getihku mili neng rai, kaya lilin lembau abang, raiku bengep kabeh. Mendah isinku. Bareng takwaspadakake ana priyayi luhur jumeneng. Astane nudingi mripat).

    Serat Jayengbaya

    Anggitan : R. Ng. Ronggawarsita.
    Asmaradana

    9.
    Lamun nuju sasi becik,
    bancang-bancang sanak ngundang,
    matang suku pamanjere,
    yen wis tekaning semaya,
    tekaku aneng papan,
    den iring rehku gumrudug,
    labete wong dadi ngarsa.


    10.
    Pinethuk kang duwe kardi,
    sawise den suba-suba,
    sakancaku wareg kabeh,
    banjur manggon ing pagongan,
    lungguhku aneng ngarsa,
    natap gendhing kalaganjur,
    gumer gumuruh angangkang.
    11.
    Nuli gendhing gedhe muni,
    manira angasta rebab,
    pacakku amenglang-mengleng,
    menga-mengo sarwi warah,
    lelagone bremara,
    angler runtut pangrebabku,
    tan garantes lir garantang.


    12.
    Sagunging para priyayi,
    yayah kerut ing pangraras,
    obah kabeh sarandhune,
    ana kang nggeterken asta,
    tanapi molah jangga,
    janggilengan monthak-manthuk,
    munthukku ora karuwan.


    13.
    Meh tanpa meneng samenit,
    muni maneh wis karenan,
    karana sagung suguhe,
    tan ana kang kuciwa,
    tukon tike katekan,
    tekan sajen sajeng sindur,
    tebok tampah tumpa-tumpa.


    14.
    Sabubare banjur mulih,
    bareng bari ronggengira,
    ngiras main karo ngombe,
    ngumbar swara turut marga,
    lakuku geluyuran,
    anggepku kaya kumendhur,
    mung kacek tan nganggo srempang.


    15.
    Atiku seneng kepati,
    bisa main tanpa beya,
    biyen-biyen mbok mangkene,
    awakku uwis kepenak,
    pan ora kedhungsangan,
    tur tinut sakeh kancaku,
    prasasat wis meh madana.


    16.
    Nanging melangku sathithik,
    yen nuju kanggo nayuban,
    nabuhi priyayi akeh,
    ga ana sawiji ingkang,
    mbeksa mundhut gendhingan,
    kang arang kanggo ing tayub,
    aku rada palingukan,


    17.
    Dhedhasare aku iki,
    kabeh gendhing durung bisa,
    banjur disawat hergelek,
    mak pres bathukku kang kena,
    beling tumancep mata,
    sapandhapa hoter umyung,
    mung muni : niyaga edan.


    18.
    Ah wis nora kudu dadi,
    niyaga lamun kaetang,
    untunge mung nistha bae,
    dhuwite cukup sapitrah,
    yen marengi cilaka,
    bathine bathukku buncur,
    mata picak mek-emekan.


    Tegese tembung :
    lamun = yen, apabila.
    bancang-bancang = gage-gage , cepat-cepat.
    matang suku = 4 suku. 1 suku = 0,5 rupiyah.
    pamanjere = porsekot.
    semaya = janji.
    rehku = andhahanku, bawahanku, anggotaku.
    labet = jalaran, karena.
    ngarsa = ngarep, ngayun, panggedhe, pemimpin.
    kardi = karya, gawe, hajat.
    den suba-suba = disuguhi, dikurmati, dihormati, dijamu.
    pagongan = panggonan gong, tempat gamelan.
    natap gendhing = nuthuk gendhing, memainkan lagu.
    kalaganjur = jenenge gendhing, nama gendhing.
    gumuruh = rame, gemuruh.
    angangkang = ngumandhang, menggema.
    manira = aku, kula, ulun, ingsun, ingong, ingwang, saya.
    pacakku = gayaku.
    sarwi = sarwa, karo, sambil.
    bremara = kombang, ngumandhang.
    garantes= sedhih, memilukan hati.
    priyayi = para yayi (adhik raja), kerabat ratu, bangsawan.
    yayah = kaya, kadya, lir, pendah, pindha, seperti.
    pangraras = nglaras, ngematake, menikmati.
    sarandhune = sakojur, seluruh tubuh.
    tanapi = ora keri, lan, dan, selalu.
    jangga = gulu, leher.
    janggilengan = njinggleng, memperhatikan.
    munthukku = bombongku, rasa bangga saya.
    karenan = kalegan, kasenengan, puas.
    karana = jalaran.
    tike = rokok.
    sajeng = inuman keras, tuak.
    sindur = kain.
    tebok = tampah cilik.
    tampah = wadhah sing digawe saka nam-naman pring wangune bunder.
    tumpa-tumpa = tumpuk-tumpuk, bola-bali, ambal-ambalan, berulang-ulang.
    bari = barek (Sby), karo.
    ronggengira = tandhake, tledheke, sing njoged, penari.
    ngiras = njajan ing warung(restoran).
    marga = dalan, jalan.
    kumendhur = komandan, commander.
    seneng kepati = seneng banget.
    tinut = tut + in = ditut, diikuti.
    madana = kaya wedana. wedana = pangkat sandhuwure camat.
    melang = kuwatir.
    mbeksa = njoged, menari.
    hergelek = botol wadhah inuman.
    umyung = rame, horeg, geger.
    sapitrah = beras 2 (rong) beruk, 2,5 kilogram.
    buncur = bocor.

    Serat Jayengbaya

    Karangan R. Ng. Ronggawarsita.
    Buku iki dikarang sepisanan nalika panjenengane isih pangkat mantri jajar (pangkat sing paling endhek ing kraton), durung dadi pujangga kraton Surakarta Hadiningrat.


    Asmaradana

    1.
    Kidung kadresaning kapti,
    yayah nglamong tanpa mangsa,
    hingan silarja jatine,
    satata samaptaptinya,
    raket rakiting ruksa,
    tahan tumaneming siku,
    karasuk sakeh kesrakat.

    (Tembang kanthi tumemene ati sanadyan kaya wong dleming tanpa wayah, nganti sayekti tata, tansah siyaga ing karep, ngadhepi karusakan, tahan marang sesiku, nampa barang kang kesrakat.)

    2.
    Kaenakaning ngaurip,
    nora kaya blantik jaran,
    bisa tegar esuk sore,
    durung untung wis kepenak,
    lamun ana bendara,
    anon jaran kempitanku,
    wangune rada karenan.

    (Kepenake wong urip, ora kaya blantik jaran. Bisa tegar esuk sore, durung untung wis kepenak, yen ana bendara weruh jaran daganganku, sing ketoke rada seneng.)

    3.
    Banjur aku den timbali,
    "Kakang, Kakang marenea",
    jaranmu aku ceceg,
    saurku gampang kewala,
    "O, inggih kasinggihan,
    awis wonten emperipun,
    kuda kang kadi punika.

    (Banjur ditimbali: "Kakang, aku cocog karo jaranmu". Wangsulanku gampang bae:"Inggih, Kasinggihan, manawi kapal ingkang kados punika wonten emperipun menawi awis.")

    4.
    Sawise den pariksani,
    durung nganti takon rega,
    banjur nganyang dumalodok,
    limang atus bayar kontan,
    den entol sawatara,
    nora suwe mundhak satus,
    tur iku nganggo nrerepa.

    (Sawise dipriksani banjur nganyang sanajan durung takon rega. Limang atus bayar kontan, dientol sawetara, nora suwe diundhaki satus karo ngrerepa supaya diwenehake.)

    5.
    Dasar wis oleh bathi,
    temene rada kakehan,
    sun -saosken penganyane,
    tan asuwe bayar krompyang,
    ganep nem atus pethak,
    tanpa ceblek cengklong cundhuk,
    iya wong bendara mbludag,

    (Dhasare aku wis oleh bathi, satemene mono ya rada kakehan. Panganyange tak wenehake , ora suwe dibayar kontan, ganep 600 rupiah. Tanpa kalong sethithik bae. Pancene sing tuku bendara (bangsawan).

    6.
    Banjur mulih anggawa dhuwit,
    tetuku kang endah-endah,
    kang larang-larang kang aneh,
    tekan ngomah ropyan-ropyan,
    ngundangi tangga cedhak,
    banenku gar-ger gumuyu,
    lir perkumpuling punggawa.

    (Banjur mulih nggawa dhuwit. Tak tukokake barang-barang sing larang-larang, apik-apik, lan sing aneh-aneh kabeh tak tuku. Teka ngomah pesta nganggo ngundangi tangga cedhak. Swarane guyon ger-geran, kaya kumpulane para punggawa (pejabat pemerintah).

    7.
    Amung melangku sathithik,
    yen nuju oleh kempitan,
    jaran bendana myang bandhol,
    lagi kepenake nunggang,
    kaget ana swara,
    njondhil aku tibeng pungkur,
    den-slenthik endhasku pecah.

    (Mung kuwatirku, yen oleh dagangn jaran sing giras lan bandhol (bandhel). Lagi kepenake nunggang, jarane kaget ana swara. Jarane njondhil, aku tiba menyang buri, kaslenthik jaran endhasku pecah).

    8.
    Saliraku adus getih,
    poloku mili mbelabar,
    kang weruh ngrubung mung nonton,
    ah wis moh belantik jaran,
    jaragan raganingwang,
    panegar dudu trahipun,
    angur dadia niyaga.

    (Awakku adus getih, poloku mili mblabar. Sing weruh padha nonton, ngrubung. Ah, aku wis emoh dadi blantik jaran, pancene aku dudu turune panegar. Angur (luwih becik ) dadi niyaga.)

    GRAHANA

    Apa sira ora rumangsa,
    lamun iku pratandha
    ilanging rasa kawicaksanan
    ilanging rasa kamanungsan
    ilanging rasa keadilan
    ilanging rasa kajujuran
    ilanging rasa rumangsa
    karem kerem ing tumindak cidra
    kapan
    kapan
    kapan
    bisa waluya jati
    apa isih ngenteni pepesthening Gusti ?

    Wong Jawa Dadi Raja

    Mengapa harus orang jawa.
    Salah satu polemik yang timbul jika terjadi pergantian kepemimpinan negri ( Capres dan Cawapres ) adalah dari etnis apa calon itu berasal .
    Bagi saya dan anda mungkin issu etnis sudah tidak populis dan ketinggalan zaman , tapi bagi sebagaian besar masyarakat kususnya etnis jawa seperti orang tua saya sulit merelakan dengan ikhlas jika negri ini dipimpin oleh orang dari luar jawa , bahkan orang tua itu nrima saja jika dibilang ketinggalan jaman.

    Bukan magsud saya untuk berkampanye , disini saya justru menelisik sejak kapan keharusan itu muncul dan siapa pula yang mengawali gagasan bahwa pemimpin Indonesia ini harus orang jawa.

    Jawaban itu saya temukan salah satunya adalah didalam ” Serat Dharma Gandhul “.
    Pemimpin atau raja harus “Tiang jawi ” menurut catatan dalam serat Dharma Gandhul adalah pesan atau wasiat dari Prabu Brawijaya V kecewa terhadap anaknya sendiri yang bernama Bambang Fatah atau Babah Fatah atau Raden Patah , kekecewaan dan kemarahan akibat anak yang sudah menjadi Calon raja justru makar pada sang raja yang juga ayahnya sendiri , padahal ibunya sendiri yang etnis cina tidak merestui perbuatan R.Patah merobohkan Kerajaan Ayahandanya .
    Pesan Prabu Brawijaya ini disampaikan kepada R.Sahid ( S.Kalijaga ) kemudian secara gepok tular tanpa SMS dan Internet menyebar turun temurun kesegenap penjuru angin dimana saja ada orang jawa sampai sekarang ini. Walaupun sampai saat ini masih ada kontroversi mengenai kebenaran sejarah yang tertulis dalam Serat Dharma Gandhul bagi para ahli sastra dan sejarah ,hal itu belum dapat merubah pandangan awam terhadap isi pesan sang Prabu Brawijaya V , walaupun sudah hampir lima abad berlalu tapi seakan baru kemarin pesan itu disampaikan bersama hembusan suksesi kepemimpinan .
    Berikut ini adalah salinan dari Serat Dharma Gandhul :
    BÊBUKA.

    Sinarkara sarjunireng galih, myat carita dipangikêtira, kiyai Kalamwadine, ing nguni anggêguru, puruhita mring Raden Budi, mangesthi amiluta, duta rehing guru, sru sêtya nglampahi dhawah, panggusthine tan mamang ing lair batin, pinindha lir Jawata.

    Satuduhe Raden Budi êning, pan ingêmbun pinusthi ing cipta, sumungkêm lair batine, tan etung lêbur luluh, pangesthine ing awal akhir, tinarimeng Bathara, sasêdyanya kabul, agung nugraheng Hyang Suksma, sinung ilham ing alam sahir myang kabir, dumadya auliya.

    Angawruhi sasmiteng Hyang Widdhi, pan biyasa mituhu susêtya, mring dhawuh wêling gurune, kêdah mêdharkên kawruh, karya suka pirêneng jalmi, mring sagung ahli sastra, tuladhaning kawruh, kyai Kalamwadi ngarang, sinung aran srat Darmagandhul jinilid, sinung têmbang macapat.

    Pan katêmben amaos kinteki, têmbang raras rum sêya prasaja, trêwaca wijang raose, mring tyas gung kumacêlu, yun darbeya miwah nimpêni, pinirit tinuladha, lêlêpiyanipun, sawusnya winaos tamat, linaksanan tinêdhak tinurun sungging, kinarya nglipur manah.

    Pan sinambi-sambi jagi panti, sasêlanira ngupaya têdha, kinarya cagak lênggahe, nggennya dama cinubluk, mung kinarya ngarêm-arêmi, tarimanireng badan, anganggur ngêthêkur, ngêbun-bun pasihaning Hyang, suprandene tan kalirên wayah siwi, sagotra minulyarja.

    Wus pinupus sumendhe ing takdir, pan sumarah kumambang karseng Hyang, ing lokhilmakful tulise, panitranira nuju, ping trilikur ri Tumpak manis, Ruwah Je warsanira, Sancaya kang windu, masa Nêm ringkêlnya Aryang, wuku Wukir sangkalanira ing warsi: wuk guna ngesthi Nata (taun Jawa 1830).

    DARMAGANDHUL.

    Ing sawijining dina Darmagandhul matur marang Kalamwadi mangkene “Mau-maune kêpriye dene wong Jawa kok banjur padha ninggal agama Buddha salin agama Islam?”

    Wangsulane Ki Kalamwadi: “Aku dhewe iya ora pati ngrêti, nanging aku wis tau dikandhani guruku, ing mangka guruku kuwi iya kêna dipracaya, nyaritakake purwane wong Jawa padha ninggal agama Buddha banjur salin agama Rasul”.

    Ature Darmagandhul: “Banjur kapriye dongengane?”

    Ki Kalamwadi banjur ngandika maneh: “Bab iki satêmêne iya prêlu dikandhakake, supaya wong kang ora ngrêti mula-bukane karêben ngrêti”.

    Ing jaman kuna nagara Majapahit iku jênênge nagara Majalêngka, dene ênggone jênêng Majapahit iku, mung kanggo pasêmon, nanging kang durung ngrêti dêdongengane iya Majapahit iku wis jênêng sakawit. (1)

    Ing nagara Majalêngka kang jumênêng Nata wêkasan jêjuluk Prabu Brawijaya.

    Ing wêktu iku, Sang Prabu lagi kalimput panggalihe, Sang Prabu krama oleh Putri Cêmpa, (2) ing mangka Putri Cêmpa mau agamane Islam, sajrone lagi sih-sinihan, Sang Rêtna tansah matur marang Sang Nata, bab luruhe agama Islam, sabên marak, ora ana maneh kang diaturake, kajaba mung mulyakake agama Islam, nganti njalari katariking panggalihe Sang Prabu marang agama Islam mau.

    Ora antara suwe kaprênah pulunane Putri Cêmpa kang aran Sayid Rakhmat tinjo mênyang Majalêngka, sarta nyuwun idi marang Sang Nata, kaparênga anggêlarake sarengate agama Rasul. Sang Prabu iya marêngake apa kang dadi panyuwune Sayid rakhmat mau. Sayid Rakhmat banjur kalakon dhêdhukuh ana Ngampeldênta ing Surabaya (3) anggêlarake agama Rasul. Ing kono banjur akeh para ngulama saka sabrang kang padha têka, para ngulama lan para maulana iku padha marêk sang Prabu ing Majalêngka, sarta padha nyuwun dhêdhukuh ing pasisir. Panyuwunan mangkono mau uga diparêngake dening Sang Nata. Suwe-suwe pangidhêp mangkono mau saya ngrêbda, wong Jawa banjur akeh bangêt kang padha agama Islam.

    Sayid Kramat dadi gurune wong-wong kang wis ngrasuk agama Islam kabeh, dene panggonane ana ing Benang (4) bawah Tuban. Sayid Kramat iku maulana saka ing ‘Arab têdhake Kanjêng Nabi Rasulu’llah, mula bisa dadi gurune wong Islam. Akeh wong Jawa kang padha kelu maguru marang Sayid Kramat. Wong Jawa ing pasisir lor sapangulon sapangetan padha ninggal agamane Buddha, banjur ngrasuk agama Rasul. Ing Balambangan sapangulon nganti tumêka ing Bantên, wonge uga padha kelu rêmbuge Sayid Kramat.

    Mangka agama Buddha iku ana ing tanah Jawa wis kêlakon urip nganti sewu taun, dene wong-wonge padha manêmbah marang Budi Hawa. Budi iku Dzate Hyang Widdhi, Hawa iku karêping hati, manusa ora bisa apa-apa, bisane mung sadarma nglakoni, budi kang ngobahake.

    Sang Prabu Brawijaya kagungan putra kakung kang patutan saka Putri Bangsa Cina, miyose putra mau ana ing Palembang, diparingi têtêngêr Raden Patah.

    Barêng Raden Patah wis diwasa, sowan ingkang rama, nganti sadhereke seje rama tunggal ibu, arane Raden Kusen. Satêkane Majalêngka Sang Prabu kewran panggalihe ênggone arêp maringi sêsêbutan marang putrane, awit yen miturut lêluri saka ingkang rama, Jawa Buddha agamane, yen nglêluri lêluhur kuna, putraning Nata kang pambabare ana ing gunung, sêsêbutane Bambang. Yen miturut ibu, sêsêbutane:
    Kaotiang, dene yen wong ‘Arab sêsêbutane Sayid utawa Sarib. Sang Prabu banjur nimbali patih sarta para nayaka, padha dipundhuti têtimbangan ênggone arêp maringi sêsêbutan ingkang putra mau. Saka ature Patih, yen miturut lêluhur kuna putrane Sang Prabu mau disêbut Bambang, nanging sarehne ibune bangsa Cina, prayoga disêbut Babah, têgêse pambabare ana nagara liya. Ature Patih kang mangkono mau, para nayaka uga padha mupakat, mula Sang Nata iya banjur dhawuh marang padha wadya, yen putra Nata kang miyos ana ing Palembang iku diparingi sêsêbutan lan asma Babah Patah. Katêlah nganti tumêka saprene, yen blastêran Cina lan Jawa sêsêbutane Babah. Ing nalika samana, Babah Patah wêdi yen ora nglakoni dhawuhe ingkang rama, mulane katone iya sênêng, sênênge mau amung kanggo samudana bae, mungguh satêmêne ora sênêng bangêt ênggone diparingi sêsêbutan Babah iku.

    Ing nalika iku Babah Patah banjur jinunjung dadi Bupati ing Dêmak, madanani para bupati urut pasisir Dêmak sapangulon, sarta Babah Patah dipalakramakake oleh ing Ngampelgadhing, kabênêr wayahe kiyai Agêng Ngampel. Barêng wis sawatara masa, banjur boyong marang Dêmak, ana ing desa Bintara, sarta sarehne Babah Patah nalika ana ing Palembang agamane wis Islam, anane ing Dêmak didhawuhi nglêstarekake agamane, dene Raden Kusen ing nalika iku jinunjung dadi Adipati ana ing Têrung (5), pinaringan nama sarta sêsêbutan Raden Arya Pêcattandha.

    Suwening suwe sarak Rasul saya ngrêbda, para ngulama padha nyuwun pangkat sarta padha duwe sêsêbutan Sunan, Sunan iku têgêse budi, uwite kawruh kaelingan kang bêcik lan kang ala, yen wohe budi ngrêti marang kaelingan bêcik, iku wajib sinuwunan kawruhe ngelmu lair batin.

    Ing wêktu iku para ngulama budine bêcik-bêcik, durung padha duwe karêp kang cidra, isih padha cêgah dhahar sarta cêgah sare. Sang Prabu Brawijaya kagungan panggalih, para ngulama sarake Buddha, kok nganggo sêsêbutan Sunan, lakune isih padha cêgah mangan, cêgah turu. Yen sarak rasul, sirik cêgah mangan turu, mung nuruti rasaning lesan lan awak. Yen cêgah mangan rusak, Prabu Brawijaya uga banjur paring idi. Suwe-suwe agama Rasul saya sumêbar. Ing wêktu iku ana nalar kang aneh, ora kêna dikawruhi sarana netra karna sarta lesan, wêtune saka engêtan, jroning utêk iku yen diwarahi budi nyambut gawe, kang maca lan kang krungu nganggêp têmên lan ora, iya kudu ditimbang ing sabênêre, saiki isih ana wujuding patilasane, isih kêna dinyatakake, mula saka pangiraku iya nyata.

    Dhek nalika samana Sunan Benang sumêdya tindak marang Kadhiri, kang ndherekake mung sakabat loro. Satêkane lor Kadhiri, iya iku ing tanah Kêrtasana, kêpalangan banyu, kali Brantas pinuju banjir. Sunan Benang sarta sakabate loro padha nyabrang, satêkane wetan kali banjur niti-niti agamane wong kono apa wis Islam, apa isih agama Budi. Ature Ki Bandar wong ing kono agamane Kalang, sarak Buddha mung sawatara, dene kang agama Rasul lagi bribik-bribik, wong ing kono akeh padha agama Kalang, mulyakake Bandung Bandawasa. Bandung dianggêp Nabine, yen pinuji dina Riyadi, wong-wong padha bêbarêngan mangan enak, padha sênêng-sênêng ana ing omah. Sunan Benang ngandika: “Yen ngono wong kene kabeh padha agama Gêdhah, Gêdhah iku ora irêng ora putih, tanah kene patut diarani Kutha Gêdhah”.

    Ki Bandar matur: “Dhawuh pangandika panjênêngan, kula ingkang nêkseni”.
    Tanah saloring kutha kadhiri banjur jênêng Kutha Gêdhah, nganti têkane saiki isih karan Kutha Gêdhah, nanging kang mangkono mau arang kang padha ngrêti mula-bukane.

    Sunan Benang ngandika marang sakabate: “Kowe goleka banyu imbon mênyang padesan, kali iki isih banjir, banyune isih buthêk, yen diombe nglarani wêtêng, lan maneh iki wancine luhur, aku arêp wudhu, arêp salat”.

    Sakabate siji banjur lunga mênyang padesan arêp golek banyu, têkan ing desa Pathuk ana omah katone suwung ora ana wonge lanang, kang ana mung bocah prawan siji, wajah lagi arêp mêpêg birahi, ing wêktu iku lagi nênun. Sakabat têka sarta alon calathune: “mBok Nganten, kula nêdha toya imbon bêning rêsik”. mBok Prawan kaget krungu swarane wong lanang, barêng noleh wêruh lanang sajak kaya santri, MBok Prawan salah cipta, pangrasane wong lanang arêp njêjawat, mêjanani marang dheweke, mula ênggone mangsuli nganggo têmbung saru: “nDika mêntas liwat kali têka ngangge ngarani njaluk banyu imbon, ngriki botên entên carane wong ngimbu banyu, kajaba uyuh kula niki imbon bêning, yen sampeyan ajêng ngombe”.

    Santri krungu têtêmbungan mangkono banjur lunga tanpa pamit lakune dirikatake sarta garundêlan turut dalan, satêkane ngarsane Sunan Benang banjur ngaturake lêlakone nalika golek banyu. Sunan Benang mirêng ature sakabate, bangêt dukane, nganti kawêtu pangandikane nyupatani, ing panggonan kono disabdakake larang banyu, prawane aja laki yen durung tuwa, sarta jakane aja rabi yen durung dadi jaka tuwa, barêng kêna dayaning pangandika mau, ing sanalika kali Brantas iline dadi cilik, iline banyu kang gêdhe nyimpang nrabas desa alas sawah lan patêgalan, akeh desa kang padha rusak, awit katrajang ilining banyu kali kang ngalih iline, kali kang maune iline gêdhe sanalika dadi asat. Nganti tumêka saprene tanah Gêdhah iku larang banyu, jaka lan prawane iya nganti kasep ênggone omah-omah. Sunan Benang têrus tindak mênyang Kadhiri.

    Ing wêktu iki ana dhêmit jênênge Nyai Plêncing, iya iku dhêmit ing sumur Tanjungtani, tansah digubêl anak putune, padha wadul yen ana wong arane Sunan Benang, gawene nyikara marang para lêlêmbut, ngêndêl-êndêlake kaprawirane, kali kang saka Kadhiri disotake banjur asat sanalika, iline banjur salin dalan kang dudu mêsthine, mula akeh desa, alas, sawah sarta patêgalan, kang padha rusak, iya iku saka panggawene Sunan Benang, kang uga ngêsotake wong ing kono, lanang wadon ngantiya kasep ênggone omah-omah, sarta kono disotake larang banyu sarta diêlih jênênge tanah aran Kutha Gêdhah, Sunan Benang dhêmêne salah gawe. Anak putune Nyai Plêncing padha ngajak supaya Nyai Plêncing gêlêma nêluh sarta ngrêridhu Sunan Benang, bisaa tumêka ing pati, dadi ora tansah ganggu gawe. Nyai Plêncing krungu wadule anak putune mangkono mau, enggal mangkat mêthukake lakune Sunan Benang, nanging dhêmit-dhêmit mau ora bisa nyêdhaki Sunan Benang, amarga rasane awake padha panas bangêt kaya diobong. Dhêmit-dhêmit mau banjur padha mlayu marang Kadhiri, satêkane ing Kadhiri, matur marang ratune, ngaturake kahanane kabeh. ratune manggon ing Selabale. (6) Jênênge Buta Locaya, dene Selabale iku dununge ana sukune gunung Wilis. Buta Locaya iku patihe Sri Jayabaya, maune jênênge kiyai Daha, duwe adhi jênênge kiyai Daka. Kiyai daha iki cikal-bakal ing Kadhiri, barêng Sri Jayabaya rawuh, jênênge kiyai Daha dipundhut kanggo jênênge nagara, dheweke diparingi Buta Locaya, sarta banjur didadekake patihe Sang Prabu Jayabaya.

    Buta iku têgêse: butêng utawa bodho, Lo têgêse kowe, caya têgêse:
    kêna dipracaya, kiyai Buta Locaya iku bodho, nanging têmên mantêp sêtya ing Gusti, mulane didadekake patih. Wiwite ana sêbutan kiyai, iya iku kiyai daha lan kiyai Daka, kiyai têgêse: ngayahi anak putune sarta wong-wong ing kanan keringe.

    Jêngkare Sri Narendra anjujug ing omahe kiyai Daka, ana ing kono Sang Prabu sawadya-balane disugata, mula sang Prabu asih bangêt marang kiyai Daka, jênênge kiyai Daka dipundhut kanggo jênêng desa, dene kiyai Daka banjur diparingi jênêng kiyai Tunggulwulung, sarta dadi senapatining pêrang.

    Samuksane Sang Prabu Jayabaya lan putrane putri kang aran Ni Mas Ratu Pagêdhongan, Buta Locaya lan kiyai Tunggulwulung uga padha muksa; Ni Mas Ratu Pagêdhongan dadi ratuning dhêmit nusa Jawa, kuthane ana sagara kidul sarta jêjuluk Ni Mas Ratu Anginangin. Sakabehe lêlêmbut kang ana ing lautan dharatan sarta kanan keringe tanah Jawa, kabeh padha sumiwi marang Ni Mas Ratu Anginangin.

    Buta Locaya panggonane ana ing Selabale, dene kiyai Tunggulwulung ana ing gunung Kêlut, rumêksa kawah sarta lahar, yen lahar mêtu supaya ora gawe rusaking desa sarta liya-liyane.

    Ing wêktu iku kiyai Buta Locaya lagi lênggah ana ing kursi kêncana kang dilemeki kasur babut isi sari, sarta kinêbutan êlaring mêrak, diadhêp patihe aran Megamêndhung, lan putrane kakung loro uga padha ngadhêp, kang tuwa arane Panji Sêktidiguna, kang anom
    aran panji Sarilaut.

    Buta Locaya lagi ngandikan karo kang padha ngadhêp, kaget kasaru têkane Nyai Plêncing, ngrungkêbi pangkone, matur bab rusake tanah lor Kadhiri, sarta ngaturake yen kang gawe rusak iku, wong saka Tuban kang sumêdya lêlana mênyang Kadhiri, arane Sunan Benang. Nyai Plêncing ngaturake susahe para lêlêmbut sarta para manusa.

    Buta Locaya krungu wadule Nyai Plêncing mangkono mau bangêt dukane, sarirane nganti kaya gêni, sanalika banjur nimbali putra-wayahe sarta para jin pêri parajangan, didhawuhi nglawan Sunan Benang. Para lêlêmbut mau padha sikêp gêgaman pêrang, sarta lakune barêng karo angin, ora antara suwe lêlêmbut wis têkan ing saêloring desa Kukum, ing kono Buta Locaya banjur maujud manusa aran kiyai Sumbre, dene para lêlêmbut kang pirang-pirang ewu mau padha ora ngaton, kiyai Sumbre banjur ngadêg ana ing têngah dalan sangisoring wit sambi, ngadhang lakune Sunan Benang kang saka êlor.

    Ora antara suwe têkane Sunan Benang saka lor, Sunan Benang wis ora kasamaran yen kang ngadêg ana sangisoring wit sambi iku ratuning dhêmit, sumêdya ganggu gawe, katitik saka awake panas kaya mawa. Dene lêlêmbut kang pirang-pirang ewu mau padha sumingkir adoh, ora bêtah kêna prabawane Sunan Benang. Mangkono uga Sunan Benang uga ora bêtah cêdhak karo kiyai Sumbre, amarga kaya dene cêdhak mawa, kiyai Sumbre mangkono uga.

    Sakabat loro kang maune padha sumaput, banjur padha katisên, amarga kêna daya prabawane kiyai Sumbre.

    Sunan Benang andangu marang kiyai Sumbre: “Buta Locaya! Kowe kok mêthukake lakuku, sarta nganggo jênêng Sumbre, kowe apa padha slamêt?”.

    Buta Locaya kaget bangêt dene Sunan Benang ngrêtos jênênge dheweke, dadi dheweke kawanguran karêpe, wusana banjur matur marang Sunan Benang: “Kados pundi dene paduka sagêd mangrêtos manawi kula punika Buta Locaya?”.

    Sunan Benang ngandika: “Aku ora kasamaran, aku ngrêti yen kowe ratuning dhêmit Kadhiri, jênêngmu Buta Locaya.”.

    Kiyai Sumbre matur marang Sunan Benang: “Paduka punika tiyang punapa, dene mangangge pating gêdhabyah, dede pangagêm Jawi. Kados wangun walang kadung?”.

    Sunan Benang ngandika maneh: “Aku bangsa ‘Arab, jênêngku Sayid Kramat, dene omahku ing Benang tanah Tuban, mungguh kang dadi sêdyaku arêp mênyang Kadhiri, pêrlu nonton patilasan kadhatone Sang Prabu Jayabaya, iku prênahe ana ing ngêndi?”.

    Buta Locaya banjur matur: “Wetan punika wastanipun dhusun Mênang (9), sadaya patilasan sampun sami sirna, kraton sarta pasanggrahanipun inggih sampun botên wontên, kraton utawi patamanan Bagendhawati ingkang kagungan Ni Mas Ratu Pagêdhongan inggih sampun sirna, pasanggrahan Wanacatur ugi sampun sirna, namung kantun namaning dhusun, sadaya wau sirnanipun kaurugan siti pasir sarta lahar saking rêdi Kêlut. Kula badhe pitaken, paduka gêndhak sikara dhatêng anak putu Adam, nyabdakakên ingkang botên patut, prawan tuwa jaka tuwa, sarta ngêlih nami Kutha Gêdhah, ngêlih lepen, lajêng nyabdakakên ing ngriki awis toya, punika namanipun siya-siya botên surup, sikara tanpa dosa, saiba susahipun tiyang gêsang laki rabi sampun lungse, lajêng botên gampil pêncaripun titahing Latawalhujwa, makatên wau saking sabda paduka, sêpintên susahipun tiyang ingkang sami kêbênan, lepen Kadhiri ngalih panggenan mili nrajang dhusun, wana, sabin, pintên-pintên sami risak, ngriki paduka-sotakên, sêlaminipun awis toya, lepenipun asat, paduka sikara botên surup, nyikara tanpa prakara”.

    Sunan Benang ngandika: “Mula ing kene tak-êlih jênêng Kutha Gêdhah, amarga wonge kene agamane ora irêng ora putih, têtêpe agama biru, sabab agama Kalang, mula tak-sotake larang banyu, aku njaluk banyu ora oleh, mula kaline banjur tak-êlih iline, kene kabeh tak sotake larang banyu, dene ênggonku ngêsotake prawan tuwa jaka tuwa, amarga kang tak jaluki banyu ora oleh iku, prawan baleg.”.

    Buta Locaya matur maneh: “Punika namanipun botên timbang kaliyan sot panjênêngan, botên sapintên lêpatipun, tur namung tiyang satunggal ingkang lêpat, nanging ingkang susah kok tiyang kathah sangêt, botên timbang kaliyan kukumipun, paduka punika namanipun damêl mlaratipun tiyang kathah, saupami konjuk Ingkang Kagungan Nagari, paduka inggih dipunukum mlarat ingkang langkung awrat, amargi ngrisakakên tanah, lah sapunika mugi panjênêngan-sotakên wangsulipun malih, ing ngriki sagêda mirah toya malih, sagêd dados asil panggêsangan laki rabi taksih alit lajêng mêncarakên titahipun Hyang Manon. Panjênêngan sanes Narendra têka ngarubiru agami, punika namanipun tiyang dahwen”.

    Sunan Benang ngandika: “Sanadyan kok-aturake Ratu Majalêngka aku ora wêdi”.

    Buta Locaya barêng krungu têmbung ora wêdi marang Ratu Majalêngka banjur mêtu nêpsune, calathune sêngol: “Rêmbag paduka niki dede rêmbage wong ahli praja, patute rêmbage tiyang entên ing bambon, ngêndêlake dumeh tiyang digdaya, mbok sampun sumakehan dumeh dipunkasihi Hyang Widdhi, sugih sanak malaekat, lajêng tumindak sakarsa-karsa botên toleh kalêpatan, siya dahwen sikara botên ngangge prakara, sanadyan ing tanah Jawi rak inggih wontên ingkang nglangkungi kaprawiran paduka, nanging sami ahli budi sarta ajrih sêsikuning Dewa, têbih saking ahli budi yen ngantos siya dhatêng sêsami nyikara tanpa prakara, punapa paduka punika tiyang tunggilipun Aji Saka, muride Ijajil. Aji Saka dados Ratu tanah Jawi namung tigang taun lajêng minggat saking tanah Jawi, sumbêr toya ing Mêdhang saurutipun dipunbêkta minggat sadaya, Aji Saka tiyang saka Hindhu, paduka tiyang saking ‘Arab, mila sami siya-siya dhatêng sêsami, sami damêl awising toya, paduka ngakên Sunan rak kêdah simpên budi luhur, damêl wilujêng dhatêng tiyang kathah, nanging kok jêbul botên makatên, wujud paduka niki jajil bêlis katingal, botên tahan digodha lare, lajêng mubal nêpsune gêlis duka, niku Sunan napa? Yen pancen Sunaning jalma yêktos, mêsthi simpên budi luhur. Paduka niksa wong tanpa dosa, nggih niki margi paduka cilaka, tandhane paduka sapunika sampun jasa naraka jahanam, yen sampun dados, lajêng paduka-ênggeni piyambak, siram salêbêting kawah wedang ingkang umob mumpal-mumpal. Kula niki bangsaning lêlêmbut, sanes alam kaliyan manusa, ewadene kula taksih engêt dhatêng wilujêngipun manusa. Inggih sampun ta, sapunika sadaya ingkang risak kula-aturi mangsulakên malih, lepen ingkang asat lan panggenan ingkang sami katrajang toya kula-aturi mangsulakên kados sawaunipun, manawi panjênêngan botên karsa mangsulakên, sadaya manusa Jawi ingkang Islam badhe sami kula-têluh kajêngipun pêjah sadaya, kula tamtu nyuwun bantu wadya bala dhatêng Kanjêng Ratu Ayu Anginangin ingkang wontên samodra kidul”.

    Sunan Benang barêng mirêng nêpsune Buta Locaya rumaos lupute, dene gawe kasusahan warna-warna, nyikara wong kang ora dosa, mula banjur ngandika: “Buta Locaya! aku iki bangsa Sunan, ora kêna mbaleni caturku kang wus kawêtu, besuk yen wus limang atus taun, kali iki bisa bali kaya mau-maune”.

    Buta Locaya barêng krungu kêsagahane Sunan Benang, banjur nêpsu maneh, nuli matur marang Sunan Benang: “Kêdah paduka-wangsulna sapunika, yen botên sagêd, paduka kula-banda”.

    Sunan Benang ngandika marang Buta Locaya: “Wis kowe ora kêna mangsuli, aku pamit nyimpang mangetan, woh sambi iki tak-jênêngake cacil, dene kok kaya bocah cilik padha tukaran, dhêmit lan wong pêcicilan rêbut bênêr ngadu kawruh prakara rusaking tanah, sarta susahe jalma lan dhêmit, dak-suwun marang Rabbana, woh sambi dadi warna loro kanggone, daginge dadiya asêm, wijine mêtuwa lêngane, asêm dadi pasêmoning ulat kêcut, dene dhêmit padu lan manusa, lênga têgêse dhêmit mlêlêng jalma lunga. Ing besuk dadiya pasêksen, yen aku padu karo kowe, lan wiwit saiki panggonan têtêmon iki, kang lor jênênge desa Singkal, ing kene desa ing Sumbre, dene panggonane balamu kang ana ing kidul iku jênênge desa Kawanguran”.

    Sunan Benang sawuse ngandika mangkono banjur mlumpat marang wetan kali, katêlah nganti tumêka saprene ing tanah Kutha Gêdhah ana desa aran Kawanguran, Sumbre sarta Singkal, Kawanguran têgêse kawruhan, Singkal têgêse sêngkêl banjur nêmu akal.

    Buta Locaya nututi tindake Sunan Benang. Sunan Benang tindake têkan ing desa Bogêm, ana ing kono Sunan Benang mriksani rêca jaran, rêca mau awak siji êndhase loro, dene prênahe ana sangisoring wit trênggulun, wohe trênggulun mau akeh bangêt kang padha tiba nganti amblasah, Sunan Benang ngasta kudhi, rêca jaran êndhase digêmpal.

    Buta Locaya barêng wêruh patrape Sunan Benang anggêmpal êndhasing rêca jaran, saya wuwuh nêpsune sarta mangkene wuwuse:
    “Punika yasanipun sang Prabu Jayabaya, kangge pralambang ing tekadipun wanita Jawi, benjing jaman Nusa Srênggi, sintên ingkang sumêrêp rêca punika, lajêng sami mangrêtos tekadipun para wanita Jawi”.

    Sunan Benang ngandika: “Kowe iku bangsa dhêmit kok wani padu karo manusa, jênênge dhêmit kêmênthus”.

    Buta Locaya mangsuli: “Inggih kaot punapa, ngriku Sunan, kula Ratu”.

    Sunan Benang ngandika: “Woh trênggulun iki tak-jênêngake kênthos, dadiya pangeling-eling ing besuk, yen aku kêrêngan karo dhêmit kumênthus, prakara rusaking rêca”.

    Ki Kalamwadi ngandika: “Katêlah nganti saprene, woh trênggulun jênênge kênthos, awit saka sabdane Sunan Benang, iku pituture Raden Budi Sukardi, guruku”.

    Sunan Benang banjur tindak mangalor, barêng wis wanci asar, kêrsane arêp salat, sajabane desa kono ana sumur nanging ora ana timbane, sumure banjur digolingake, dene Sunan Benang sawise, nuli sagêd mundhut banyu kagêm wudhu banjur salat.

    Ki Kalamwadi ngandika: “Katêlah nganti saprene sumur mau karane sumur Gumuling, Sunan Benang kang anggolingake, iku pituture Raden Budi guruku, êmbuh bênêr lupute”.

    Sunan Benang sawise salat banjur nêrusake tindake, satêkane desa Nyahen (10) ing kona ana rêca buta wadon, prênahe ana sangisoring wit dhadhap, wêktu iku dhadhape pinuju akeh bangêt kêmbange, sarta akeh kang tiba kanan keringe rêca buta mau, nganti katon abang mbêranang, saka akehe kêmbange kang tiba, Sunan Benang priksa rêca mau gumun bangêt, dene ana madhêp mangulon, dhuwure ana 16 kaki, ubênge bangkekane 10 kaki, saupama diêlih saka panggonane, yen dijunjung wong wolung atus ora kangkat, kajaba yen nganggo piranti, baune têngên rêca mau disêmpal dening Sunan Benang, bathuke dikrowak.

    Buta Locaya wêruh yen Sunan Benang ngrusak rêca, dheweke nêpsu maneh, calathune: “Panjênêngan nyata tiyang dahwen, rêca buta bêcik-bêcik dirusak tanpa prakara, sa-niki awon warnine, ing mangka punika yasanipun Sang Prabu Jayabaya, lah asilipun punapa panjênêngan ngrisak rêca?”

    Pangandikane Sunan Benang: “Mulane rêca iki tak-rusak, supaya aja dipundhi-pundhi dening wong akeh, aja tansah disajeni dikutugi, yen wong muji brahala iku jênênge kapir kupur lair batine kêsasar.”

    Buta Locaya calathu maneh: “Wong Jawa rak sampun ngrêtos, yen punika rêca sela, botên gadhah daya, botên kuwasa, sanes Hyang Labawalhujwa, mila sami dipunladosi, dipunkutugi, dipunsajeni, supados para lêlêmbut sampun sami manggen wontên ing siti utawi kajêng, amargi siti utawi kajêng punika wontên asilipun, dados têdhanipun manusa, mila para lêlêmbut sami dipunsukani panggenan wontên ing rêca, panjênêngan-tundhung dhatêng pundi? Sampun jamakipun brêkasakan manggen ing guwa, wontên ing rêca, sarta nêdha ganda wangi, dhêmit manawi nêdha ganda wangi badanipun kraos sumyah, langkung sênêng malih manawi manggen wontên ing rêca wêtah ing panggenan ingkang sêpi edhum utawi wontên ngandhap kajêng ingkang agêng, sampun sami ngraos yen alamipun dhêmit punika sanes kalayan alamipun manusa, manggen wontên ing rêca têka panjênêngan-sikara, dados panjênêngan punika têtêp tiyang jail gêndhak sikara siya-siya dhatêng sasamining tumitah, makluking Pangeran. Aluwung manusa Jawa ngurmati wujud rêca ingkang pantês simpên budi nyawa, wangsul tiyang bangsa ‘Arab sami sojah Ka’batu’llah, wujude nggih tugu sela, punika inggih langkung sasar”.

    Pangandikane Sunan Benang: Ka’batu’llah iku kang jasa Kangjêng Nabi Ibrahim, ing kono pusêring bumi, didelehi tugu watu disujudi wong akeh, sing sapa sujud marang Ka’batu’llah, Gusti Allah paring pangapura lupute kabeh salawase urip ana ing ‘alam pangumbaran”.

    Buta Locaya mangsuli karo nêpsu: “Tandhane napa yen angsal sihe Pangeran, angsal pangapuntên sadaya kalêpatanipun, punapa sampun angsal saking Pangeran Kang Maha Agung tapak asta mawi cap abrit? Sunan Benang ngandika maneh: “Kang kasêbut ing kitabku, besuk yen mati oleh kamulyan”.

    Buta Locaya mangsuli karo mbêkos: “Pêjah malih yen sumêrêpa, kamulyan sanyata wontên ing dunya kemawon sampun korup, sasar nyêmbah tugu sela, manawi sampun nrimah nêmbah curi, prayogi dhatêng rêdi Kêlut kathah sela agêng-agêng yasanipun Pangeran, sami maujud piyambak saking sabda kun, punika wajib dipunsujudi. Saking dhawuhipun Ingkang Maha Kuwaos, manusa sadaya kêdah sumêrêp ing Batu’llahipun, badanipun manusa punika Baitu’llah ingkang sayêktos, sayêktos yen yasanipun Ingkang Maha Kuwaos, punika kêdah dipunrêksa, sintên sumêrêp asalipun badanipun, sumêrêp budi hawanipun, inggih punika ingkang kenging kangge tuladha. Sanadyan rintên dalu nglampahi salat, manawi panggenanipun raga pêtêng, kawruhipun sasar-susur, sasar nêmbah tugu sela, tugu damêlan Nabi, Nabi punika rak inggih manusa kêkasihipun Gusti Allah, ta, pinaringan wahyu nyata pintêr sugih engêtan, sidik paningalipun têrus, sumêrêp cipta sasmita ingkang dereng kalampahan. Dene ingkang yasa rêca punika Prabu Jayabaya, inggih kêkasihipun Ingkang Kuwaos, pinaringan wahyu mulya, inggih pintêr sugih engêtan sidik paningalipun têrus, sumêrêp saderengipun kalampahan, paduka pathokan tulis, tiyang Jawi pathokan sastra, bêtuwah saking lêluhuripun. sami-sami nyungkêmi kabar, aluwung nyungkêmi kabar sastra saking lêluhuripun piyambak, ingkang patilasanipun taksih kenging dipuntingali. Tiyang nyungkêmi kabar ‘Arab, dereng ngrêtos kawontênanipun ngrika, punapa dora punapa yêktos, anggêga ujaripun
    tiyang nglêmpara. Mila panjênêngan anganjawi, nyade umuk, nyade mulyaning nagari Mêkah, kula sumêrêp nagari Mêkah, sitinipun panas, awis toya, tanêm-tanêm tuwuh botên sagêd mêdal, bênteripun bantêr awis jawah, manawi tiyang ingkang ahli nalar, mastani Mêkah punika nagari cilaka, malah kathah tiyang sade tinumbas tiyang, kangge
    rencang tumbasan. Panjênêngan tiyang duraka, kula-aturi kesah saking ngriki, nagari Jawi ngriki nagari suci lan mulya, asrêp lan bênteripun cêkapan, tanah pasir mirah toya, punapa ingkang dipuntanêm sagêd tuwuh, tiyangipun jalêr bagus, wanitanipun ayu, madya luwês wicaranipun. Rêmbag panjênêngan badhe priksa pusêring jagad, inggih ing ngriki ingkang kula-linggihi punika, sapunika panjênêngan ukur, manawi kula lêpat panjênêngan jotos. Rêmbag panjênêngan punika mblasar, tandha kirang nalar, kirang nêdha kawruh budi, rêmên niksa ing sanes. Ingkang yasa rêca punika Maha Prabu Jayabaya, digdayanipun ngungkuli panjênêngan, panjênêngan punapa sagêd ngêpal lampahing jaman? Sampun ta, kula-aturi kesah kemawon saking ngriki, manawi botên purun kesah sapunika, badhe kula-undhangakên adhi-kula ingkang wontên ing rêdi Kêlut, panjênêngan kula-kroyok punapa sagêd mênang, lajêng kula-bêkta mlêbêt dhatêng kawahipun rêdi Kêlut, panjênêngan punapa botên badhe susah, punapa panjênêngan kêpengin manggen ing sela kados kula? Mangga dhatêng Selabale, dados murid kula!”.

    Sunan Benang ngandika: “Ora arêp manut rêmbugmu, kowe setan brêkasakan”.

    Buta Locaya mangsuli: “Sanadyan kula dhêmit, nanging dhêmit raja, mulya langgêng salamine, panjênêngan dereng tampu mulya kados kula, tekad panjênêngan rusuh, rêmên nyikara niaya, mila panjênêngan dhatêng tanah Jawi, wontên ing ‘Arab nakal kalêbêt tiyang awon, yen panjênêngan mulya tamtu botên kesah saking ‘Arab, mila minggat, saking lêpat, tandhanipun wontên ing ngriki taksih krejaban, maoni adating uwong, maoni agama, damêl risak barang sae, ngarubiru agamane lêluhur kina, Ratu wajib niksa, mbucal dhatêng Mênadhu”.

    Sunan Benang ngandika: “Dhadhap iki kêmbange tak jênêngake celung, uwohe kledhung, sabab aku kêcelung nalar lan kêledhung rêmbag, dadiya pasêksen yen aku padu lan ratu dhêmit, kalah kawruh kalah nalar”.

    Mula katêlah nganti tumêka saprene, woh dhadhap jênênge kledhung, kêmbange aran celung.

    Sunan Benang banjur pamitan: “Wis aku arêp mulih mênyang Benang”.

    Buta Locaya mangsuli karo nêpsu: “Inggih sampun, panjênêngan enggala kesah, wontên ing ngriki mindhak damêl sangar, manawi kadangon wontên ing ngriki mindhak damêl susah, murugakên awis wos, nambahi bênter, nyudakakên toya”.

    Sunan Benang banjur tindak, dene Buta Locaya sawadya-balane uga banjur mulih. Gênti kang cinarita, nagari ing Majalêngka, anuju sawijining dina, Sang Prabu Brawijaya miyos sinewaka, diadhêp Patih sarta para wadya bala, Patih matur, yen mêntas nampani layang saka Tumênggung ing Kêrtasana, dene surasane layang ngaturi uninga yen nagara Kêrtasana kaline asat, kali kang saka Kadhiri miline nyimpang mangetan, saperanganing layang mau unine mangkene: “Wontên ler-kilen Kadhiri, pintên-pintên dhusun sami karisakan, anggenipun makatên wau, saking kenging sabdanipun ngulama saking ‘Arab, namanipun Sunan Benang.

    Sang Prabu mirêng ature Patih bangêt dukane, Patih banjur diutus mênyang Kêrtasana, niti-priksa ing kono kabeh, kahanane wonge sarta asile bumi kang katrajang banyu kapriye? Sarta didhawuhi nimbali Sunan Benang.

    Gêlising carita, Patih sawise niti-priksa, banjur ngaturake kahanane kabeh, dene duta kang diutus mênyang Tuban uga wis têka, matur yen ora oleh gawe, amarga Sunan Benang lunga ora karuhan parane.

    Sang Prabu midhangêt ature para wadya banjur duka, paring pangandika yen ngulama saka ‘Arab pada ora lamba atine. Sang Prabu banjur dhawuh marang Patih, wong ‘Arab kang ana ing tanah Jawa padha didhawuhi lunga, amarga gawe ribêding nagara, mung ing Dêmak lang Ngampelgadhing kang kêparêng ana ing tanah Jawa, nglêstarekake agamane, liyane loro iku didhawuhi ngulihake mênyang asale, dene yen padha ora gêlêm lunga didhawuhi ngrampungi bae. Ature Patih: “Gusti! lêrês dhawuh paduka punika, amargi ngulama Giripura sampun tigang taun botên sowan utawi botên ngaturakên bulubêkti, mênggah sêdyanipun badhe rêraton piyambak, botên ngrumaosi nêdha ngombe wontên tanah Jawi, dene namanipun santri Giri anglangkungi asma paduka, pêparabipun Sunan ‘Aênalyakin, punika nama ing têmbung ‘Arab, mênggah têgêsipun Sunan punika budi, têgêsipun Aenal punika ma’rifat, têgêsipun Yakin punika wikan, sumêrêp piyambak, dados nama tingal ingkang têrus, suraosipun ing têmbung Jawi nama Prabu Satmata, punika asma luhur ingkang makatên punika ngirib-irib tingalipun Kang Maha Kuwasa, mariksa botên kasamaran, ing alam donya botên wontên kalih ingkang asma Sang
    Prabu Satmata, kajawi namung Bathara Wisnu nalika jumênêng Nata wontên ing nagari Mêdhang-Kasapta. Sang Prabu midhangêt ature Patih, banjur dhawuh nglurugi pêrang mênyang Giri, Patih budhal ngirid wadya-bala prajurit, nglurug mênyang Giri. Patih sawadya-balane satêkane ing Giri banjur campuh pêrang. Wong ing Giri geger, ora kuwat nanggulangi pangamuke wadya Majapahit. Sunan Giri mlayu mênyang Benang, golek kêkuwatan, sawise oleh bêbantu, banjur pêrang maneh mungsuh wong Majalêngka, pêrange rame bangêt, ing wêktu iku tanah jawa wis meh saparo kang padha ngrasuk agama Islam, wong-wong ing Pasisir lor wis padha agama Islam, dene kang kidul isih têtêp nganggo agama Buddha. Sunan Benang wis ngrumasani kaluputane, ênggone ora sowan mênyang Majalêngka, mula banjur lunga karo Sunan Giri mênyang Dêmak, satêkane ing Dêmak, banjur ngêbang marang Adipati Dêmak, diajak nglurug mênyang Majalêngka, pangandikane Sunan Benang marang Adipati Dêmak: “Wêruha yen saiki wis têkan masa rusake Kraton Majalêngka, umure wis satus têlu taun, saka panawangku, kang kuwat dadi Ratu tanah Jawa, sumilih Kaprabon Nata, mung kowe, rêmbugku rusakên Kraton Majalêngka, nanging kang sarana alus, aja nganti ngêtarani, sowana besuk Garêbêg Mulud, nanging rumantiya sikêping pêrang: 1. gaweya samudana, 2. dhawuhana balamu para Sunan kabeh lan para Bupati kang wis padha Islam kumpulna ana ing Dêmak, yen kumpule iku arêp gawe masjid, mêngko yen wis kumpul, para Sunan sarta Bupati sawadya-balane kang wis padha Islam, kabeh mêsthi nurut marang kowe”.

    Ature Adipati Dêmak: “Kula ajrih ngrisak Nagari Majalêngka, amêngsah bapa tur raja, kaping tiganipun damêl sae paring kamukten ing dunya, lajêng punapa ingkang kula-walêsakên, kajawi namung sêtya tuhu. Dhawuhipun eyang Sunan Ngampelgadhing, botên kaparêng yen kula mêngsah bapa, sanadyan Buddha nanging margi-kula sagêd dumados gêsang wontên ing dunya. Inggih sanadyan Buddha punapa kapir, tiyang punika bapa inggih kêdah dipunhurmati, punapa malih dereng wontên lêpatipun dhatêng kula”.

    Sunan Benang ngandika mêneh: “Sanadyan mungsuh bapa lan ratu, ora ana alane, amarga iku wong kapir, ngrusak kapir Buddha kawak:
    kang kok-têmu ganjaran swarga. Eyangmu kuwi santri mêri, gundhul bêntul butêng tanpa nalar, patute mung dadi godhogan, sapira kawruhe Ngampelgadhing, bocah kalairan Cêmpa, masa padhaa karo aku Sayid Kramat, Sunan Benang kang wis dipuji wong sabumi ‘alam, têdhak Rasul panutaning wong Islam kabeh. Kowe mungsuh bapakmu Nata, sanadyan dosa pisan, mung karo wong siji, tur ratu kapir, nanging yen bapakmu kalah, wong satanah Jawa padha Islam kabeh. Kang mangkono iku, sapira mungguh kauntunganmu nugrahaning Pangeran tikêl kaping êmbuh, sihing Hyang Kang Maha Kuwasa kang dhawuh marang kowe. Satêmêne ramanira iku siya-siya marang sira, tandhane sira diparingi jênêng Babah, iku ora prayoga, têgêse Babah iku saru bangêt, iya iku: bae mati bae urip, wiji jawa digawa Putri Cina, mula ibumu diparingake Arya Damar, Bupati ing Palembang, wong pranakan buta; iku mêgat sih arane. Ramanira panggalihe têtêp ora bêcik, mulane rêmbugku, walêsên kalawan alus, lire aja katara, ing batin sêsêpên gêtihe, mamahên balunge”.

    Sunan Giri nyambungi rêmbug: Aku iki ora dosa dilurugi ramamu, didakwa rêraton, amarga aku ora seba marang Majalêngka. Sumbare Patih, yen aku kacandhak arêp dikuciri lan dikon ngêdusi asu, akeh bangsa Cina kang padha têka ana ing tanah Jawa, ana ing Giri padha tak-Islamake awit kang muni ing kitabku, yen ngislamake wong kapir, besuk ganjarane swarga, mula akeh bangsa Cina kang padha tak-Islamake, tak-anggêp kulawarga. Dene têkaku mrene ini ngungsi urip mênyang kowe, aku wêdi marang Patih Majalêngka, lan ramanira sêngit bangêt marang santri kang muji dhikir, ênggone ngarani jare lara ayan esuk lan sore, yen kowe ora ngukuhi, mêsthi rusak agama Mukhammad Nabi”.

    Wangsulane Sang Adipati Dêmak: “Anggenipun nglurugi punika lêrês, tiyang rêraton, botên ngrumaosi yen kêdah manut prentahing Ratu ingkang mbawahakên, sampun wajibipun dipunlurugi, dipunukum pêjah, awit panjênêngan botên ngrumaosi dhahar ngunjuk wontên in tanah Jawi”.

    Sunan Benang ngandika maneh: “Yen ora kok-rêbut dina iki, kowe ngênteni surude bapakmu, kaprabone bapakmu wis mêsthi ora bakal tiba kowe, mêsthi dipasrahake marang Adipati Pranaraga, amarga iku putrane kang tuwa, utawa dipasrahake marang putra mantu, iya iku Ki Andayaningrat ing Pêngging, kowe anak nom, ora wajib jumênêng Nata, mumpung iki ana lawang mênga, Giri kang dadi jalarane ngrusak Majalêngka, nadyan mati, mungsuh wong kapir, mati sabilu’llah, patine slamêt nampani swarga mulya, wis wajibe wong Islam mati dening wong kapir, saka ênggone nyungkêmi agamane, karo wis wajibe wong urip golek kamuktening dunya, golek darajat kang unggul dhewe, yen wong urip ora wêruh marang uripe, iku durung gênêp uripe, lamun sipat manusa mêsthi melik mêngku praja angreh wadya bala, awit Ratu iku Khalifa wakile Hyang Widdhi, apa bae kang dikarêpake bisa kêlakon, satêmêne kowe wis pinasthi bakal jumênêng Ratu ana ing tanah Jawa, sumilih kaprabone ramamu, ananging ing laire iya kudu nganggo sarat dirêbut sarana pêrang, yen kowe ora gêlêm nglakoni, mêsthine sihe Gusti Allah kang mênyang kowe bakal dipundhut bali, dadi kowe jênênge nampik sihe Allah, aku mung sadarma njurungi, amarga aku wis wêruh sadurunge winarah, wis tak-sêmprong nganggo sangkal bolong katon nêrawang ora samar sajroning gaib, kowe kang katiban wahyu sihe Pangeran, bisa dadi Ratu ana ing tanah Jawa, murwani agama suci, ambirat ênggonmu madêg Narendra, bisa ngideni adêgmu Nata mêngku tanah Jawa, bisa lêstari satêruse”. Akeh-akeh dhawuhe Sunan Benang, pambujuke marang adipati Dêmak supaya mêtu nêpsune, gêlêm ngrusak Majalêngka, malah diwenehi lêpiyan carita Nabi, kang gêlêm ngrusak bapa kapir, iku padha nêmu rahayu.

    Adipati Dêmak matur: “Manawi karsa panjênêngan makatên, kula namung sadarmi nglampahi dhawuh, panjênêngan ingkang mbotohi”.

    Sunan Benang ngandika maneh: “Iya mangkono iku kang tak-karêpake, saiki kowe wis gêlêm tak-botohi, lah saiki uga kowe kirima layang marang adhimu Adipati Têrung, ananging têmbungmu kang rêmit sarta alus, adhimu antêpên, apa abot Sang Nata, apa abot sadulur tuwa kang tunggal agama. Yen adhimu wis rujuk adêgmu Nata, gampang bangêt rusaking Majalêngka. Majapahit sapa kang diêndêlake yen Kusen wis mbalik, Si gugur isih cilik, masa ndadak waniya, Patihe wis tuwa, dithothok bae mati, mêsthi ora bisa nadhahi yudamu”. Adipati Dêmak banjur kirim layang marang Têrung, ora suwe utusan bali, wis tinampan wangsulane Sang Adipati Têrung, saguh ambiyantu pêrang, layang banjur katur Sunan Benang, ndadekake sukaning panggalih, Sunan Benang banjur ngandika marang Adipati Dêmak, supaya Sang Adipati ngaturi para Sunan lan para Bupati kabeh, samudana yen arêp ngêdêgake masjid, lan diwenehana sumurup yen Sunan Benang wis ana ing Dêmak. Gêlising carita, ora suwe para Sunan lan para Bupati padha têka kabeh, banjur pakumpulan ngêdêgake masjid, sawise mêsjid dadi, banjur padha salat ana ing masjid, sabakdane salat, banjur tutup lawang, wong kabeh dipangandikani dening Sunan Benang, yen Adipati Dêmak arêp dijumênêngake Nata, sarta banjur arêp ngrusak Majapahit, yen wis padha rujuk, banjur arêp kêpyakan tumuli. Para Sunan lan para Bupati wis padha rujuk kabeh, mung siji kang ora rujuk, iya iku Syekh Sitijênar. Sunan Benang duka, Syekh Sitijênar dipateni, dene kang kadhawuhan mateni iya iku Sunan Giri, Syekh Sitijênar dilawe gulune mati. Sadurunge Syekh Sitijênar tumêka ing pati, ninggal swara: “Eling-eling ngulama ing Giri, kowe ora tak-walês ing akhirat, nanging tak-walês ana ing dunya kene bae, besuk yen ana Ratu Jawa kanthi wong tuwa, ing kono gulumu bakal tak-lawe gênti”. Sunan Giri mangsuli: “Iya besuk wani, saiki wani, aku ora bakal mundur”. Sawise golong karêpe, nglêstarekake apa kang wis dirêmbug. Sang Adipati Dêmak banjur ingidenan jumênêng Nata, amêngku tanah Jawa, jêjuluk Senapati Jimbuningrat, patihe wong saka Atasaning aran Patih Mangkurat. Esuke Senapati Jimbuningrat wis miranti sapraboting pêrang, banjur budhal mênyang Majapahit, diiringake para Sunan lan para Bupati, lakune kaya dene Garêbêg Maulud, para wadya bala ora ana kang ngrêti wadining laku, kajaba mung para Tumênggung lan para Sunan apa dene para ngulama, Sunan Benang lan Sunan Giri ora melu mênyang Majapahit, pawadane sarehne wis sêpuh, mung arêp salat ana ing masjid bae, lan paring idi rahayuning laku, dadi mung para Sunan lan para Bupati bae kang ngiringake Sultan Bintara, ora kacarita lakune ana ing dalan.

    Gênti kocapa nagara in Majapahit, Patih saulihe saka ing Giri banjur matur sang Praba, bab ênggone mukul pêrang ing Giri, mungguh kang dadi senapati ing Giri iya iku sawijining bangsa Cina kang wis ngrasuk agama Islam, arane Sêcasena, mangsah mêncak nganggo gêgêman abir, sawadya-balane watara wong têlung atus, padha bisa mêncak kabeh, brêngose capang sirahe gundhul, padha manganggo srêban cara kaji, mangsah pêrang paculat kaya walang kadung, wadya Majapahit ambêdhili, dene wadya-bala ing Giri pating jênkelang ora kêlar nadhahi tibaning mimis. Senapati Sêcasena wis mati, dene bala Cina liyane lang kari padha mlayu salang tunjang, bala ing Giri ngungsi mênyang alas ing gunung, sawêneh ngambang ing sagara, mlayu mênyang Benang têrus diburu dening wadya-bala Majapahit, Sunan Giri lan Sunan Benang banjur nunggal saprau-layar ngambang ing sagara, kinira banjur minggat marang Arab ora bali ngajawa. Sang Prabu banjur dhawuh marang Patih, supaya utusan mênyang Dêmak, andhawuhake yen ngulama ing Giri lan ing Benang padha têka ing Dêmak, didhawuhi nyêkêl, kaaturna bêbandan ing ngarsa Nata, awit dosane santri Benang ngrusak bumi ing Kêrtasana, dene dosane santri Giri ora gêlêm seba marang ngarsa Prabu, tekade sumêdya nglawan pêrang.

    Patih samêtune ing paseban jaba, banjur nimbali duta kang arêp diutus mênyang Dêmak, sajrone ana ing paseban jaba, kêsaru têkane utusane Bupati ing Pathi, ngaturake layang marang Patih, layang banjur diwaos kiyai Patih, mungguh surasaning layang. Menak Tunjungpura ing Pathi ngaturi uninga, yen Adipati ing Dêmak, iya iku Babah Patah, wis madêg Ratu ana ing Dêmak, dene kang ngêbang-êbang adêging Nata, iya iku Sunan Benang lan Sunan Giri, para Bupati pasisir lor sawadyane kang wis padha Islam uga padha njurungi, dene jêjuluking Ratu, Senapati Jimbuningrat, utawa Sultan Syah ‘Alam Akbar Siru’llah Kalifatu’rrasul Amiri’lmukminin Tajudi’l’Abdu’lhamid Kak, iya Sultan Adi Surya ‘Alam, ing Bintara. Ing samêngko Babah Patah sawadya-balane wis budhal nglurug marang Majapahit, sêdya mungsuh ingkang rama, Babah Patah abot mênyang gurune, ngenthengake ingkang rama, para Sunan lan para Bupati padha ambiyantu anggone arêp mbêdhah Majapahit. Babah Patah anggone nggawa bala têlung lêksa miranti sapraboting pêrang, mungguh kature Sang Prabu amborongake kiyai Patih. Layang kang saka Pathi mau katitimasan tanggal kaping 3 sasi Mulud taun Jimakir 1303, masa Kasanga Wuku Prangbakat. Kiyai Patih sawise maos layang, njêtung atine, sarta kêrot, gêrêng-gêrêng, gedheg-gedheg, bangêt pangungune, banjur tumênga ing tawang karo nyêbut marang Dewa kang Linuwih, bangêt gumune mênyang wong Islam, dene ora padha ngrêti mênyang kabêcikane Sang Prabu, malah padha gawe ala. Kyai Patih banjur matur Sang Prabu, ngaturake surasane layang mau.

    Sang Prabu Brawijaya midhangêt ature Patih kaget bangêt panggalihe, njêgrêg kaya tugu, nganti suwe ora ngandika, jroning panggalih ngungun bangêt marang putrane sarta para Sunan, dene padha duwe sêdya kang mangkono, padha diparingi pangkat, wêkasane malah padha gawe buwana balik, kolu ngrusak Majapahit. Sang Prabu nganti ora bisa manggalih apa mungguh kang dadi sababe, dene putrane lan para ngulama têka arêp ngrusak karaton, digoleki nalar-nalare tansah wudhar, lair batin ora tinêmu ing nalar, dene kok padha duwe pikir ala. Ing wêktu iku panggalihe Sang Prabu pêtêng bangêt, sungkawane ratu Gêdhe kang linuwih, sinêmonan dening Dewa, kaya dene atining kêbo êntek dimangsa ing tumaning kinjir. Sang Prabu banjur andangu marang Patih, apa ta mungguh kang dadi sababe, dene putrane lan para ngulama apa dene para Bupati kolu ngrusak Majapahit, ora padha ngelingi marang kabêcikan.

    Ature Patih, mratelakake yen uga ora mangêrti, amarga adoh karo nalare, wong dibêciki kok padha malês ala, lumrahe mêsthi, padha malês bêcik. Ki Patih uga mung gumun, dene wong Islam pikire kok padha ora bêcik, dibêciki walêse kok padha ala.

    Sang Prabu banjur ngandika marang patih, bab anane lêlakon kaya mangkono iku amarga saka lêpate sang nata piyambak, dene nggêgampang marang agama kang wis kanggo turun-tumurun, sarta ênggone kêgiwang marang ature Putri Cêmpa, ngideni para ngulama mêncarake agama Islam. Sang Nata saka putêking panggalihe nganti kawêdhar pangandikane ngêsotake marang wong Islam: Sun-suwung marang Dewa Gung, muga winalêsna susah-ingsun, wong Islam iku besuk kuwalika agamanira, manjalma dadi wong kucir, dene tan wruh kabêcikan, sun-bêciki walêse angalani”. “Sabdaning Ratu Agung sajroning kasusahan, katarima dening Bathara, sinêksen ing jagad, katandhan ana swara jumêgur gêtêr patêr sabuwana, iya iku kawitane manuk kuntul ana kang kucir. Sunan, ngulama kabeh ngrangkêp jênêng walikan, katêlah tumêka saprene, ngulama jênênge walian, kuntul kucir githoke. Sang Prabu banjur mundhut pamrayoga marang Patih, prakara têkane mungsuh, santri kang ngrêbut nagara, iku dilawan apa ora? Sang Nata rumaos gêtun lan ngungun, dene Adipati Dêmak kapengin mêngkoni Majapahit bae kok dirêbut sarana pêrang, saupama disuwun kalayan aris bae mêsthi diparingake, amarga Sang Nata wisBali, kadherekake abdi kêkasih, Sabdapalon lan Nayagenggong. Sajrone Sang Prabu paring pangandika, wadya-bala Dêmak wis pacak baris ngêpung nagara, mula kasêsa tindake. Wadya Dêmak banjur campuh karo wadya Majapahit, para Sunan banjur ngawaki pêrang, Patih Majapahit ngamuk ana samadyaning papêrangan. Para Bupati Nayaka wolu uga banjur melu ngamuk. Pêrange rame bangêt, bala Dêmak têlung lêksa, balang Majapahit mung têlung ewu, sarehne Majapahit karoban mungsuh, prajurite akeh kang padha mati, mung Patih sarta Bupati Nayaka pangamuke saya nêsêg. Bala Dêmak kang katrajang mêsthi mati. Putrane Sang Prabu aran Raden Lêmbupangarsa ngamuk ana satêngahing papêrangan, tandhing karo Sunan Kudus, lagi rame-ramene têtandhingan pêrang, Patih Mangkurat ing Dêmak nglambung, Putra Nata tiwas, saya bangêt nêpsune, pangamuke kaya bantheng kataton, ora ana kang diwêdeni, Patih ora pasah sakehing gêgaman, kaya dene tugu waja, ora ana braja kang tumama marang sarirane, ing ngêndi kang katrajang bubar ngisis, kang tadhah mati nggêlasah, bangkening wong tumpang tindhih, Patih binendrongan saka kadohan, tibaning mimis kaya udan tiba ing watu. Sunan Ngudhung mapagake banjur mrajaya, nanging ora pasah, Sunan Ngudhung disuduk kêna, barêng Sunan Ngudhung tiwas, Patih dibyuki wadya ing Dêmak, dene wadya Majapahit wis êntek, sapira kuwate wong siji, wêkasan Patih ing Majapahit ngêmasi, nanging kuwandane sirna, tinggal swara: “Eling-eling wong Islam, dibêciki gustiku walêse ngalani, kolu ngrusak nagara Majapahit, ngrêbut nagara gawe pêpati, besuk tak-walês, tak-ajar wêruh nalar bênêr luput, tak-damoni sirahmu, rambutmu tak-cukur rêsik”.

    Sapatine Patih, para Sunan banjur mlêbu mênyang kadhaton. nanging sang Prabu wis ora ana, kang ana mung Ratu Mas, iya iku Putri Cêmpa, sang Putri diaturi sumingkir mênyang Benang uga karsa.

    Para prajurit Dêmak banjur padha mlêbu mênyang kadhaton, ana ing kono pada njarah rayah nganti rêsik, wong kampung ora ana kang wani nglawan. Raden Gugur isih timur lolos piyambak. Adipati Têrung banjur mlêbu mênyang jêro pura, ngobongi buku-buku bêtuwah Buddha padha diobongi kabeh, wadya sajroning pura padha bubar, beteng ing Bangsal wis

    Barêng wis têlung dina, Sultan Dêmak budhal mênyang Ngampel, dene kang dipatah tunggu ana ing Majapahit, iya iku Patih Mangkurat sarta Adipati Têrung, njaga kaslamêtan mbokmanawa isih ana pakewuh ing wuri, Sunan Kudus njaga ana ing kraton dadi sulihe Sang Prabu, Têrung uga dijaga ngulama têlung atus, sabên bêngi padha salat kajat sarta andêrês Kur’an, wadya-bala kang saparo lan para Sunan padha ndherek Sang Prabu mênyang Ngampelgadhing, Sunan Ngampel wis seda, mung kari garwane kang isih ana ing Ngampel, garwane mau asli saking Tuban, putrane Arya Teja, sasedane Sunan Ngampel, Nyai Agêng kanggo têtuwa wong Ngampel. Sang Prabu Jambuningrat satêkane ing Ngampel, banjur ngabekti Nyai Agung, para Sunan sarta para Bupati gênti-gênti padha ngaturake sêmbah mênyang Nyai Agêng. Prabu Jimbuningrat matur yen mêntas mbêdhah Majapahit, ngaturake lolose ingkang rama sarta Raden Gugur, ngaturake patine Patih ing Majapahit lan matur yen panjênêngane wis madêg Nata mêngku tanah Jawa, dene jêjuluke: Senapati Jimbun, sarta Panêmbahan Palembang, ênggone sowan mênyang Ngampel iku, prêlu nyuwun idi, têtêpa jumênêng Nata nganti run-tumurun aja ana kang nyêlani.

    Nyai Agêng Ngampel sawise mirêng ature Prabu Jimbun, banjur muwun sarta ngrangkul Sang Prabu, Nyai Agêng ing batos karaos-raos, mangkene pangudaraosing panggalih: “Putuku, kowe dosa têlung prakara, mungsuh Ratu tur sudarmane, sarta kang aweh kamukten ing dunya, têka dirusak kang tanpa prakara, yen ngelingi kasaeane uwa Prabu Brawijaya, para ngulama padha diparingi panggonan kang wis anggawa pamêtu minangka dadi pangane, sarta padha diuja sakarêpe, wong pancene rak sêmbah nuwun bangêt, wusana banjur diwalês ala, seda utawa sugênge ora ana kang wêruh”.

    Nyai Agêng banjur ndangu Sang Prabu, pangandikane: “Êngger! aku arêp takon mênyang kowe, kandhaa satêmêne, bapakmu tênan kuwi sapa? Sapa kang ngangkat kowe dadi Ratu tanah Jawa lan sapa kang ngideni kowe? Apa sababe dene kowe syikara kang tanpa dosa?”

    Sang Prabu banjur matur, yen Prabu Brawijaya iku jarene ramane têmênan. Kang ngangkat sarirane dadi Ratu mêngku tanah Jawa iku para Bupati pasisir kabeh. Kang ngideni para Sunan. Mulane nagara Majapahit dirusak, amarga Sang Prabu Brawijaya ora karsa salin agama Islam, isih ngagêm agama kapir kupur, Buddha kawak dhawuk kaya kuwuk.

    Nyai Agêng barêng mirêng ature Prabu Jimbun, banjur njêrit ngrangkul Sang Prabu karo ngandika: “Êngger! kowe wêruha, kowe iku dosa têlung prakara, mêsthi kêsiku ing Gusti Allah. Kowe wani mungsuh Ratu tur wong tuwamu dhewe, sarta sing aweh nugraha marang kowe, dene kowe kok wani ngrusak kang tanpa dosa. Anane Islam lan kapir sapa kang gawe, kajaba mung siji Gusti Allah piyambak. Wong ganti agama iku ora kêna dipêksa yen durung mêtu saka karêpe dhewe. Wong kang nyungkêmi agamane nganti mati isih nggoceki tekade iku utama. Yen Gusti Allah wis marêngake, ora susah ngango dikon, wis mêsthi salin dhewe ngrasuk agama Islam. Gusti Allah kang sipat rahman, ora dhawuh lan ora malangi marang wong kang salin agama. Kabeh iki sasênênge dhewe-dhewe. Gusti Allah ora niksa wong kapir kang ora luput, sarta ora paring ganjaran marang wong Islam kang tumindak ora bênêr, mung bênêr karo lupute sing diadili nganggo têtêping adil, lalar-lulurên asalmu, ibumu Putri Cêmpa nyêmbah pikkong, wujud dluwang utawa rêja watu. Kowe ora kêna sêngit mênyang wong kang agama Buddha, tandha mripatmu iku lapisan, mula blero pandêlêngmu, ora ngrêti marang kang bênêr lan kang luput, jarene anake Sang Prabu, têka kolu marang bapa, kêduga ngrusak ora nganggo prakara, beda matane wong Jawa, Jawa Jawi ngrêti matane mung siji, dadi wêruh ing bênêr lan luput, wêruh kang bêcik lan kang ala, mêsthi wêdi mênyang bapa, kapindhone Ratu lan kang aweh nugraha, iku wajib dibêkteni. Eklasing ati bêkti bapa, ora bêkti wong kapir, amarga wis wajibe manusa bêkti marang wong tuwane. Kowe tak-dongengi, wong Agung Kuparman, iku agamane Islam, duwe maratuwa kapir, maratuwane gêthing marang wong Agung amarga seje agama, maratuwane tansah golek sraya bisane mantune mati, ewadene Wong Agung tansah wêdi-asih lang ngaji-aji, amarga iku wong tuwane, dadi ora dielingi kapire, nanging kang dielingi wong tuwane, mula Wong Agung iya ngaji-aji marang maratuwane. Iya iku êngger, kang diarani wong linuwih, ora kaya tekadmu, bapa disiya-siya, dupeh kapir Budha ora gêlêm ganti agama, iku dudu padon. Lan aku arêp takon, apa kowe wis matur marang wong tuwamu, kok-aturi salin agama? nagarane kok nganti kok-rusak iku kapriye?

    Prabu Jimbun matur, yen durung ngaturi salin agama, têkane Majapahit banjur ngêpung nagara bae.

    Nyai Agêng Ngampel gumujêng karo ngandika: “Tindakmu iku saya luput bangêt, sanadyan para Nadi dhek jaman kuna, ênggone padha wani mungsuh wong tuwane, iku amarga sabên dinane wis ngaturi santun agama, nanging ora karsa, mangka sabên dinane wis diaturi mujijade, kang nandhakake yen kudu wis santun agama Islam, ananging atur mau ora dipanggalih, isih nglêstarekake agamane lawas, mula iya banjur dimungsuh. Lamun mangkono tumindake, sanadyan mungsuh wong tuwa, lair batine ora luput. Barêng wong kang kaya kowe, mujijadmu apa? Yen nyata Khalifatu’llah wênang nyalini agama lah coba wêtokna mujijadmu tak-tontone”.

    Prabu Jimbun matur yen ora kagungan mujijad apa-apa, mung manut unine buku, jare yen ngislamake wong kapir iku ing besuk oleh ganjaran swarga.

    Nyai Agêng Ngampel gumujêng nanging wêwah dukane. Ujar-jare bae kok disungkêmi, tur dudu bukuning lêluhur, wong ngumbara kok diturut rêmbuge, sing nglakoni rusak ya kowe dhewe, iku tandha yen isih mêntah kawruhmu, durung wani marang wong tuwa, saka kêpenginmu jumênêng Nata, kasusuhane ora dipikir. Kowe kuwi dudu santri ahli budi, mung ngêndêlake ikêt putih, nanging putihe kuntul, sing putih mung ing jaba, ing jêro abang, nalika eyangmu isih sugêng, kowe tau matur yen arêp ngrusak Majapahit, eyangmu ora parêng, malah manti-manti aja nganti mungsuh wong tuwa, saiki eyangmu wis seda, wêwalêre kok-trajang, kowe ora wêdi papacuhe. Yen kowe njaluk idi marang aku, prakara têtêpmu dadi Ratu tanah Jawa, aku ora wênang ngideni, aku bangsa cilik tur wong wadon, mêngko rak buwana balik arane, awit kowe sing mêsthine paring idi marang aku, amarga kowe Khalifatu’llah sajroning tanah Jawa, mung kowe dhewe sing tuwa, saucapmu idu gêni, yen aku tuwa tiwas, yen kowe têtêp tuwa Ratu”.

    Banjure pangandikane Nyai Agêng Ngampel: “Putu! kowe tak-dongengi kupiya patang prakara, ing kitab hikayat wis muni, carita tanah Mêsir, panjênêngane Kanjêng Nabi Dhawud, putrane anggege kapraboning rama, Nabi Dhawud nganti kengsêr saka nagara, putrane banjur sumilih jumênêng Nata, ora lawas Nabi Dhawud sagêd wangsul ngrêbut nagarane. Putrane nunggang jaran mlayu mênyang alas, jarane ambandhang kêcanthol-canthol kayu, nganthi pothol gumantung ana ing kayu, iya iku kang diarani kukuming Allah. Ana maneh caritane Sang Prabu Dewata-cêngkar, iku iya anggege kapraboning rama, nanging banjur disotake dening ingkang rama banjur dadi buta, sabên dina mangsa jalma, ora suwe antarane, ana Brahmana saka tanah sabrang angajawa, aran Aji Saka, anggêlarake panguwasa sulap ana ing tanah Jawa. Wong Jawa akeh kang padha asih marang Aji Saka, gêthing marang Dewatacêngkar, Ajisaka diangkat dadi Raja, Dewatacêngkar dipêrangi nganti kêplayu, ambyur ing sagara, dadi bajul, ora antara suwe banjur mati. Ana maneh caritane nagara Lokapala uga mangkono, Sang Prabu Danaraja wani karo ingkang rama, kukume iya isih tumindak kaya kang tak-caritakake mau, kabeh padha nêmu sangsara. Apa maneh kaya kowe, mungsuh bapa kang tanpa prakara, kowe mêsthi cilaka, patimu iya mlêbu mênyang yomani, kang mangkono iku kukume Allah”.

    Sang Prabu Jimbun mirêng pangandikane ingkang eyang, panggalihe rumasa kêduwung bangêt, nanging wis ora kêna dibalekake.

    Nyai Agêng Ngampel isih nêrusake pangandikane: “Kowe kuwi dilêbokake ing loropan dening para ngulama lan para Bupati, mung kowe kok gêlêm nglakoni, sing nglakoni cilaka rak iya mung kowe dhewe, tur kelangan bapa, salawase urip jênêngmu ala, bisa mênang pêrang nanging mungsuh bapa Aji, iku kowe mrêtobata marang Kang Maha Kuwasa, kiraku ora bakal oleh pangapura, sapisan mungsuh bapa, kapindho murtat ing Ratu, kaping têlune ngrusak kabêcikan apa dene ngrusak prajane tanpa prakara. Adipati Pranaraga lan Adipati Pêngging masa trimaa rusaking Majapahit, mêsthine labuh marang bapa, iku bae wis abot sanggane”. Nyai Agêng akeh-akeh pangandikane marang Prabu Jimbun. Sawise Sang Prabu dipangandikani, banjur didhawuhi kondur mênyang Dêmak, sarta didhawuhi nglari lolose ingkang rama, yen wis kêtêmu diaturana kondur mênyang Majapahit, lan aturana mampir ing Ngampelgadhing, nanging yen ora kêrsa, aja dipêksa, amarga yen nganti duka mangka banjur nyupatani, mêsthi mandi.

    Sang Prabu Jimbun sarawuhe ing Dêmak, para wadya padha sênêng-sênêng lan suka-suka nutug, para santri padha trêbangan lan dhêdhikiran, padha angucap sukur lan bungah bangêt dene Sang Prabu wis kondur sarta bisa mênang pêrange.

    Sunan Benang mêthukake kondure Sang Prabu Jimbun, Sang Nata banjur matur marang Sunan Benang yen Majapahit wis kêlakon bêdhah, layang-layang Buddha iya wis diobongi kabeh, sarta ngaturake yen ingkang rama lan Raden Gugur lolos, Patih Majapahit mati ana samadyaning papêrangan, Putri Cêmpa wis diaturi ngungsi mênyang Benang, wadya Majapahit sing wis têluk banjur padha dikon Islam.

    Sunan Benang mirêngake ature Sang Prabu Jimbun, gumujêng karo manthuk-manthuk, sarta ngandika yen wis cocog karo panawange.

    Sang Prabu matur, yen kondure uga mampir ing Ngampeldênta, sowan ingkang eyang Nyai Agêng Ngampel, ngaturake yen mêntas saka Majapahit, sarta nyuwun idi ênggone jumênêng Nata, nanging ana ing Ngampel malah didukani sarta diuman-uman, ênggone ora ngrêti marang kabêcikane Sang Prabu Brawijaya, nanging sawise, banjur didhawuhi ngupaya ingkang rama, apa sapangandikane Nyai Agêng Ngampel diaturake kabeh marang Sunan Benang.

    Sunan Benang sawise mirêngake ature Sang Nata ing batos iya kêduwung, rumaos lupute, dene ora ngelingi marang kabêcikane Sang Prabu Brawijaya. Nanging rasa kang mangkono mau banjur dislamur ing pangandika, samudanane nyalahake Sang Prabu Brawijaya lan Patih, ênggone ora karsa salin agama Islam.

    Sunan Benang banjur ngandika, yen dhawuhe Nyai Agêng Ngampel ora pêrlu dipanggalih, amarga panimbange wanita iku mêsthi kurang sampurna, luwih bêcik ênggone ngrusak Majapahit dibanjurake, yen Prabu Jimbun mituhu dhawuhe Nyai Ngampeldênta, Sunan Benang arêp kondur mênyang ‘Arab, wusana Prabu Jimbun banjur matur marang Sunan Benang, yen ora nglakoni dhawuhe Nyai Ngampel, mêsthine bakal oleh sabda kang ora bêcik, mula iya wêdi.

    Sunan Benang paring dhawuh marang Sang Prabu, yen ingkang rama mêksa kondur mênyang Majapahit, Sang Prabu didhawuhi sowan nyuwun pangapura kabeh kaluputane, dene yen arêp ngaturi jumênêng Nata maneh, aja ana ing tanah Jawa, amarga mêsthi bakal ngribêdi lakune wong kang padha arêp salin agama Islam, supaya dijumênêngake ana seje nagara ing sajabaning tanah Jawa.

    Sunan Giri banjur nyambungi pangandika, mungguh prayoganing laku supaya ora ngrusakake bala, Sang Prabu Brawijaya sarta putrane bêcik ditênung bae, awit yen mateni wong kapir ora ana dosane.

    Sunan Benang sarta Prabu Jimbun wis nayogyani panêmune Sunan Giri kang mangkono mau.

    Gênti kang cinarita, tindake Sunan kalijaga ênggone ngupaya Sang Prabu Brawijaya, mung didherekake sakabat loro lakune kêlunta-lunta, sabên desa diampiri, saka ênggone ngupaya warta. Lampahe Sunan Kalijaga turut pasisir wetan, sing kalangkungan tindake Sang Prabu Brawijaya.

    Lampahe Sang Prabu Brawijaya wis têkan ing Blambangan, sarehne wis kraos sayah banjur kendêl ana sapinggiring beji. Ing wêktu iku panggalihe Sang Prabu pêtêng bangêt, dene sing marak ana ngarsane mung kêkasih loro, iya iku Nayagenggong lan Sabdapalon, abdi loro mau tansah gêguyon, lan padha mikir kahaning lêlakon kang mêntas dilakoni, ora antara suwe kêsaru sowanne Sunan Kalijaga, banjur ngabêkti sumungkêm padane Sang Prabu.

    Sang Prabu banjur ndangu marang Sunan Kalijaga: “Sahid! Kowe têka ana apa? Apa prêlune nututi aku?”

    Sunan Kalijaga matur: “Sowan kula punika kautus putra paduka, madosi panjênêngan paduka, kapanggiha wontên ing pundi-pundi, sêmbah sungkêmipun konjuka ing pada paduka Aji, nuwun pangaksama sadaya kasisipanipun, dene ngantos kamipurun ngrêbat kaprabon paduka Nata, awit saking kalimputing manah mudha punggung, botên sumêrêp tata krami, sangêt kapenginipun mêngku praja angreh wadyabala, sineba ing para bupati. Samangke putra paduka rumaos ing kalêpatanipun, dene darbe bapa Ratu Agung ingkang anyêngkakakên saking ngandhap aparing darajat Adipati ing Dêmak, tangeh malêsa ing sih paduka Nata, ing mangke putra paduka emut, bilih panjênêngan paduka linggar saking praja botên kantênan dunungipun, punika putra paduka rumaos yen mêsthi manggih dêdukaning Pangeran. Mila kawula dinuta madosi panjênêngan paduka, kapanggiha wontên ing pundi-pundi ingaturan kondur rawuh ing Majapahit, têtêpa kados ingkang wau-wau, mêngku wadya sineba para punggawa, aweta dados jêjimat pinundhi-pundhi para putra wayah buyut miwah para santana, kinurmatan sinuwunan idi wilujêngipun wontên ing bumi. Manawi paduka kondur, putra paduka pasrah kaprabon paduka Nata, putra paduka nyaosakên pêjah gêsang, yen kaparêng saking karsa paduka, namung nyuwun pangaksama paduka, sadayaning kalêpatanipun, lan nyuwun pangkatipun lami dados Adipati ing Dêmak, têtêpa kados ingkang sampun. Dene yen panjênêngan paduka botên karsa ngasta kaprabon Nata, sinaosan kadhaton wontên ing rêdi, ing pundi sasênênging panggalih paduka, ing rêdi ingkang karsakakên badhe dipundhêpoki, putra paduka nyaosi busana lan dhahar paduka, nanging nyuwun pusaka Karaton ing tanah Jawa, dipunsuwun ingkang rila têrusing panggalih”.

    Sang Prabu Brawijaya ngandika: “Ingsun-rungu aturira, Sahid! nanging ora ingsun-gatekake, karana ingsun wis kapok rêmbugan karo santri padha nganggo mata pitu, padha mata lapisan kabeh, mula blero pandulune, mawas ing ngarêp nanging jêbul anjênggung ing buri, rêmbuge mung manis ana ing lambe, batine angandhut pasir kinapyukake ing mata, murih picêka mataku siji. Sakawit ingsun bêciki, walêse kaya kênyung buntut, apa ta salah-ingsun, têka rinusak tanpa prakara, tinggal tata adat caraning manusa, mukul pêrang tanpa panantang, iku apa nganggo tataning babi, dadi dudu tataning manusa
    kang utama”.

    Sunan Kalijaga barêng ngrungu pangandikane Sang Prabu rumasa ing kaluputane ênggone melu mbêdhah karaton Majapahit, ing batin bangêt panalangsane, dene kadudon kang wis kêbanjur, mula banjur ngrêrêpa, ature: “Inggih saduka-duka paduka ingkang dhumawa dhatêng putra wayah, mugi dadosa jimat paripih, kacancang pucuking rema, kapêtêk wontên ing êmbun, mandar amêwahana cahya nurbuwat ingkang wêning, rahayunipun para putra wayah sadaya. Sarehning sampun kalêpatan, punapa malih ingkang sinuwun malih, kajawi namung pangapuntên paduka. wangsul karsa paduka karsa tindak dhatêng pundi?”

    Sang Prabu Brawijaya ngandika: “Saiki karsaningsun arsa tindak mênyang Bali, kêtêmu karo yayi Prabu Dewa agung ing Kêlungkung, arsa ingsun-wartani pratingkahe si Patah, sikara wong tuwa kang tanpa dosa, lan arsa ingsun-kon nimbali para Raja kanan kering tanah jawa, samêkta sakapraboning pêrang, lan Adipati Palembang sun-wehi wêruh, yen anake karo pisan satêkane tanah Jawa sun-angkat dadi Bupati, nanging ora wêruh ing dalan, banjur wani mungsuh bapa Ratu, sun-jaluk lilane anake arêp ingsun pateni, sabab murtat wani ing bapa kapindhone Ratu, lan ingsun arsa angsung wikan marang Hongte ing Cina, yen putrane wis patutan karo ingsun mêtu lanang siji, ananging ora wêruh ing dalan, wani mungsuh bapa ratu, iya ingsun-jaluk lilane, yen putune arsa ingsun-pateni, ingsun njaluk biyantu prajurit Cina, samêkta sakapraboning pêrang, njujuga nagari Bali. Yen wis samêkta sawadya prajurit, sarta padha eling marang lêlabêtan kabêcikaningsun, lan duwe wêlas marang wong wungkuk kaki-kaki, yêkti padha têka ing Bali sagêgamaning pêrang, sun-jak marang tanah Jawa angrêbut kapraboningsun, iya sanadyan pêrang gêdhe gêgêmpuran amungsuh anak, ingsun ora isin, awit ingsun ora ngawiti ala, aninggal carane wong agung.”

    Sunan Kalijaga ngrungu dhawuhe Sang Prabu kang mangkono iku ing sanalika mung dhêlêg-dhêlêg, ngandika sajroning ati: “Tan cidra karo dhawuhe Nyai Agêng Ngampelgadhing, yen eyang wungkuk isih mbrêgagah nggagahi nagara, ora nyawang wujuding dhiri, kulit kisut gêgêr wungkuk. Lamun iki ngantiya nyabrang marang Bali, ora wurung bakal ana pêrang gêdhe tur wadya ing Dêmak masa mênanga, amarga katindhihan luput, mungsuh ratu pindho bapa, kaping têlune kang mbêciki, wis mêsthi bae wong Jawa kang durung Islam yêkti asih marang Ratu tuwa, angantêp tangkêping jurit, mêsthi asor wong Islam tumpês ing pêpêrangan.”

    Wusana Sunan Kalijaga matur alon: “Dhuh pukulun Jêng Sang Prabu! saupami paduka lajêngna rawuh ing bali, nimbali para Raja, saestu badhe pêrang gêgêmpuran, punapa botên ngeman risakipun nagari Jawi, sampun tamtu putra paduka ingkang badhe nêmahi kasoran, panjênêngan paduka jumênêng Nata botên lami lajêng surud, kaprabon Jawi kaliya ing sanes darah paduka Nata, saupami kados dene sêgawon rêbatan bathang, ingkang kêrah tulus kêrah têtumpêsan sami pêjah sadaya daging lan manah kathêda ing sêgawon sanesipun”.

    Sang prabu Brawijaya ngandika: “Mungguh kang mangkono iki luwih-luwih karsane Dewa Kang Linuwih, ingsun iki Ratu Binathara, nêtêpi mripat siji, ora nganggo mata loro, mung siji marang bênêr paningalku, kang miturut adat pranatane para lêluhur. Saupama si Patah ngrasa duwe bapa ingsun, kêpengin dadi Ratu, disuwun krananing bêcik, karaton ing tanah Jawa, iya sun-paringake krana bêcik, ingsun wis kaki-kaki, wis warêg jumênêng Ratu, nrima dadi pandhita, pitêkur ana ing gunung. Balik samêngko si Patah siya mring sun, mêsthine-ingsun iya ora lila ing tanah Jawa diratoni, luwih karsaning Jawata Gung, pamintane marang para titah ing wuri.”

    Sunan Kalijaga barêng mirêng pangandikane Sang Prabu, rumasa ora kaconggah ngaturi, mula banjur nyungkêmi pada, sarta banjur nyaosake cundrike karo matur, yen Sang Prabu ora karsa nglampahi kaya ature Sunan Kalijaga, Sunan Kalijaga nyuwun supaya dipateni bae, amarga lingsêm manawa mêruhi lêlakon kang saru.

    Sang Prabu nguningani patrape Sunan kalijaga kang mangkono mau, panggalihe kanggêg, mula nganti suwe ora ngandika tansah têbah jaja karo nênggak waspa, sêrêt pangandikane: “Sahid! linggiha dhisik, tak-pikire sing bêcik, tak-timbange aturmu, bênêr lan lupute, têmên lan gorohe, amarga aku kuwatir yen aturmu iku goroh kabeh. Sumurupa Sahid! saupama aku kondur marang Majapahit, si Patah seba mênyang aku, gêthinge ora bisa mari, amarga duwe bapa Buddha kawak kapir kupur, liya dina lali, aku banjur dicêkêl dibiri, dikon tunggu lawang pungkuran, esuk sore diprêdi sêmbahyang, yen ora ngrêti banjur diguyang ana ing blumbang dikosoki alang-alang garing.”

    Sang Prabu mbanjurake pangandikane marang Sunan Kalijaga:
    “Mara pikirên, Sahid! saiba susahing atiku, wong wis tuwa, nyêkrukuk, kok dikum ing banyu”.

    Sunan Kalijaga gumujêng karo matur: “Mokal manawi makatên, benjing kula ingkang tanggêl, botên-botênipun manawi putra paduka badhe siya-siya dhatêng panjênêngan paduka, dene bab agami namung kasarah sakarsa paduka, namung langkung utami manawi panjênêngan paduka karsa gantos sarak rasul, lajêng nyêbut asmaning Allah, manawi botên karsa punika botên dados punapa, tiyang namung bab agami, pikêkahipun tiyang Islam punika sahadat, sanadyan salat dhingklak-dhingkluk manawi dereng mangrêtos sahadat punika inggih têtêp nama kapir”.

    Sang Prabu ngandika: “Sahadat iku kaya apa, aku kok durung ngrêti, coba ucapna tak-rungokne”.

    Sunan kalijaga banjur ngucapake sahadat: ashadu ala ilaha ila’llah, wa ashadu anna Mukhammadar-Rasulu’llah, têgêsipun: Ingsung anêkseni, ora ana Pangeran kang sajati, amung Allah, lan anêkseni, Kangjêng Nabi Mukhammad iku utusane Allah”.

    Ature Sunan Kalijaga marang Sang Prabu: “Tiyang nêmbah dhatêng arah kemawon, botên sumêrêp wujud têgêsipun, punika têtêp kapiripun, lan malih sintên tiyang ingkang nêmbah puji ingkang sipat wujud warni, punika nêmbah brahala namanipun, mila tiyang punika prêlu mangrêtos dhatêng lair lan batosipun. Tiyang ngucap punika kêdah sumêrêp dhatêng ingkang dipunucapakên, dene têgêsipun Nabi Mukhammad Rasula’llah: Mukhammad punika makam kuburan, dados badanipun tiyang punika kuburipun rasa sakalir, muji badanipun piyambak, botên muji Mukhammad ing ‘Arab, raganipun manusa punika wêwayanganing Dzating Pangeran, wujud makam kubur rasa, Rasul rasa kang nusuli, rasa pangan manjing lesan, Rasule minggah swarga, lu’llah, luluh dados êndhut, kasêbut Rasulu’llah punika rasa ala ganda salah, riningkês dados satunggal Mukhammad Rasula’llah, kang dhingin wêruh badan, kaping kalih wêruh ing têdhi, wajibipun manusa mangeran rasa, rasa lan têdhi dados nyêbut Mukhammad rasulu’llah, mila sêmbahyang mungêl “uzali” punika têgêsipun nyumêrêpi asalipun. Dene raganipun manusa punika asalipun saking roh idlafi, rohipun Mukhammad Rasul, têgêsipun Rasul rasa, wijile rasaning urip, mêdal saking badan kang mênga, lantaran ashadualla, manawi botên mêngrêtos têgêsipun sahadat, botên sumêrêp rukun Islam, botên mangrêtos purwaning dumados”.

    Sunan kalijaga ature akeh-akeh, nganti Prabu Brawijaya karsa santun agama Islam, sawise banjur mundhut paras marang Sunan Kalijaga nanging remane ora têdhas digunting, mulane Sunan Kalijaga banjur matur, Sang Prabu diaturi Islam lair batos, amarga yen mung lair bae, remane ora têdhas digunting. Sang Prabu banjur ngandika yen wis lair batos, mulane kêna diparasi.

    Sang Prabu sawise paras banjur ngandika marang Sabdapalon lan Nayagenggong: “Kowe karo pisan tak-tuturi, wiwit dina iki aku ninggal agama Buddha, ngrasuk agama Islam, banjur nyêbut asmaning Allah Kang Sajati. Saka karsaku, kowe sakarone tak-ajak salin agama Rasul tinggal agama Buddha.”

    Sabdapalon ature sêndhu: “Kula niki Ratu Dhang Hyang sing rumêksa tanah Jawa. Sintên ingkang jumênêng Nata, dados momongan kula. Wiwit saking lêluhur paduka rumiyin, Sang Wiku Manumanasa, Sakutrêm lan Bambang Sakri, run-tumurun ngantos dumugi sapriki, kula momong pikukuh lajêr Jawi, kula manawi tilêm ngantos 200 taun, sadangunipun kula tilêm tamtu wontên pêpêrangan sadherek mêngsah sami sadherek, ingkang nakal sami nêdha jalma, sami nêdha bangsanipun piyambak, dumugi sapriki umur-kula sampun 2000 langkung 3 taun, momong lajêr Jawi, botên wontên ingkang ewah agamanipun, nêtêpi wiwit sapisan ngestokakên agami Buddha. Sawêg paduka ingkang karsa nilar pikukuh luhur Jawi. Jawi têgêsipun ngrêti, têka narimah nama Jawan, rêmên manut nunut-nunut, pamrihipun damêl kapiran muksa paduka mbenjing.”

    Sabdane Wiku tama sinauran gêtêr-patêr.

    Sang Prabu Brawijaya sinêmonan dening Jawata, ênggone karsa mlêbêt agama Rasul, iya iku rêrupan kahanan ing dunya ditambahi warna têlu: 1: aran sukêt Jawan, 2: pari Randanunut, lan 3: pari Mriyi.

    Sang Prabu andangu maneh: “Kapriye kang padha dadi kêkêncênganmu, apa gêlêm apa ora ninggal agama Buddha, salin agama Rasul, nyêbut Nabi Mukhammad Rasula’llah panutaning para Nabi, lan nyêbut asmaning Allah Kang Sajati?”

    Sabdapalon ature sêndhu: “Paduka mlêbêt piyambak, kula botên têgêl ningali watak siya, kados tiyang ‘Arab. Siya punika têgêsipun ngukum, tur siya dhatêng raga, manawi kula santun agami, saestu damêl kapiran kamuksan-kula, ing benjing, dene ingkang mastani mulya punika rak tiyang ‘Arab sarta tiyang Islam sadaya, anggenipun ngalêm badanipun piyambak. Manawi kula, mastani botên urus, ngalêm saening tangga, ngapêsakên badanipun piyambak, kula rêmên agami lami, nyêbut Dewa Ingkang Linangkung.

    Jagad punika raganipun Dewa ingkang asipat budi lan hawa, sampun dados wajibipun manusa punika manut dhatêng eling budi karêpan, dados botên ngapirani, manawi nyêbut Nabi Mukhammad Rasulu’llah, têgêse Mukhammad niku makaman kubur, kubure rasa kang salah, namung mangeran rasa wadhag wadhahing êndhut, namung tansah nêdha eca, botên ngengêti bilahinipun ing wingking, mila nami Mukhammad inggih makaman kuburan sakalir, roh idlafi têgêsipun lapisan, manawi sampun risak wangsul dhatêng asalipun malih. Wangsul Prabu Brawijaya lajêng manggen wontên pundi. Adam punika muntêl kaliyan Hyang Brahim, têgêsipun kêbrahen nalika gêsangipun, botên manggih raos ingkang saestu, nanging tangining raos wujud badan, dipunwastani Mukhammadun, makaman kuburing rasa, jasanipun budi, dados sipatipun tiyang lan raos. Manawi dipunpundhut ingkang Mahakuwasa, sarira paduka sipate tiyang wujud dados, punika dadosipun piyambak, lantaranipun ngabên awon, bapa biyung botên damêl, mila dipunwastani anak, wontênipun wujud piyambak, dadosipun saking gaib samar, saking karsaning Latawalhujwa, ingkang nglimputi wujud, wujudipun piyambak, risak-risakipun piyambak, manawi dipunpundhut dening Ingkang Maha Kuwasa, namung kantun rumaos lan pangraos ingkang paduka-bêkta dhatêng pundi kemawon, manawi dados dhêmit ingkang têngga siti, makatên punika ingkang nistha, namung prêlu nênggani daging bacin ingkang sampun luluh dados siti, makatên wau têtêp botên wontên prêlunipun. Ingkang makatên punika amargi namung saking kirang budi kawruhipun, kala gêsangipun dereng nêdha woh wit kawruh lan woh wit budi, nrimah pêjah dados setan, nêdha siti ngajêng-ajêng tiyang ngirim sajen tuwin slamêtanipun, ing têmbe tilar mujijat rakhmat nyukani kiyamat dhatêng anak putunipun ingkang kantun. Tiyang pêjah botên kêbawah pranataning Ratu ing lair, sampun mêsthi sukma pisah kaliyan budi, manawi tekadipun sae inggih nampeni kamulyan, nanging manawi tekadipun awon inggih nampeni iksanipun. Cobi paduka-jawab atur-kula punika”.

    Sang Prabu ngandika: “Mulih marang asale, asal Nur bali marang Nur”.

    Sabdapalon matur maneh: “Inggih punika kawruhipun tiyang bingung gêsangipun rugi, botên gadhah kawruh kaengêtan, dereng nêdha woh kawruh lan budi, asal siji mantuk satunggal, punika sanes pêjah ingkang utami, dene pêjah ingkang utami punika sewu satus têlung puluh. Têgêsipun satus punika putus, têlu punika tilas, puluh punika pulih, wujud malih, wujudipun risak, nanging ingkang risak namung ingkang asal saking roh idlafi. Uripipun langgêng namung raga pisah kaliyan sukma, inggih punika sahadat ingkang botên mawi ashadu, gantos roh idlafi lapisan: sasi surup mêsthi saking pundi asalipun wiwit dados jalmi. Surup têgêsipun: sumurup purwa madya wasananipun, nêtêpana namane tiyang lumampah, sampun ebah saking prênahipun mlêbêt mbêkta sir cipta lami”.

    Sang Prabu ngandika: “Ciptaku nempel wong kang luwih”. Sabdapalon matur: “Punika tiyang kêsasar, kados dene kêmladeyan tumemplek wit-witan agêng, botên bawa piyambak, kamuktenipun namung nêmpil. Punika botên pêjah utami, pêjahipun tiyang nistha, rêmênipun namung nempel, nunut-nunut, botên bawa piyambak, manawi dipuntundhung, lajêng klambrangan, dados brêkasakan, lajêng nempel dhatêng sanesipun malih”.

    Sang Prabu ngandika maneh: “Asal suwung aku bali, mênyang suwung, nalika aku durung maujud iya durung ana apa-apa, dadi patiku iya mangkono”.

    Sabdapalon: “Punika pêjahipun tiyang kalap nglawong, botên iman ‘ilmi, nalika gêsangipun kados kewan, namung nêdha ngombe lan tilêm, makatên punika namung sagêd lêma sugih daging, dados nama sampun narimah ngombe uyuh kemawon, ical gêsangipun salêbêtipun pêjah”.

    Sang Prabu: “Aku nunggoni makaman kubur, yen wis luluh dadi lêbu”.

    Sabdapalon: “Inggih punika pêjahipun tiyang cubluk, dados setan kuburan, nênggani daging wontên kuburan, daging ingkang sampun luluh dados siti, botên mangrêtos santun roh hidlafi enggal. Inggih punika tiyang bodho mangrêtosa. Nun!”

    Sang Prabu ngandika: “Aku arêp muksa saragaku”.

    Sabdapalon gumuyu: “Yen tiyang agami Rasul têrang botên sagêd muksa, botên kuwawi ngringkês nguntal raganipun, lêma kakathahên daging. Tiyang pêjah muksa punika cêlaka, amargi nami pêjah, nanging botên tilar jisim, namanipun botên sahadat, botên pêjah, botên gêsang, botên sagêd dados roh idlafi enggal, namung dados gunungan dhêmit”.

    Pangandikane Sang Prabu: “Aku ora duwe cipta apa-apa, ora ikhtiar nampik milih, sakarsane Kang Maha Kuwasa”.

    Sabdapalon: “Paduka nilar sipat, botên ngrumaosi yen tinitah linangkung, nilar wajibing manusa, manusa dipunwênangakên nampik milih, manawi sampun narimah dados sela, sampun botên prêlu pados ‘ilmi kamulyaning seda”.

    Sang Prabu: “Ciptaku arêp mulih mênyang akhirat, munggah swarga seba Kang maha Kuwasa”.

    Sabdapalon matur: “Akhirat, swarga, sampun paduka-bêkta ngaler ngidul, jagadipun manusa punika sampun mêngku ‘alam sahir kabir, nalika tapêl Adam, sampun pêpak: akhirat, swarga, naraka ‘arasy kursi. Paduka badhe tindak dhatêng akhirat pundi, mangke manawi kêsasar lo, mangka ênggene akhirat punika têgêse mlarat, saênggen-ênggen wontên akhirat, manawi kenging kula-singkiri, sampun ngantos kula mantuk dhatêng kamlaratan sarta minggah dhatêng akhirat adil nagari, manawi lêpat jawabipun tamtu dipunukum, dipunbanda, dipunpaksa nyambut damêl awrat tur botên tampa arta. Klêbêt akhirat nusa Srênggi, nusa têgêsipun manusa, Srêng têgêsipun padamêlan ingkang awrat sangêt. Ênggi têgêsipun gawe. Dados têgêsipun jalma pinêksa nyambut damêl dhatêng Ratu Nusa Srênggi namanipun, punapa botên cilaka, tiyang gêsang wontên ing dunya kados makatên wau, sakulawargane mung nadhah bêras sapithi, tanpa ulam, sambêl, jangan punika akhirat ingkang katingal tata lair, manawi akhiratipun tiyang pêjah malah langkung saking punika, paduka sampun ngantos kondur dhatêng akhirat, sampun ngantos minggah dhatêng swarga, mindhak kêsasar, kathah rajakaya ingkang wontên ing ngriku, sadaya sami trima tilêm kêmul siti, gêsangipun nyambut damêl kanthi paksan, botên salah dipunpragat, paduka sampun ngantos sowan Gusti Allah, amargi Gusti Allah punika botên kantha botên warna, wujudipun amung asma, nglimputi wontên ing dunya tuwin ing akhirat, paduka dereng têpang, têpangipun amung têpang kados cahyanipun lintang lan rêmbulan, kapanggihe cahya murub dados satunggal, botên pisah botên kumpul, têbihipun botên mawi wangênan, cêlak botên panggihan, kula botên kuwawi cêlak, punapa malih paduka, Kangjêng Nabi Musa toh botên kuwawi mandêng dhatêng Gusti Allah, mila Allah botên katingal, namung Dzatipun ingkang nglimputi sadaya wujud, paduka wiji rohani, sanes bangsanipun malaekat, manusa raganipun asal saking nutfah, sowan Hyang Latawalhujwa, manawi panggenanipun sampun sêpuh, nyuwun ingkang enggal, dados botên wongsal-wangsul, ingkang dipunwastani pêjah gêsang, ingkang gêsang napasipun taksih lumampah, têgêsipun urip, ingkang têtêp langgêng, botên ewah botên gingsir, ingkang pêjah namung raganipun, botên ngraosakên kanikmatan, pramila tumrap tiyang agami Buddha, manawi raganipun sampun sêpuh, suksmanipun mêdal nyuwun gantos ingkang sae, nglangkungi ingkang sampun sêpuh, nutfah sampun ngantos ebah saking jagadipun, jagadipun manusa punika langgêng, botên ewah gingsir, ingkang ewah punika makaming raos, raga wadhag ingkang asal roh idlafi.

    Prabu Brawijaya botên anem botên sêpuh, nanging langgêng manggen wontên satêngahipun jagadipun, lumampah botên ebah saking panggenanipun, wontên salêbêting guwa sir cipta kang êning. Gawanên gêgawanmu, ngGêgawa nêdha raga. Tulis ical, etangan gunggunge: kumpul, plêsatipun wêtaha. Ningali jantung kêtêg kiwa: surut marga sire cipta, jujugipun ingkang cêtha cêthik cêthak. Punika pungkasanipun kawruh, kawruhipun tiyang Buddha. Lêbêtipun roh saking cêthak marginipun, kendêl malih wontên cêthik, mêdal wontên kalamwadi, kentir sagara rahmat lajêng lumêbêt ing guwa indra-kilaning estri, tibaning nikmat ing dhasaring bumi rahmat, wontên ing ngriku ki budi jasa kadhaton baitu’llah ingkang mulya, dadosipun saking sabda kun, dados wontên têngahing jagad swarganing tiyang sêpuh estri, mila jalma keblatipun wontên têngahing jagad, jagading tiyang punika guwa sir cipta namanipun, dipunbêkta dhatêng pundi- pundi botên ewah, umuripun sampun dipunpasthekakên, botên sagêd ewah gingsir, sampun dipunsêrat wontên lokhil-makful, bêgja cilakanipun gumantung wontên ing budi nalar lan kawruhipun, ingkang ical utawi kirang ikhtiaripun inggih badhe ical utawi kirang bêgjanipun. Wiwitanipun keblat sakawan, inggih punika wetan kilen kidul ler : têgêsipun wetan : wiwitan manusa maujud; têgêsipun kulon :
    bapa kêlonan; têgêsipun kidul : estri didudul wêtênge ing têngah; têgêsipun lor : laire jabang bayi, tanggal sapisan kapurnaman, sênteg sapisan tênunan sampun nigasi. Têgêsipun pur: jumbuh, na; ana wujud, ma; madhêp dhatêng wujud; jumbuh punika têgêsipun pêpak, sarwa wontên, mêngku alam sahir kabir, tanggalipun manusa, lairipun saking tiyang sêpuhipun estri, sarêng tanggalipun kaliyan sadherekipun kakang mbarêp adhi ragil, kakang mbarêp punika kawah, adhi punika ari-ari, sadherek ingkang sarêng tanggal gaibipun, rumêksa gêsangipun elingipun panjanmaning surya, lênggah rupa cahya, kontêning eling sadayanipun, siyang dalu sampun sumêlang dhatêng sadaya rêrupen, ingkang engêt sadayanipun, surup lan tanggalipun sampun samar : kala rumiyin, sapunika lan benjing, punika kawruhipun tiyang Jawi ingkang agami Buddha. Raga punika dipunibaratakên baita, dene suksmanipun inggih punika tiyang ingkang wontên ing baita wau, ingkang nêdahakên pandomipun, manawi baitanipun lumampah mangka salah pandomipun, tamtu manggih cilaka, baita pêcah, tiyangipun rêbah. Pramila kêdah ingkang mapan, mumpung baitanipun taksih lumampah, manawi botên mapan gêsangipun, pêjah malih sagêda mapan, nêtêpi kamanusanipun, manawi baitanipun bibrah, inggih pisah kaliyan tiyangipun; têgêsipun suksma ugi pisah kaliyan budi, punika namanipun sahadat, pisahipun kawula kaliyan Gusti, sah têgêsipun pisah, dat punika Dzating Gusti, manawi sampun pisah raga suksma, budinipun lajêng santun baitu’llah, napas tali, muji dhatêng Gusti, manawi pisaha raga suksma lan budi, mrêtitis ingkang botên-botên, yen tunggal, kabêsaran, tanggalipun botên surup salaminipun, punika kêdah ingkang waspada, ngengêtana dhatêng asaling kawula, kawula ugi wajib utawi wênang matur dhatêng Gusti, nyuwun baitu’llah ingkang enggal, ngungkulana ingkang lami. Raganing manusa punika namanipun baitu’llah, inggih prau gaweyaning Allah, dadosipun saking sabda kun, manawi baitanipun tiyang Jawi sagêd mapan santun baitu’llah malih ingkang sae, baitanipun tiyang Islam gêsangipun kantun pangrasa, praunipun sampun rêmuk, manawi suksma punika pêjah ing ‘alam dunya suwung, botên wontên tiyang, manawi tiyang punika têrus gêsang, ing dunya kêbak manusa, lampahipun saking ênem urut sêpuh, ngantos roh lapisan, sanadyan suksmanipun tiyang, nanging manawi tekadipun nasar, pêjahipun manjalma dados kuwuk, sanadyan suksmanipun kewan, nanging sagêd manjalma dados tiyang (kajêngipun, adiling Kawasa tiyang punika pinasthi ngundhuh wohing panggawene piyambak-piyambak). Nalika panjênênganipun Bathara Wisnu jumênêng Nata wontên ing Mêndhang Kasapta, sato wana tuwin lêlêmbut dipuncipta dados manusa, dados wadya-balanipun Sang Nata. Nalika eyang paduka Prabu Palasara iyasa kadhaton wontên ing Gajahoya, sato wana tuwin lêlêmbut inggih dipuncipta dados tiyang, pramila gandanipun tiyang satunggal-satunggalipun beda-beda, gandanipun kadosdene nalika taksih dados sato kewan. Sêrat tapak Hyang, ingkang dipunwastani Sastrajendrayuningrat, dados saking sabda kun, ingkang dipunwastani jithok têgêsipun namung puji thok. Dewa ingkang damêl cahya murub nyrambahi badan, têgêsipun incêngên aneng cêngêlmu. Jiling punika puji eling marang Gusti. Punuk têgêsipun panakna. Timbangan têgêsipun salang. Pundhak punika panduk, urip wontên ing ‘alam dunya pados kawruh kaliyan woh kuldi, manawi angsal woh kuldi kathah, untungipun sugih daging, yen angsal woh kawruh kathah, kenging kangge sangu gêsang, gêsang langgêng ingkang botên sagêd pêjah. Têpak têgêsipun têpa-tapanira. Walikat: walikane gêsang. Ula-ula: ulatana, lalarên gêgêrmu sing nggligir. Sungsum têgêsipun sungsungên. Lambung: waktu Dewa nyambung umur, alamipun jalma sambungan, lali eling urip mati. Lêmpeng kiwa têngên têgêsipun tekadmu sing lêmpêng lair batin, purwa bênêr lawan luput, bêcik lawan ala. Mata têgêsipun tingalana batin siji, sing bênêr keblatira, keblat lor bênêr siji. Têngên têgêsipun têngênên ingkang têrang, wontên ing dunya amung sadarmi ngangge raga, botên damêl botên tumbas. Kiwa têgêsipun: raga iki isi hawa kêkajêngan, botên wênang ngêkahi pêjah. Makatên punika ungêling sêrat. Manawi paduka maibên, sintên ingkang damêl raga? Sintên ingkang paring nama? inggih namung Latawalhujwa, manawi paduka maibên, paduka têtêp kapir, kapiran seda paduka, botên pitados dhatêng sêratipun Gusti, sarta murtat dhatêng lêluhur Jawi sadaya, nempel tosan, kajêng sela, dados dhêmit têngga siti, manawi paduka botên sagêd maos sastra ingkang wontên ing badanipun manusa, saseda paduka manjalma dhatêng kuwuk, dene manawi sagêd sagêd maos sastra ingkang wontên ing raga wau, saking tiyang inggih dados tiyang, kasêbut ing sêrat Anbiya, Kanjêng Nabi Musa kala rumiyin tiyang ingkang pêjah wontên ing kubur, lajêng tangi malih, gêsangipun gantos roh lapis enggal, gantos makam enggal. Manawi paduka ngrasuk agami Islam, tiyang Jawi tamtu lajêng Islam sadaya. Manawi kula, wadhag alus-kula sampun kula-cakup lan kula-carub, sampun jumbuh dados satunggal, inggih nglêbêt inggih jawi, dados kantun sasêdya-kula kemawon, ngadam utawi wujud sagêd sami sanalika, manawi kula kêpengin badhe wujud, inggih punika wujud-kula, sêdya ngadam, inggih sagêd ical sami sanalika, yen sêdya maujud sagêd katingal sanalika. Raga-kawula punika sipating Dewa, badan-kawula sakojur gadhah nama piyambak-piyambak. Cobi paduka-dumuk: pundi wujudipun Sabdapalon, sampun kalingan pajar, saking pajaripun ngantos sampun botên katingal wujudipun Sabdapalon, kantun asma nglimputi badan, botên ênem botên sêpuh, botên pêjah botên gêsang, gêsangipun nglimputi salêbêting pêjahipun, dene pêjahipun nglimputi salêbêting gêsangipun, langgêng salaminipun”.

    Sang Prabu ndangu: “Ana ing ngêndi Pangeran Kang Sajati?”

    Sabdapalon matur: “Botên têbih botên cêlak, paduka wayangipun wujud sipating suksma, dipunanggêp sarira tunggal, budi hawa badan, tiga-tiga punika tumindakipun; botên pisah, nanging inggih botên kumpul. Paduka punika sampun Ratu linuhung tamtu botên badhe kêkilapan dhatêng atur-kula punika”.

    Sang Prabu ngandika maneh: “Apa kowe ora manut agama?”

    Sabdapalon ature sêndhu: “Manut agami lami, dhatêng agami enggal botên manut! Kenging punapa paduka gantos agami têka botên nantun kula, paduka punapa kêkilapan dhatêng nama kula Sabdapalon? Sabda têgêsipun pamuwus, Palon: pikukuh kandhang. Naya têgêsipun ulat, Genggong: langgêng botên ewah. Dados wicantên-kula punika, kenging kangge pikêkah ulat pasêmoning tanah Jawi, langgêng salaminipun.”

    Sang Prabu ngandika: “Kapriye iki, aku wis kêbacut mlêbu agama Islam, wis disêkseni Sahid, aku ora kêna bali agama Buddha maneh, aku wirang yen digêguyu bumi langit.” Sabdapalon matur maneh: “Inggih sampun, lakar paduka-lampahi piyambak, kula botên tumut-tumut.” Sunan Kalijaga banjur matur marang Sang Prabu, kang surasane ora prêlu manggalih kang akeh-akeh, amarga agama Islam iku mulya bangêt, sarta matur yen arêp nyipta banyu kang ana ing beji, prêlu kanggo tandha yêkti, kapriye mungguh ing gandane. Yen banyu dicipta bisa ngganda wangi, iku tandha yen Sang Prabu wis mantêp marang agama Rasul, nanging yen gandane ora wangi, iku anandhakake: yen Sang Prabu isih panggalih Buddha. Sunan Kalijaga banjur nyipta, padha sanalika banyu sêndhang banjur dadi wangi gandane, ing kono Sunan kalijaga matur marang Sang Prabu, kaya kang wiswis mantêp marang agama Rasul, amarga banyu sêndhang gandane wangi. (11)

    Ature Sabdapalon marang Sang Prabu: Punika kasêkten punapa? kasêktening uyuh-kula wingi sontên, dipunpamerakên dhatêng kula. Manawi kula timbangana nama kapilare, mêngsah uyuh-kula piyambak, ingkang kula rêbat punika? Paduka sampun kêlajêng kêlorob, karsa dados jawan, irib-iriban, rêmên manut nunut-nunut, tanpa guna kula- êmong, kula wirang dhatêng bumi langit, wirang momong tiyang cabluk, kula badhe pados momongan ingkang mripat satunggal, botên rêmên momong paduka. Manawi kula sumêdya ngêdalakên kaprawiran, toya kula-êntut sêpisan kemawon, sampun dados wangi. Manawi paduka botên pitados, kang kasêbut ing pikêkah Jawi, nama Manik Maya, punika kula, ingkang jasa kawah wedang sanginggiling rêdi rêdi Mahmeru punika sadaya kula, adi Guru namung ngideni kemawon, ing wêkdal samantên tanah Jawi sitinipun gonjang-ganjing, saking agênging latu ingkang wontên ing ngandhap siti, rêdi-rêdi sami kula êntuti, pucakipun lajêng anjêmblong, latunipun kathah ingkang mêdal, mila tanah Jawi lajêng botên goyang, mila rêdi-rêdi ingkang inggil pucakipun, sami mêdal latunipun sarta lajêng wontên kawahipun, isi wedang lan toya tawa, punika inggih kula ingkang damêl, sadaya wau atas karsanipun Latawalhujwa, ingkang damêl bumi lan langit. Punapa cacadipun agami Buddha, tiyang sagêd matur piyambak dhatêng Ingkang Maha Kuwasa. Paduka yêktos, manawi sampun santun agami Islam, nilar agami Buddha, turun paduka tamtu apês, Jawi kantun jawan, Jawinipun ical, rêmên nunut bangsa sanes. Benjing tamtu dipunprentah dening tiyang Jawi ingkang mangrêti.

    Cobi paduka-yêktosi, benjing: sasi murub botên tanggal, wiji bungkêr botên thukul, dipuntampik dening Dewa, tinanêma thukul mriyi, namung kangge têdha pêksi, mriyi punika pantun kados kêtos, amargi paduka ingkang lêpat, rêmên nêmbah sela. Paduka-yêktosi, benjing tanah Jawa ewah hawanipun, wêwah bênter awis jawah, suda asilipun siti, kathah tiyang rêmên dora, kêndêl tindak nistha tuwin rêmên supata, jawah salah masa, damêl bingungipun kanca tani. Wiwit dintên punika jawahipun sampun suda, amargi kukuminipun manusa anggenipun sami gantos agami. Benjing yen sampun mrêtobat, sami engêt dhatêng agami Buddha malih, lan sami purun nêdha woh kawruh, Dewa lajêng paring pangapura, sagêd wangsul kados jaman Buddha jawahipun”.

    Sang Prabu mirêng ature Sabdapalon, ing batos rumaos kaduwung bangêt dene ngrasuk agama Islam, nilar agama Buddha. Nganti suwe ora ngandika, wasana banjur ngandika, amratelakake yen ênggone mlêbêt agama Islam iku, amarga kêpencut ature putri Cêmpa, kang ngaturake yen wong agama Islam iku, jarene besuk yen mati, antuk swarga kang ngungkuli swargane wong kapir.

    Sabdapalon matur, angaturake lêpiyan, yen wiwit jaman kuna mula, yen wong lanang manut wong wadon, mêsthi nêmu sangsara, amarga wong wadon iku utamane kanggo wadhah, ora wênang miwiti karêp, Sabdapalon akeh-akeh ênggone nutuh marang Sang Prabu.

    Sang Prabu ngandika: “Kok-tutuha iya tanpa gawe, amarga barang wis kêbacut, saiki mung kowe kang tak-tari, kapriye kang dadi kêkêncênganing tekadmu? Yen aku mono ênggonku mlêbu agama Islam, wis disêkseni dening si Sahid, wis ora bisa bali mênyang Buddha mêneh”.

    Sabdapalon matur yen arêp misah, barêng didangu lungane mênyang ngêndi, ature ora lunga, nanging ora manggon ing kono, mung nêtêpi jênênge Sêmar, nglimputi salire wujud, anglela kalingan padhang. Sang Prabu diaturi ngyêktosi, ing besuk yen ana wong Jawa ajênêng tuwa, agêgaman kawruh, iya iku sing diêmong Sabdapalon, wong jawan arêp diwulang wêruha marang bênêr luput.

    Sang Prabu karsane arêp ngrangkul Sabdapalon lan Nayagenggong, nanging wong loro mau banjur musna. Sang Prabu ngungun sarta nênggak waspa, wusana banjur ngandika marang Sunan Kalijaga: “Ing besuk nagara Blambangan salina jênêng nagara Banyuwangi, dadiya têngêr Sabdapalon ênggone bali marang tanah Jawa anggawa momongane. Dene samêngko Sabdapalon isih nglimput aneng tanah sabrang”. Sunan Kalijaga banjur didhawuhi nêngêri banyu sêndhang, yen gandane mari wangi, besuk wong Jawa padha ninggal agama Islam ganti agama Kawruh.

    Sunan Kalijaga banjur jasa bumbung loro kang siji diiseni banyu tawa, sijine diiseni banyu sêndhang. Banyu sêndhang mau kanggo tandha, yen gandane mari wangi, wong tanah Jawa padha salin agama kawruh. Bumbung sawise diiseni banyu, banjur disumpêli godhong pandan-sili, sabanjure digawa sakabate loro.

    Sang Prabu Brawijaya banjur tindak didherekake Sunan Kalijaga lan sakabate loro, tindake kawêngen ana ing dalan, nyare ana ing Sumbêrwaru, esuke bumbunge dibukak, banyune diambu isih wangi, nuli mbanjurake tindake, wayah surup srêngenge, wis têkan ing Panarukan. Sang Prabu nyare ana ing kono, ing wayah esuk, banyu ing bumbu diganda isih wangi, Sang Prabu mbanjurake tindake.

    Barêng wis wayah surup srêngenge, têkan ing Bêsuki, Sang Prabu uga nyare ana ing kono, esuke banyu ing bumbung diganda mundhak wangine, Sang Prabu banjur nêrusake tindake nganti wayah surup srêngenge, têkan ing Prabalingga, ana ing kono uga nyare sawêngi, esuke banyune ditiliki, banyune tawa isih enak, nanging munthuk, unthuke gandane arum, nanging mung kari sathithik, amarga kêrêp diunjuk ana ing dalan, dene banyune sêndhang barêng ditiliki gandane dadi bangêr, tumuli dibuwang. Sang Prabu banjur ngandika marang Sunan Kalijaga: “Prabalingga ing besuk jênênge loro, Prabalingga karo Bangêrwarih 12 ing kene besuk dadi panggonan kanggo pakumpulane wong-wong kang padha ngudi kawruh kapintêran lan kabatinan, Prabalingga têgêse prabawane wong Jawa kalingan prabawane tangga”. Sang Prabu mbanjurake tindake, ing pitung dinane, wis têkan ing Ampelgadhing. Nyai Agêng Ampelgadhing tumuli mêthukake banjur ngabêkti marang Sang Prabu karo muwun, sarta akeh-akeh sêsambate.

    Sang Prabu banjur ngandika: “Wis aja nangis êngger, mupusa yen kabeh mau wis dadi karsane Kang Maha Kuwasa, kudu mangkene. Aku lan kowe mung sadarma nglakoni, kabeh lêlakon wis ditulis aneng lokhilmakful. Bêgja cilaka ora kêna disinggahi, nanging wajibe wong urip kudu kêpengin mênyang ilmu”.

    Nyai Agêng Ampel banjur matur marang Sang Prabu, ngaturake patrape ingkang wayah Prabu Jimbun, kaya kang wis kasêbut ing ngarêp. Sang Prabu banjur dhawuh nimbali Prabu Jimbun. Nyai Ampel nuli utusan mênyang Dêmak nggawa layang, satêkane ing Dêmak, layang wis katur marang Sang Prabu Jimbun, ora antara suwe Prabu Jimbun budhal sowan mênyang Ampel.

    Kacarita putra Nata ing Majapahit, kang aran Raden Bondhankajawan ing Tarub, mirêng pawarta yen nagara Majapahit dibêdhah Adipati Dêmak, malah Sang Prabu lolos saka jroning pura, ora karuhan mênyang ngêndi tindake, rumasa ora kapenak panggalihe, banjur tindak marang Majapahit, tindake Raden Bondhankajawan namur kula, nungsung warta ing ngêndi dununge ingkang rama, satêkane Surabaya, mirêng warta yen ingkang rama Sang Prabu têdhak ing Ampel, nanging banjur gêrah, Raden Bondhankajawan nuli sowan ngabêkti.

    Sang Prabu ndangu: “Sing ngabêkti iki sapa?”

    Raden Bondhankajawan matur yen panjênêngane kang ngabêkti.

    Sang Prabu banjur ngrangkul ingkang putra, gêrahe Sang Prabu sangsaya mbatêk, ngrumaosi yen wis arêp kondur marang jaman kalanggêngan, pangandikane marang Sunan Kalijaga mangkene: Sahid, nyêdhaka mrene, aku wis arêp mulih marang jaman kalanggêngan, kowe gaweya layang mênyang Pêngging lan Pranaraga, mêngko tak-wenehane tandha asta, wis padha narima rusake Majalêngka, aja padha ngrêbut kapraboningsun, kabeh mau wis karsane Kang Maha Suci, aja padha pêrang, mundhak gawe rudahing jagad, balik padha ngemana rusaking wadya-bala, sebaa marang Dêmak, sapungkurku sing padha rukun, sapa sing miwiti ala, tak-suwun marang Kang maha Kuwasa, yudane apêsa.”

    Sunan Kalijaga banjur nyêrat, sawise rampung banjur ditapak-astani dening sang Prabu, sabanjure diparingake marang Pêngging lan Pranaraga.

    Sang Prabu banjur ngandika: “Sahid, sapungkurku kowe sing bisa momong marang anak putuku, aku titip bocah iki, saturun-turune êmongên, manawa ana bêgjane, besuk bocah iki kang bisa nurunake lajêre tanah Jawa, lan maneh wêkasku marang kowe, yen aku wis kondur marang jaman kalanggêngan, sarekna ing Majapahit sa-lor-wetane sagaran, dene pasareyaningsun bakal sun-paringi jênêng Sastrawulan, lan suwurna kang sumare ana ing kono yayi Raja Putri Cêmpa, lan maneh wêlingku, besuk anak-putuku aja nganti entuk liya bangsa, aja gawe senapati pêrang wong kang seje bangsa.”

    Sunan Kalijaga sawise dipangandikani banjur matur: “Punapa Sang Prabu botên paring idi dhatêng ingkang putra Prabu Jimbun jumênêngipun Nata wontên ing tanah Jawi?”

    Sang Prabu ngandika: “Sun-paringi idi, nanging mung mandhêg têlung turunan.”

    Sunan kalijaga nyuwun sumurup mungguh têgêse araning bakal pasareyane Sang Prabu.

    Sang Prabu ngandika: “Sastra têgêse tulis, Wulan têgêse damaring jagad, tulise kuburku mung kaya gêbyaring wulan, yen isih ana gêbyaring wulan, ing têmbe buri, wong Jawa padha wêruh yen sedaku wis ngrasuk agama Islam, mula tak-suwurake Putri Cêmpa, amarga aku wis diwadonake si Patah, sarta wis ora dianggêp priya, nganti kaya mangkene siya-siyane marang aku, mulane ênggonku mangêni madêge Ratu mung têlung turunan, amarga si Patah iku wiji têlu, Jawa, Cina lan raksasa, mula kolu marang bapa sarta rusuh tindake, mula wêkasku, anak-putuku aja entuk seje bangsa, amarga sajroning sihsinihan di seje bangsa mau nganggo ngobahake agamane, bisaa ngapêsake urip, mula aku paring piwêling aja gawe senapati pêrang wong kang seje jinis, mundhak ngenthengake Gustine, ing sajroning mangun yuda, banjur mangro tingal, wis Sahid, kabeh pitungkasku, tulisên.”

    Sang Prabu sawise paring pangandika mangkono, astane banjur sidhakêp, têrus seda, layone banjur disarekake ana ing astana Sastrawulan ing Majapahit, katêlah nganti saprene kocape kang sumare ana ing kono iku Sang Putri Cêmpa, dene mungguh satêmêne Putri Cêmpa iku sedane ana ing Tuban, dununing pasareyan ana ing Karang Kumuning.

    Barêng wis têlung dina saka sedane Sang Prabu Brawijaya, kacarita Sultan Bintara lagi rawuh ing Ampelgadhing sarta kapanggih Nyai Agêng.

    Nyai Agêng ngandika: “Wis bêgjane Prabu Jimbun ora nungkuli sedane ingkang rama, dadi ora bisa ngabêkti sarta nyuwun idi ênggone jumênêng Nata, sarta nyuwun pangapura kabeh kaluputane kang wis kêlakon”.

    Prabu Jimbun ature marang Nyai Agêng, iya mung mupus pêpêsthen, barang wis kêbacut iya mung kudu dilakoni.

    Sultan Dêmak ana ing Ampel têlung dina lagi kondur.

    Kacarita Adipati Pêngging lan Pranaraga, iya iku Adipati Andayaningrat ing Pêngging lan Bathara katong ing Pranaraga, wis padha mirêng pawarta yen nagara Majapahit dibêdhah Adipati Dêmak, nanging ênggone mbêdhah sinamun sowan riyaya, dene ingkang rama Sang Prabu lan putra Raden Gugur lolos saka praja, ora karuhan jujuge ana ing ngêndi, Adipati Pêngging lan Adipati Pranaraga bangêt dukane, mula banjur dhawuh ngundhangi para wadya sumêdya nglurug pêrang marang Dêmak, labuh bapa ngrêbut praja, para wadya-bala wis rumanti gêgamaning pêrang pupuh, mung kari budhale bae, kasaru têkane utusane Sang Prabu maringake layang. Adipati Pêngging lan Adipati Pranaraga sawise tampa layang lan diwaos, layang banjur disungkêmi kanthi bangêt ing pamuwune lan bangêt anjêntung panggalihe, tansah gedheg-gedheg lan gêrêng-gêrêng, wajane kêrot-kêrot, surya katon abang kaya gêni, lan kawiyos pangandikane sêru, kang surasane nyupatani marang panjênêngane dhewe, muga aja awet urip, mundhak ndêdawa wirang.

    Adipati sakarone padha puguh ora karsa sowan marang Dêmak, amarga saka putêking panggalihe banjur padha gêrah, ora antara lawas padha nêmahi seda, dene kaol kang gaib, sedane Adipati Pêngging lan Adipati Pranaraga padha ditênung dening Sunan Giri, pamrihe supaya aja ngribêdi ing têmbe buri. Mula carita bêdhahe Majapahit iku mung dicêkak, ora satimbang karo gêdhene nagara sarta ambane jajahane, amarga aran ambuka wêwadining ratu, putra mungsuh bapa, yen dirasa satêmêne saru bangêt. Mula carita bêdhahe Majapahit sinêmonan dening para pujangga wicaksana, mangkene pasêmone: sêpuh. Ature Patih prayoga nglawan têkaning mungsuh. Sang Prabu ngandika, yen nganti nglawan rumaos lingsêm bangêt, dene mungsuh karo putra, mula dhawuhe Sang Prabu, yen mapag pêrang kang sawatara bae, aja nganti ngrusakake bala. Patih didhawuhi nimbali Adipati Pêngging sarta Adipati Pranaraga, amarga putra kang ana ing Majapahit durung wanci yen mapagake pêrang, sawise paring pangandika mangkono. Sang Prabu banjur lolos arsa têdhak marang dijaga wong Têrung. Wong Majapahit kang ora gêlêm têluk banjur ngungsi mênyang gunung lan alas-alas, dene kang padha gêlêm têluk, banjur dikumpulake karo wong Islam, padha dikon nyêbut asmaning Allah. Layone para putra santana lan nayaka padha kinumpulake, pinêtak ana sakidul-wetan pura. Kuburan mau banjur dijênêngake Bratalaya, jarene iku kubure Raden Lêmbupangarsa. kathandha, yen Sang Prabu nyata
    1. Amarga saka kramate para Wali, kêrise Sunan Giri ditarik mêtu tawone ngêntupi wong Majapahit.
    2. Sunan Cirêbon badhonge mêtu tikuse maewu-ewu, padha mangani sangu lan bêkakas jaran, wong Majapahit bubar, amarga wêruh akehing tikus.
    3. Pêthi saka Palembang ana satêngahing paprangan dibukak mêtu dhêmite, wong Majapahit padha kagegeran amarga ditêluh ing dhêmit.
    4. Sang Prabu Brawijaya sedane mekrad.

    Banjure pangandikane kiyai Kalamwadi marang muride kang aran Darmagandhul, kaya kang kapratelakake ing ngisor iki:
    Kabeh mau mung pasêmon, mungguh sanyatane, carita bêdhahing Majapahit iku kaya kang tak-caritakake ing ngarêp. Nagara Majapahit iku rak dudu barang kang gampang rusake, ewadene bisa rusak mung amarga dikritiki tikus. Lumrahe tawon iku bubar amarga saka dipangan ing wong. Alas angkêr akeh dhêmite, bubaring dhêmit yen alase dirusak dening wong, arêp ditanduri. Nanging yen Majapahit rusake amarga saking tikus, tawon lan dhêmit, sapa kang ngandêl yen rusake Majapahit amarga tikus, tawon lan dhêmit, iku pratandha yen wong mau ora landhêp pikire, amarga carita kang mangkono mau kalêbu aneh lan ora mulih ing nalar, ora cocog lair lan batine, mula mung kanggo pasêmon, yen dilugokake jênênge ambukak wadine Majapahit, mula mung dipralambangi pasêmon kang orang mulih karo nalare. Dene têgêse pasêmon mau mangkene:

    Tikus iku watake ikras-ikris, suwe-suwe yen diumbar banjur ngrêbda, têgêse: para ‘ulama dhek samana, nalika lagi têkane nyuwun panguripan marang sang Prabu ing Majapahit, barêng wis diparingi, piwalêse ngrusak. Tawon iku nggawa madu kang rasane manis, gêgamane ana ing silit, dene panggonane ana ing gowok utawa tala, têgêse: maune têkane nganggo têmbung manis, wusana ngêntup saka ing buri, dene tala têgêse mêntala ngrusak Majapahit, sapa kang ngrungu padha gawok.

    Dene dhêmit diwadhahi pêthi saka Palembang, barêng dibukak muni jumêglug, têgêse: Palembang iku mlembang, iya iku ganti agama, pêthi têgêse wadhah kang brukut kanggo madhahi barang kang samar, dhêmit têgêse samar, rêmit, rungsid, dhêmit iku uga tukang nêluh. Mungguh gênahe mangkene: bêdhahe nagara Majapahit sarana ditêluh kalayan primpên lan samar, nalika arêp pambêdhahe ora ana rêmbag apa-apa, samudanane mung sowan garêbêgan, dadi dikagetake, mula wong Majapahit ora sikêp gêgaman pêrang, wêruh-wêruh Adipati Têrung wis ambantu Adipati Dêmak.

    Kuna-kunane ora ana praja gêdhe kaya Majapahit bêdhahe mung saka diêntup ing tawon sarta dikritiki ing tikus bae, apa dene bubare wong sapraja mung saka ditêluh ing dhêmit.

    Bêdhahe Majapahit swarane jumêgur, kêprungu saka ing ngêndi-êndi nagara, yen bêdhahe saka binêdhah dening putra, iya iku Wali wolu utawa Sunan wolu kang padha dimêmule wong Jawa, sangane Adipati Dêmak, kabeh mau padha mbalela mbalik.

    Banjure maneh pangandikane kiyai Kalamwadi:
    Kandhane guruku Rahaden Budi Sukardi, sadurunge Majapahit bêdhah, manuk kuntul iku durung ana kang nganggo kucir, barêng nagara wis ngalih marang Dêmak, kahanan ing dunya nuli malih, banjur ana manuk kuntul nganggo kucir.

    Prabu Brawijaya sinêmonan ing gaib: kêbo kombang atine êntek dimangsa tuma kinjir, kêbo têgêse ratu sugih, kombang têgêse mênêng swarane kang mbrêngêngêng, iya iku Prabu Brawijaya panggalihe têlas nalika bêdhahe Majapahit, kajaba mung kendêl gêrêng-gêrêng bae, ora karsa nglawan pêrang, dene tuma kijir iku tumane celeng, tuma têgêse tuman, celeng iku iya aran andhapan, iya iku Raden Patah nalika têkane ana ing Majapahit sumungkêm marang ingkang rama Sang Prabu, ing wêktu iku banjur diparingi pangkat, têgêse oleh ati saka Sang Prabu, wusana banjur mukul pêrang ngrêbut nagara, ora ngetung bênêr utawa luput, nganti ngêntekake panggalihe Sang Prabu.

    Dene kuntul nganggo kucir iku pasêmone Sultan Dêmak, ênggone nyêri-nyêri marang ingkang rama Sang Prabu, dumeh agamane Buddha kawak kapir kupur, mulane Gusti Allah paring pasêmon, githok kuntul kinuciran, têgêse: tolehên githokmu, ibumu Putri Cina, ora kêna nyêri-nyêri marang wong seje bangsa, Sang Prabu Jimbun iku wiji têlu, purwane Jawa, iya iku Sang Prabu Brawijaya, mula Sang Prabu Jimbun gêdhe panggalihe melik jumênêng Nata, mulane melik ênggal sugih, amarga katarik saka ibune, dene ênggone kêndêl nanging tanpa duga iku saka wijine Sang Arja Damar, amarga Arja Damar iku ibune putri raksasa, sênêng yen ngokop gêtih, pambêkane siya, mula ana kuntul nganggo kucir iku wis karsaning Allah, ora mung Sunan Dêmak dhewe bae kang didhawuhi ngrumasani kaluputane, nanging sanadyan para Wali liyane uga didhawuhi ngrumasani, yen ora padha gêlêm ngrumasani kaluputane, dosane lair batin, mula jênênge Wali ditêgêsi Walikan: dibêciki malês ngalani.

    Dene anane bangsa Cina padha nênêka ana ing tanah Jawa iku dêdongengane mangkene: Jare, dhek jaman kuna, nalika santri Jawa durung akeh kawruhe, sawise padha mati, suksmane akeh kang katut angin banjur thukul ana ing tanah China, mula saiki banjur padha bali mulih marang tanah Jawa, dadi suksmane bangsa mau, iku mau-maune iya akeh kang suksma Jawa.

    Darmagandhul matur: “kiyai! Kang diarani agama Srani iku kang kaya apa?”

    Kiyai Kalamwadi banjur nêrangake: “Kang diarani agama Srani iku têgêse sranane ngabêkti: têmên-têmên ngabêkti marang Pangeran, ora nganggo nêmbah brahala, mung nêmbah marang Allah, mula sêbutane Gusti Kanjêng Nabi ‘Isa iku Putrane Allah, awit Allah kang mujudake, mangkono kang kasêbut ing kitab Anbiya”.

    Banjure pangandikane kiyai Kalamwadi.

    Sultan Dêmak waskitha ing gaib, rumaos kadukan dening Kang Maha Kuwasa, mula banjur ngrumaosi kabeh kaluputane, nuli sowan andêdagan ana ing pasareyane ingkang rama, barêng wis antara têlung dina lawase, kaprênah pusêring kuburan tanpa sangkan thukul wit-witan warna papat, siji warnane irêng sêmu abang dalah godhong sarta kêmbange, loro wit sarta kêmbange putih godhonge sêdhêngan, têlu wit kang godhonge ngrêmbuyut mubêng kaya payung, papat wit kang godhonge lêmbut sarta mawa êri, lan wêktu iku sajroning pasareyane Sang Prabu kêprungu ana swara dumêling, mangkene ujaring swara:
    “Êntek katrêsnanku marang anak. Den enak mangan turu. Ana gajah digêtak kaya kucing, sanajan matiya ing tata-kalairane, nanging lah eling-elingên ing besuk, yen wis agama kawruh, ing têmbe bakal tak-walês, tak-ajar wêruh ing nalar bênêr lan luput, pranatane mêngku praja, mangan babi kaya dhek jaman Majapahit.”

    Sultan Dêmak mirêng swara dumêling kang surasane mangkono iku, ing batos bangêt kaduwung marang apa kang wis dilampahi, mula nganti suwe njêgrêg ora bisa ngandika, ngrumaosi klirune dene nuruti rêmbuge para Sunan kabeh, nganti wani mungsuh ingkang rama sarta ngrusak Majapahit. Iya wiwit titi masa iku anane wit-witan warna papat kang padha thukul ana ing kuburan, dadi pasêmon kabeh, iya iku Tlasih, Sêmboja, Turugajah lan Gêtakkucing. Mula nganti tumêka saprene wit Sêmboja panggonane ana ing kuburan, kêmbang Tlasih kanggo ngirim para lêluhur, godonge Gêtakkucing yen kasenggol banjur obah, godhonge uga banjur mingkup kaya dene godhong Gêtakkucing.

    Sawise mangkono, Sultan Dêmak banjur kondur, sakondure saka pasareyane ingkang rama, bangêt panalangsane ing dalêm batos, tansah ngrumaosi ing kalêpatane.

    Sunan Kalijaga uga waskitha ing gaib yen sinêmonan dening Kang Maha Kuwasa, mula uga bangêt panalangsane sarta ngrumaosi kaluputane, mula banjur mangagêm sarwa wulung, beda karo para Wali liyane isih padha manganggo sarwa putih. Kabeh mau ora padha ngrumasani kaluputane, mung Sunan Kalijaga piyambak rumaos yen kadukan dening Kang Maha Kuwasa, mula bangêt mrêtobate, wasana banjur pinaringan pangapura dening Allah, sinêmonan wiwit anane orong-orong githoke tumêka ing punuk disêsêli tataling kayu jati, mungguh karêpe: punukmu panakna, sajatining ‘ilmu iku ora susah maguru marang wong ‘Arab, ‘ilmuning Gusti Allah wis ana ing githokmu dhewe-dhewe,wujude puji thok, nanging dudu puji jatining kawruh, kang ngawruhi sajatining urip, urip dadi wayangan Dzating Pangeran, manusa bisa apa, mobah mosik mung sadarma nglakoni, budi kang ngobahake, sabda iku mêtu saka ing karêp, karêp mêtu saka ing budi, budi iku Dzate Kang Maha Agung, agung iku wis samêkta, tanpa kurang tan wuwuh, tanpa luwih sarta ora arah ora ênggon.

    Kiyai kalamwadi nutugake caritane: “Kandhane guruku Rahaden Budi Sukardi mangkene: mungguh kang katarima, muji marang Allah iku, iku sindhenan Dharudhêmble. Têmbung dhar iku têgêse wudhar, ru iku têgêse ruwêt sulit lan rungsit, dene dhêmble têgêse dhêmbel dadi siji, yen wis sumurup têpunge sarat sari’at tarekat hakekat lan ma’rifat, iku mau wis muji tanpa ngucap, sarak iku sarate ngaurip, iya iku nampik milih iktiyar lan manggaota, sari’at iku saringane kawruh agal alus, tarekat iku kang nimbang lan nandhing bênêr lan luput, hakekat iku wujud, wujud karsaning Allah, kang ngobahake sarta ngosikake rasane budi, wêruh ora kasamaran ing sawiji-wiji. Yen kowe wis ngrêti marang têgêse Dharudhêmble, mêsthi wis marêm marang kawruhmu dhewe. Mangan woh kawruh lan budi, sêmbahe kaya wêsi kang dilabuh ana ing gêni ilang abange mung rupa siji, kang muji lan kang dipuji wiswis bisa ngawruhi surasane kang tak-kandhakake iki, jênênge munajad. Saupama wong nulup manuk, yen ra wêruh prênahe manuke, masa kênaa, ênggone nulup mung ngawur. Yen kawruhe wong pintêr ora angel yen disawang, mêtune saka ing utêk”.

    Darmagandhul matur, nyuwun ditêrangake bab ênggone Nabi Adam lan Babu Kawa padha kêsiku dening Pangeran, sabab saka ênggone padha dhahar wohe kayu Kawruh kang ditandur ana satêngahing taman Pirdus. Ana maneh kitab kang nêrangake, kang didhahar Nabi Adam lan Babu Kawa iku woh Kuldi, kang ditandur ana ing swarga. Mula nyuwun têrange, yen ing kitab Jawa caritane kapriye, kang nyêbutake kok mung kitab ‘Arab lan kitabe wong Srani.

    Kiyai Kalamwadi banjur nêrangake, yen kitabe wong Jawa ora nyêbutake bab mangkono iku, dene Sajarah Jawa iya ana kang nyêbutake turun Adam, iya kitab Manik Maya.

    Kiyai Kalamwadi banjur ngandhakake: “Sawise buku-buku pathokan agama Buddha diobongi, amarga mundhak ngrêribêdi agama Rasul, sanadyan buku kang padha disimpêni dening para wadya, iya dipundhut banjur diobongi, nalika sabêdhahe Majapahit, sapa kang durung gêlêm nganggo agama Islam banjur dijarah rajah, mula wong-wong ing kono padha wêdi marang wisesaning Ratu. Dene wong-wong kang wis padha gêlêm salin agama Rasul, banjur padha diganjar pangkat utawa bumi sarta ora padha nyangga pajêg, mulane wong-wong ing Majapahit banjur padha ngrasuk agama Islam, amarga padha melik ganjaran. Ing wêktu iku Sunan Kalijaga, kagungan panggalih, caritane lêluhure supaya aja nganti pêdhot, banjur iyasa wayang, kanggo gantine kitab-kitab kuna kang wis padha diobongi. Ratu Mataram uga mangun carita sajarahe para lêluhur Jawa, buku-buku sakarine, kang isih padha disimpên uga padha dipundhut kabeh, nanging wis padha amoh, Sang Nata ing Mataram andangu para wadya, nanging wis padha ora mênangi, wiwit Kraton Gilingwêsi nganti tumêka Mataram wis ora kasumurupan caritane, buku-buku asli saka ing Dêmak lan Pajang padha dipriksa, nanging tinêmu tulisan ‘Arab, kitab Pêkih lan Taju-salatina apa dene Surya-Alam kang kanggo pikukuh, mula Sang Prabu ing Mataram kewran panggalihe ênggone kagungan karsa iyasa babad carita tanah Jawa. Sang Prabu banjur dhawuh marang para pujangga, andikakake padha gawe layang Babad Tanah Jawa, ananging sarehne kang gawe Babad mau ora ngêmungake wong siji bae, mula ora bisa padha gaweyane, kang diênggo pathokan layang Lokapala, mungguh caritane kaya kang kasêbut ing ngisor iki”.

    Wayahe Nabi Adam iya iku putrane Nabi Sis, arane Sayid Anwar. Sayid Anwar didukani ingkang rama lan ingkang eyang, amarga wani-wani mangan wohe wit kayu Budi sêngkêrane Pangeran kang tinandur ana ing swarga. Ciptane Sayid Anwar supaya kuwasane bisa ngiribi kaya dene kuwasane Pangeran, ora narima yen mung mangan who Kawruh lan woh Kuldi bae, nanging wohe kayu Budi kang disuwun. Sayid Anwar miwiti yasa sarengat dhewe, ora karsa ngagêm agamane ingkang rama lan ingkang eyang, dadi murtat sarta nampik agamane lêluhure, mangkono uga karsa ngakoni yen turune Adam sarta Sis, pangraose Sayid Anwar iku dadi saka dadine piyambak, mung waranane bae saka Adam lan Sis, dadine saka budi hawaning Pangeran. Ênggone Kagungan pamanggih mangkono mau diantêpi bangêt, jalaran mangkene:
    asal suwung mulih marang sêpi, bali marang asale maneh. Sarehne Sayid Anwar banjur lunga nuruti karêping atine, lakune mangetan nganti tumêka ing tanah Dewani, ana ing kono banjur kêtêmu karo ratuning jin arane Prabu Nuradi, Sayid Anwar ditakoni iya banjur ngandharake lêlakone kabeh, wusanane Sayid Anwar diêpek mantu sarta dipasrahi kaprabon, ngratoni para jin, jêjuluk Prabu Nurcahya, wiwit jumênênge Prabu Nurcahya, jênênge nagara banjur diêlih dadi aran nagara Jawa. Misuwure, kang jumênêng Nata, Jawa jawi ngrêti kawruh agal alus. Sawise iku Sang Prabu banjur nganggit sastra mung salikur aksara, saucaping wong Jawa bisa kaucap, dijênêngake Sastra Endra Prawata. Têmbung Jawa, ditêgêsi: nguja hawa, karsane Sang Prabu: bisaa rowa, saturun-turune bisaa jumênêng Nata mêngkoni tanah Jawa. Sang Prabu putrane siji pêparab Sang Hyang Nurrasa, uga dhaup karo putri jin putrane mung siji iya iku Sang Hyang Wênang. Sang Hyang Wênang uga dhaup karo putri jin, dene putrane uga mung siji kakung pêparab Sang Hyang Tunggal, krama oleh putri jin. Sang Hyang Tunggal pêputra Sang Hyang Guru, kabeh mau turune Sang Hyang Nurcahya, kang padha didhahar woh wit kayu Budi. Sang Hyang Guru kagungan pangraos yen kuwasane padha karo Gusti Allah, mula banjur iyasa kadhaton ana pucaking Mahameru, sarta ngakoni yen purwaning dumadi mêtune asal saka budi hawa nêpsu. Aran Dewa ngaku misesani mujudake sipat roh, agamane Buddha budi, mangeran digdayane sarta ngaku Gusti Allah. Sêdya kang mangkono mau iya diideni dening Kang Maha Kuwasa, sarta kalilan nimbangi jasane Kang Maha Kuwasa. Dewa iku wêrdine ana loro têgêse: budi hawa, sarta: wadi dawa, mulane agamane Buddha. Sêbutan Dewi: têgêse: dening wadining wadon iku bisa ngêtokake êndhas bocah.

    Darmagandhul didhawuhi nimbang mungguh kang bênêr kang êndi, mangan woh wit kayu Kawruh, apa wit kayu Budi, apa woh wit Kuldi?

    Saka panimbange Darmagandhul, kabeh iku iya bênêr, sênêngan salah siji êndi kang disênêngi, diantêpi salah siji aja nganti luput. Yen kang dipangan woh wit kayu Budi, agamane Buddha budi, panyêbute marang Dewa; manawa mangan woh wit kawruh, pênyêbute marang Kangjêng Nabi ‘Isa, agamane srani, yen sênêng mangan woh wit kayu Kuldi, agamane Islam, sambate marang nabi panutan; iya iku Gusti Kangjêng Nabi Rasul; dene yen dhêmên Godhong Kawruh Godhong Budi, panêmbahe marang Pikkong, sarta manut sarake Sisingbing lan Sicim; salah sijine aja nganti luput. Yen bisa woh-wohan warna têlu iku mau iya dipangan kabeh, yen wong ora mangan salah sijine woh mau, mêsthine banjur dadi wong bodho, uripe kaya watu ora duwe kêkarêpan lan ora mangrêti marang ala bêcik. Dene mungguh bêcike wong urip iku mung kudu manut marang apa alame bae, dadi ora aran siya-siya marang uripe, yen Kalifah dhahar woh Budi, iya melu mangan woh Budi, yen Kalifah dhahar woh kawruh, iya melu mangan who kawruh, yen kalifah dhahar woh Kuldi, iya melu mangan woh Kuldi. Dene prakara bênêr utawa lupute, uki Kalifah kang bakal tanggung. Sarehne diênut wong akeh, dadi Panutan kudu kang bênêr, amarga wong dadi Panutan iku saupama têtuwuhan minangka wite. Yen wong ora gêlêm manut marang kang bênêre kudu diênut, iku kaya dene iwak kang mêtu saka ing banyu. Saupama woh ora gêlêm nempel wit, mêsthi dadi glundhungan kang tanpa dunung. Awit saka iku, mulane wong iku kudu ngelingi marang agamane kang nurunake, amarga sanadyan saupama ana salahe, Gusti Allah mêsthi paring pangapura. Darmagandhul matur nyuwun têrange agama Rasul lan liya-liyane, mungguh kang dadi bedane apa?

    Kiyai Kalamwadi banjur nêrangake beda-bedane, yen saka dhawuhe kang Maha Kuwasa, manusa didhawuhi muja marang agamane. Nanging banjur akeh kang kliru muja marang barang kang katon, kaya ta kêris, tumbak, utawa liya-liyane barang. Kang kaya mangkono mau ngrusakake agama, amarga banjur mangeran marang wujud, satêmah lali marang Pangerane, amarga maro tingal marang barang rêrupan. Wong urip iku kudu duwe gondhelan agama, amarga yen ora duwe agama mêsthi duwe dosa, mung bae dosane mau ana kang sathithik lan ana kang akeh. Dene kang bisa nyirnakake (nyudakake) dosa iku, mung banyu suci, iya iku tekad suci lair batin. Kang diarani banyu tekad suci iku kang êning, iya iku minangka aduse manusa, bisa ngrêsiki lair batine. Yen wong luwih, ora ngarêp-arêp munggah swarga, kang digoleki bisaa nikmat mulya punjula saka sapadhane, aja nganti nêmu sangsara, bisaa duwe jênêng kang bêcik, sinêbut kang utama, bisaa nikmat badan lan atine, mulya kaya maune, kaya nalika isih ana ing alam samar, ora duwe susah lan prihatin. Lawang swarga iku prêlu dirêsiki, dirêngga ing tekad kang utama, supaya aja ngrêribêdi ana ing donyane, bisaa slamêt lair batine. Kang diarani lawang swarga lan lawang nêraka iku, pancadan kang tumuju marang kabêgjan utawa kacilakan. Yen bêcik narik raharja, yen ala ngundhuh cilaka, mula pangucap kang ala, mêsthi mlêbu yomani. Yen bêcik, bisa tampa

    Darmagandhul matur maneh, nyuwun têrange, manusa ing dunya wujude mung lanang lan wadon, dadine kok banjur warna-warna, ana Jawa, ‘Arab, Walanda lan Cina. Dene sastrane kok uga beda-beda. Iku maune kêpriye, dalah têgêse sarta cacahing aksarane kok uga beda- beda. Geneya kok ora nganggo aksara warna siji bae?

    Kyai Kalamwadi banjur nêrangake, yen kabeh-kabeh mau wis dadi karsane Kang Maha Kuwasa. Mula aksarane digawe beda-beda, supaya para kawulane padha mangan woh wit kayu Budi lan woh wit kayu Kawruh, amarga manusa diparingi wahyu kaelingan, bisa mêthik who Kawruh lan woh Budi, pamêthike sapira sagaduke. Gusti Allah uga iyasa sastra, nanging sastrane nglimputi ing jêro, lan manut wujud, iya iku kang diarani sastra urip, manusa ora bisa anggayuh, sanadyan para Auliya sarta para Nabi ênggone nggayuh iya mung sagaduke. Woh wit Kawruh lan woh wit Budi ditandhani nganggo sipat wujud, dicorek ana ing dluwang, nganggo mangsi supaya wong bisa wêruh, mula jênênge dalwang, têgêse mêtu wangune, mangsi têgêse mangsit, dadi yen dalwang ditrapi mangsi, mêsthi banjur mêtu wangune, mangsit mangan kawruh, mula jênêng kalam, amarga kawruhe anggawa alam. Sastra warna-warna paringe kang Maha-Kuwasa, iku wajib dipangan, supaya sugih pangrêten lan kaelingan, mung wong kang ora ngrêti sastra paringe Gusti Allah, mêsthi ora mangêrti marang wangsit. Auliya Gong Cu kumênthus niru sastra tulisan paringe Gusti allah, nanging panggawene ora bisa, sastrane unine kurang, dadi pelon, para Auliya panggawene sastra dipathoki cacahe, mung aksara Cina kang akeh bangêt cacahe, nanging unine pelo, amarga Auliya kang nganggit kêsusu mangan woh Kawruh, ing mangka iya kudu mangan woh wit kayu Budi. Auliya mau lali yen tinitah dadi manusa. Ewadene mêksa nganggo kuwasane Kang Maha Kuwasa, anggayuh kang dudu wajibe, kêsusu tampa panglulu nganggit sastra kang nganti tanpa etungan cacahe, jênênge sastra godhong. Godhonge wit Budi lan wit Kawruh, dipêthik saka sathithik, ditata dikumpulake, banjur dianggit kanggo sastra, mulane aksarane nganti ewon. Auliya Cina kêsiku, amarga arêp gawe sastra urip kaya yasane Gusti Allah. Auliya Jawa ênggone mangan woh wit kayu Budi nganti warêg, mula ênggone nganggit aksara iya dipathoki cacahe. Auliya Arab ênggone mangan woh wit kayu Kuldi akeh bangêt. Dene ênggone nganggit aksara iya dipathoki cacahe. Nanging yen sastra yasane Gusti Allah, dadine saka sabda, wujude dadi dhewe, mulane unine iya cêtha, sastrane ora ana kang padha.

    Darmagandhul banjur didhawuhi nimbang, mungguh anggitane para Auliya kabeh mau kang mratandhani asor luhuring budine kang êndi?

    Saka panimbange Darmagandhul, kabeh mau iya bênêr, nanging anggêr mêtu saka budi. Dene kang gawe aksara mung sathithik, nanging wis bisa nyukupi, iku mratandhani yen luwih pintêr tinimbang karo liya-liyane.

    Kiyai Kalamwadi ngandika: “Yen manusa arêp wêruh sastrane Gusti Allah, tulisan mau ora kêna ditonton nganggo mripat lair – kudu ditonton nganggo mripat batin. Yen mangkono iya bisa katon, Gusti Allah iku mung sawiji, nanging Dzate nyarambahi sakabehing wujud. Yen ndêlêng kudu nganggo ati kang bêning, ora kêna kacampuran pikiran kang warna-warna, sarta kudu kang mêlêng ênggone mawas, supaya ora bisa kliru karo kanyatane”.

    Kiyai Kalamwadi lênggah diadhêp garwane aran Endhang Prêjiwati. Darmagandhul sarta para cantrik iya padha marak. Kiyai Kalamwadi paring piwulang marang garwane, dadi nêtêpi jênênge priya kudu mulang muruk marang rabine. Dene kang diwulangake, bab kawruh kasunyatan sarta kawruh kang kanggo yen wis tumêka ing pati, ing wong sêsomahan iku. Kang wadon diupamakake omah, sanadyan kahanane wis sarwa bêcik. Nanging sabên dinane isih kudu dipiyara lan didandani. Saka pangandikane Kiayi Kalamwadi, wong iku yen dipitakoni, satêmêne ragane wis bisa mangsuli, sabab ing kono wis ana pangandikane Gusti Allah paring piwulang, nanging ora mêtu ing lesan, mung paring sasmita kang wis ditulis ana saranduning badan sakojur. nunggal dadi sawiji, dhêmble wujud siji. Yen kowe ganjaran.

    Pangandikane kiyai Kalamwadi: “Sarehne aku iku wong cubluk, dadi ora bisa aweh piwulang kang endah, aku mung arêp pitakon marang ragamu, amarga ragamu iku wis bisa sumaur dhewe”.

    Banjure pangandika kiyai Kalamwadi kaya ing ngisor iki. Tanganmu kiwa iku wis anggawa têgês dhewe, lan wis dadi piwulang kang bêcik lan nyata, kang anuduhake yen ragamu iku wujude kiwa, mung hawa kang katon. Têmbung ki: iku têgêse iki, wa: têgêse wêwadhah, ragamu iku di’ibaratake prau, prau dadi ‘ibarate wong wadon, wong têgêse ngêlowong, wadon têgêse mung dadi wadhah, dene isine mung têlung prakara, iya iku: “kar-ri-cis”. Yen prau wiswis kêcukup butuhe, dadi ora goreh atine. Dene têgêse kar-ri-cis iku mangkene.

    1. Kar, têgêse dakar, iya iku yen wong lanang wis bisa nêtêpi lanange, mêsthi wong wadon atine marêm, wusanane dadi nêmu slamêt ênggone jêjêdhowan.

    2. Ri, têgêse pari, iya iku kang minangka pangane wong wadon, yen wong lanang wis bisa nyukupi pangane, mêsthi wong wadon bisa têntrêm ora goreh.

    3. Cis, têgêse picis, utawa dhuwit, ya iku yen wong lanang wis bisa aweh dhuwit kang nyukupi, mêsthi wong wadon bisa têntrêm, tak baleni maneh, cis têgêse bisa goreh atine.

    Kosok baline yen wong lanang ora bisa aweh momotan têlung prakara mau, wong wadon bisa goreh atine. Tangan têngên têgêse etungên panggawemu, sabên dina sudiya, sanggup dadi kongkonan, wong wadon wis dadi wajibe ngrewangi kang lanang anggone golek sandhang pangan.

    Bau têgêse kanthi, gênahe wong wadon iku dadi kanthine wong lanang, tumrap nindakake samubarang kang prêlu.

    Sikut têgêse singkurên sakehing panggawe kang luput. Ugêl-ugêl têgêse sanadyan tukar padu, nanging yen isih padha trêsnane iya ora bisa pêdhot. Epek-epek têgêse ngêpek-ngêpek jênênge kang lanang, awit wong wadon iku yen wis laki, jênênge banjur melu jênênge kang lanang. Iya iku kang diarani warangka manjing curiga, warangkane wanita, curigane jênênge wong lanang.

    Rajah (ing epek-epek) têgêse wong wadon iku panganggêpe marang guru-lakine dikaya dene panganggêpe marang raja.

    Driji têgêse drêjêg utawa pagêr, iya iku idêrana jiwamu nganggo pagêr kautaman, wanita iku kudu andarbeni ambêk kang utama, dene driji kabeh mau ana têgêse dhewe-dhewe.

    Jêmpol têgêse êmpol, yen wanita dikarsakake dening priyane, iku kang gampang gêtas rênyah kaya dene êmpoling klapa.

    Driji panuduh têgêse wanita nglakonana apa sapituduhe kang priya.

    Driji panunggul, têgêse wanita wajib ngunggulake marang priyane, supaya nyupangati bêcik.

    Driji manis, têgêse wanita kudu duwe pasêmon utawa polatan kang manis, wicarane kudu kang manis lan prasaja.

    Jênthik, têgêse wong wadon iku panguwasane mung sapara limane wong lanang, mula kudu sêtya tuhu marang priyane.

    Kuku têgêse ênggone rumêksa marang wadi, paribasane aja nganti kêndho tapihe.

    Mungguh pikikuhe wong jêjodhowan iku, wanita kudu sêtya marang lakine sarta nglakoni patang prakara, iya iku: pawon, paturon, pangrêksa, apa dene kudu nyingkiri padudon.

    Wong jêjodhowan yen wis nêtêpi kaya piwulang iki, mêsthi bisa slamêt sarta akeh têntrême.

    Kiyai Kalamwadi banjur paring pangandika maneh, dene kang dipangandikakake bab pikukuhe wong jêjodhowan. Saka pangandikane kiyai Kalamwadi, wong jêjodhowan iku pikukuhe kudu duwe ati eling, aja nganti tumindak kang ora bênêr. Mungguh pikukuhe wong laki-rabi iku, dudu dunya lan dudu rupa, pikukuhe mung ati eling. Wong jêjodhowan, yen gampang luwih gampang, nanging yen angel, angele ngluwihi. Wong jêjodhowan itu luput pisan kêna pisan, yen wis luput, ora kêna tinambak ing rajabrana lan rupa. Wanita kudu tansah eling yen winêngku ing priya, yen nganti ora eling, lupute banjur ngambra-ambra, amargi yen wanita nganti cidra, iku ugi ngilangake Pangerane wong jêjodhowan, dene kang diarani cidra iku ora mung jina bae, nanging samubarang kang ora prasaja iya diarani cidra, mula wanita kudu prasaja lair batine, amarga yen ora mangkono bakal nandhang dosa rong prakara, kang sapisan dosa marang kang lanang, kapindhone dosa marang Gusti Allah, kang mangkono iku mêsthi ora bisa nêmu lêlakon kang kapenak. Mula ati, kudu tansah eling, amarga tumindaking badan mung manut karêping ati, awit ati iku dadi ratuning badan. Wong jêjodhowan di’ibaratake prau kang gêdhe, lakuning prau manut satang lan kêmudhine, sanadyan satange bênêr, yen kêmudhine salah, prau ora bêcik lakune. Wong lanang iku lakuning satang, dene kangiku gawe karaharjan sarta mahanani katêntrêman, ora ngêmungake wong jêjodhowan kang rukun bae, kang oleh katêntrêmaning ati, sanadyan tangga têparone iya melu têntrêm, mula wong rukun iku bêcik bangêt.

    Kowe tak-pituturi, mungguh dalane kamulyan iku ana patang
    prakara: isi têlung prakara iku, wong wadon
    1. Mulya saka jênêng.
    2. Mulya saka bandha.
    3. Mulya saka sugih ‘ilmu.
    4. Mulya saka kawignyan.

    Kang diarani mulya saka jênêng, iku wong kang utama, bisa oleh kabêgjan kang gêdhe, nanging kabêgjane mau ora mung kanggo awake dhewe, kapenake uga kanggo wong akeh liyane. Dene kang mulya saka ing bandha, lan mulya saka ênggone sugih ‘ilmu, lan mulya saka kapintêran, iku ana ngêndi bae, iya akeh rêgane.

    Mungguh dalane kasangsaran uga ana patang prakara:
    1. Rusaking ati, manusa iku yen pikire rusak, ragane mêsthi iya
    melu rusak.
    2. Rusaking raga, iya iku wong lara.
    3. Rusaking jênêng, iya iku wong mlarat.
    4. Rusaking budi, iya iku wong bodho, cupêt budine, wong bodho lumrahe gampang nêpsune.

    Kang diarani tampa kanugrahing Gusti Allah, iya iku wong kang sêgêr kawarasan sarta kacukupan, apa dene têntrêm atine.

    Wong urip kang kêpengin bisaa dadi wong utama, duweya jênêng kang bêcik, kanggo têtuladhan marang wong kang padha ditinggal ing têmbene”.

    Ki Darmagandhul matur lang nyuwun ditêrangake bab anane wong ing jaman kuna karo wong ing jaman saiki, iku satêmêne pintêr kang êndi, amarga wong akeh panêmune warna-warna tumrape bab iku.

    Pangandikane kiyai Kalamwadi: “Wong kuna lan wong saiki, iku satêmêne iya padha pintêre, mung bae tumrape wong ing jaman kuna, akeh kang durung bisa mujudake kapintêrane, mula katone banjur kaya dene ora pintêr. Ana dene wong ing jaman saiki ênggone katon luwih pintêr iku amarga bisa mujudake kapintêrane. Wong ing jaman kuna kapintêrane iya wis akeh, dene kang mujudake iya iku wong ing jaman saiki. Saupama ora ana kapintêrane wong ing jaman kuna, mêsthi bae tumrape wong ing jaman saiki ora ana kang kanggo têtuladhan, amarga kahanan saiki iya akeh kang nganggo kupiya kahanan ing jaman kuna. Wong ing jaman saiki ngowahi kahanan kang wis ana, êndi kang kurang bêcik banjur dibêcikake. Wong ing jaman saiki ora ana kang bisa nganggit sastra, yen manusa iku rumasa pintêr, iku têgêse ora rumasa yen kawula, mangka uripe manusa mung sadarma nglakoni, mung sadarma nganggo raga, dene mobah mosik, wis ana kang murba. Yen kowe arêp wêruh wong kang pintêr têmênan, dununge ana wong wadon kang nutu sabên dina, tampahe diiseni gabah banjur diubêngake sadhela, gabah kang ana kabur kabeh, sawise, banjur dadi beda-beda, awujud bêras mênir sarta gabah, nuli mung kari ngupuki bae, sabanjure dipilah-pilah. Têgêse: bêras yen arêp diolah kudu dirêsiki dhisik, miturut kaya karêpe kang arêp olah-olah. Yen kowe bisa mangreh marang manusa, kaya dene wong wadon kang nutu mau, ênggone nyilah-nyilahake bêras aneng tampah, kowe pancen wong linuwih, nanging kang mangkono mau dudu kawadjibanmu, awit iku dadi kawajibane para Raja, kang misesa marang kawulane. Dene kowe, mung wajib mangrêti tataning praja supaya uripmu aja kongsi dikul dening sapadhaning manusa, uripmu dadi bisa slamêt, kowe bakal dadi têtuwa, kêna kanggo pitakonan tumraping para mudha bab pratikêle wong ngawula ing praja. Mula wêlingku marang kowe, kowe aja pisan- pisan ngaku pintêr, amarga kang mangkono mau dudu wajibing manusa, yen ngrumasani pintêr, mundhak kêsiku marang Kang Maha Kuwasa, kaelokane Gusti Allah, ora kêna ginayuh ing manusa, ngrumasanana yen wong urip iku mung sadarma, ana wong pintêr isih kalah pintêr karo wong pintêr liyane, utawa uga ana wong pintêr bisa kasoran karo wong kompra, bodho pintêring manusa iku saka karsane Kang Maha Kuwasa, manusa anduweni apa, bisane apa, mung digadhuhi sadhela dening Kang Maha Kuwasa, yen wis dipundhut, kabeh mau bisa ilang sanalika, saka kalangkungane Gusti Allah, yen kabeh mau kapundhut banjur diparingake marang wong kompra, wong kompra banjur duwe kaluwihan kang ngungkuli kaluwihane wong pintêr. Mula wêlingku marang kowe, ngupayaa kawruh kang nyata, iya iku kawruh kang gandheng karo kamuksan”.

    Ki Darmagandhul banjur matur maneh, nyuwun têrange bab tilase kraton Kêdhiri, iya iku kratone Sang Prabu Jayabaya. Kiyai Kalamwadi ngandika: “Sang Prabu Jayabaya ora jumênêng ana ing Kêdhiri, dene kratone ana ing Daha, kaprênah sawetane kali Brantas. Dene yen Kêdhiri prênahe ana sakuloning kali Brantas lan sawetaning gunung Wilis, ana ing desa Klotok, ing kono iku ana bata putih, iya iku patilasane Sri Pujaningrat. Dene yen patilasane Sri Jayabaya ika ana ing daha, saikine jênênge desa Mênang, patilasane kadhaton wis ora katon, amarga kurugan ing lêmah lahar saka gunung Kêlut, patilasan-patilasan mau wis ilang kabeh, pasanggrahan Wanacatur lan taman Bagendhawati uga wis sirna, dene pasanggrahan Sabda, kadhatone Ratu Pagêdhongan uga wis sirna. Kang isih mung rêca yasane Sri Jayabaya, iya iku candhi Prudhung, Têgalwangi, prênahe in sa-lor-wetane desa Mênang, lan rêca buta wadon, iya iku rêca kang diputung tangane dening Sunan Benang nalika lêlana mênyang Kêdhiri, rêca mau lungguhe madhêp mangulon, ana maneh rêca jaran awak siji êndhase loro, panggonane ana ing desa Bogêm, wêwêngkon dhistrik Sukarêja, mula Sri Jayabaya yasa rêca, mangkene caritane, (kaya kang kapratelakake ing ngisor ini)”.

    Ing Lodhaya ana buta wadon ngunggah-unggahi Sang Prabu Jayabaya, nanging durung nganti katur ing ngarsa Prabu, buta wadon wis dirampog dening wadya cilik-cilik, buta wadon banjur ambruk, nanging durung mati, barêng ditakoni, lagi waleh yen sumêdya ngunggah-unggahi Sang Prabu. Sang Prabu banjur mriksani putri buta mau, barêng didangu iya matur kang dadi sêdyane. Sang Prabu banjur paring pangandika mangkene: “Buta! andadekna sumurupmu, karsaning Dewa Kang Linuwih, aku iku dudu jodhomu, kowe dak-tuturi, besuk sapungkurku, kulon kene bakal ana Ratu, nagarane ing Prambanan, iku kang pinasthi dadi jodhomu, nanging kowe aja wujud mangkono, wujuda manusa, aran Rara Jonggrang”.

    Sawise dipangandikani mangkono, putri buta banjur mati. Sang Prabu banjur paring pangandika marang para wadya, supaya desa ing ngêndi papan matine putri buta mau dijênêngake desa Gumuruh. (11) Ora antara suwe Sri Jayabaya banjur jasa rêca ana ing desa Bogêm. Rêca mau wujud jaran lagaran awak siji êndhase loro, kiwa têngên dilareni. Patihe Sang Prabu kang aran Buta Locaya sarta Senapatine kang aran Tunggulwulung padha matur marang sang Prabu, kang surasane nyuwun mitêrang kang dadi karsa-Nata, ênggone Sang Prabu yasa rêca mangkono mau, apa mungguh kang dadi karsane. Sang Prabu banjur paring pangandika, yen ênggone yasa rêca kang mangkono itu prêlu kanggo pasêmon ing besuk, sapa kang wêruh marang wujude rêca iku mêsthi banjur padha mangrêti kang dadi tekade wong wadon ing jaman besuk, yen wis jaman Nusa Srênggi. Bogêm têgêse wadhah bangsa rêtna-rêtna kang adi, têgêse wanita iku bangsa wadhah kang winadi. Laren (12) kang ngubêngi jaran têgêse iya sêngkêran. Dene jaran sêngkêran iya iku ngibaratake wong wadon kang disêngkêr. Sirah loro iku dadi pasêmone wong wadon ing jaman besuk, kang akeh padha mangro tingal, sanadyan ora kurang ing panjagane, iya bisa cidra, lagaran, iku têgêse tunggangan kang tanpa piranti. Ing jaman besuk, kang kêlumrah wong arêp laki-rabi, ora nganggo idine wong tuwane, margane saka lagaran dhisik, yen wis

    Sang Prabu ênggone yasa candhi, prêlu kanggo nyêdhiyani yen ana wadyabala kang mati banjur diobong ana ing kono, supaya bisa sirna mulih marang alam sêpi. Yen pinuju ngobong mayit, Sang Prabu uga karsa rawuh ngurmati.

    Kang mangkono iku wis dadi adate para raja ing jaman kuna. Mula kang dadi panyuwunku marang Dewa, muga Sang Prabu karsa yasa candhi kanggo pangobongan mayit, kaya adate Raja ing jaman kuna, amarga aku iki anak dhalang, aja suwe-suwe kaya mêmêdi, duwe rupa tanpa nyawa, bisaa mulih marang asale.

    Samuksane Sang Prabu Jayabaya, Patih Buta Locaya sarta Senapati Tunggulwulung, apa dene putrane Sang Prabu kang kêkasih Ni Mas Ratu Pagêdhongan, kabeh banjur padha andherek muksa.

    Buta Locaya banjur dadi ratuning dhêdhêmit ing Kêdhiri. Tunggulwulung ana ing gunung Kêlut, dene Ni Mas Ratu Pagêdhongan banjur dadi ratuning dhêdhêmit ana ing sagara kidul, asmane ratu Anginangin.

    Ana kêkasihe Sang Prabu Jayabaya, jênênge Kramatruna, nalika Sri Jayabaya durung muksa, Kramatruna didhawuhi ana ing sêndhang Kalasan. Sawise têlung atus taun, putrane Ratu ing Prambanan, kêkasih Lêmumbardadu iya Sang Pujaningrat, jumênêng Nata ana ing Kêdhiri, kadhatone ana sakuloning bangawan (3), kêdhi têgêse wong wadon kang ora anggarap sari, dene dhiri iku têgêse anggêp, kang paring jênêng iku Rêtna Dewi Kilisuci, dicocogake karo adate Sang Rêtna piyambak, amarga Sang Rêtna Dewi Kilisuci iku wadat, sarta ora anggarap sari. Dewi Kilisuci nyawabi nagarane, aja akeh gêtihe wong kang mêtu. Mula Kêdhiri iku diarani nagara wadon, yen nglurug pêrang akeh mênange, nanging yen dilurugi apês. Kang kêlumrah pambêkane wanita ing Kêdhiri iku gêdhe atine, amarga kasawaban pambêkane Sang Rêtna Dewi Kilisuci. Dene Rêtna Dewi Kilisuci iku sadhereke sêpuh Nata ing Jênggala. Sang Rêtna mau tapa ana ing guwa Selamangleng, sukune gunung Wilis.

    WUWUHAN KATÊRANGAN.

    Kanjeng Susuhunan Ampeldênta pêputra ratu Fatimah, patutan saka Nyai Agêng Bela. Ratu Fatimah krama oleh pangeran Ibrahim, ing Karang Kumuning Satilare Pangeran Karang Kumuning. Ratu Fatimah banjur tapa ana ing manyura, karo Pangeran Ibrahim Ratu Fatimah pêputra putri nama Nyai Agêng Malaka, katêmokake Raden Patah.

    Raden Patah (Raden Praba), putrane Prabu Brawijaya patutan saka putri Cêmpa kang katarimakake marang Arya Damar Adipati ing Palembang, barêng Raden Patah wis jumênêng Nata, jêjuluk Sultan Syah ‘Alam Akbar Siru’llah Kalifatu’lRasul Amiri’lMu’minin Rajudi’l’Abdu’l Hamid Kak, iya Sultan Adi Surya ‘Alam ing Bintara (Dêmak).

    Putri Cêmpa nama Aranawanti (Ratu Êmas) kagarwa Prabu Brawijaya, pêputra têlu: mathuk pikire, iya sida diêpek rabi, nanging yen ora cocog , iya ora sida laki-rabi.
    1. Putri nama Rêtna Pambayun, katrimakake marang Adipati Andayaningrat ing Pêngging, nalika jaman pambalelane nagara Bali marang Majapahit.
    2. Raden Arya Lêmbupêtêng Adipati ing Madura.
    3. Isih timur rêmên marang laku tapa, nama Raden Gugur, barêng muksa kasêbut nama Sunan Lawu.

    Panênggak Putri Cêmpa nama Pismanhawanti kagarwa putrane Jumadi’lKubra I, patutan saka ibu Sitti Fatimah Kamarumi, isih têdhake Kangjêng Nabi Mukammad, asma Maulana Ibrahim, dêdalêm ana ing Jeddah, banjur pindhah ing Cêmpa, dadi Imam ana ing Asmara tanah ing Cêmpa, banjur kasêbut nama Maulana Ibrahim Asmara, iku kang pêputra Susuhunan Ampeldênta Surabaya. Dene putra Cêmpa kang waruju kakung, nama Awastidab, wus manjing Islam, nyakabat marang maulana Ibrahim, jumênêng Raja Pandhita ing Cêmpa anggênteni ingkang rama, pêputra siji kakung kêkasih Raden Rachmat. Kang ibu putri Cêmpa (garwa Maulana Ibrahim), pêputra Sayid ‘Ali Rachmat, ngêjawa nama Susuhunan Katib ing Surabaya, dêdalêm ing Ampeldênta, kasêbut Susuhunan Ampeldênta. Cêmpa iku kutha karajan ing India buri (Indo china). Sayid Kramat kang kasêbut ing buku iki pêparabe Susuhunan ing Bonang (Sunan Benang).
    ………………………………………….
    Kitab Dharma Gandul telah diterbitkan di Surakarta Th 1959.
    Marilah kita sikapi dengan kearifan .Walaupun sampai saat ini masih ada kontroversi mengenai kebenaran sejarah yang tertulis dalam Serat Dharma Gandhul bagi para ahli sastra dan sejarah ,hal itu belum dapat merubah pandangan awam terhadap isi pesan sang Prabu Brawijaya V , walaupun sudah hampir lima abad berlalu tapi seakan baru kemarin pesan itu disampaikan bersama hembusan suksesi kepemimpinan .
    Berikut ini adalah salinan dari Serat Dharma Gandhul :
    BÊBUKA.

    Sinarkara sarjunireng galih, myat carita dipangikêtira, kiyai Kalamwadine, ing nguni anggêguru, puruhita mring Raden Budi, mangesthi amiluta, duta rehing guru, sru sêtya nglampahi dhawah, panggusthine tan mamang ing lair batin, pinindha lir Jawata.

    Satuduhe Raden Budi êning, pan ingêmbun pinusthi ing cipta, sumungkêm lair batine, tan etung lêbur luluh, pangesthine ing awal akhir, tinarimeng Bathara, sasêdyanya kabul, agung nugraheng Hyang Suksma, sinung ilham ing alam sahir myang kabir, dumadya auliya.

    Angawruhi sasmiteng Hyang Widdhi, pan biyasa mituhu susêtya, mring dhawuh wêling gurune, kêdah mêdharkên kawruh, karya suka pirêneng jalmi, mring sagung ahli sastra, tuladhaning kawruh, kyai Kalamwadi ngarang, sinung aran srat Darmagandhul jinilid, sinung têmbang macapat.

    Pan katêmben amaos kinteki, têmbang raras rum sêya prasaja, trêwaca wijang raose, mring tyas gung kumacêlu, yun darbeya miwah nimpêni, pinirit tinuladha, lêlêpiyanipun, sawusnya winaos tamat, linaksanan tinêdhak tinurun sungging, kinarya nglipur manah.

    Pan sinambi-sambi jagi panti, sasêlanira ngupaya têdha, kinarya cagak lênggahe, nggennya dama cinubluk, mung kinarya ngarêm-arêmi, tarimanireng badan, anganggur ngêthêkur, ngêbun-bun pasihaning Hyang, suprandene tan kalirên wayah siwi, sagotra minulyarja.

    Wus pinupus sumendhe ing takdir, pan sumarah kumambang karseng Hyang, ing lokhilmakful tulise, panitranira nuju, ping trilikur ri Tumpak manis, Ruwah Je warsanira, Sancaya kang windu, masa Nêm ringkêlnya Aryang, wuku Wukir sangkalanira ing warsi: wuk guna ngesthi Nata (taun Jawa 1830).

    DARMAGANDHUL.

    Ing sawijining dina Darmagandhul matur marang Kalamwadi mangkene “Mau-maune kêpriye dene wong Jawa kok banjur padha ninggal agama Buddha salin agama Islam?”

    Wangsulane Ki Kalamwadi: “Aku dhewe iya ora pati ngrêti, nanging aku wis tau dikandhani guruku, ing mangka guruku kuwi iya kêna dipracaya, nyaritakake purwane wong Jawa padha ninggal agama Buddha banjur salin agama Rasul”.

    Ature Darmagandhul: “Banjur kapriye dongengane?”

    Ki Kalamwadi banjur ngandika maneh: “Bab iki satêmêne iya prêlu dikandhakake, supaya wong kang ora ngrêti mula-bukane karêben ngrêti”.

    Ing jaman kuna nagara Majapahit iku jênênge nagara Majalêngka, dene ênggone jênêng Majapahit iku, mung kanggo pasêmon, nanging kang durung ngrêti dêdongengane iya Majapahit iku wis jênêng sakawit. (1)

    Ing nagara Majalêngka kang jumênêng Nata wêkasan jêjuluk Prabu Brawijaya.

    Ing wêktu iku, Sang Prabu lagi kalimput panggalihe, Sang Prabu krama oleh Putri Cêmpa, (2) ing mangka Putri Cêmpa mau agamane Islam, sajrone lagi sih-sinihan, Sang Rêtna tansah matur marang Sang Nata, bab luruhe agama Islam, sabên marak, ora ana maneh kang diaturake, kajaba mung mulyakake agama Islam, nganti njalari katariking panggalihe Sang Prabu marang agama Islam mau.

    Ora antara suwe kaprênah pulunane Putri Cêmpa kang aran Sayid Rakhmat tinjo mênyang Majalêngka, sarta nyuwun idi marang Sang Nata, kaparênga anggêlarake sarengate agama Rasul. Sang Prabu iya marêngake apa kang dadi panyuwune Sayid rakhmat mau. Sayid Rakhmat banjur kalakon dhêdhukuh ana Ngampeldênta ing Surabaya (3) anggêlarake agama Rasul. Ing kono banjur akeh para ngulama saka sabrang kang padha têka, para ngulama lan para maulana iku padha marêk sang Prabu ing Majalêngka, sarta padha nyuwun dhêdhukuh ing pasisir. Panyuwunan mangkono mau uga diparêngake dening Sang Nata. Suwe-suwe pangidhêp mangkono mau saya ngrêbda, wong Jawa banjur akeh bangêt kang padha agama Islam.

    Sayid Kramat dadi gurune wong-wong kang wis ngrasuk agama Islam kabeh, dene panggonane ana ing Benang (4) bawah Tuban. Sayid Kramat iku maulana saka ing ‘Arab têdhake Kanjêng Nabi Rasulu’llah, mula bisa dadi gurune wong Islam. Akeh wong Jawa kang padha kelu maguru marang Sayid Kramat. Wong Jawa ing pasisir lor sapangulon sapangetan padha ninggal agamane Buddha, banjur ngrasuk agama Rasul. Ing Balambangan sapangulon nganti tumêka ing Bantên, wonge uga padha kelu rêmbuge Sayid Kramat.

    Mangka agama Buddha iku ana ing tanah Jawa wis kêlakon urip nganti sewu taun, dene wong-wonge padha manêmbah marang Budi Hawa. Budi iku Dzate Hyang Widdhi, Hawa iku karêping hati, manusa ora bisa apa-apa, bisane mung sadarma nglakoni, budi kang ngobahake.

    Sang Prabu Brawijaya kagungan putra kakung kang patutan saka Putri Bangsa Cina, miyose putra mau ana ing Palembang, diparingi têtêngêr Raden Patah.

    Barêng Raden Patah wis diwasa, sowan ingkang rama, nganti sadhereke seje rama tunggal ibu, arane Raden Kusen. Satêkane Majalêngka Sang Prabu kewran panggalihe ênggone arêp maringi sêsêbutan marang putrane, awit yen miturut lêluri saka ingkang rama, Jawa Buddha agamane, yen nglêluri lêluhur kuna, putraning Nata kang pambabare ana ing gunung, sêsêbutane Bambang. Yen miturut ibu, sêsêbutane:
    Kaotiang, dene yen wong ‘Arab sêsêbutane Sayid utawa Sarib. Sang Prabu banjur nimbali patih sarta para nayaka, padha dipundhuti têtimbangan ênggone arêp maringi sêsêbutan ingkang putra mau. Saka ature Patih, yen miturut lêluhur kuna putrane Sang Prabu mau disêbut Bambang, nanging sarehne ibune bangsa Cina, prayoga disêbut Babah, têgêse pambabare ana nagara liya. Ature Patih kang mangkono mau, para nayaka uga padha mupakat, mula Sang Nata iya banjur dhawuh marang padha wadya, yen putra Nata kang miyos ana ing Palembang iku diparingi sêsêbutan lan asma Babah Patah. Katêlah nganti tumêka saprene, yen blastêran Cina lan Jawa sêsêbutane Babah. Ing nalika samana, Babah Patah wêdi yen ora nglakoni dhawuhe ingkang rama, mulane katone iya sênêng, sênênge mau amung kanggo samudana bae, mungguh satêmêne ora sênêng bangêt ênggone diparingi sêsêbutan Babah iku.

    Ing nalika iku Babah Patah banjur jinunjung dadi Bupati ing Dêmak, madanani para bupati urut pasisir Dêmak sapangulon, sarta Babah Patah dipalakramakake oleh ing Ngampelgadhing, kabênêr wayahe kiyai Agêng Ngampel. Barêng wis sawatara masa, banjur boyong marang Dêmak, ana ing desa Bintara, sarta sarehne Babah Patah nalika ana ing Palembang agamane wis Islam, anane ing Dêmak didhawuhi nglêstarekake agamane, dene Raden Kusen ing nalika iku jinunjung dadi Adipati ana ing Têrung (5), pinaringan nama sarta sêsêbutan Raden Arya Pêcattandha.

    Suwening suwe sarak Rasul saya ngrêbda, para ngulama padha nyuwun pangkat sarta padha duwe sêsêbutan Sunan, Sunan iku têgêse budi, uwite kawruh kaelingan kang bêcik lan kang ala, yen wohe budi ngrêti marang kaelingan bêcik, iku wajib sinuwunan kawruhe ngelmu lair batin.

    Ing wêktu iku para ngulama budine bêcik-bêcik, durung padha duwe karêp kang cidra, isih padha cêgah dhahar sarta cêgah sare. Sang Prabu Brawijaya kagungan panggalih, para ngulama sarake Buddha, kok nganggo sêsêbutan Sunan, lakune isih padha cêgah mangan, cêgah turu. Yen sarak rasul, sirik cêgah mangan turu, mung nuruti rasaning lesan lan awak. Yen cêgah mangan rusak, Prabu Brawijaya uga banjur paring idi. Suwe-suwe agama Rasul saya sumêbar. Ing wêktu iku ana nalar kang aneh, ora kêna dikawruhi sarana netra karna sarta lesan, wêtune saka engêtan, jroning utêk iku yen diwarahi budi nyambut gawe, kang maca lan kang krungu nganggêp têmên lan ora, iya kudu ditimbang ing sabênêre, saiki isih ana wujuding patilasane, isih kêna dinyatakake, mula saka pangiraku iya nyata.

    Dhek nalika samana Sunan Benang sumêdya tindak marang Kadhiri, kang ndherekake mung sakabat loro. Satêkane lor Kadhiri, iya iku ing tanah Kêrtasana, kêpalangan banyu, kali Brantas pinuju banjir. Sunan Benang sarta sakabate loro padha nyabrang, satêkane wetan kali banjur niti-niti agamane wong kono apa wis Islam, apa isih agama Budi. Ature Ki Bandar wong ing kono agamane Kalang, sarak Buddha mung sawatara, dene kang agama Rasul lagi bribik-bribik, wong ing kono akeh padha agama Kalang, mulyakake Bandung Bandawasa. Bandung dianggêp Nabine, yen pinuji dina Riyadi, wong-wong padha bêbarêngan mangan enak, padha sênêng-sênêng ana ing omah. Sunan Benang ngandika: “Yen ngono wong kene kabeh padha agama Gêdhah, Gêdhah iku ora irêng ora putih, tanah kene patut diarani Kutha Gêdhah”.

    Ki Bandar matur: “Dhawuh pangandika panjênêngan, kula ingkang nêkseni”.
    Tanah saloring kutha kadhiri banjur jênêng Kutha Gêdhah, nganti têkane saiki isih karan Kutha Gêdhah, nanging kang mangkono mau arang kang padha ngrêti mula-bukane.

    Sunan Benang ngandika marang sakabate: “Kowe goleka banyu imbon mênyang padesan, kali iki isih banjir, banyune isih buthêk, yen diombe nglarani wêtêng, lan maneh iki wancine luhur, aku arêp wudhu, arêp salat”.

    Sakabate siji banjur lunga mênyang padesan arêp golek banyu, têkan ing desa Pathuk ana omah katone suwung ora ana wonge lanang, kang ana mung bocah prawan siji, wajah lagi arêp mêpêg birahi, ing wêktu iku lagi nênun. Sakabat têka sarta alon calathune: “mBok Nganten, kula nêdha toya imbon bêning rêsik”. mBok Prawan kaget krungu swarane wong lanang, barêng noleh wêruh lanang sajak kaya santri, MBok Prawan salah cipta, pangrasane wong lanang arêp njêjawat, mêjanani marang dheweke, mula ênggone mangsuli nganggo têmbung saru: “nDika mêntas liwat kali têka ngangge ngarani njaluk banyu imbon, ngriki botên entên carane wong ngimbu banyu, kajaba uyuh kula niki imbon bêning, yen sampeyan ajêng ngombe”.

    Santri krungu têtêmbungan mangkono banjur lunga tanpa pamit lakune dirikatake sarta garundêlan turut dalan, satêkane ngarsane Sunan Benang banjur ngaturake lêlakone nalika golek banyu. Sunan Benang mirêng ature sakabate, bangêt dukane, nganti kawêtu pangandikane nyupatani, ing panggonan kono disabdakake larang banyu, prawane aja laki yen durung tuwa, sarta jakane aja rabi yen durung dadi jaka tuwa, barêng kêna dayaning pangandika mau, ing sanalika kali Brantas iline dadi cilik, iline banyu kang gêdhe nyimpang nrabas desa alas sawah lan patêgalan, akeh desa kang padha rusak, awit katrajang ilining banyu kali kang ngalih iline, kali kang maune iline gêdhe sanalika dadi asat. Nganti tumêka saprene tanah Gêdhah iku larang banyu, jaka lan prawane iya nganti kasep ênggone omah-omah. Sunan Benang têrus tindak mênyang Kadhiri.

    Ing wêktu iki ana dhêmit jênênge Nyai Plêncing, iya iku dhêmit ing sumur Tanjungtani, tansah digubêl anak putune, padha wadul yen ana wong arane Sunan Benang, gawene nyikara marang para lêlêmbut, ngêndêl-êndêlake kaprawirane, kali kang saka Kadhiri disotake banjur asat sanalika, iline banjur salin dalan kang dudu mêsthine, mula akeh desa, alas, sawah sarta patêgalan, kang padha rusak, iya iku saka panggawene Sunan Benang, kang uga ngêsotake wong ing kono, lanang wadon ngantiya kasep ênggone omah-omah, sarta kono disotake larang banyu sarta diêlih jênênge tanah aran Kutha Gêdhah, Sunan Benang dhêmêne salah gawe. Anak putune Nyai Plêncing padha ngajak supaya Nyai Plêncing gêlêma nêluh sarta ngrêridhu Sunan Benang, bisaa tumêka ing pati, dadi ora tansah ganggu gawe. Nyai Plêncing krungu wadule anak putune mangkono mau, enggal mangkat mêthukake lakune Sunan Benang, nanging dhêmit-dhêmit mau ora bisa nyêdhaki Sunan Benang, amarga rasane awake padha panas bangêt kaya diobong. Dhêmit-dhêmit mau banjur padha mlayu marang Kadhiri, satêkane ing Kadhiri, matur marang ratune, ngaturake kahanane kabeh. ratune manggon ing Selabale. (6) Jênênge Buta Locaya, dene Selabale iku dununge ana sukune gunung Wilis. Buta Locaya iku patihe Sri Jayabaya, maune jênênge kiyai Daha, duwe adhi jênênge kiyai Daka. Kiyai daha iki cikal-bakal ing Kadhiri, barêng Sri Jayabaya rawuh, jênênge kiyai Daha dipundhut kanggo jênênge nagara, dheweke diparingi Buta Locaya, sarta banjur didadekake patihe Sang Prabu Jayabaya.

    Buta iku têgêse: butêng utawa bodho, Lo têgêse kowe, caya têgêse:
    kêna dipracaya, kiyai Buta Locaya iku bodho, nanging têmên mantêp sêtya ing Gusti, mulane didadekake patih. Wiwite ana sêbutan kiyai, iya iku kiyai daha lan kiyai Daka, kiyai têgêse: ngayahi anak putune sarta wong-wong ing kanan keringe.

    Jêngkare Sri Narendra anjujug ing omahe kiyai Daka, ana ing kono Sang Prabu sawadya-balane disugata, mula sang Prabu asih bangêt marang kiyai Daka, jênênge kiyai Daka dipundhut kanggo jênêng desa, dene kiyai Daka banjur diparingi jênêng kiyai Tunggulwulung, sarta dadi senapatining pêrang.

    Samuksane Sang Prabu Jayabaya lan putrane putri kang aran Ni Mas Ratu Pagêdhongan, Buta Locaya lan kiyai Tunggulwulung uga padha muksa; Ni Mas Ratu Pagêdhongan dadi ratuning dhêmit nusa Jawa, kuthane ana sagara kidul sarta jêjuluk Ni Mas Ratu Anginangin. Sakabehe lêlêmbut kang ana ing lautan dharatan sarta kanan keringe tanah Jawa, kabeh padha sumiwi marang Ni Mas Ratu Anginangin.

    Buta Locaya panggonane ana ing Selabale, dene kiyai Tunggulwulung ana ing gunung Kêlut, rumêksa kawah sarta lahar, yen lahar mêtu supaya ora gawe rusaking desa sarta liya-liyane.

    Ing wêktu iku kiyai Buta Locaya lagi lênggah ana ing kursi kêncana kang dilemeki kasur babut isi sari, sarta kinêbutan êlaring mêrak, diadhêp patihe aran Megamêndhung, lan putrane kakung loro uga padha ngadhêp, kang tuwa arane Panji Sêktidiguna, kang anom
    aran panji Sarilaut.

    Buta Locaya lagi ngandikan karo kang padha ngadhêp, kaget kasaru têkane Nyai Plêncing, ngrungkêbi pangkone, matur bab rusake tanah lor Kadhiri, sarta ngaturake yen kang gawe rusak iku, wong saka Tuban kang sumêdya lêlana mênyang Kadhiri, arane Sunan Benang. Nyai Plêncing ngaturake susahe para lêlêmbut sarta para manusa.

    Buta Locaya krungu wadule Nyai Plêncing mangkono mau bangêt dukane, sarirane nganti kaya gêni, sanalika banjur nimbali putra-wayahe sarta para jin pêri parajangan, didhawuhi nglawan Sunan Benang. Para lêlêmbut mau padha sikêp gêgaman pêrang, sarta lakune barêng karo angin, ora antara suwe lêlêmbut wis têkan ing saêloring desa Kukum, ing kono Buta Locaya banjur maujud manusa aran kiyai Sumbre, dene para lêlêmbut kang pirang-pirang ewu mau padha ora ngaton, kiyai Sumbre banjur ngadêg ana ing têngah dalan sangisoring wit sambi, ngadhang lakune Sunan Benang kang saka êlor.

    Ora antara suwe têkane Sunan Benang saka lor, Sunan Benang wis ora kasamaran yen kang ngadêg ana sangisoring wit sambi iku ratuning dhêmit, sumêdya ganggu gawe, katitik saka awake panas kaya mawa. Dene lêlêmbut kang pirang-pirang ewu mau padha sumingkir adoh, ora bêtah kêna prabawane Sunan Benang. Mangkono uga Sunan Benang uga ora bêtah cêdhak karo kiyai Sumbre, amarga kaya dene cêdhak mawa, kiyai Sumbre mangkono uga.

    Sakabat loro kang maune padha sumaput, banjur padha katisên, amarga kêna daya prabawane kiyai Sumbre.

    Sunan Benang andangu marang kiyai Sumbre: “Buta Locaya! Kowe kok mêthukake lakuku, sarta nganggo jênêng Sumbre, kowe apa padha slamêt?”.

    Buta Locaya kaget bangêt dene Sunan Benang ngrêtos jênênge dheweke, dadi dheweke kawanguran karêpe, wusana banjur matur marang Sunan Benang: “Kados pundi dene paduka sagêd mangrêtos manawi kula punika Buta Locaya?”.

    Sunan Benang ngandika: “Aku ora kasamaran, aku ngrêti yen kowe ratuning dhêmit Kadhiri, jênêngmu Buta Locaya.”.

    Kiyai Sumbre matur marang Sunan Benang: “Paduka punika tiyang punapa, dene mangangge pating gêdhabyah, dede pangagêm Jawi. Kados wangun walang kadung?”.

    Sunan Benang ngandika maneh: “Aku bangsa ‘Arab, jênêngku Sayid Kramat, dene omahku ing Benang tanah Tuban, mungguh kang dadi sêdyaku arêp mênyang Kadhiri, pêrlu nonton patilasan kadhatone Sang Prabu Jayabaya, iku prênahe ana ing ngêndi?”.

    Buta Locaya banjur matur: “Wetan punika wastanipun dhusun Mênang (9), sadaya patilasan sampun sami sirna, kraton sarta pasanggrahanipun inggih sampun botên wontên, kraton utawi patamanan Bagendhawati ingkang kagungan Ni Mas Ratu Pagêdhongan inggih sampun sirna, pasanggrahan Wanacatur ugi sampun sirna, namung kantun namaning dhusun, sadaya wau sirnanipun kaurugan siti pasir sarta lahar saking rêdi Kêlut. Kula badhe pitaken, paduka gêndhak sikara dhatêng anak putu Adam, nyabdakakên ingkang botên patut, prawan tuwa jaka tuwa, sarta ngêlih nami Kutha Gêdhah, ngêlih lepen, lajêng nyabdakakên ing ngriki awis toya, punika namanipun siya-siya botên surup, sikara tanpa dosa, saiba susahipun tiyang gêsang laki rabi sampun lungse, lajêng botên gampil pêncaripun titahing Latawalhujwa, makatên wau saking sabda paduka, sêpintên susahipun tiyang ingkang sami kêbênan, lepen Kadhiri ngalih panggenan mili nrajang dhusun, wana, sabin, pintên-pintên sami risak, ngriki paduka-sotakên, sêlaminipun awis toya, lepenipun asat, paduka sikara botên surup, nyikara tanpa prakara”.

    Sunan Benang ngandika: “Mula ing kene tak-êlih jênêng Kutha Gêdhah, amarga wonge kene agamane ora irêng ora putih, têtêpe agama biru, sabab agama Kalang, mula tak-sotake larang banyu, aku njaluk banyu ora oleh, mula kaline banjur tak-êlih iline, kene kabeh tak sotake larang banyu, dene ênggonku ngêsotake prawan tuwa jaka tuwa, amarga kang tak jaluki banyu ora oleh iku, prawan baleg.”.

    Buta Locaya matur maneh: “Punika namanipun botên timbang kaliyan sot panjênêngan, botên sapintên lêpatipun, tur namung tiyang satunggal ingkang lêpat, nanging ingkang susah kok tiyang kathah sangêt, botên timbang kaliyan kukumipun, paduka punika namanipun damêl mlaratipun tiyang kathah, saupami konjuk Ingkang Kagungan Nagari, paduka inggih dipunukum mlarat ingkang langkung awrat, amargi ngrisakakên tanah, lah sapunika mugi panjênêngan-sotakên wangsulipun malih, ing ngriki sagêda mirah toya malih, sagêd dados asil panggêsangan laki rabi taksih alit lajêng mêncarakên titahipun Hyang Manon. Panjênêngan sanes Narendra têka ngarubiru agami, punika namanipun tiyang dahwen”.

    Sunan Benang ngandika: “Sanadyan kok-aturake Ratu Majalêngka aku ora wêdi”.

    Buta Locaya barêng krungu têmbung ora wêdi marang Ratu Majalêngka banjur mêtu nêpsune, calathune sêngol: “Rêmbag paduka niki dede rêmbage wong ahli praja, patute rêmbage tiyang entên ing bambon, ngêndêlake dumeh tiyang digdaya, mbok sampun sumakehan dumeh dipunkasihi Hyang Widdhi, sugih sanak malaekat, lajêng tumindak sakarsa-karsa botên toleh kalêpatan, siya dahwen sikara botên ngangge prakara, sanadyan ing tanah Jawi rak inggih wontên ingkang nglangkungi kaprawiran paduka, nanging sami ahli budi sarta ajrih sêsikuning Dewa, têbih saking ahli budi yen ngantos siya dhatêng sêsami nyikara tanpa prakara, punapa paduka punika tiyang tunggilipun Aji Saka, muride Ijajil. Aji Saka dados Ratu tanah Jawi namung tigang taun lajêng minggat saking tanah Jawi, sumbêr toya ing Mêdhang saurutipun dipunbêkta minggat sadaya, Aji Saka tiyang saka Hindhu, paduka tiyang saking ‘Arab, mila sami siya-siya dhatêng sêsami, sami damêl awising toya, paduka ngakên Sunan rak kêdah simpên budi luhur, damêl wilujêng dhatêng tiyang kathah, nanging kok jêbul botên makatên, wujud paduka niki jajil bêlis katingal, botên tahan digodha lare, lajêng mubal nêpsune gêlis duka, niku Sunan napa? Yen pancen Sunaning jalma yêktos, mêsthi simpên budi luhur. Paduka niksa wong tanpa dosa, nggih niki margi paduka cilaka, tandhane paduka sapunika sampun jasa naraka jahanam, yen sampun dados, lajêng paduka-ênggeni piyambak, siram salêbêting kawah wedang ingkang umob mumpal-mumpal. Kula niki bangsaning lêlêmbut, sanes alam kaliyan manusa, ewadene kula taksih engêt dhatêng wilujêngipun manusa. Inggih sampun ta, sapunika sadaya ingkang risak kula-aturi mangsulakên malih, lepen ingkang asat lan panggenan ingkang sami katrajang toya kula-aturi mangsulakên kados sawaunipun, manawi panjênêngan botên karsa mangsulakên, sadaya manusa Jawi ingkang Islam badhe sami kula-têluh kajêngipun pêjah sadaya, kula tamtu nyuwun bantu wadya bala dhatêng Kanjêng Ratu Ayu Anginangin ingkang wontên samodra kidul”.

    Sunan Benang barêng mirêng nêpsune Buta Locaya rumaos lupute, dene gawe kasusahan warna-warna, nyikara wong kang ora dosa, mula banjur ngandika: “Buta Locaya! aku iki bangsa Sunan, ora kêna mbaleni caturku kang wus kawêtu, besuk yen wus limang atus taun, kali iki bisa bali kaya mau-maune”.

    Buta Locaya barêng krungu kêsagahane Sunan Benang, banjur nêpsu maneh, nuli matur marang Sunan Benang: “Kêdah paduka-wangsulna sapunika, yen botên sagêd, paduka kula-banda”.

    Sunan Benang ngandika marang Buta Locaya: “Wis kowe ora kêna mangsuli, aku pamit nyimpang mangetan, woh sambi iki tak-jênêngake cacil, dene kok kaya bocah cilik padha tukaran, dhêmit lan wong pêcicilan rêbut bênêr ngadu kawruh prakara rusaking tanah, sarta susahe jalma lan dhêmit, dak-suwun marang Rabbana, woh sambi dadi warna loro kanggone, daginge dadiya asêm, wijine mêtuwa lêngane, asêm dadi pasêmoning ulat kêcut, dene dhêmit padu lan manusa, lênga têgêse dhêmit mlêlêng jalma lunga. Ing besuk dadiya pasêksen, yen aku padu karo kowe, lan wiwit saiki panggonan têtêmon iki, kang lor jênênge desa Singkal, ing kene desa ing Sumbre, dene panggonane balamu kang ana ing kidul iku jênênge desa Kawanguran”.

    Sunan Benang sawuse ngandika mangkono banjur mlumpat marang wetan kali, katêlah nganti tumêka saprene ing tanah Kutha Gêdhah ana desa aran Kawanguran, Sumbre sarta Singkal, Kawanguran têgêse kawruhan, Singkal têgêse sêngkêl banjur nêmu akal.

    Buta Locaya nututi tindake Sunan Benang. Sunan Benang tindake têkan ing desa Bogêm, ana ing kono Sunan Benang mriksani rêca jaran, rêca mau awak siji êndhase loro, dene prênahe ana sangisoring wit trênggulun, wohe trênggulun mau akeh bangêt kang padha tiba nganti amblasah, Sunan Benang ngasta kudhi, rêca jaran êndhase digêmpal.

    Buta Locaya barêng wêruh patrape Sunan Benang anggêmpal êndhasing rêca jaran, saya wuwuh nêpsune sarta mangkene wuwuse:
    “Punika yasanipun sang Prabu Jayabaya, kangge pralambang ing tekadipun wanita Jawi, benjing jaman Nusa Srênggi, sintên ingkang sumêrêp rêca punika, lajêng sami mangrêtos tekadipun para wanita Jawi”.

    Sunan Benang ngandika: “Kowe iku bangsa dhêmit kok wani padu karo manusa, jênênge dhêmit kêmênthus”.

    Buta Locaya mangsuli: “Inggih kaot punapa, ngriku Sunan, kula Ratu”.

    Sunan Benang ngandika: “Woh trênggulun iki tak-jênêngake kênthos, dadiya pangeling-eling ing besuk, yen aku kêrêngan karo dhêmit kumênthus, prakara rusaking rêca”.

    Ki Kalamwadi ngandika: “Katêlah nganti saprene, woh trênggulun jênênge kênthos, awit saka sabdane Sunan Benang, iku pituture Raden Budi Sukardi, guruku”.

    Sunan Benang banjur tindak mangalor, barêng wis wanci asar, kêrsane arêp salat, sajabane desa kono ana sumur nanging ora ana timbane, sumure banjur digolingake, dene Sunan Benang sawise, nuli sagêd mundhut banyu kagêm wudhu banjur salat.

    Ki Kalamwadi ngandika: “Katêlah nganti saprene sumur mau karane sumur Gumuling, Sunan Benang kang anggolingake, iku pituture Raden Budi guruku, êmbuh bênêr lupute”.

    Sunan Benang sawise salat banjur nêrusake tindake, satêkane desa Nyahen (10) ing kona ana rêca buta wadon, prênahe ana sangisoring wit dhadhap, wêktu iku dhadhape pinuju akeh bangêt kêmbange, sarta akeh kang tiba kanan keringe rêca buta mau, nganti katon abang mbêranang, saka akehe kêmbange kang tiba, Sunan Benang priksa rêca mau gumun bangêt, dene ana madhêp mangulon, dhuwure ana 16 kaki, ubênge bangkekane 10 kaki, saupama diêlih saka panggonane, yen dijunjung wong wolung atus ora kangkat, kajaba yen nganggo piranti, baune têngên rêca mau disêmpal dening Sunan Benang, bathuke dikrowak.

    Buta Locaya wêruh yen Sunan Benang ngrusak rêca, dheweke nêpsu maneh, calathune: “Panjênêngan nyata tiyang dahwen, rêca buta bêcik-bêcik dirusak tanpa prakara, sa-niki awon warnine, ing mangka punika yasanipun Sang Prabu Jayabaya, lah asilipun punapa panjênêngan ngrisak rêca?”

    Pangandikane Sunan Benang: “Mulane rêca iki tak-rusak, supaya aja dipundhi-pundhi dening wong akeh, aja tansah disajeni dikutugi, yen wong muji brahala iku jênênge kapir kupur lair batine kêsasar.”

    Buta Locaya calathu maneh: “Wong Jawa rak sampun ngrêtos, yen punika rêca sela, botên gadhah daya, botên kuwasa, sanes Hyang Labawalhujwa, mila sami dipunladosi, dipunkutugi, dipunsajeni, supados para lêlêmbut sampun sami manggen wontên ing siti utawi kajêng, amargi siti utawi kajêng punika wontên asilipun, dados têdhanipun manusa, mila para lêlêmbut sami dipunsukani panggenan wontên ing rêca, panjênêngan-tundhung dhatêng pundi? Sampun jamakipun brêkasakan manggen ing guwa, wontên ing rêca, sarta nêdha ganda wangi, dhêmit manawi nêdha ganda wangi badanipun kraos sumyah, langkung sênêng malih manawi manggen wontên ing rêca wêtah ing panggenan ingkang sêpi edhum utawi wontên ngandhap kajêng ingkang agêng, sampun sami ngraos yen alamipun dhêmit punika sanes kalayan alamipun manusa, manggen wontên ing rêca têka panjênêngan-sikara, dados panjênêngan punika têtêp tiyang jail gêndhak sikara siya-siya dhatêng sasamining tumitah, makluking Pangeran. Aluwung manusa Jawa ngurmati wujud rêca ingkang pantês simpên budi nyawa, wangsul tiyang bangsa ‘Arab sami sojah Ka’batu’llah, wujude nggih tugu sela, punika inggih langkung sasar”.

    Pangandikane Sunan Benang: Ka’batu’llah iku kang jasa Kangjêng Nabi Ibrahim, ing kono pusêring bumi, didelehi tugu watu disujudi wong akeh, sing sapa sujud marang Ka’batu’llah, Gusti Allah paring pangapura lupute kabeh salawase urip ana ing ‘alam pangumbaran”.

    Buta Locaya mangsuli karo nêpsu: “Tandhane napa yen angsal sihe Pangeran, angsal pangapuntên sadaya kalêpatanipun, punapa sampun angsal saking Pangeran Kang Maha Agung tapak asta mawi cap abrit? Sunan Benang ngandika maneh: “Kang kasêbut ing kitabku, besuk yen mati oleh kamulyan”.

    Buta Locaya mangsuli karo mbêkos: “Pêjah malih yen sumêrêpa, kamulyan sanyata wontên ing dunya kemawon sampun korup, sasar nyêmbah tugu sela, manawi sampun nrimah nêmbah curi, prayogi dhatêng rêdi Kêlut kathah sela agêng-agêng yasanipun Pangeran, sami maujud piyambak saking sabda kun, punika wajib dipunsujudi. Saking dhawuhipun Ingkang Maha Kuwaos, manusa sadaya kêdah sumêrêp ing Batu’llahipun, badanipun manusa punika Baitu’llah ingkang sayêktos, sayêktos yen yasanipun Ingkang Maha Kuwaos, punika kêdah dipunrêksa, sintên sumêrêp asalipun badanipun, sumêrêp budi hawanipun, inggih punika ingkang kenging kangge tuladha. Sanadyan rintên dalu nglampahi salat, manawi panggenanipun raga pêtêng, kawruhipun sasar-susur, sasar nêmbah tugu sela, tugu damêlan Nabi, Nabi punika rak inggih manusa kêkasihipun Gusti Allah, ta, pinaringan wahyu nyata pintêr sugih engêtan, sidik paningalipun têrus, sumêrêp cipta sasmita ingkang dereng kalampahan. Dene ingkang yasa rêca punika Prabu Jayabaya, inggih kêkasihipun Ingkang Kuwaos, pinaringan wahyu mulya, inggih pintêr sugih engêtan sidik paningalipun têrus, sumêrêp saderengipun kalampahan, paduka pathokan tulis, tiyang Jawi pathokan sastra, bêtuwah saking lêluhuripun. sami-sami nyungkêmi kabar, aluwung nyungkêmi kabar sastra saking lêluhuripun piyambak, ingkang patilasanipun taksih kenging dipuntingali. Tiyang nyungkêmi kabar ‘Arab, dereng ngrêtos kawontênanipun ngrika, punapa dora punapa yêktos, anggêga ujaripun
    tiyang nglêmpara. Mila panjênêngan anganjawi, nyade umuk, nyade mulyaning nagari Mêkah, kula sumêrêp nagari Mêkah, sitinipun panas, awis toya, tanêm-tanêm tuwuh botên sagêd mêdal, bênteripun bantêr awis jawah, manawi tiyang ingkang ahli nalar, mastani Mêkah punika nagari cilaka, malah kathah tiyang sade tinumbas tiyang, kangge
    rencang tumbasan. Panjênêngan tiyang duraka, kula-aturi kesah saking ngriki, nagari Jawi ngriki nagari suci lan mulya, asrêp lan bênteripun cêkapan, tanah pasir mirah toya, punapa ingkang dipuntanêm sagêd tuwuh, tiyangipun jalêr bagus, wanitanipun ayu, madya luwês wicaranipun. Rêmbag panjênêngan badhe priksa pusêring jagad, inggih ing ngriki ingkang kula-linggihi punika, sapunika panjênêngan ukur, manawi kula lêpat panjênêngan jotos. Rêmbag panjênêngan punika mblasar, tandha kirang nalar, kirang nêdha kawruh budi, rêmên niksa ing sanes. Ingkang yasa rêca punika Maha Prabu Jayabaya, digdayanipun ngungkuli panjênêngan, panjênêngan punapa sagêd ngêpal lampahing jaman? Sampun ta, kula-aturi kesah kemawon saking ngriki, manawi botên purun kesah sapunika, badhe kula-undhangakên adhi-kula ingkang wontên ing rêdi Kêlut, panjênêngan kula-kroyok punapa sagêd mênang, lajêng kula-bêkta mlêbêt dhatêng kawahipun rêdi Kêlut, panjênêngan punapa botên badhe susah, punapa panjênêngan kêpengin manggen ing sela kados kula? Mangga dhatêng Selabale, dados murid kula!”.

    Sunan Benang ngandika: “Ora arêp manut rêmbugmu, kowe setan brêkasakan”.

    Buta Locaya mangsuli: “Sanadyan kula dhêmit, nanging dhêmit raja, mulya langgêng salamine, panjênêngan dereng tampu mulya kados kula, tekad panjênêngan rusuh, rêmên nyikara niaya, mila panjênêngan dhatêng tanah Jawi, wontên ing ‘Arab nakal kalêbêt tiyang awon, yen panjênêngan mulya tamtu botên kesah saking ‘Arab, mila minggat, saking lêpat, tandhanipun wontên ing ngriki taksih krejaban, maoni adating uwong, maoni agama, damêl risak barang sae, ngarubiru agamane lêluhur kina, Ratu wajib niksa, mbucal dhatêng Mênadhu”.

    Sunan Benang ngandika: “Dhadhap iki kêmbange tak jênêngake celung, uwohe kledhung, sabab aku kêcelung nalar lan kêledhung rêmbag, dadiya pasêksen yen aku padu lan ratu dhêmit, kalah kawruh kalah nalar”.

    Mula katêlah nganti tumêka saprene, woh dhadhap jênênge kledhung, kêmbange aran celung.

    Sunan Benang banjur pamitan: “Wis aku arêp mulih mênyang Benang”.

    Buta Locaya mangsuli karo nêpsu: “Inggih sampun, panjênêngan enggala kesah, wontên ing ngriki mindhak damêl sangar, manawi kadangon wontên ing ngriki mindhak damêl susah, murugakên awis wos, nambahi bênter, nyudakakên toya”.

    Sunan Benang banjur tindak, dene Buta Locaya sawadya-balane uga banjur mulih. Gênti kang cinarita, nagari ing Majalêngka, anuju sawijining dina, Sang Prabu Brawijaya miyos sinewaka, diadhêp Patih sarta para wadya bala, Patih matur, yen mêntas nampani layang saka Tumênggung ing Kêrtasana, dene surasane layang ngaturi uninga yen nagara Kêrtasana kaline asat, kali kang saka Kadhiri miline nyimpang mangetan, saperanganing layang mau unine mangkene: “Wontên ler-kilen Kadhiri, pintên-pintên dhusun sami karisakan, anggenipun makatên wau, saking kenging sabdanipun ngulama saking ‘Arab, namanipun Sunan Benang.

    Sang Prabu mirêng ature Patih bangêt dukane, Patih banjur diutus mênyang Kêrtasana, niti-priksa ing kono kabeh, kahanane wonge sarta asile bumi kang katrajang banyu kapriye? Sarta didhawuhi nimbali Sunan Benang.

    Gêlising carita, Patih sawise niti-priksa, banjur ngaturake kahanane kabeh, dene duta kang diutus mênyang Tuban uga wis têka, matur yen ora oleh gawe, amarga Sunan Benang lunga ora karuhan parane.

    Sang Prabu midhangêt ature para wadya banjur duka, paring pangandika yen ngulama saka ‘Arab pada ora lamba atine. Sang Prabu banjur dhawuh marang Patih, wong ‘Arab kang ana ing tanah Jawa padha didhawuhi lunga, amarga gawe ribêding nagara, mung ing Dêmak lang Ngampelgadhing kang kêparêng ana ing tanah Jawa, nglêstarekake agamane, liyane loro iku didhawuhi ngulihake mênyang asale, dene yen padha ora gêlêm lunga didhawuhi ngrampungi bae. Ature Patih: “Gusti! lêrês dhawuh paduka punika, amargi ngulama Giripura sampun tigang taun botên sowan utawi botên ngaturakên bulubêkti, mênggah sêdyanipun badhe rêraton piyambak, botên ngrumaosi nêdha ngombe wontên tanah Jawi, dene namanipun santri Giri anglangkungi asma paduka, pêparabipun Sunan ‘Aênalyakin, punika nama ing têmbung ‘Arab, mênggah têgêsipun Sunan punika budi, têgêsipun Aenal punika ma’rifat, têgêsipun Yakin punika wikan, sumêrêp piyambak, dados nama tingal ingkang têrus, suraosipun ing têmbung Jawi nama Prabu Satmata, punika asma luhur ingkang makatên punika ngirib-irib tingalipun Kang Maha Kuwasa, mariksa botên kasamaran, ing alam donya botên wontên kalih ingkang asma Sang
    Prabu Satmata, kajawi namung Bathara Wisnu nalika jumênêng Nata wontên ing nagari Mêdhang-Kasapta. Sang Prabu midhangêt ature Patih, banjur dhawuh nglurugi pêrang mênyang Giri, Patih budhal ngirid wadya-bala prajurit, nglurug mênyang Giri. Patih sawadya-balane satêkane ing Giri banjur campuh pêrang. Wong ing Giri geger, ora kuwat nanggulangi pangamuke wadya Majapahit. Sunan Giri mlayu mênyang Benang, golek kêkuwatan, sawise oleh bêbantu, banjur pêrang maneh mungsuh wong Majalêngka, pêrange rame bangêt, ing wêktu iku tanah jawa wis meh saparo kang padha ngrasuk agama Islam, wong-wong ing Pasisir lor wis padha agama Islam, dene kang kidul isih têtêp nganggo agama Buddha. Sunan Benang wis ngrumasani kaluputane, ênggone ora sowan mênyang Majalêngka, mula banjur lunga karo Sunan Giri mênyang Dêmak, satêkane ing Dêmak, banjur ngêbang marang Adipati Dêmak, diajak nglurug mênyang Majalêngka, pangandikane Sunan Benang marang Adipati Dêmak: “Wêruha yen saiki wis têkan masa rusake Kraton Majalêngka, umure wis satus têlu taun, saka panawangku, kang kuwat dadi Ratu tanah Jawa, sumilih Kaprabon Nata, mung kowe, rêmbugku rusakên Kraton Majalêngka, nanging kang sarana alus, aja nganti ngêtarani, sowana besuk Garêbêg Mulud, nanging rumantiya sikêping pêrang: 1. gaweya samudana, 2. dhawuhana balamu para Sunan kabeh lan para Bupati kang wis padha Islam kumpulna ana ing Dêmak, yen kumpule iku arêp gawe masjid, mêngko yen wis kumpul, para Sunan sarta Bupati sawadya-balane kang wis padha Islam, kabeh mêsthi nurut marang kowe”.

    Ature Adipati Dêmak: “Kula ajrih ngrisak Nagari Majalêngka, amêngsah bapa tur raja, kaping tiganipun damêl sae paring kamukten ing dunya, lajêng punapa ingkang kula-walêsakên, kajawi namung sêtya tuhu. Dhawuhipun eyang Sunan Ngampelgadhing, botên kaparêng yen kula mêngsah bapa, sanadyan Buddha nanging margi-kula sagêd dumados gêsang wontên ing dunya. Inggih sanadyan Buddha punapa kapir, tiyang punika bapa inggih kêdah dipunhurmati, punapa malih dereng wontên lêpatipun dhatêng kula”.

    Sunan Benang ngandika mêneh: “Sanadyan mungsuh bapa lan ratu, ora ana alane, amarga iku wong kapir, ngrusak kapir Buddha kawak:
    kang kok-têmu ganjaran swarga. Eyangmu kuwi santri mêri, gundhul bêntul butêng tanpa nalar, patute mung dadi godhogan, sapira kawruhe Ngampelgadhing, bocah kalairan Cêmpa, masa padhaa karo aku Sayid Kramat, Sunan Benang kang wis dipuji wong sabumi ‘alam, têdhak Rasul panutaning wong Islam kabeh. Kowe mungsuh bapakmu Nata, sanadyan dosa pisan, mung karo wong siji, tur ratu kapir, nanging yen bapakmu kalah, wong satanah Jawa padha Islam kabeh. Kang mangkono iku, sapira mungguh kauntunganmu nugrahaning Pangeran tikêl kaping êmbuh, sihing Hyang Kang Maha Kuwasa kang dhawuh marang kowe. Satêmêne ramanira iku siya-siya marang sira, tandhane sira diparingi jênêng Babah, iku ora prayoga, têgêse Babah iku saru bangêt, iya iku: bae mati bae urip, wiji jawa digawa Putri Cina, mula ibumu diparingake Arya Damar, Bupati ing Palembang, wong pranakan buta; iku mêgat sih arane. Ramanira panggalihe têtêp ora bêcik, mulane rêmbugku, walêsên kalawan alus, lire aja katara, ing batin sêsêpên gêtihe, mamahên balunge”.

    Sunan Giri nyambungi rêmbug: Aku iki ora dosa dilurugi ramamu, didakwa rêraton, amarga aku ora seba marang Majalêngka. Sumbare Patih, yen aku kacandhak arêp dikuciri lan dikon ngêdusi asu, akeh bangsa Cina kang padha têka ana ing tanah Jawa, ana ing Giri padha tak-Islamake awit kang muni ing kitabku, yen ngislamake wong kapir, besuk ganjarane swarga, mula akeh bangsa Cina kang padha tak-Islamake, tak-anggêp kulawarga. Dene têkaku mrene ini ngungsi urip mênyang kowe, aku wêdi marang Patih Majalêngka, lan ramanira sêngit bangêt marang santri kang muji dhikir, ênggone ngarani jare lara ayan esuk lan sore, yen kowe ora ngukuhi, mêsthi rusak agama Mukhammad Nabi”.

    Wangsulane Sang Adipati Dêmak: “Anggenipun nglurugi punika lêrês, tiyang rêraton, botên ngrumaosi yen kêdah manut prentahing Ratu ingkang mbawahakên, sampun wajibipun dipunlurugi, dipunukum pêjah, awit panjênêngan botên ngrumaosi dhahar ngunjuk wontên in tanah Jawi”.

    Sunan Benang ngandika maneh: “Yen ora kok-rêbut dina iki, kowe ngênteni surude bapakmu, kaprabone bapakmu wis mêsthi ora bakal tiba kowe, mêsthi dipasrahake marang Adipati Pranaraga, amarga iku putrane kang tuwa, utawa dipasrahake marang putra mantu, iya iku Ki Andayaningrat ing Pêngging, kowe anak nom, ora wajib jumênêng Nata, mumpung iki ana lawang mênga, Giri kang dadi jalarane ngrusak Majalêngka, nadyan mati, mungsuh wong kapir, mati sabilu’llah, patine slamêt nampani swarga mulya, wis wajibe wong Islam mati dening wong kapir, saka ênggone nyungkêmi agamane, karo wis wajibe wong urip golek kamuktening dunya, golek darajat kang unggul dhewe, yen wong urip ora wêruh marang uripe, iku durung gênêp uripe, lamun sipat manusa mêsthi melik mêngku praja angreh wadya bala, awit Ratu iku Khalifa wakile Hyang Widdhi, apa bae kang dikarêpake bisa kêlakon, satêmêne kowe wis pinasthi bakal jumênêng Ratu ana ing tanah Jawa, sumilih kaprabone ramamu, ananging ing laire iya kudu nganggo sarat dirêbut sarana pêrang, yen kowe ora gêlêm nglakoni, mêsthine sihe Gusti Allah kang mênyang kowe bakal dipundhut bali, dadi kowe jênênge nampik sihe Allah, aku mung sadarma njurungi, amarga aku wis wêruh sadurunge winarah, wis tak-sêmprong nganggo sangkal bolong katon nêrawang ora samar sajroning gaib, kowe kang katiban wahyu sihe Pangeran, bisa dadi Ratu ana ing tanah Jawa, murwani agama suci, ambirat ênggonmu madêg Narendra, bisa ngideni adêgmu Nata mêngku tanah Jawa, bisa lêstari satêruse”. Akeh-akeh dhawuhe Sunan Benang, pambujuke marang adipati Dêmak supaya mêtu nêpsune, gêlêm ngrusak Majalêngka, malah diwenehi lêpiyan carita Nabi, kang gêlêm ngrusak bapa kapir, iku padha nêmu rahayu.

    Adipati Dêmak matur: “Manawi karsa panjênêngan makatên, kula namung sadarmi nglampahi dhawuh, panjênêngan ingkang mbotohi”.

    Sunan Benang ngandika maneh: “Iya mangkono iku kang tak-karêpake, saiki kowe wis gêlêm tak-botohi, lah saiki uga kowe kirima layang marang adhimu Adipati Têrung, ananging têmbungmu kang rêmit sarta alus, adhimu antêpên, apa abot Sang Nata, apa abot sadulur tuwa kang tunggal agama. Yen adhimu wis rujuk adêgmu Nata, gampang bangêt rusaking Majalêngka. Majapahit sapa kang diêndêlake yen Kusen wis mbalik, Si gugur isih cilik, masa ndadak waniya, Patihe wis tuwa, dithothok bae mati, mêsthi ora bisa nadhahi yudamu”. Adipati Dêmak banjur kirim layang marang Têrung, ora suwe utusan bali, wis tinampan wangsulane Sang Adipati Têrung, saguh ambiyantu pêrang, layang banjur katur Sunan Benang, ndadekake sukaning panggalih, Sunan Benang banjur ngandika marang Adipati Dêmak, supaya Sang Adipati ngaturi para Sunan lan para Bupati kabeh, samudana yen arêp ngêdêgake masjid, lan diwenehana sumurup yen Sunan Benang wis ana ing Dêmak. Gêlising carita, ora suwe para Sunan lan para Bupati padha têka kabeh, banjur pakumpulan ngêdêgake masjid, sawise mêsjid dadi, banjur padha salat ana ing masjid, sabakdane salat, banjur tutup lawang, wong kabeh dipangandikani dening Sunan Benang, yen Adipati Dêmak arêp dijumênêngake Nata, sarta banjur arêp ngrusak Majapahit, yen wis padha rujuk, banjur arêp kêpyakan tumuli. Para Sunan lan para Bupati wis padha rujuk kabeh, mung siji kang ora rujuk, iya iku Syekh Sitijênar. Sunan Benang duka, Syekh Sitijênar dipateni, dene kang kadhawuhan mateni iya iku Sunan Giri, Syekh Sitijênar dilawe gulune mati. Sadurunge Syekh Sitijênar tumêka ing pati, ninggal swara: “Eling-eling ngulama ing Giri, kowe ora tak-walês ing akhirat, nanging tak-walês ana ing dunya kene bae, besuk yen ana Ratu Jawa kanthi wong tuwa, ing kono gulumu bakal tak-lawe gênti”. Sunan Giri mangsuli: “Iya besuk wani, saiki wani, aku ora bakal mundur”. Sawise golong karêpe, nglêstarekake apa kang wis dirêmbug. Sang Adipati Dêmak banjur ingidenan jumênêng Nata, amêngku tanah Jawa, jêjuluk Senapati Jimbuningrat, patihe wong saka Atasaning aran Patih Mangkurat. Esuke Senapati Jimbuningrat wis miranti sapraboting pêrang, banjur budhal mênyang Majapahit, diiringake para Sunan lan para Bupati, lakune kaya dene Garêbêg Maulud, para wadya bala ora ana kang ngrêti wadining laku, kajaba mung para Tumênggung lan para Sunan apa dene para ngulama, Sunan Benang lan Sunan Giri ora melu mênyang Majapahit, pawadane sarehne wis sêpuh, mung arêp salat ana ing masjid bae, lan paring idi rahayuning laku, dadi mung para Sunan lan para Bupati bae kang ngiringake Sultan Bintara, ora kacarita lakune ana ing dalan.

    Gênti kocapa nagara in Majapahit, Patih saulihe saka ing Giri banjur matur sang Praba, bab ênggone mukul pêrang ing Giri, mungguh kang dadi senapati ing Giri iya iku sawijining bangsa Cina kang wis ngrasuk agama Islam, arane Sêcasena, mangsah mêncak nganggo gêgêman abir, sawadya-balane watara wong têlung atus, padha bisa mêncak kabeh, brêngose capang sirahe gundhul, padha manganggo srêban cara kaji, mangsah pêrang paculat kaya walang kadung, wadya Majapahit ambêdhili, dene wadya-bala ing Giri pating jênkelang ora kêlar nadhahi tibaning mimis. Senapati Sêcasena wis mati, dene bala Cina liyane lang kari padha mlayu salang tunjang, bala ing Giri ngungsi mênyang alas ing gunung, sawêneh ngambang ing sagara, mlayu mênyang Benang têrus diburu dening wadya-bala Majapahit, Sunan Giri lan Sunan Benang banjur nunggal saprau-layar ngambang ing sagara, kinira banjur minggat marang Arab ora bali ngajawa. Sang Prabu banjur dhawuh marang Patih, supaya utusan mênyang Dêmak, andhawuhake yen ngulama ing Giri lan ing Benang padha têka ing Dêmak, didhawuhi nyêkêl, kaaturna bêbandan ing ngarsa Nata, awit dosane santri Benang ngrusak bumi ing Kêrtasana, dene dosane santri Giri ora gêlêm seba marang ngarsa Prabu, tekade sumêdya nglawan pêrang.

    Patih samêtune ing paseban jaba, banjur nimbali duta kang arêp diutus mênyang Dêmak, sajrone ana ing paseban jaba, kêsaru têkane utusane Bupati ing Pathi, ngaturake layang marang Patih, layang banjur diwaos kiyai Patih, mungguh surasaning layang. Menak Tunjungpura ing Pathi ngaturi uninga, yen Adipati ing Dêmak, iya iku Babah Patah, wis madêg Ratu ana ing Dêmak, dene kang ngêbang-êbang adêging Nata, iya iku Sunan Benang lan Sunan Giri, para Bupati pasisir lor sawadyane kang wis padha Islam uga padha njurungi, dene jêjuluking Ratu, Senapati Jimbuningrat, utawa Sultan Syah ‘Alam Akbar Siru’llah Kalifatu’rrasul Amiri’lmukminin Tajudi’l’Abdu’lhamid Kak, iya Sultan Adi Surya ‘Alam, ing Bintara. Ing samêngko Babah Patah sawadya-balane wis budhal nglurug marang Majapahit, sêdya mungsuh ingkang rama, Babah Patah abot mênyang gurune, ngenthengake ingkang rama, para Sunan lan para Bupati padha ambiyantu anggone arêp mbêdhah Majapahit. Babah Patah anggone nggawa bala têlung lêksa miranti sapraboting pêrang, mungguh kature Sang Prabu amborongake kiyai Patih. Layang kang saka Pathi mau katitimasan tanggal kaping 3 sasi Mulud taun Jimakir 1303, masa Kasanga Wuku Prangbakat. Kiyai Patih sawise maos layang, njêtung atine, sarta kêrot, gêrêng-gêrêng, gedheg-gedheg, bangêt pangungune, banjur tumênga ing tawang karo nyêbut marang Dewa kang Linuwih, bangêt gumune mênyang wong Islam, dene ora padha ngrêti mênyang kabêcikane Sang Prabu, malah padha gawe ala. Kyai Patih banjur matur Sang Prabu, ngaturake surasane layang mau.

    Sang Prabu Brawijaya midhangêt ature Patih kaget bangêt panggalihe, njêgrêg kaya tugu, nganti suwe ora ngandika, jroning panggalih ngungun bangêt marang putrane sarta para Sunan, dene padha duwe sêdya kang mangkono, padha diparingi pangkat, wêkasane malah padha gawe buwana balik, kolu ngrusak Majapahit. Sang Prabu nganti ora bisa manggalih apa mungguh kang dadi sababe, dene putrane lan para ngulama têka arêp ngrusak karaton, digoleki nalar-nalare tansah wudhar, lair batin ora tinêmu ing nalar, dene kok padha duwe pikir ala. Ing wêktu iku panggalihe Sang Prabu pêtêng bangêt, sungkawane ratu Gêdhe kang linuwih, sinêmonan dening Dewa, kaya dene atining kêbo êntek dimangsa ing tumaning kinjir. Sang Prabu banjur andangu marang Patih, apa ta mungguh kang dadi sababe, dene putrane lan para ngulama apa dene para Bupati kolu ngrusak Majapahit, ora padha ngelingi marang kabêcikan.

    Ature Patih, mratelakake yen uga ora mangêrti, amarga adoh karo nalare, wong dibêciki kok padha malês ala, lumrahe mêsthi, padha malês bêcik. Ki Patih uga mung gumun, dene wong Islam pikire kok padha ora bêcik, dibêciki walêse kok padha ala.

    Sang Prabu banjur ngandika marang patih, bab anane lêlakon kaya mangkono iku amarga saka lêpate sang nata piyambak, dene nggêgampang marang agama kang wis kanggo turun-tumurun, sarta ênggone kêgiwang marang ature Putri Cêmpa, ngideni para ngulama mêncarake agama Islam. Sang Nata saka putêking panggalihe nganti kawêdhar pangandikane ngêsotake marang wong Islam: Sun-suwung marang Dewa Gung, muga winalêsna susah-ingsun, wong Islam iku besuk kuwalika agamanira, manjalma dadi wong kucir, dene tan wruh kabêcikan, sun-bêciki walêse angalani”. “Sabdaning Ratu Agung sajroning kasusahan, katarima dening Bathara, sinêksen ing jagad, katandhan ana swara jumêgur gêtêr patêr sabuwana, iya iku kawitane manuk kuntul ana kang kucir. Sunan, ngulama kabeh ngrangkêp jênêng walikan, katêlah tumêka saprene, ngulama jênênge walian, kuntul kucir githoke. Sang Prabu banjur mundhut pamrayoga marang Patih, prakara têkane mungsuh, santri kang ngrêbut nagara, iku dilawan apa ora? Sang Nata rumaos gêtun lan ngungun, dene Adipati Dêmak kapengin mêngkoni Majapahit bae kok dirêbut sarana pêrang, saupama disuwun kalayan aris bae mêsthi diparingake, amarga Sang Nata wisBali, kadherekake abdi kêkasih, Sabdapalon lan Nayagenggong. Sajrone Sang Prabu paring pangandika, wadya-bala Dêmak wis pacak baris ngêpung nagara, mula kasêsa tindake. Wadya Dêmak banjur campuh karo wadya Majapahit, para Sunan banjur ngawaki pêrang, Patih Majapahit ngamuk ana samadyaning papêrangan. Para Bupati Nayaka wolu uga banjur melu ngamuk. Pêrange rame bangêt, bala Dêmak têlung lêksa, balang Majapahit mung têlung ewu, sarehne Majapahit karoban mungsuh, prajurite akeh kang padha mati, mung Patih sarta Bupati Nayaka pangamuke saya nêsêg. Bala Dêmak kang katrajang mêsthi mati. Putrane Sang Prabu aran Raden Lêmbupangarsa ngamuk ana satêngahing papêrangan, tandhing karo Sunan Kudus, lagi rame-ramene têtandhingan pêrang, Patih Mangkurat ing Dêmak nglambung, Putra Nata tiwas, saya bangêt nêpsune, pangamuke kaya bantheng kataton, ora ana kang diwêdeni, Patih ora pasah sakehing gêgaman, kaya dene tugu waja, ora ana braja kang tumama marang sarirane, ing ngêndi kang katrajang bubar ngisis, kang tadhah mati nggêlasah, bangkening wong tumpang tindhih, Patih binendrongan saka kadohan, tibaning mimis kaya udan tiba ing watu. Sunan Ngudhung mapagake banjur mrajaya, nanging ora pasah, Sunan Ngudhung disuduk kêna, barêng Sunan Ngudhung tiwas, Patih dibyuki wadya ing Dêmak, dene wadya Majapahit wis êntek, sapira kuwate wong siji, wêkasan Patih ing Majapahit ngêmasi, nanging kuwandane sirna, tinggal swara: “Eling-eling wong Islam, dibêciki gustiku walêse ngalani, kolu ngrusak nagara Majapahit, ngrêbut nagara gawe pêpati, besuk tak-walês, tak-ajar wêruh nalar bênêr luput, tak-damoni sirahmu, rambutmu tak-cukur rêsik”.

    Sapatine Patih, para Sunan banjur mlêbu mênyang kadhaton. nanging sang Prabu wis ora ana, kang ana mung Ratu Mas, iya iku Putri Cêmpa, sang Putri diaturi sumingkir mênyang Benang uga karsa.

    Para prajurit Dêmak banjur padha mlêbu mênyang kadhaton, ana ing kono pada njarah rayah nganti rêsik, wong kampung ora ana kang wani nglawan. Raden Gugur isih timur lolos piyambak. Adipati Têrung banjur mlêbu mênyang jêro pura, ngobongi buku-buku bêtuwah Buddha padha diobongi kabeh, wadya sajroning pura padha bubar, beteng ing Bangsal wis

    Barêng wis têlung dina, Sultan Dêmak budhal mênyang Ngampel, dene kang dipatah tunggu ana ing Majapahit, iya iku Patih Mangkurat sarta Adipati Têrung, njaga kaslamêtan mbokmanawa isih ana pakewuh ing wuri, Sunan Kudus njaga ana ing kraton dadi sulihe Sang Prabu, Têrung uga dijaga ngulama têlung atus, sabên bêngi padha salat kajat sarta andêrês Kur’an, wadya-bala kang saparo lan para Sunan padha ndherek Sang Prabu mênyang Ngampelgadhing, Sunan Ngampel wis seda, mung kari garwane kang isih ana ing Ngampel, garwane mau asli saking Tuban, putrane Arya Teja, sasedane Sunan Ngampel, Nyai Agêng kanggo têtuwa wong Ngampel. Sang Prabu Jambuningrat satêkane ing Ngampel, banjur ngabekti Nyai Agung, para Sunan sarta para Bupati gênti-gênti padha ngaturake sêmbah mênyang Nyai Agêng. Prabu Jimbuningrat matur yen mêntas mbêdhah Majapahit, ngaturake lolose ingkang rama sarta Raden Gugur, ngaturake patine Patih ing Majapahit lan matur yen panjênêngane wis madêg Nata mêngku tanah Jawa, dene jêjuluke: Senapati Jimbun, sarta Panêmbahan Palembang, ênggone sowan mênyang Ngampel iku, prêlu nyuwun idi, têtêpa jumênêng Nata nganti run-tumurun aja ana kang nyêlani.

    Nyai Agêng Ngampel sawise mirêng ature Prabu Jimbun, banjur muwun sarta ngrangkul Sang Prabu, Nyai Agêng ing batos karaos-raos, mangkene pangudaraosing panggalih: “Putuku, kowe dosa têlung prakara, mungsuh Ratu tur sudarmane, sarta kang aweh kamukten ing dunya, têka dirusak kang tanpa prakara, yen ngelingi kasaeane uwa Prabu Brawijaya, para ngulama padha diparingi panggonan kang wis anggawa pamêtu minangka dadi pangane, sarta padha diuja sakarêpe, wong pancene rak sêmbah nuwun bangêt, wusana banjur diwalês ala, seda utawa sugênge ora ana kang wêruh”.

    Nyai Agêng banjur ndangu Sang Prabu, pangandikane: “Êngger! aku arêp takon mênyang kowe, kandhaa satêmêne, bapakmu tênan kuwi sapa? Sapa kang ngangkat kowe dadi Ratu tanah Jawa lan sapa kang ngideni kowe? Apa sababe dene kowe syikara kang tanpa dosa?”

    Sang Prabu banjur matur, yen Prabu Brawijaya iku jarene ramane têmênan. Kang ngangkat sarirane dadi Ratu mêngku tanah Jawa iku para Bupati pasisir kabeh. Kang ngideni para Sunan. Mulane nagara Majapahit dirusak, amarga Sang Prabu Brawijaya ora karsa salin agama Islam, isih ngagêm agama kapir kupur, Buddha kawak dhawuk kaya kuwuk.

    Nyai Agêng barêng mirêng ature Prabu Jimbun, banjur njêrit ngrangkul Sang Prabu karo ngandika: “Êngger! kowe wêruha, kowe iku dosa têlung prakara, mêsthi kêsiku ing Gusti Allah. Kowe wani mungsuh Ratu tur wong tuwamu dhewe, sarta sing aweh nugraha marang kowe, dene kowe kok wani ngrusak kang tanpa dosa. Anane Islam lan kapir sapa kang gawe, kajaba mung siji Gusti Allah piyambak. Wong ganti agama iku ora kêna dipêksa yen durung mêtu saka karêpe dhewe. Wong kang nyungkêmi agamane nganti mati isih nggoceki tekade iku utama. Yen Gusti Allah wis marêngake, ora susah ngango dikon, wis mêsthi salin dhewe ngrasuk agama Islam. Gusti Allah kang sipat rahman, ora dhawuh lan ora malangi marang wong kang salin agama. Kabeh iki sasênênge dhewe-dhewe. Gusti Allah ora niksa wong kapir kang ora luput, sarta ora paring ganjaran marang wong Islam kang tumindak ora bênêr, mung bênêr karo lupute sing diadili nganggo têtêping adil, lalar-lulurên asalmu, ibumu Putri Cêmpa nyêmbah pikkong, wujud dluwang utawa rêja watu. Kowe ora kêna sêngit mênyang wong kang agama Buddha, tandha mripatmu iku lapisan, mula blero pandêlêngmu, ora ngrêti marang kang bênêr lan kang luput, jarene anake Sang Prabu, têka kolu marang bapa, kêduga ngrusak ora nganggo prakara, beda matane wong Jawa, Jawa Jawi ngrêti matane mung siji, dadi wêruh ing bênêr lan luput, wêruh kang bêcik lan kang ala, mêsthi wêdi mênyang bapa, kapindhone Ratu lan kang aweh nugraha, iku wajib dibêkteni. Eklasing ati bêkti bapa, ora bêkti wong kapir, amarga wis wajibe manusa bêkti marang wong tuwane. Kowe tak-dongengi, wong Agung Kuparman, iku agamane Islam, duwe maratuwa kapir, maratuwane gêthing marang wong Agung amarga seje agama, maratuwane tansah golek sraya bisane mantune mati, ewadene Wong Agung tansah wêdi-asih lang ngaji-aji, amarga iku wong tuwane, dadi ora dielingi kapire, nanging kang dielingi wong tuwane, mula Wong Agung iya ngaji-aji marang maratuwane. Iya iku êngger, kang diarani wong linuwih, ora kaya tekadmu, bapa disiya-siya, dupeh kapir Budha ora gêlêm ganti agama, iku dudu padon. Lan aku arêp takon, apa kowe wis matur marang wong tuwamu, kok-aturi salin agama? nagarane kok nganti kok-rusak iku kapriye?

    Prabu Jimbun matur, yen durung ngaturi salin agama, têkane Majapahit banjur ngêpung nagara bae.

    Nyai Agêng Ngampel gumujêng karo ngandika: “Tindakmu iku saya luput bangêt, sanadyan para Nadi dhek jaman kuna, ênggone padha wani mungsuh wong tuwane, iku amarga sabên dinane wis ngaturi santun agama, nanging ora karsa, mangka sabên dinane wis diaturi mujijade, kang nandhakake yen kudu wis santun agama Islam, ananging atur mau ora dipanggalih, isih nglêstarekake agamane lawas, mula iya banjur dimungsuh. Lamun mangkono tumindake, sanadyan mungsuh wong tuwa, lair batine ora luput. Barêng wong kang kaya kowe, mujijadmu apa? Yen nyata Khalifatu’llah wênang nyalini agama lah coba wêtokna mujijadmu tak-tontone”.

    Prabu Jimbun matur yen ora kagungan mujijad apa-apa, mung manut unine buku, jare yen ngislamake wong kapir iku ing besuk oleh ganjaran swarga.

    Nyai Agêng Ngampel gumujêng nanging wêwah dukane. Ujar-jare bae kok disungkêmi, tur dudu bukuning lêluhur, wong ngumbara kok diturut rêmbuge, sing nglakoni rusak ya kowe dhewe, iku tandha yen isih mêntah kawruhmu, durung wani marang wong tuwa, saka kêpenginmu jumênêng Nata, kasusuhane ora dipikir. Kowe kuwi dudu santri ahli budi, mung ngêndêlake ikêt putih, nanging putihe kuntul, sing putih mung ing jaba, ing jêro abang, nalika eyangmu isih sugêng, kowe tau matur yen arêp ngrusak Majapahit, eyangmu ora parêng, malah manti-manti aja nganti mungsuh wong tuwa, saiki eyangmu wis seda, wêwalêre kok-trajang, kowe ora wêdi papacuhe. Yen kowe njaluk idi marang aku, prakara têtêpmu dadi Ratu tanah Jawa, aku ora wênang ngideni, aku bangsa cilik tur wong wadon, mêngko rak buwana balik arane, awit kowe sing mêsthine paring idi marang aku, amarga kowe Khalifatu’llah sajroning tanah Jawa, mung kowe dhewe sing tuwa, saucapmu idu gêni, yen aku tuwa tiwas, yen kowe têtêp tuwa Ratu”.

    Banjure pangandikane Nyai Agêng Ngampel: “Putu! kowe tak-dongengi kupiya patang prakara, ing kitab hikayat wis muni, carita tanah Mêsir, panjênêngane Kanjêng Nabi Dhawud, putrane anggege kapraboning rama, Nabi Dhawud nganti kengsêr saka nagara, putrane banjur sumilih jumênêng Nata, ora lawas Nabi Dhawud sagêd wangsul ngrêbut nagarane. Putrane nunggang jaran mlayu mênyang alas, jarane ambandhang kêcanthol-canthol kayu, nganthi pothol gumantung ana ing kayu, iya iku kang diarani kukuming Allah. Ana maneh caritane Sang Prabu Dewata-cêngkar, iku iya anggege kapraboning rama, nanging banjur disotake dening ingkang rama banjur dadi buta, sabên dina mangsa jalma, ora suwe antarane, ana Brahmana saka tanah sabrang angajawa, aran Aji Saka, anggêlarake panguwasa sulap ana ing tanah Jawa. Wong Jawa akeh kang padha asih marang Aji Saka, gêthing marang Dewatacêngkar, Ajisaka diangkat dadi Raja, Dewatacêngkar dipêrangi nganti kêplayu, ambyur ing sagara, dadi bajul, ora antara suwe banjur mati. Ana maneh caritane nagara Lokapala uga mangkono, Sang Prabu Danaraja wani karo ingkang rama, kukume iya isih tumindak kaya kang tak-caritakake mau, kabeh padha nêmu sangsara. Apa maneh kaya kowe, mungsuh bapa kang tanpa prakara, kowe mêsthi cilaka, patimu iya mlêbu mênyang yomani, kang mangkono iku kukume Allah”.

    Sang Prabu Jimbun mirêng pangandikane ingkang eyang, panggalihe rumasa kêduwung bangêt, nanging wis ora kêna dibalekake.

    Nyai Agêng Ngampel isih nêrusake pangandikane: “Kowe kuwi dilêbokake ing loropan dening para ngulama lan para Bupati, mung kowe kok gêlêm nglakoni, sing nglakoni cilaka rak iya mung kowe dhewe, tur kelangan bapa, salawase urip jênêngmu ala, bisa mênang pêrang nanging mungsuh bapa Aji, iku kowe mrêtobata marang Kang Maha Kuwasa, kiraku ora bakal oleh pangapura, sapisan mungsuh bapa, kapindho murtat ing Ratu, kaping têlune ngrusak kabêcikan apa dene ngrusak prajane tanpa prakara. Adipati Pranaraga lan Adipati Pêngging masa trimaa rusaking Majapahit, mêsthine labuh marang bapa, iku bae wis abot sanggane”. Nyai Agêng akeh-akeh pangandikane marang Prabu Jimbun. Sawise Sang Prabu dipangandikani, banjur didhawuhi kondur mênyang Dêmak, sarta didhawuhi nglari lolose ingkang rama, yen wis kêtêmu diaturana kondur mênyang Majapahit, lan aturana mampir ing Ngampelgadhing, nanging yen ora kêrsa, aja dipêksa, amarga yen nganti duka mangka banjur nyupatani, mêsthi mandi.

    Sang Prabu Jimbun sarawuhe ing Dêmak, para wadya padha sênêng-sênêng lan suka-suka nutug, para santri padha trêbangan lan dhêdhikiran, padha angucap sukur lan bungah bangêt dene Sang Prabu wis kondur sarta bisa mênang pêrange.

    Sunan Benang mêthukake kondure Sang Prabu Jimbun, Sang Nata banjur matur marang Sunan Benang yen Majapahit wis kêlakon bêdhah, layang-layang Buddha iya wis diobongi kabeh, sarta ngaturake yen ingkang rama lan Raden Gugur lolos, Patih Majapahit mati ana samadyaning papêrangan, Putri Cêmpa wis diaturi ngungsi mênyang Benang, wadya Majapahit sing wis têluk banjur padha dikon Islam.

    Sunan Benang mirêngake ature Sang Prabu Jimbun, gumujêng karo manthuk-manthuk, sarta ngandika yen wis cocog karo panawange.

    Sang Prabu matur, yen kondure uga mampir ing Ngampeldênta, sowan ingkang eyang Nyai Agêng Ngampel, ngaturake yen mêntas saka Majapahit, sarta nyuwun idi ênggone jumênêng Nata, nanging ana ing Ngampel malah didukani sarta diuman-uman, ênggone ora ngrêti marang kabêcikane Sang Prabu Brawijaya, nanging sawise, banjur didhawuhi ngupaya ingkang rama, apa sapangandikane Nyai Agêng Ngampel diaturake kabeh marang Sunan Benang.

    Sunan Benang sawise mirêngake ature Sang Nata ing batos iya kêduwung, rumaos lupute, dene ora ngelingi marang kabêcikane Sang Prabu Brawijaya. Nanging rasa kang mangkono mau banjur dislamur ing pangandika, samudanane nyalahake Sang Prabu Brawijaya lan Patih, ênggone ora karsa salin agama Islam.

    Sunan Benang banjur ngandika, yen dhawuhe Nyai Agêng Ngampel ora pêrlu dipanggalih, amarga panimbange wanita iku mêsthi kurang sampurna, luwih bêcik ênggone ngrusak Majapahit dibanjurake, yen Prabu Jimbun mituhu dhawuhe Nyai Ngampeldênta, Sunan Benang arêp kondur mênyang ‘Arab, wusana Prabu Jimbun banjur matur marang Sunan Benang, yen ora nglakoni dhawuhe Nyai Ngampel, mêsthine bakal oleh sabda kang ora bêcik, mula iya wêdi.

    Sunan Benang paring dhawuh marang Sang Prabu, yen ingkang rama mêksa kondur mênyang Majapahit, Sang Prabu didhawuhi sowan nyuwun pangapura kabeh kaluputane, dene yen arêp ngaturi jumênêng Nata maneh, aja ana ing tanah Jawa, amarga mêsthi bakal ngribêdi lakune wong kang padha arêp salin agama Islam, supaya dijumênêngake ana seje nagara ing sajabaning tanah Jawa.

    Sunan Giri banjur nyambungi pangandika, mungguh prayoganing laku supaya ora ngrusakake bala, Sang Prabu Brawijaya sarta putrane bêcik ditênung bae, awit yen mateni wong kapir ora ana dosane.

    Sunan Benang sarta Prabu Jimbun wis nayogyani panêmune Sunan Giri kang mangkono mau.

    Gênti kang cinarita, tindake Sunan kalijaga ênggone ngupaya Sang Prabu Brawijaya, mung didherekake sakabat loro lakune kêlunta-lunta, sabên desa diampiri, saka ênggone ngupaya warta. Lampahe Sunan Kalijaga turut pasisir wetan, sing kalangkungan tindake Sang Prabu Brawijaya.

    Lampahe Sang Prabu Brawijaya wis têkan ing Blambangan, sarehne wis kraos sayah banjur kendêl ana sapinggiring beji. Ing wêktu iku panggalihe Sang Prabu pêtêng bangêt, dene sing marak ana ngarsane mung kêkasih loro, iya iku Nayagenggong lan Sabdapalon, abdi loro mau tansah gêguyon, lan padha mikir kahaning lêlakon kang mêntas dilakoni, ora antara suwe kêsaru sowanne Sunan Kalijaga, banjur ngabêkti sumungkêm padane Sang Prabu.

    Sang Prabu banjur ndangu marang Sunan Kalijaga: “Sahid! Kowe têka ana apa? Apa prêlune nututi aku?”

    Sunan Kalijaga matur: “Sowan kula punika kautus putra paduka, madosi panjênêngan paduka, kapanggiha wontên ing pundi-pundi, sêmbah sungkêmipun konjuka ing pada paduka Aji, nuwun pangaksama sadaya kasisipanipun, dene ngantos kamipurun ngrêbat kaprabon paduka Nata, awit saking kalimputing manah mudha punggung, botên sumêrêp tata krami, sangêt kapenginipun mêngku praja angreh wadyabala, sineba ing para bupati. Samangke putra paduka rumaos ing kalêpatanipun, dene darbe bapa Ratu Agung ingkang anyêngkakakên saking ngandhap aparing darajat Adipati ing Dêmak, tangeh malêsa ing sih paduka Nata, ing mangke putra paduka emut, bilih panjênêngan paduka linggar saking praja botên kantênan dunungipun, punika putra paduka rumaos yen mêsthi manggih dêdukaning Pangeran. Mila kawula dinuta madosi panjênêngan paduka, kapanggiha wontên ing pundi-pundi ingaturan kondur rawuh ing Majapahit, têtêpa kados ingkang wau-wau, mêngku wadya sineba para punggawa, aweta dados jêjimat pinundhi-pundhi para putra wayah buyut miwah para santana, kinurmatan sinuwunan idi wilujêngipun wontên ing bumi. Manawi paduka kondur, putra paduka pasrah kaprabon paduka Nata, putra paduka nyaosakên pêjah gêsang, yen kaparêng saking karsa paduka, namung nyuwun pangaksama paduka, sadayaning kalêpatanipun, lan nyuwun pangkatipun lami dados Adipati ing Dêmak, têtêpa kados ingkang sampun. Dene yen panjênêngan paduka botên karsa ngasta kaprabon Nata, sinaosan kadhaton wontên ing rêdi, ing pundi sasênênging panggalih paduka, ing rêdi ingkang karsakakên badhe dipundhêpoki, putra paduka nyaosi busana lan dhahar paduka, nanging nyuwun pusaka Karaton ing tanah Jawa, dipunsuwun ingkang rila têrusing panggalih”.

    Sang Prabu Brawijaya ngandika: “Ingsun-rungu aturira, Sahid! nanging ora ingsun-gatekake, karana ingsun wis kapok rêmbugan karo santri padha nganggo mata pitu, padha mata lapisan kabeh, mula blero pandulune, mawas ing ngarêp nanging jêbul anjênggung ing buri, rêmbuge mung manis ana ing lambe, batine angandhut pasir kinapyukake ing mata, murih picêka mataku siji. Sakawit ingsun bêciki, walêse kaya kênyung buntut, apa ta salah-ingsun, têka rinusak tanpa prakara, tinggal tata adat caraning manusa, mukul pêrang tanpa panantang, iku apa nganggo tataning babi, dadi dudu tataning manusa
    kang utama”.

    Sunan Kalijaga barêng ngrungu pangandikane Sang Prabu rumasa ing kaluputane ênggone melu mbêdhah karaton Majapahit, ing batin bangêt panalangsane, dene kadudon kang wis kêbanjur, mula banjur ngrêrêpa, ature: “Inggih saduka-duka paduka ingkang dhumawa dhatêng putra wayah, mugi dadosa jimat paripih, kacancang pucuking rema, kapêtêk wontên ing êmbun, mandar amêwahana cahya nurbuwat ingkang wêning, rahayunipun para putra wayah sadaya. Sarehning sampun kalêpatan, punapa malih ingkang sinuwun malih, kajawi namung pangapuntên paduka. wangsul karsa paduka karsa tindak dhatêng pundi?”

    Sang Prabu Brawijaya ngandika: “Saiki karsaningsun arsa tindak mênyang Bali, kêtêmu karo yayi Prabu Dewa agung ing Kêlungkung, arsa ingsun-wartani pratingkahe si Patah, sikara wong tuwa kang tanpa dosa, lan arsa ingsun-kon nimbali para Raja kanan kering tanah jawa, samêkta sakapraboning pêrang, lan Adipati Palembang sun-wehi wêruh, yen anake karo pisan satêkane tanah Jawa sun-angkat dadi Bupati, nanging ora wêruh ing dalan, banjur wani mungsuh bapa Ratu, sun-jaluk lilane anake arêp ingsun pateni, sabab murtat wani ing bapa kapindhone Ratu, lan ingsun arsa angsung wikan marang Hongte ing Cina, yen putrane wis patutan karo ingsun mêtu lanang siji, ananging ora wêruh ing dalan, wani mungsuh bapa ratu, iya ingsun-jaluk lilane, yen putune arsa ingsun-pateni, ingsun njaluk biyantu prajurit Cina, samêkta sakapraboning pêrang, njujuga nagari Bali. Yen wis samêkta sawadya prajurit, sarta padha eling marang lêlabêtan kabêcikaningsun, lan duwe wêlas marang wong wungkuk kaki-kaki, yêkti padha têka ing Bali sagêgamaning pêrang, sun-jak marang tanah Jawa angrêbut kapraboningsun, iya sanadyan pêrang gêdhe gêgêmpuran amungsuh anak, ingsun ora isin, awit ingsun ora ngawiti ala, aninggal carane wong agung.”

    Sunan Kalijaga ngrungu dhawuhe Sang Prabu kang mangkono iku ing sanalika mung dhêlêg-dhêlêg, ngandika sajroning ati: “Tan cidra karo dhawuhe Nyai Agêng Ngampelgadhing, yen eyang wungkuk isih mbrêgagah nggagahi nagara, ora nyawang wujuding dhiri, kulit kisut gêgêr wungkuk. Lamun iki ngantiya nyabrang marang Bali, ora wurung bakal ana pêrang gêdhe tur wadya ing Dêmak masa mênanga, amarga katindhihan luput, mungsuh ratu pindho bapa, kaping têlune kang mbêciki, wis mêsthi bae wong Jawa kang durung Islam yêkti asih marang Ratu tuwa, angantêp tangkêping jurit, mêsthi asor wong Islam tumpês ing pêpêrangan.”

    Wusana Sunan Kalijaga matur alon: “Dhuh pukulun Jêng Sang Prabu! saupami paduka lajêngna rawuh ing bali, nimbali para Raja, saestu badhe pêrang gêgêmpuran, punapa botên ngeman risakipun nagari Jawi, sampun tamtu putra paduka ingkang badhe nêmahi kasoran, panjênêngan paduka jumênêng Nata botên lami lajêng surud, kaprabon Jawi kaliya ing sanes darah paduka Nata, saupami kados dene sêgawon rêbatan bathang, ingkang kêrah tulus kêrah têtumpêsan sami pêjah sadaya daging lan manah kathêda ing sêgawon sanesipun”.

    Sang prabu Brawijaya ngandika: “Mungguh kang mangkono iki luwih-luwih karsane Dewa Kang Linuwih, ingsun iki Ratu Binathara, nêtêpi mripat siji, ora nganggo mata loro, mung siji marang bênêr paningalku, kang miturut adat pranatane para lêluhur. Saupama si Patah ngrasa duwe bapa ingsun, kêpengin dadi Ratu, disuwun krananing bêcik, karaton ing tanah Jawa, iya sun-paringake krana bêcik, ingsun wis kaki-kaki, wis warêg jumênêng Ratu, nrima dadi pandhita, pitêkur ana ing gunung. Balik samêngko si Patah siya mring sun, mêsthine-ingsun iya ora lila ing tanah Jawa diratoni, luwih karsaning Jawata Gung, pamintane marang para titah ing wuri.”

    Sunan Kalijaga barêng mirêng pangandikane Sang Prabu, rumasa ora kaconggah ngaturi, mula banjur nyungkêmi pada, sarta banjur nyaosake cundrike karo matur, yen Sang Prabu ora karsa nglampahi kaya ature Sunan Kalijaga, Sunan Kalijaga nyuwun supaya dipateni bae, amarga lingsêm manawa mêruhi lêlakon kang saru.

    Sang Prabu nguningani patrape Sunan kalijaga kang mangkono mau, panggalihe kanggêg, mula nganti suwe ora ngandika tansah têbah jaja karo nênggak waspa, sêrêt pangandikane: “Sahid! linggiha dhisik, tak-pikire sing bêcik, tak-timbange aturmu, bênêr lan lupute, têmên lan gorohe, amarga aku kuwatir yen aturmu iku goroh kabeh. Sumurupa Sahid! saupama aku kondur marang Majapahit, si Patah seba mênyang aku, gêthinge ora bisa mari, amarga duwe bapa Buddha kawak kapir kupur, liya dina lali, aku banjur dicêkêl dibiri, dikon tunggu lawang pungkuran, esuk sore diprêdi sêmbahyang, yen ora ngrêti banjur diguyang ana ing blumbang dikosoki alang-alang garing.”

    Sang Prabu mbanjurake pangandikane marang Sunan Kalijaga:
    “Mara pikirên, Sahid! saiba susahing atiku, wong wis tuwa, nyêkrukuk, kok dikum ing banyu”.

    Sunan Kalijaga gumujêng karo matur: “Mokal manawi makatên, benjing kula ingkang tanggêl, botên-botênipun manawi putra paduka badhe siya-siya dhatêng panjênêngan paduka, dene bab agami namung kasarah sakarsa paduka, namung langkung utami manawi panjênêngan paduka karsa gantos sarak rasul, lajêng nyêbut asmaning Allah, manawi botên karsa punika botên dados punapa, tiyang namung bab agami, pikêkahipun tiyang Islam punika sahadat, sanadyan salat dhingklak-dhingkluk manawi dereng mangrêtos sahadat punika inggih têtêp nama kapir”.

    Sang Prabu ngandika: “Sahadat iku kaya apa, aku kok durung ngrêti, coba ucapna tak-rungokne”.

    Sunan kalijaga banjur ngucapake sahadat: ashadu ala ilaha ila’llah, wa ashadu anna Mukhammadar-Rasulu’llah, têgêsipun: Ingsung anêkseni, ora ana Pangeran kang sajati, amung Allah, lan anêkseni, Kangjêng Nabi Mukhammad iku utusane Allah”.

    Ature Sunan Kalijaga marang Sang Prabu: “Tiyang nêmbah dhatêng arah kemawon, botên sumêrêp wujud têgêsipun, punika têtêp kapiripun, lan malih sintên tiyang ingkang nêmbah puji ingkang sipat wujud warni, punika nêmbah brahala namanipun, mila tiyang punika prêlu mangrêtos dhatêng lair lan batosipun. Tiyang ngucap punika kêdah sumêrêp dhatêng ingkang dipunucapakên, dene têgêsipun Nabi Mukhammad Rasula’llah: Mukhammad punika makam kuburan, dados badanipun tiyang punika kuburipun rasa sakalir, muji badanipun piyambak, botên muji Mukhammad ing ‘Arab, raganipun manusa punika wêwayanganing Dzating Pangeran, wujud makam kubur rasa, Rasul rasa kang nusuli, rasa pangan manjing lesan, Rasule minggah swarga, lu’llah, luluh dados êndhut, kasêbut Rasulu’llah punika rasa ala ganda salah, riningkês dados satunggal Mukhammad Rasula’llah, kang dhingin wêruh badan, kaping kalih wêruh ing têdhi, wajibipun manusa mangeran rasa, rasa lan têdhi dados nyêbut Mukhammad rasulu’llah, mila sêmbahyang mungêl “uzali” punika têgêsipun nyumêrêpi asalipun. Dene raganipun manusa punika asalipun saking roh idlafi, rohipun Mukhammad Rasul, têgêsipun Rasul rasa, wijile rasaning urip, mêdal saking badan kang mênga, lantaran ashadualla, manawi botên mêngrêtos têgêsipun sahadat, botên sumêrêp rukun Islam, botên mangrêtos purwaning dumados”.

    Sunan kalijaga ature akeh-akeh, nganti Prabu Brawijaya karsa santun agama Islam, sawise banjur mundhut paras marang Sunan Kalijaga nanging remane ora têdhas digunting, mulane Sunan Kalijaga banjur matur, Sang Prabu diaturi Islam lair batos, amarga yen mung lair bae, remane ora têdhas digunting. Sang Prabu banjur ngandika yen wis lair batos, mulane kêna diparasi.

    Sang Prabu sawise paras banjur ngandika marang Sabdapalon lan Nayagenggong: “Kowe karo pisan tak-tuturi, wiwit dina iki aku ninggal agama Buddha, ngrasuk agama Islam, banjur nyêbut asmaning Allah Kang Sajati. Saka karsaku, kowe sakarone tak-ajak salin agama Rasul tinggal agama Buddha.”

    Sabdapalon ature sêndhu: “Kula niki Ratu Dhang Hyang sing rumêksa tanah Jawa. Sintên ingkang jumênêng Nata, dados momongan kula. Wiwit saking lêluhur paduka rumiyin, Sang Wiku Manumanasa, Sakutrêm lan Bambang Sakri, run-tumurun ngantos dumugi sapriki, kula momong pikukuh lajêr Jawi, kula manawi tilêm ngantos 200 taun, sadangunipun kula tilêm tamtu wontên pêpêrangan sadherek mêngsah sami sadherek, ingkang nakal sami nêdha jalma, sami nêdha bangsanipun piyambak, dumugi sapriki umur-kula sampun 2000 langkung 3 taun, momong lajêr Jawi, botên wontên ingkang ewah agamanipun, nêtêpi wiwit sapisan ngestokakên agami Buddha. Sawêg paduka ingkang karsa nilar pikukuh luhur Jawi. Jawi têgêsipun ngrêti, têka narimah nama Jawan, rêmên manut nunut-nunut, pamrihipun damêl kapiran muksa paduka mbenjing.”

    Sabdane Wiku tama sinauran gêtêr-patêr.

    Sang Prabu Brawijaya sinêmonan dening Jawata, ênggone karsa mlêbêt agama Rasul, iya iku rêrupan kahanan ing dunya ditambahi warna têlu: 1: aran sukêt Jawan, 2: pari Randanunut, lan 3: pari Mriyi.

    Sang Prabu andangu maneh: “Kapriye kang padha dadi kêkêncênganmu, apa gêlêm apa ora ninggal agama Buddha, salin agama Rasul, nyêbut Nabi Mukhammad Rasula’llah panutaning para Nabi, lan nyêbut asmaning Allah Kang Sajati?”

    Sabdapalon ature sêndhu: “Paduka mlêbêt piyambak, kula botên têgêl ningali watak siya, kados tiyang ‘Arab. Siya punika têgêsipun ngukum, tur siya dhatêng raga, manawi kula santun agami, saestu damêl kapiran kamuksan-kula, ing benjing, dene ingkang mastani mulya punika rak tiyang ‘Arab sarta tiyang Islam sadaya, anggenipun ngalêm badanipun piyambak. Manawi kula, mastani botên urus, ngalêm saening tangga, ngapêsakên badanipun piyambak, kula rêmên agami lami, nyêbut Dewa Ingkang Linangkung.

    Jagad punika raganipun Dewa ingkang asipat budi lan hawa, sampun dados wajibipun manusa punika manut dhatêng eling budi karêpan, dados botên ngapirani, manawi nyêbut Nabi Mukhammad Rasulu’llah, têgêse Mukhammad niku makaman kubur, kubure rasa kang salah, namung mangeran rasa wadhag wadhahing êndhut, namung tansah nêdha eca, botên ngengêti bilahinipun ing wingking, mila nami Mukhammad inggih makaman kuburan sakalir, roh idlafi têgêsipun lapisan, manawi sampun risak wangsul dhatêng asalipun malih. Wangsul Prabu Brawijaya lajêng manggen wontên pundi. Adam punika muntêl kaliyan Hyang Brahim, têgêsipun kêbrahen nalika gêsangipun, botên manggih raos ingkang saestu, nanging tangining raos wujud badan, dipunwastani Mukhammadun, makaman kuburing rasa, jasanipun budi, dados sipatipun tiyang lan raos. Manawi dipunpundhut ingkang Mahakuwasa, sarira paduka sipate tiyang wujud dados, punika dadosipun piyambak, lantaranipun ngabên awon, bapa biyung botên damêl, mila dipunwastani anak, wontênipun wujud piyambak, dadosipun saking gaib samar, saking karsaning Latawalhujwa, ingkang nglimputi wujud, wujudipun piyambak, risak-risakipun piyambak, manawi dipunpundhut dening Ingkang Maha Kuwasa, namung kantun rumaos lan pangraos ingkang paduka-bêkta dhatêng pundi kemawon, manawi dados dhêmit ingkang têngga siti, makatên punika ingkang nistha, namung prêlu nênggani daging bacin ingkang sampun luluh dados siti, makatên wau têtêp botên wontên prêlunipun. Ingkang makatên punika amargi namung saking kirang budi kawruhipun, kala gêsangipun dereng nêdha woh wit kawruh lan woh wit budi, nrimah pêjah dados setan, nêdha siti ngajêng-ajêng tiyang ngirim sajen tuwin slamêtanipun, ing têmbe tilar mujijat rakhmat nyukani kiyamat dhatêng anak putunipun ingkang kantun. Tiyang pêjah botên kêbawah pranataning Ratu ing lair, sampun mêsthi sukma pisah kaliyan budi, manawi tekadipun sae inggih nampeni kamulyan, nanging manawi tekadipun awon inggih nampeni iksanipun. Cobi paduka-jawab atur-kula punika”.

    Sang Prabu ngandika: “Mulih marang asale, asal Nur bali marang Nur”.

    Sabdapalon matur maneh: “Inggih punika kawruhipun tiyang bingung gêsangipun rugi, botên gadhah kawruh kaengêtan, dereng nêdha woh kawruh lan budi, asal siji mantuk satunggal, punika sanes pêjah ingkang utami, dene pêjah ingkang utami punika sewu satus têlung puluh. Têgêsipun satus punika putus, têlu punika tilas, puluh punika pulih, wujud malih, wujudipun risak, nanging ingkang risak namung ingkang asal saking roh idlafi. Uripipun langgêng namung raga pisah kaliyan sukma, inggih punika sahadat ingkang botên mawi ashadu, gantos roh idlafi lapisan: sasi surup mêsthi saking pundi asalipun wiwit dados jalmi. Surup têgêsipun: sumurup purwa madya wasananipun, nêtêpana namane tiyang lumampah, sampun ebah saking prênahipun mlêbêt mbêkta sir cipta lami”.

    Sang Prabu ngandika: “Ciptaku nempel wong kang luwih”. Sabdapalon matur: “Punika tiyang kêsasar, kados dene kêmladeyan tumemplek wit-witan agêng, botên bawa piyambak, kamuktenipun namung nêmpil. Punika botên pêjah utami, pêjahipun tiyang nistha, rêmênipun namung nempel, nunut-nunut, botên bawa piyambak, manawi dipuntundhung, lajêng klambrangan, dados brêkasakan, lajêng nempel dhatêng sanesipun malih”.

    Sang Prabu ngandika maneh: “Asal suwung aku bali, mênyang suwung, nalika aku durung maujud iya durung ana apa-apa, dadi patiku iya mangkono”.

    Sabdapalon: “Punika pêjahipun tiyang kalap nglawong, botên iman ‘ilmi, nalika gêsangipun kados kewan, namung nêdha ngombe lan tilêm, makatên punika namung sagêd lêma sugih daging, dados nama sampun narimah ngombe uyuh kemawon, ical gêsangipun salêbêtipun pêjah”.

    Sang Prabu: “Aku nunggoni makaman kubur, yen wis luluh dadi lêbu”.

    Sabdapalon: “Inggih punika pêjahipun tiyang cubluk, dados setan kuburan, nênggani daging wontên kuburan, daging ingkang sampun luluh dados siti, botên mangrêtos santun roh hidlafi enggal. Inggih punika tiyang bodho mangrêtosa. Nun!”

    Sang Prabu ngandika: “Aku arêp muksa saragaku”.

    Sabdapalon gumuyu: “Yen tiyang agami Rasul têrang botên sagêd muksa, botên kuwawi ngringkês nguntal raganipun, lêma kakathahên daging. Tiyang pêjah muksa punika cêlaka, amargi nami pêjah, nanging botên tilar jisim, namanipun botên sahadat, botên pêjah, botên gêsang, botên sagêd dados roh idlafi enggal, namung dados gunungan dhêmit”.

    Pangandikane Sang Prabu: “Aku ora duwe cipta apa-apa, ora ikhtiar nampik milih, sakarsane Kang Maha Kuwasa”.

    Sabdapalon: “Paduka nilar sipat, botên ngrumaosi yen tinitah linangkung, nilar wajibing manusa, manusa dipunwênangakên nampik milih, manawi sampun narimah dados sela, sampun botên prêlu pados ‘ilmi kamulyaning seda”.

    Sang Prabu: “Ciptaku arêp mulih mênyang akhirat, munggah swarga seba Kang maha Kuwasa”.

    Sabdapalon matur: “Akhirat, swarga, sampun paduka-bêkta ngaler ngidul, jagadipun manusa punika sampun mêngku ‘alam sahir kabir, nalika tapêl Adam, sampun pêpak: akhirat, swarga, naraka ‘arasy kursi. Paduka badhe tindak dhatêng akhirat pundi, mangke manawi kêsasar lo, mangka ênggene akhirat punika têgêse mlarat, saênggen-ênggen wontên akhirat, manawi kenging kula-singkiri, sampun ngantos kula mantuk dhatêng kamlaratan sarta minggah dhatêng akhirat adil nagari, manawi lêpat jawabipun tamtu dipunukum, dipunbanda, dipunpaksa nyambut damêl awrat tur botên tampa arta. Klêbêt akhirat nusa Srênggi, nusa têgêsipun manusa, Srêng têgêsipun padamêlan ingkang awrat sangêt. Ênggi têgêsipun gawe. Dados têgêsipun jalma pinêksa nyambut damêl dhatêng Ratu Nusa Srênggi namanipun, punapa botên cilaka, tiyang gêsang wontên ing dunya kados makatên wau, sakulawargane mung nadhah bêras sapithi, tanpa ulam, sambêl, jangan punika akhirat ingkang katingal tata lair, manawi akhiratipun tiyang pêjah malah langkung saking punika, paduka sampun ngantos kondur dhatêng akhirat, sampun ngantos minggah dhatêng swarga, mindhak kêsasar, kathah rajakaya ingkang wontên ing ngriku, sadaya sami trima tilêm kêmul siti, gêsangipun nyambut damêl kanthi paksan, botên salah dipunpragat, paduka sampun ngantos sowan Gusti Allah, amargi Gusti Allah punika botên kantha botên warna, wujudipun amung asma, nglimputi wontên ing dunya tuwin ing akhirat, paduka dereng têpang, têpangipun amung têpang kados cahyanipun lintang lan rêmbulan, kapanggihe cahya murub dados satunggal, botên pisah botên kumpul, têbihipun botên mawi wangênan, cêlak botên panggihan, kula botên kuwawi cêlak, punapa malih paduka, Kangjêng Nabi Musa toh botên kuwawi mandêng dhatêng Gusti Allah, mila Allah botên katingal, namung Dzatipun ingkang nglimputi sadaya wujud, paduka wiji rohani, sanes bangsanipun malaekat, manusa raganipun asal saking nutfah, sowan Hyang Latawalhujwa, manawi panggenanipun sampun sêpuh, nyuwun ingkang enggal, dados botên wongsal-wangsul, ingkang dipunwastani pêjah gêsang, ingkang gêsang napasipun taksih lumampah, têgêsipun urip, ingkang têtêp langgêng, botên ewah botên gingsir, ingkang pêjah namung raganipun, botên ngraosakên kanikmatan, pramila tumrap tiyang agami Buddha, manawi raganipun sampun sêpuh, suksmanipun mêdal nyuwun gantos ingkang sae, nglangkungi ingkang sampun sêpuh, nutfah sampun ngantos ebah saking jagadipun, jagadipun manusa punika langgêng, botên ewah gingsir, ingkang ewah punika makaming raos, raga wadhag ingkang asal roh idlafi.

    Prabu Brawijaya botên anem botên sêpuh, nanging langgêng manggen wontên satêngahipun jagadipun, lumampah botên ebah saking panggenanipun, wontên salêbêting guwa sir cipta kang êning. Gawanên gêgawanmu, ngGêgawa nêdha raga. Tulis ical, etangan gunggunge: kumpul, plêsatipun wêtaha. Ningali jantung kêtêg kiwa: surut marga sire cipta, jujugipun ingkang cêtha cêthik cêthak. Punika pungkasanipun kawruh, kawruhipun tiyang Buddha. Lêbêtipun roh saking cêthak marginipun, kendêl malih wontên cêthik, mêdal wontên kalamwadi, kentir sagara rahmat lajêng lumêbêt ing guwa indra-kilaning estri, tibaning nikmat ing dhasaring bumi rahmat, wontên ing ngriku ki budi jasa kadhaton baitu’llah ingkang mulya, dadosipun saking sabda kun, dados wontên têngahing jagad swarganing tiyang sêpuh estri, mila jalma keblatipun wontên têngahing jagad, jagading tiyang punika guwa sir cipta namanipun, dipunbêkta dhatêng pundi- pundi botên ewah, umuripun sampun dipunpasthekakên, botên sagêd ewah gingsir, sampun dipunsêrat wontên lokhil-makful, bêgja cilakanipun gumantung wontên ing budi nalar lan kawruhipun, ingkang ical utawi kirang ikhtiaripun inggih badhe ical utawi kirang bêgjanipun. Wiwitanipun keblat sakawan, inggih punika wetan kilen kidul ler : têgêsipun wetan : wiwitan manusa maujud; têgêsipun kulon :
    bapa kêlonan; têgêsipun kidul : estri didudul wêtênge ing têngah; têgêsipun lor : laire jabang bayi, tanggal sapisan kapurnaman, sênteg sapisan tênunan sampun nigasi. Têgêsipun pur: jumbuh, na; ana wujud, ma; madhêp dhatêng wujud; jumbuh punika têgêsipun pêpak, sarwa wontên, mêngku alam sahir kabir, tanggalipun manusa, lairipun saking tiyang sêpuhipun estri, sarêng tanggalipun kaliyan sadherekipun kakang mbarêp adhi ragil, kakang mbarêp punika kawah, adhi punika ari-ari, sadherek ingkang sarêng tanggal gaibipun, rumêksa gêsangipun elingipun panjanmaning surya, lênggah rupa cahya, kontêning eling sadayanipun, siyang dalu sampun sumêlang dhatêng sadaya rêrupen, ingkang engêt sadayanipun, surup lan tanggalipun sampun samar : kala rumiyin, sapunika lan benjing, punika kawruhipun tiyang Jawi ingkang agami Buddha. Raga punika dipunibaratakên baita, dene suksmanipun inggih punika tiyang ingkang wontên ing baita wau, ingkang nêdahakên pandomipun, manawi baitanipun lumampah mangka salah pandomipun, tamtu manggih cilaka, baita pêcah, tiyangipun rêbah. Pramila kêdah ingkang mapan, mumpung baitanipun taksih lumampah, manawi botên mapan gêsangipun, pêjah malih sagêda mapan, nêtêpi kamanusanipun, manawi baitanipun bibrah, inggih pisah kaliyan tiyangipun; têgêsipun suksma ugi pisah kaliyan budi, punika namanipun sahadat, pisahipun kawula kaliyan Gusti, sah têgêsipun pisah, dat punika Dzating Gusti, manawi sampun pisah raga suksma, budinipun lajêng santun baitu’llah, napas tali, muji dhatêng Gusti, manawi pisaha raga suksma lan budi, mrêtitis ingkang botên-botên, yen tunggal, kabêsaran, tanggalipun botên surup salaminipun, punika kêdah ingkang waspada, ngengêtana dhatêng asaling kawula, kawula ugi wajib utawi wênang matur dhatêng Gusti, nyuwun baitu’llah ingkang enggal, ngungkulana ingkang lami. Raganing manusa punika namanipun baitu’llah, inggih prau gaweyaning Allah, dadosipun saking sabda kun, manawi baitanipun tiyang Jawi sagêd mapan santun baitu’llah malih ingkang sae, baitanipun tiyang Islam gêsangipun kantun pangrasa, praunipun sampun rêmuk, manawi suksma punika pêjah ing ‘alam dunya suwung, botên wontên tiyang, manawi tiyang punika têrus gêsang, ing dunya kêbak manusa, lampahipun saking ênem urut sêpuh, ngantos roh lapisan, sanadyan suksmanipun tiyang, nanging manawi tekadipun nasar, pêjahipun manjalma dados kuwuk, sanadyan suksmanipun kewan, nanging sagêd manjalma dados tiyang (kajêngipun, adiling Kawasa tiyang punika pinasthi ngundhuh wohing panggawene piyambak-piyambak). Nalika panjênênganipun Bathara Wisnu jumênêng Nata wontên ing Mêndhang Kasapta, sato wana tuwin lêlêmbut dipuncipta dados manusa, dados wadya-balanipun Sang Nata. Nalika eyang paduka Prabu Palasara iyasa kadhaton wontên ing Gajahoya, sato wana tuwin lêlêmbut inggih dipuncipta dados tiyang, pramila gandanipun tiyang satunggal-satunggalipun beda-beda, gandanipun kadosdene nalika taksih dados sato kewan. Sêrat tapak Hyang, ingkang dipunwastani Sastrajendrayuningrat, dados saking sabda kun, ingkang dipunwastani jithok têgêsipun namung puji thok. Dewa ingkang damêl cahya murub nyrambahi badan, têgêsipun incêngên aneng cêngêlmu. Jiling punika puji eling marang Gusti. Punuk têgêsipun panakna. Timbangan têgêsipun salang. Pundhak punika panduk, urip wontên ing ‘alam dunya pados kawruh kaliyan woh kuldi, manawi angsal woh kuldi kathah, untungipun sugih daging, yen angsal woh kawruh kathah, kenging kangge sangu gêsang, gêsang langgêng ingkang botên sagêd pêjah. Têpak têgêsipun têpa-tapanira. Walikat: walikane gêsang. Ula-ula: ulatana, lalarên gêgêrmu sing nggligir. Sungsum têgêsipun sungsungên. Lambung: waktu Dewa nyambung umur, alamipun jalma sambungan, lali eling urip mati. Lêmpeng kiwa têngên têgêsipun tekadmu sing lêmpêng lair batin, purwa bênêr lawan luput, bêcik lawan ala. Mata têgêsipun tingalana batin siji, sing bênêr keblatira, keblat lor bênêr siji. Têngên têgêsipun têngênên ingkang têrang, wontên ing dunya amung sadarmi ngangge raga, botên damêl botên tumbas. Kiwa têgêsipun: raga iki isi hawa kêkajêngan, botên wênang ngêkahi pêjah. Makatên punika ungêling sêrat. Manawi paduka maibên, sintên ingkang damêl raga? Sintên ingkang paring nama? inggih namung Latawalhujwa, manawi paduka maibên, paduka têtêp kapir, kapiran seda paduka, botên pitados dhatêng sêratipun Gusti, sarta murtat dhatêng lêluhur Jawi sadaya, nempel tosan, kajêng sela, dados dhêmit têngga siti, manawi paduka botên sagêd maos sastra ingkang wontên ing badanipun manusa, saseda paduka manjalma dhatêng kuwuk, dene manawi sagêd sagêd maos sastra ingkang wontên ing raga wau, saking tiyang inggih dados tiyang, kasêbut ing sêrat Anbiya, Kanjêng Nabi Musa kala rumiyin tiyang ingkang pêjah wontên ing kubur, lajêng tangi malih, gêsangipun gantos roh lapis enggal, gantos makam enggal. Manawi paduka ngrasuk agami Islam, tiyang Jawi tamtu lajêng Islam sadaya. Manawi kula, wadhag alus-kula sampun kula-cakup lan kula-carub, sampun jumbuh dados satunggal, inggih nglêbêt inggih jawi, dados kantun sasêdya-kula kemawon, ngadam utawi wujud sagêd sami sanalika, manawi kula kêpengin badhe wujud, inggih punika wujud-kula, sêdya ngadam, inggih sagêd ical sami sanalika, yen sêdya maujud sagêd katingal sanalika. Raga-kawula punika sipating Dewa, badan-kawula sakojur gadhah nama piyambak-piyambak. Cobi paduka-dumuk: pundi wujudipun Sabdapalon, sampun kalingan pajar, saking pajaripun ngantos sampun botên katingal wujudipun Sabdapalon, kantun asma nglimputi badan, botên ênem botên sêpuh, botên pêjah botên gêsang, gêsangipun nglimputi salêbêting pêjahipun, dene pêjahipun nglimputi salêbêting gêsangipun, langgêng salaminipun”.

    Sang Prabu ndangu: “Ana ing ngêndi Pangeran Kang Sajati?”

    Sabdapalon matur: “Botên têbih botên cêlak, paduka wayangipun wujud sipating suksma, dipunanggêp sarira tunggal, budi hawa badan, tiga-tiga punika tumindakipun; botên pisah, nanging inggih botên kumpul. Paduka punika sampun Ratu linuhung tamtu botên badhe kêkilapan dhatêng atur-kula punika”.

    Sang Prabu ngandika maneh: “Apa kowe ora manut agama?”

    Sabdapalon ature sêndhu: “Manut agami lami, dhatêng agami enggal botên manut! Kenging punapa paduka gantos agami têka botên nantun kula, paduka punapa kêkilapan dhatêng nama kula Sabdapalon? Sabda têgêsipun pamuwus, Palon: pikukuh kandhang. Naya têgêsipun ulat, Genggong: langgêng botên ewah. Dados wicantên-kula punika, kenging kangge pikêkah ulat pasêmoning tanah Jawi, langgêng salaminipun.”

    Sang Prabu ngandika: “Kapriye iki, aku wis kêbacut mlêbu agama Islam, wis disêkseni Sahid, aku ora kêna bali agama Buddha maneh, aku wirang yen digêguyu bumi langit.” Sabdapalon matur maneh: “Inggih sampun, lakar paduka-lampahi piyambak, kula botên tumut-tumut.” Sunan Kalijaga banjur matur marang Sang Prabu, kang surasane ora prêlu manggalih kang akeh-akeh, amarga agama Islam iku mulya bangêt, sarta matur yen arêp nyipta banyu kang ana ing beji, prêlu kanggo tandha yêkti, kapriye mungguh ing gandane. Yen banyu dicipta bisa ngganda wangi, iku tandha yen Sang Prabu wis mantêp marang agama Rasul, nanging yen gandane ora wangi, iku anandhakake: yen Sang Prabu isih panggalih Buddha. Sunan Kalijaga banjur nyipta, padha sanalika banyu sêndhang banjur dadi wangi gandane, ing kono Sunan kalijaga matur marang Sang Prabu, kaya kang wiswis mantêp marang agama Rasul, amarga banyu sêndhang gandane wangi. (11)

    Ature Sabdapalon marang Sang Prabu: Punika kasêkten punapa? kasêktening uyuh-kula wingi sontên, dipunpamerakên dhatêng kula. Manawi kula timbangana nama kapilare, mêngsah uyuh-kula piyambak, ingkang kula rêbat punika? Paduka sampun kêlajêng kêlorob, karsa dados jawan, irib-iriban, rêmên manut nunut-nunut, tanpa guna kula- êmong, kula wirang dhatêng bumi langit, wirang momong tiyang cabluk, kula badhe pados momongan ingkang mripat satunggal, botên rêmên momong paduka. Manawi kula sumêdya ngêdalakên kaprawiran, toya kula-êntut sêpisan kemawon, sampun dados wangi. Manawi paduka botên pitados, kang kasêbut ing pikêkah Jawi, nama Manik Maya, punika kula, ingkang jasa kawah wedang sanginggiling rêdi rêdi Mahmeru punika sadaya kula, adi Guru namung ngideni kemawon, ing wêkdal samantên tanah Jawi sitinipun gonjang-ganjing, saking agênging latu ingkang wontên ing ngandhap siti, rêdi-rêdi sami kula êntuti, pucakipun lajêng anjêmblong, latunipun kathah ingkang mêdal, mila tanah Jawi lajêng botên goyang, mila rêdi-rêdi ingkang inggil pucakipun, sami mêdal latunipun sarta lajêng wontên kawahipun, isi wedang lan toya tawa, punika inggih kula ingkang damêl, sadaya wau atas karsanipun Latawalhujwa, ingkang damêl bumi lan langit. Punapa cacadipun agami Buddha, tiyang sagêd matur piyambak dhatêng Ingkang Maha Kuwasa. Paduka yêktos, manawi sampun santun agami Islam, nilar agami Buddha, turun paduka tamtu apês, Jawi kantun jawan, Jawinipun ical, rêmên nunut bangsa sanes. Benjing tamtu dipunprentah dening tiyang Jawi ingkang mangrêti.

    Cobi paduka-yêktosi, benjing: sasi murub botên tanggal, wiji bungkêr botên thukul, dipuntampik dening Dewa, tinanêma thukul mriyi, namung kangge têdha pêksi, mriyi punika pantun kados kêtos, amargi paduka ingkang lêpat, rêmên nêmbah sela. Paduka-yêktosi, benjing tanah Jawa ewah hawanipun, wêwah bênter awis jawah, suda asilipun siti, kathah tiyang rêmên dora, kêndêl tindak nistha tuwin rêmên supata, jawah salah masa, damêl bingungipun kanca tani. Wiwit dintên punika jawahipun sampun suda, amargi kukuminipun manusa anggenipun sami gantos agami. Benjing yen sampun mrêtobat, sami engêt dhatêng agami Buddha malih, lan sami purun nêdha woh kawruh, Dewa lajêng paring pangapura, sagêd wangsul kados jaman Buddha jawahipun”.

    Sang Prabu mirêng ature Sabdapalon, ing batos rumaos kaduwung bangêt dene ngrasuk agama Islam, nilar agama Buddha. Nganti suwe ora ngandika, wasana banjur ngandika, amratelakake yen ênggone mlêbêt agama Islam iku, amarga kêpencut ature putri Cêmpa, kang ngaturake yen wong agama Islam iku, jarene besuk yen mati, antuk swarga kang ngungkuli swargane wong kapir.

    Sabdapalon matur, angaturake lêpiyan, yen wiwit jaman kuna mula, yen wong lanang manut wong wadon, mêsthi nêmu sangsara, amarga wong wadon iku utamane kanggo wadhah, ora wênang miwiti karêp, Sabdapalon akeh-akeh ênggone nutuh marang Sang Prabu.

    Sang Prabu ngandika: “Kok-tutuha iya tanpa gawe, amarga barang wis kêbacut, saiki mung kowe kang tak-tari, kapriye kang dadi kêkêncênganing tekadmu? Yen aku mono ênggonku mlêbu agama Islam, wis disêkseni dening si Sahid, wis ora bisa bali mênyang Buddha mêneh”.

    Sabdapalon matur yen arêp misah, barêng didangu lungane mênyang ngêndi, ature ora lunga, nanging ora manggon ing kono, mung nêtêpi jênênge Sêmar, nglimputi salire wujud, anglela kalingan padhang. Sang Prabu diaturi ngyêktosi, ing besuk yen ana wong Jawa ajênêng tuwa, agêgaman kawruh, iya iku sing diêmong Sabdapalon, wong jawan arêp diwulang wêruha marang bênêr luput.

    Sang Prabu karsane arêp ngrangkul Sabdapalon lan Nayagenggong, nanging wong loro mau banjur musna. Sang Prabu ngungun sarta nênggak waspa, wusana banjur ngandika marang Sunan Kalijaga: “Ing besuk nagara Blambangan salina jênêng nagara Banyuwangi, dadiya têngêr Sabdapalon ênggone bali marang tanah Jawa anggawa momongane. Dene samêngko Sabdapalon isih nglimput aneng tanah sabrang”. Sunan Kalijaga banjur didhawuhi nêngêri banyu sêndhang, yen gandane mari wangi, besuk wong Jawa padha ninggal agama Islam ganti agama Kawruh.

    Sunan Kalijaga banjur jasa bumbung loro kang siji diiseni banyu tawa, sijine diiseni banyu sêndhang. Banyu sêndhang mau kanggo tandha, yen gandane mari wangi, wong tanah Jawa padha salin agama kawruh. Bumbung sawise diiseni banyu, banjur disumpêli godhong pandan-sili, sabanjure digawa sakabate loro.

    Sang Prabu Brawijaya banjur tindak didherekake Sunan Kalijaga lan sakabate loro, tindake kawêngen ana ing dalan, nyare ana ing Sumbêrwaru, esuke bumbunge dibukak, banyune diambu isih wangi, nuli mbanjurake tindake, wayah surup srêngenge, wis têkan ing Panarukan. Sang Prabu nyare ana ing kono, ing wayah esuk, banyu ing bumbu diganda isih wangi, Sang Prabu mbanjurake tindake.

    Barêng wis wayah surup srêngenge, têkan ing Bêsuki, Sang Prabu uga nyare ana ing kono, esuke banyu ing bumbung diganda mundhak wangine, Sang Prabu banjur nêrusake tindake nganti wayah surup srêngenge, têkan ing Prabalingga, ana ing kono uga nyare sawêngi, esuke banyune ditiliki, banyune tawa isih enak, nanging munthuk, unthuke gandane arum, nanging mung kari sathithik, amarga kêrêp diunjuk ana ing dalan, dene banyune sêndhang barêng ditiliki gandane dadi bangêr, tumuli dibuwang. Sang Prabu banjur ngandika marang Sunan Kalijaga: “Prabalingga ing besuk jênênge loro, Prabalingga karo Bangêrwarih 12 ing kene besuk dadi panggonan kanggo pakumpulane wong-wong kang padha ngudi kawruh kapintêran lan kabatinan, Prabalingga têgêse prabawane wong Jawa kalingan prabawane tangga”. Sang Prabu mbanjurake tindake, ing pitung dinane, wis têkan ing Ampelgadhing. Nyai Agêng Ampelgadhing tumuli mêthukake banjur ngabêkti marang Sang Prabu karo muwun, sarta akeh-akeh sêsambate.

    Sang Prabu banjur ngandika: “Wis aja nangis êngger, mupusa yen kabeh mau wis dadi karsane Kang Maha Kuwasa, kudu mangkene. Aku lan kowe mung sadarma nglakoni, kabeh lêlakon wis ditulis aneng lokhilmakful. Bêgja cilaka ora kêna disinggahi, nanging wajibe wong urip kudu kêpengin mênyang ilmu”.

    Nyai Agêng Ampel banjur matur marang Sang Prabu, ngaturake patrape ingkang wayah Prabu Jimbun, kaya kang wis kasêbut ing ngarêp. Sang Prabu banjur dhawuh nimbali Prabu Jimbun. Nyai Ampel nuli utusan mênyang Dêmak nggawa layang, satêkane ing Dêmak, layang wis katur marang Sang Prabu Jimbun, ora antara suwe Prabu Jimbun budhal sowan mênyang Ampel.

    Kacarita putra Nata ing Majapahit, kang aran Raden Bondhankajawan ing Tarub, mirêng pawarta yen nagara Majapahit dibêdhah Adipati Dêmak, malah Sang Prabu lolos saka jroning pura, ora karuhan mênyang ngêndi tindake, rumasa ora kapenak panggalihe, banjur tindak marang Majapahit, tindake Raden Bondhankajawan namur kula, nungsung warta ing ngêndi dununge ingkang rama, satêkane Surabaya, mirêng warta yen ingkang rama Sang Prabu têdhak ing Ampel, nanging banjur gêrah, Raden Bondhankajawan nuli sowan ngabêkti.

    Sang Prabu ndangu: “Sing ngabêkti iki sapa?”

    Raden Bondhankajawan matur yen panjênêngane kang ngabêkti.

    Sang Prabu banjur ngrangkul ingkang putra, gêrahe Sang Prabu sangsaya mbatêk, ngrumaosi yen wis arêp kondur marang jaman kalanggêngan, pangandikane marang Sunan Kalijaga mangkene: Sahid, nyêdhaka mrene, aku wis arêp mulih marang jaman kalanggêngan, kowe gaweya layang mênyang Pêngging lan Pranaraga, mêngko tak-wenehane tandha asta, wis padha narima rusake Majalêngka, aja padha ngrêbut kapraboningsun, kabeh mau wis karsane Kang Maha Suci, aja padha pêrang, mundhak gawe rudahing jagad, balik padha ngemana rusaking wadya-bala, sebaa marang Dêmak, sapungkurku sing padha rukun, sapa sing miwiti ala, tak-suwun marang Kang maha Kuwasa, yudane apêsa.”

    Sunan Kalijaga banjur nyêrat, sawise rampung banjur ditapak-astani dening sang Prabu, sabanjure diparingake marang Pêngging lan Pranaraga.

    Sang Prabu banjur ngandika: “Sahid, sapungkurku kowe sing bisa momong marang anak putuku, aku titip bocah iki, saturun-turune êmongên, manawa ana bêgjane, besuk bocah iki kang bisa nurunake lajêre tanah Jawa, lan maneh wêkasku marang kowe, yen aku wis kondur marang jaman kalanggêngan, sarekna ing Majapahit sa-lor-wetane sagaran, dene pasareyaningsun bakal sun-paringi jênêng Sastrawulan, lan suwurna kang sumare ana ing kono yayi Raja Putri Cêmpa, lan maneh wêlingku, besuk anak-putuku aja nganti entuk liya bangsa, aja gawe senapati pêrang wong kang seje bangsa.”

    Sunan Kalijaga sawise dipangandikani banjur matur: “Punapa Sang Prabu botên paring idi dhatêng ingkang putra Prabu Jimbun jumênêngipun Nata wontên ing tanah Jawi?”

    Sang Prabu ngandika: “Sun-paringi idi, nanging mung mandhêg têlung turunan.”

    Sunan kalijaga nyuwun sumurup mungguh têgêse araning bakal pasareyane Sang Prabu.

    Sang Prabu ngandika: “Sastra têgêse tulis, Wulan têgêse damaring jagad, tulise kuburku mung kaya gêbyaring wulan, yen isih ana gêbyaring wulan, ing têmbe buri, wong Jawa padha wêruh yen sedaku wis ngrasuk agama Islam, mula tak-suwurake Putri Cêmpa, amarga aku wis diwadonake si Patah, sarta wis ora dianggêp priya, nganti kaya mangkene siya-siyane marang aku, mulane ênggonku mangêni madêge Ratu mung têlung turunan, amarga si Patah iku wiji têlu, Jawa, Cina lan raksasa, mula kolu marang bapa sarta rusuh tindake, mula wêkasku, anak-putuku aja entuk seje bangsa, amarga sajroning sihsinihan di seje bangsa mau nganggo ngobahake agamane, bisaa ngapêsake urip, mula aku paring piwêling aja gawe senapati pêrang wong kang seje jinis, mundhak ngenthengake Gustine, ing sajroning mangun yuda, banjur mangro tingal, wis Sahid, kabeh pitungkasku, tulisên.”

    Sang Prabu sawise paring pangandika mangkono, astane banjur sidhakêp, têrus seda, layone banjur disarekake ana ing astana Sastrawulan ing Majapahit, katêlah nganti saprene kocape kang sumare ana ing kono iku Sang Putri Cêmpa, dene mungguh satêmêne Putri Cêmpa iku sedane ana ing Tuban, dununing pasareyan ana ing Karang Kumuning.

    Barêng wis têlung dina saka sedane Sang Prabu Brawijaya, kacarita Sultan Bintara lagi rawuh ing Ampelgadhing sarta kapanggih Nyai Agêng.

    Nyai Agêng ngandika: “Wis bêgjane Prabu Jimbun ora nungkuli sedane ingkang rama, dadi ora bisa ngabêkti sarta nyuwun idi ênggone jumênêng Nata, sarta nyuwun pangapura kabeh kaluputane kang wis kêlakon”.

    Prabu Jimbun ature marang Nyai Agêng, iya mung mupus pêpêsthen, barang wis kêbacut iya mung kudu dilakoni.

    Sultan Dêmak ana ing Ampel têlung dina lagi kondur.

    Kacarita Adipati Pêngging lan Pranaraga, iya iku Adipati Andayaningrat ing Pêngging lan Bathara katong ing Pranaraga, wis padha mirêng pawarta yen nagara Majapahit dibêdhah Adipati Dêmak, nanging ênggone mbêdhah sinamun sowan riyaya, dene ingkang rama Sang Prabu lan putra Raden Gugur lolos saka praja, ora karuhan jujuge ana ing ngêndi, Adipati Pêngging lan Adipati Pranaraga bangêt dukane, mula banjur dhawuh ngundhangi para wadya sumêdya nglurug pêrang marang Dêmak, labuh bapa ngrêbut praja, para wadya-bala wis rumanti gêgamaning pêrang pupuh, mung kari budhale bae, kasaru têkane utusane Sang Prabu maringake layang. Adipati Pêngging lan Adipati Pranaraga sawise tampa layang lan diwaos, layang banjur disungkêmi kanthi bangêt ing pamuwune lan bangêt anjêntung panggalihe, tansah gedheg-gedheg lan gêrêng-gêrêng, wajane kêrot-kêrot, surya katon abang kaya gêni, lan kawiyos pangandikane sêru, kang surasane nyupatani marang panjênêngane dhewe, muga aja awet urip, mundhak ndêdawa wirang.

    Adipati sakarone padha puguh ora karsa sowan marang Dêmak, amarga saka putêking panggalihe banjur padha gêrah, ora antara lawas padha nêmahi seda, dene kaol kang gaib, sedane Adipati Pêngging lan Adipati Pranaraga padha ditênung dening Sunan Giri, pamrihe supaya aja ngribêdi ing têmbe buri. Mula carita bêdhahe Majapahit iku mung dicêkak, ora satimbang karo gêdhene nagara sarta ambane jajahane, amarga aran ambuka wêwadining ratu, putra mungsuh bapa, yen dirasa satêmêne saru bangêt. Mula carita bêdhahe Majapahit sinêmonan dening para pujangga wicaksana, mangkene pasêmone: sêpuh. Ature Patih prayoga nglawan têkaning mungsuh. Sang Prabu ngandika, yen nganti nglawan rumaos lingsêm bangêt, dene mungsuh karo putra, mula dhawuhe Sang Prabu, yen mapag pêrang kang sawatara bae, aja nganti ngrusakake bala. Patih didhawuhi nimbali Adipati Pêngging sarta Adipati Pranaraga, amarga putra kang ana ing Majapahit durung wanci yen mapagake pêrang, sawise paring pangandika mangkono. Sang Prabu banjur lolos arsa têdhak marang dijaga wong Têrung. Wong Majapahit kang ora gêlêm têluk banjur ngungsi mênyang gunung lan alas-alas, dene kang padha gêlêm têluk, banjur dikumpulake karo wong Islam, padha dikon nyêbut asmaning Allah. Layone para putra santana lan nayaka padha kinumpulake, pinêtak ana sakidul-wetan pura. Kuburan mau banjur dijênêngake Bratalaya, jarene iku kubure Raden Lêmbupangarsa. kathandha, yen Sang Prabu nyata
    1. Amarga saka kramate para Wali, kêrise Sunan Giri ditarik mêtu tawone ngêntupi wong Majapahit.
    2. Sunan Cirêbon badhonge mêtu tikuse maewu-ewu, padha mangani sangu lan bêkakas jaran, wong Majapahit bubar, amarga wêruh akehing tikus.
    3. Pêthi saka Palembang ana satêngahing paprangan dibukak mêtu dhêmite, wong Majapahit padha kagegeran amarga ditêluh ing dhêmit.
    4. Sang Prabu Brawijaya sedane mekrad.

    Banjure pangandikane kiyai Kalamwadi marang muride kang aran Darmagandhul, kaya kang kapratelakake ing ngisor iki:
    Kabeh mau mung pasêmon, mungguh sanyatane, carita bêdhahing Majapahit iku kaya kang tak-caritakake ing ngarêp. Nagara Majapahit iku rak dudu barang kang gampang rusake, ewadene bisa rusak mung amarga dikritiki tikus. Lumrahe tawon iku bubar amarga saka dipangan ing wong. Alas angkêr akeh dhêmite, bubaring dhêmit yen alase dirusak dening wong, arêp ditanduri. Nanging yen Majapahit rusake amarga saking tikus, tawon lan dhêmit, sapa kang ngandêl yen rusake Majapahit amarga tikus, tawon lan dhêmit, iku pratandha yen wong mau ora landhêp pikire, amarga carita kang mangkono mau kalêbu aneh lan ora mulih ing nalar, ora cocog lair lan batine, mula mung kanggo pasêmon, yen dilugokake jênênge ambukak wadine Majapahit, mula mung dipralambangi pasêmon kang orang mulih karo nalare. Dene têgêse pasêmon mau mangkene:

    Tikus iku watake ikras-ikris, suwe-suwe yen diumbar banjur ngrêbda, têgêse: para ‘ulama dhek samana, nalika lagi têkane nyuwun panguripan marang sang Prabu ing Majapahit, barêng wis diparingi, piwalêse ngrusak. Tawon iku nggawa madu kang rasane manis, gêgamane ana ing silit, dene panggonane ana ing gowok utawa tala, têgêse: maune têkane nganggo têmbung manis, wusana ngêntup saka ing buri, dene tala têgêse mêntala ngrusak Majapahit, sapa kang ngrungu padha gawok.

    Dene dhêmit diwadhahi pêthi saka Palembang, barêng dibukak muni jumêglug, têgêse: Palembang iku mlembang, iya iku ganti agama, pêthi têgêse wadhah kang brukut kanggo madhahi barang kang samar, dhêmit têgêse samar, rêmit, rungsid, dhêmit iku uga tukang nêluh. Mungguh gênahe mangkene: bêdhahe nagara Majapahit sarana ditêluh kalayan primpên lan samar, nalika arêp pambêdhahe ora ana rêmbag apa-apa, samudanane mung sowan garêbêgan, dadi dikagetake, mula wong Majapahit ora sikêp gêgaman pêrang, wêruh-wêruh Adipati Têrung wis ambantu Adipati Dêmak.

    Kuna-kunane ora ana praja gêdhe kaya Majapahit bêdhahe mung saka diêntup ing tawon sarta dikritiki ing tikus bae, apa dene bubare wong sapraja mung saka ditêluh ing dhêmit.

    Bêdhahe Majapahit swarane jumêgur, kêprungu saka ing ngêndi-êndi nagara, yen bêdhahe saka binêdhah dening putra, iya iku Wali wolu utawa Sunan wolu kang padha dimêmule wong Jawa, sangane Adipati Dêmak, kabeh mau padha mbalela mbalik.

    Banjure maneh pangandikane kiyai Kalamwadi:
    Kandhane guruku Rahaden Budi Sukardi, sadurunge Majapahit bêdhah, manuk kuntul iku durung ana kang nganggo kucir, barêng nagara wis ngalih marang Dêmak, kahanan ing dunya nuli malih, banjur ana manuk kuntul nganggo kucir.

    Prabu Brawijaya sinêmonan ing gaib: kêbo kombang atine êntek dimangsa tuma kinjir, kêbo têgêse ratu sugih, kombang têgêse mênêng swarane kang mbrêngêngêng, iya iku Prabu Brawijaya panggalihe têlas nalika bêdhahe Majapahit, kajaba mung kendêl gêrêng-gêrêng bae, ora karsa nglawan pêrang, dene tuma kijir iku tumane celeng, tuma têgêse tuman, celeng iku iya aran andhapan, iya iku Raden Patah nalika têkane ana ing Majapahit sumungkêm marang ingkang rama Sang Prabu, ing wêktu iku banjur diparingi pangkat, têgêse oleh ati saka Sang Prabu, wusana banjur mukul pêrang ngrêbut nagara, ora ngetung bênêr utawa luput, nganti ngêntekake panggalihe Sang Prabu.

    Dene kuntul nganggo kucir iku pasêmone Sultan Dêmak, ênggone nyêri-nyêri marang ingkang rama Sang Prabu, dumeh agamane Buddha kawak kapir kupur, mulane Gusti Allah paring pasêmon, githok kuntul kinuciran, têgêse: tolehên githokmu, ibumu Putri Cina, ora kêna nyêri-nyêri marang wong seje bangsa, Sang Prabu Jimbun iku wiji têlu, purwane Jawa, iya iku Sang Prabu Brawijaya, mula Sang Prabu Jimbun gêdhe panggalihe melik jumênêng Nata, mulane melik ênggal sugih, amarga katarik saka ibune, dene ênggone kêndêl nanging tanpa duga iku saka wijine Sang Arja Damar, amarga Arja Damar iku ibune putri raksasa, sênêng yen ngokop gêtih, pambêkane siya, mula ana kuntul nganggo kucir iku wis karsaning Allah, ora mung Sunan Dêmak dhewe bae kang didhawuhi ngrumasani kaluputane, nanging sanadyan para Wali liyane uga didhawuhi ngrumasani, yen ora padha gêlêm ngrumasani kaluputane, dosane lair batin, mula jênênge Wali ditêgêsi Walikan: dibêciki malês ngalani.

    Dene anane bangsa Cina padha nênêka ana ing tanah Jawa iku dêdongengane mangkene: Jare, dhek jaman kuna, nalika santri Jawa durung akeh kawruhe, sawise padha mati, suksmane akeh kang katut angin banjur thukul ana ing tanah China, mula saiki banjur padha bali mulih marang tanah Jawa, dadi suksmane bangsa mau, iku mau-maune iya akeh kang suksma Jawa.

    Darmagandhul matur: “kiyai! Kang diarani agama Srani iku kang kaya apa?”

    Kiyai Kalamwadi banjur nêrangake: “Kang diarani agama Srani iku têgêse sranane ngabêkti: têmên-têmên ngabêkti marang Pangeran, ora nganggo nêmbah brahala, mung nêmbah marang Allah, mula sêbutane Gusti Kanjêng Nabi ‘Isa iku Putrane Allah, awit Allah kang mujudake, mangkono kang kasêbut ing kitab Anbiya”.

    Banjure pangandikane kiyai Kalamwadi.

    Sultan Dêmak waskitha ing gaib, rumaos kadukan dening Kang Maha Kuwasa, mula banjur ngrumaosi kabeh kaluputane, nuli sowan andêdagan ana ing pasareyane ingkang rama, barêng wis antara têlung dina lawase, kaprênah pusêring kuburan tanpa sangkan thukul wit-witan warna papat, siji warnane irêng sêmu abang dalah godhong sarta kêmbange, loro wit sarta kêmbange putih godhonge sêdhêngan, têlu wit kang godhonge ngrêmbuyut mubêng kaya payung, papat wit kang godhonge lêmbut sarta mawa êri, lan wêktu iku sajroning pasareyane Sang Prabu kêprungu ana swara dumêling, mangkene ujaring swara:
    “Êntek katrêsnanku marang anak. Den enak mangan turu. Ana gajah digêtak kaya kucing, sanajan matiya ing tata-kalairane, nanging lah eling-elingên ing besuk, yen wis agama kawruh, ing têmbe bakal tak-walês, tak-ajar wêruh ing nalar bênêr lan luput, pranatane mêngku praja, mangan babi kaya dhek jaman Majapahit.”

    Sultan Dêmak mirêng swara dumêling kang surasane mangkono iku, ing batos bangêt kaduwung marang apa kang wis dilampahi, mula nganti suwe njêgrêg ora bisa ngandika, ngrumaosi klirune dene nuruti rêmbuge para Sunan kabeh, nganti wani mungsuh ingkang rama sarta ngrusak Majapahit. Iya wiwit titi masa iku anane wit-witan warna papat kang padha thukul ana ing kuburan, dadi pasêmon kabeh, iya iku Tlasih, Sêmboja, Turugajah lan Gêtakkucing. Mula nganti tumêka saprene wit Sêmboja panggonane ana ing kuburan, kêmbang Tlasih kanggo ngirim para lêluhur, godonge Gêtakkucing yen kasenggol banjur obah, godhonge uga banjur mingkup kaya dene godhong Gêtakkucing.

    Sawise mangkono, Sultan Dêmak banjur kondur, sakondure saka pasareyane ingkang rama, bangêt panalangsane ing dalêm batos, tansah ngrumaosi ing kalêpatane.

    Sunan Kalijaga uga waskitha ing gaib yen sinêmonan dening Kang Maha Kuwasa, mula uga bangêt panalangsane sarta ngrumaosi kaluputane, mula banjur mangagêm sarwa wulung, beda karo para Wali liyane isih padha manganggo sarwa putih. Kabeh mau ora padha ngrumasani kaluputane, mung Sunan Kalijaga piyambak rumaos yen kadukan dening Kang Maha Kuwasa, mula bangêt mrêtobate, wasana banjur pinaringan pangapura dening Allah, sinêmonan wiwit anane orong-orong githoke tumêka ing punuk disêsêli tataling kayu jati, mungguh karêpe: punukmu panakna, sajatining ‘ilmu iku ora susah maguru marang wong ‘Arab, ‘ilmuning Gusti Allah wis ana ing githokmu dhewe-dhewe,wujude puji thok, nanging dudu puji jatining kawruh, kang ngawruhi sajatining urip, urip dadi wayangan Dzating Pangeran, manusa bisa apa, mobah mosik mung sadarma nglakoni, budi kang ngobahake, sabda iku mêtu saka ing karêp, karêp mêtu saka ing budi, budi iku Dzate Kang Maha Agung, agung iku wis samêkta, tanpa kurang tan wuwuh, tanpa luwih sarta ora arah ora ênggon.

    Kiyai kalamwadi nutugake caritane: “Kandhane guruku Rahaden Budi Sukardi mangkene: mungguh kang katarima, muji marang Allah iku, iku sindhenan Dharudhêmble. Têmbung dhar iku têgêse wudhar, ru iku têgêse ruwêt sulit lan rungsit, dene dhêmble têgêse dhêmbel dadi siji, yen wis sumurup têpunge sarat sari’at tarekat hakekat lan ma’rifat, iku mau wis muji tanpa ngucap, sarak iku sarate ngaurip, iya iku nampik milih iktiyar lan manggaota, sari’at iku saringane kawruh agal alus, tarekat iku kang nimbang lan nandhing bênêr lan luput, hakekat iku wujud, wujud karsaning Allah, kang ngobahake sarta ngosikake rasane budi, wêruh ora kasamaran ing sawiji-wiji. Yen kowe wis ngrêti marang têgêse Dharudhêmble, mêsthi wis marêm marang kawruhmu dhewe. Mangan woh kawruh lan budi, sêmbahe kaya wêsi kang dilabuh ana ing gêni ilang abange mung rupa siji, kang muji lan kang dipuji wiswis bisa ngawruhi surasane kang tak-kandhakake iki, jênênge munajad. Saupama wong nulup manuk, yen ra wêruh prênahe manuke, masa kênaa, ênggone nulup mung ngawur. Yen kawruhe wong pintêr ora angel yen disawang, mêtune saka ing utêk”.

    Darmagandhul matur, nyuwun ditêrangake bab ênggone Nabi Adam lan Babu Kawa padha kêsiku dening Pangeran, sabab saka ênggone padha dhahar wohe kayu Kawruh kang ditandur ana satêngahing taman Pirdus. Ana maneh kitab kang nêrangake, kang didhahar Nabi Adam lan Babu Kawa iku woh Kuldi, kang ditandur ana ing swarga. Mula nyuwun têrange, yen ing kitab Jawa caritane kapriye, kang nyêbutake kok mung kitab ‘Arab lan kitabe wong Srani.

    Kiyai Kalamwadi banjur nêrangake, yen kitabe wong Jawa ora nyêbutake bab mangkono iku, dene Sajarah Jawa iya ana kang nyêbutake turun Adam, iya kitab Manik Maya.

    Kiyai Kalamwadi banjur ngandhakake: “Sawise buku-buku pathokan agama Buddha diobongi, amarga mundhak ngrêribêdi agama Rasul, sanadyan buku kang padha disimpêni dening para wadya, iya dipundhut banjur diobongi, nalika sabêdhahe Majapahit, sapa kang durung gêlêm nganggo agama Islam banjur dijarah rajah, mula wong-wong ing kono padha wêdi marang wisesaning Ratu. Dene wong-wong kang wis padha gêlêm salin agama Rasul, banjur padha diganjar pangkat utawa bumi sarta ora padha nyangga pajêg, mulane wong-wong ing Majapahit banjur padha ngrasuk agama Islam, amarga padha melik ganjaran. Ing wêktu iku Sunan Kalijaga, kagungan panggalih, caritane lêluhure supaya aja nganti pêdhot, banjur iyasa wayang, kanggo gantine kitab-kitab kuna kang wis padha diobongi. Ratu Mataram uga mangun carita sajarahe para lêluhur Jawa, buku-buku sakarine, kang isih padha disimpên uga padha dipundhut kabeh, nanging wis padha amoh, Sang Nata ing Mataram andangu para wadya, nanging wis padha ora mênangi, wiwit Kraton Gilingwêsi nganti tumêka Mataram wis ora kasumurupan caritane, buku-buku asli saka ing Dêmak lan Pajang padha dipriksa, nanging tinêmu tulisan ‘Arab, kitab Pêkih lan Taju-salatina apa dene Surya-Alam kang kanggo pikukuh, mula Sang Prabu ing Mataram kewran panggalihe ênggone kagungan karsa iyasa babad carita tanah Jawa. Sang Prabu banjur dhawuh marang para pujangga, andikakake padha gawe layang Babad Tanah Jawa, ananging sarehne kang gawe Babad mau ora ngêmungake wong siji bae, mula ora bisa padha gaweyane, kang diênggo pathokan layang Lokapala, mungguh caritane kaya kang kasêbut ing ngisor iki”.

    Wayahe Nabi Adam iya iku putrane Nabi Sis, arane Sayid Anwar. Sayid Anwar didukani ingkang rama lan ingkang eyang, amarga wani-wani mangan wohe wit kayu Budi sêngkêrane Pangeran kang tinandur ana ing swarga. Ciptane Sayid Anwar supaya kuwasane bisa ngiribi kaya dene kuwasane Pangeran, ora narima yen mung mangan who Kawruh lan woh Kuldi bae, nanging wohe kayu Budi kang disuwun. Sayid Anwar miwiti yasa sarengat dhewe, ora karsa ngagêm agamane ingkang rama lan ingkang eyang, dadi murtat sarta nampik agamane lêluhure, mangkono uga karsa ngakoni yen turune Adam sarta Sis, pangraose Sayid Anwar iku dadi saka dadine piyambak, mung waranane bae saka Adam lan Sis, dadine saka budi hawaning Pangeran. Ênggone Kagungan pamanggih mangkono mau diantêpi bangêt, jalaran mangkene:
    asal suwung mulih marang sêpi, bali marang asale maneh. Sarehne Sayid Anwar banjur lunga nuruti karêping atine, lakune mangetan nganti tumêka ing tanah Dewani, ana ing kono banjur kêtêmu karo ratuning jin arane Prabu Nuradi, Sayid Anwar ditakoni iya banjur ngandharake lêlakone kabeh, wusanane Sayid Anwar diêpek mantu sarta dipasrahi kaprabon, ngratoni para jin, jêjuluk Prabu Nurcahya, wiwit jumênênge Prabu Nurcahya, jênênge nagara banjur diêlih dadi aran nagara Jawa. Misuwure, kang jumênêng Nata, Jawa jawi ngrêti kawruh agal alus. Sawise iku Sang Prabu banjur nganggit sastra mung salikur aksara, saucaping wong Jawa bisa kaucap, dijênêngake Sastra Endra Prawata. Têmbung Jawa, ditêgêsi: nguja hawa, karsane Sang Prabu: bisaa rowa, saturun-turune bisaa jumênêng Nata mêngkoni tanah Jawa. Sang Prabu putrane siji pêparab Sang Hyang Nurrasa, uga dhaup karo putri jin putrane mung siji iya iku Sang Hyang Wênang. Sang Hyang Wênang uga dhaup karo putri jin, dene putrane uga mung siji kakung pêparab Sang Hyang Tunggal, krama oleh putri jin. Sang Hyang Tunggal pêputra Sang Hyang Guru, kabeh mau turune Sang Hyang Nurcahya, kang padha didhahar woh wit kayu Budi. Sang Hyang Guru kagungan pangraos yen kuwasane padha karo Gusti Allah, mula banjur iyasa kadhaton ana pucaking Mahameru, sarta ngakoni yen purwaning dumadi mêtune asal saka budi hawa nêpsu. Aran Dewa ngaku misesani mujudake sipat roh, agamane Buddha budi, mangeran digdayane sarta ngaku Gusti Allah. Sêdya kang mangkono mau iya diideni dening Kang Maha Kuwasa, sarta kalilan nimbangi jasane Kang Maha Kuwasa. Dewa iku wêrdine ana loro têgêse: budi hawa, sarta: wadi dawa, mulane agamane Buddha. Sêbutan Dewi: têgêse: dening wadining wadon iku bisa ngêtokake êndhas bocah.

    Darmagandhul didhawuhi nimbang mungguh kang bênêr kang êndi, mangan woh wit kayu Kawruh, apa wit kayu Budi, apa woh wit Kuldi?

    Saka panimbange Darmagandhul, kabeh iku iya bênêr, sênêngan salah siji êndi kang disênêngi, diantêpi salah siji aja nganti luput. Yen kang dipangan woh wit kayu Budi, agamane Buddha budi, panyêbute marang Dewa; manawa mangan woh wit kawruh, pênyêbute marang Kangjêng Nabi ‘Isa, agamane srani, yen sênêng mangan woh wit kayu Kuldi, agamane Islam, sambate marang nabi panutan; iya iku Gusti Kangjêng Nabi Rasul; dene yen dhêmên Godhong Kawruh Godhong Budi, panêmbahe marang Pikkong, sarta manut sarake Sisingbing lan Sicim; salah sijine aja nganti luput. Yen bisa woh-wohan warna têlu iku mau iya dipangan kabeh, yen wong ora mangan salah sijine woh mau, mêsthine banjur dadi wong bodho, uripe kaya watu ora duwe kêkarêpan lan ora mangrêti marang ala bêcik. Dene mungguh bêcike wong urip iku mung kudu manut marang apa alame bae, dadi ora aran siya-siya marang uripe, yen Kalifah dhahar woh Budi, iya melu mangan woh Budi, yen Kalifah dhahar woh kawruh, iya melu mangan who kawruh, yen kalifah dhahar woh Kuldi, iya melu mangan woh Kuldi. Dene prakara bênêr utawa lupute, uki Kalifah kang bakal tanggung. Sarehne diênut wong akeh, dadi Panutan kudu kang bênêr, amarga wong dadi Panutan iku saupama têtuwuhan minangka wite. Yen wong ora gêlêm manut marang kang bênêre kudu diênut, iku kaya dene iwak kang mêtu saka ing banyu. Saupama woh ora gêlêm nempel wit, mêsthi dadi glundhungan kang tanpa dunung. Awit saka iku, mulane wong iku kudu ngelingi marang agamane kang nurunake, amarga sanadyan saupama ana salahe, Gusti Allah mêsthi paring pangapura. Darmagandhul matur nyuwun têrange agama Rasul lan liya-liyane, mungguh kang dadi bedane apa?

    Kiyai Kalamwadi banjur nêrangake beda-bedane, yen saka dhawuhe kang Maha Kuwasa, manusa didhawuhi muja marang agamane. Nanging banjur akeh kang kliru muja marang barang kang katon, kaya ta kêris, tumbak, utawa liya-liyane barang. Kang kaya mangkono mau ngrusakake agama, amarga banjur mangeran marang wujud, satêmah lali marang Pangerane, amarga maro tingal marang barang rêrupan. Wong urip iku kudu duwe gondhelan agama, amarga yen ora duwe agama mêsthi duwe dosa, mung bae dosane mau ana kang sathithik lan ana kang akeh. Dene kang bisa nyirnakake (nyudakake) dosa iku, mung banyu suci, iya iku tekad suci lair batin. Kang diarani banyu tekad suci iku kang êning, iya iku minangka aduse manusa, bisa ngrêsiki lair batine. Yen wong luwih, ora ngarêp-arêp munggah swarga, kang digoleki bisaa nikmat mulya punjula saka sapadhane, aja nganti nêmu sangsara, bisaa duwe jênêng kang bêcik, sinêbut kang utama, bisaa nikmat badan lan atine, mulya kaya maune, kaya nalika isih ana ing alam samar, ora duwe susah lan prihatin. Lawang swarga iku prêlu dirêsiki, dirêngga ing tekad kang utama, supaya aja ngrêribêdi ana ing donyane, bisaa slamêt lair batine. Kang diarani lawang swarga lan lawang nêraka iku, pancadan kang tumuju marang kabêgjan utawa kacilakan. Yen bêcik narik raharja, yen ala ngundhuh cilaka, mula pangucap kang ala, mêsthi mlêbu yomani. Yen bêcik, bisa tampa

    Darmagandhul matur maneh, nyuwun têrange, manusa ing dunya wujude mung lanang lan wadon, dadine kok banjur warna-warna, ana Jawa, ‘Arab, Walanda lan Cina. Dene sastrane kok uga beda-beda. Iku maune kêpriye, dalah têgêse sarta cacahing aksarane kok uga beda- beda. Geneya kok ora nganggo aksara warna siji bae?

    Kyai Kalamwadi banjur nêrangake, yen kabeh-kabeh mau wis dadi karsane Kang Maha Kuwasa. Mula aksarane digawe beda-beda, supaya para kawulane padha mangan woh wit kayu Budi lan woh wit kayu Kawruh, amarga manusa diparingi wahyu kaelingan, bisa mêthik who Kawruh lan woh Budi, pamêthike sapira sagaduke. Gusti Allah uga iyasa sastra, nanging sastrane nglimputi ing jêro, lan manut wujud, iya iku kang diarani sastra urip, manusa ora bisa anggayuh, sanadyan para Auliya sarta para Nabi ênggone nggayuh iya mung sagaduke. Woh wit Kawruh lan woh wit Budi ditandhani nganggo sipat wujud, dicorek ana ing dluwang, nganggo mangsi supaya wong bisa wêruh, mula jênênge dalwang, têgêse mêtu wangune, mangsi têgêse mangsit, dadi yen dalwang ditrapi mangsi, mêsthi banjur mêtu wangune, mangsit mangan kawruh, mula jênêng kalam, amarga kawruhe anggawa alam. Sastra warna-warna paringe kang Maha-Kuwasa, iku wajib dipangan, supaya sugih pangrêten lan kaelingan, mung wong kang ora ngrêti sastra paringe Gusti Allah, mêsthi ora mangêrti marang wangsit. Auliya Gong Cu kumênthus niru sastra tulisan paringe Gusti allah, nanging panggawene ora bisa, sastrane unine kurang, dadi pelon, para Auliya panggawene sastra dipathoki cacahe, mung aksara Cina kang akeh bangêt cacahe, nanging unine pelo, amarga Auliya kang nganggit kêsusu mangan woh Kawruh, ing mangka iya kudu mangan woh wit kayu Budi. Auliya mau lali yen tinitah dadi manusa. Ewadene mêksa nganggo kuwasane Kang Maha Kuwasa, anggayuh kang dudu wajibe, kêsusu tampa panglulu nganggit sastra kang nganti tanpa etungan cacahe, jênênge sastra godhong. Godhonge wit Budi lan wit Kawruh, dipêthik saka sathithik, ditata dikumpulake, banjur dianggit kanggo sastra, mulane aksarane nganti ewon. Auliya Cina kêsiku, amarga arêp gawe sastra urip kaya yasane Gusti Allah. Auliya Jawa ênggone mangan woh wit kayu Budi nganti warêg, mula ênggone nganggit aksara iya dipathoki cacahe. Auliya Arab ênggone mangan woh wit kayu Kuldi akeh bangêt. Dene ênggone nganggit aksara iya dipathoki cacahe. Nanging yen sastra yasane Gusti Allah, dadine saka sabda, wujude dadi dhewe, mulane unine iya cêtha, sastrane ora ana kang padha.

    Darmagandhul banjur didhawuhi nimbang, mungguh anggitane para Auliya kabeh mau kang mratandhani asor luhuring budine kang êndi?

    Saka panimbange Darmagandhul, kabeh mau iya bênêr, nanging anggêr mêtu saka budi. Dene kang gawe aksara mung sathithik, nanging wis bisa nyukupi, iku mratandhani yen luwih pintêr tinimbang karo liya-liyane.

    Kiyai Kalamwadi ngandika: “Yen manusa arêp wêruh sastrane Gusti Allah, tulisan mau ora kêna ditonton nganggo mripat lair – kudu ditonton nganggo mripat batin. Yen mangkono iya bisa katon, Gusti Allah iku mung sawiji, nanging Dzate nyarambahi sakabehing wujud. Yen ndêlêng kudu nganggo ati kang bêning, ora kêna kacampuran pikiran kang warna-warna, sarta kudu kang mêlêng ênggone mawas, supaya ora bisa kliru karo kanyatane”.

    Kiyai Kalamwadi lênggah diadhêp garwane aran Endhang Prêjiwati. Darmagandhul sarta para cantrik iya padha marak. Kiyai Kalamwadi paring piwulang marang garwane, dadi nêtêpi jênênge priya kudu mulang muruk marang rabine. Dene kang diwulangake, bab kawruh kasunyatan sarta kawruh kang kanggo yen wis tumêka ing pati, ing wong sêsomahan iku. Kang wadon diupamakake omah, sanadyan kahanane wis sarwa bêcik. Nanging sabên dinane isih kudu dipiyara lan didandani. Saka pangandikane Kiayi Kalamwadi, wong iku yen dipitakoni, satêmêne ragane wis bisa mangsuli, sabab ing kono wis ana pangandikane Gusti Allah paring piwulang, nanging ora mêtu ing lesan, mung paring sasmita kang wis ditulis ana saranduning badan sakojur. nunggal dadi sawiji, dhêmble wujud siji. Yen kowe ganjaran.

    Pangandikane kiyai Kalamwadi: “Sarehne aku iku wong cubluk, dadi ora bisa aweh piwulang kang endah, aku mung arêp pitakon marang ragamu, amarga ragamu iku wis bisa sumaur dhewe”.

    Banjure pangandika kiyai Kalamwadi kaya ing ngisor iki. Tanganmu kiwa iku wis anggawa têgês dhewe, lan wis dadi piwulang kang bêcik lan nyata, kang anuduhake yen ragamu iku wujude kiwa, mung hawa kang katon. Têmbung ki: iku têgêse iki, wa: têgêse wêwadhah, ragamu iku di’ibaratake prau, prau dadi ‘ibarate wong wadon, wong têgêse ngêlowong, wadon têgêse mung dadi wadhah, dene isine mung têlung prakara, iya iku: “kar-ri-cis”. Yen prau wiswis kêcukup butuhe, dadi ora goreh atine. Dene têgêse kar-ri-cis iku mangkene.

    1. Kar, têgêse dakar, iya iku yen wong lanang wis bisa nêtêpi lanange, mêsthi wong wadon atine marêm, wusanane dadi nêmu slamêt ênggone jêjêdhowan.

    2. Ri, têgêse pari, iya iku kang minangka pangane wong wadon, yen wong lanang wis bisa nyukupi pangane, mêsthi wong wadon bisa têntrêm ora goreh.

    3. Cis, têgêse picis, utawa dhuwit, ya iku yen wong lanang wis bisa aweh dhuwit kang nyukupi, mêsthi wong wadon bisa têntrêm, tak baleni maneh, cis têgêse bisa goreh atine.

    Kosok baline yen wong lanang ora bisa aweh momotan têlung prakara mau, wong wadon bisa goreh atine. Tangan têngên têgêse etungên panggawemu, sabên dina sudiya, sanggup dadi kongkonan, wong wadon wis dadi wajibe ngrewangi kang lanang anggone golek sandhang pangan.

    Bau têgêse kanthi, gênahe wong wadon iku dadi kanthine wong lanang, tumrap nindakake samubarang kang prêlu.

    Sikut têgêse singkurên sakehing panggawe kang luput. Ugêl-ugêl têgêse sanadyan tukar padu, nanging yen isih padha trêsnane iya ora bisa pêdhot. Epek-epek têgêse ngêpek-ngêpek jênênge kang lanang, awit wong wadon iku yen wis laki, jênênge banjur melu jênênge kang lanang. Iya iku kang diarani warangka manjing curiga, warangkane wanita, curigane jênênge wong lanang.

    Rajah (ing epek-epek) têgêse wong wadon iku panganggêpe marang guru-lakine dikaya dene panganggêpe marang raja.

    Driji têgêse drêjêg utawa pagêr, iya iku idêrana jiwamu nganggo pagêr kautaman, wanita iku kudu andarbeni ambêk kang utama, dene driji kabeh mau ana têgêse dhewe-dhewe.

    Jêmpol têgêse êmpol, yen wanita dikarsakake dening priyane, iku kang gampang gêtas rênyah kaya dene êmpoling klapa.

    Driji panuduh têgêse wanita nglakonana apa sapituduhe kang priya.

    Driji panunggul, têgêse wanita wajib ngunggulake marang priyane, supaya nyupangati bêcik.

    Driji manis, têgêse wanita kudu duwe pasêmon utawa polatan kang manis, wicarane kudu kang manis lan prasaja.

    Jênthik, têgêse wong wadon iku panguwasane mung sapara limane wong lanang, mula kudu sêtya tuhu marang priyane.

    Kuku têgêse ênggone rumêksa marang wadi, paribasane aja nganti kêndho tapihe.

    Mungguh pikikuhe wong jêjodhowan iku, wanita kudu sêtya marang lakine sarta nglakoni patang prakara, iya iku: pawon, paturon, pangrêksa, apa dene kudu nyingkiri padudon.

    Wong jêjodhowan yen wis nêtêpi kaya piwulang iki, mêsthi bisa slamêt sarta akeh têntrême.

    Kiyai Kalamwadi banjur paring pangandika maneh, dene kang dipangandikakake bab pikukuhe wong jêjodhowan. Saka pangandikane kiyai Kalamwadi, wong jêjodhowan iku pikukuhe kudu duwe ati eling, aja nganti tumindak kang ora bênêr. Mungguh pikukuhe wong laki-rabi iku, dudu dunya lan dudu rupa, pikukuhe mung ati eling. Wong jêjodhowan, yen gampang luwih gampang, nanging yen angel, angele ngluwihi. Wong jêjodhowan itu luput pisan kêna pisan, yen wis luput, ora kêna tinambak ing rajabrana lan rupa. Wanita kudu tansah eling yen winêngku ing priya, yen nganti ora eling, lupute banjur ngambra-ambra, amargi yen wanita nganti cidra, iku ugi ngilangake Pangerane wong jêjodhowan, dene kang diarani cidra iku ora mung jina bae, nanging samubarang kang ora prasaja iya diarani cidra, mula wanita kudu prasaja lair batine, amarga yen ora mangkono bakal nandhang dosa rong prakara, kang sapisan dosa marang kang lanang, kapindhone dosa marang Gusti Allah, kang mangkono iku mêsthi ora bisa nêmu lêlakon kang kapenak. Mula ati, kudu tansah eling, amarga tumindaking badan mung manut karêping ati, awit ati iku dadi ratuning badan. Wong jêjodhowan di’ibaratake prau kang gêdhe, lakuning prau manut satang lan kêmudhine, sanadyan satange bênêr, yen kêmudhine salah, prau ora bêcik lakune. Wong lanang iku lakuning satang, dene kangiku gawe karaharjan sarta mahanani katêntrêman, ora ngêmungake wong jêjodhowan kang rukun bae, kang oleh katêntrêmaning ati, sanadyan tangga têparone iya melu têntrêm, mula wong rukun iku bêcik bangêt.

    Kowe tak-pituturi, mungguh dalane kamulyan iku ana patang
    prakara: isi têlung prakara iku, wong wadon
    1. Mulya saka jênêng.
    2. Mulya saka bandha.
    3. Mulya saka sugih ‘ilmu.
    4. Mulya saka kawignyan.

    Kang diarani mulya saka jênêng, iku wong kang utama, bisa oleh kabêgjan kang gêdhe, nanging kabêgjane mau ora mung kanggo awake dhewe, kapenake uga kanggo wong akeh liyane. Dene kang mulya saka ing bandha, lan mulya saka ênggone sugih ‘ilmu, lan mulya saka kapintêran, iku ana ngêndi bae, iya akeh rêgane.

    Mungguh dalane kasangsaran uga ana patang prakara:
    1. Rusaking ati, manusa iku yen pikire rusak, ragane mêsthi iya
    melu rusak.
    2. Rusaking raga, iya iku wong lara.
    3. Rusaking jênêng, iya iku wong mlarat.
    4. Rusaking budi, iya iku wong bodho, cupêt budine, wong bodho lumrahe gampang nêpsune.

    Kang diarani tampa kanugrahing Gusti Allah, iya iku wong kang sêgêr kawarasan sarta kacukupan, apa dene têntrêm atine.

    Wong urip kang kêpengin bisaa dadi wong utama, duweya jênêng kang bêcik, kanggo têtuladhan marang wong kang padha ditinggal ing têmbene”.

    Ki Darmagandhul matur lang nyuwun ditêrangake bab anane wong ing jaman kuna karo wong ing jaman saiki, iku satêmêne pintêr kang êndi, amarga wong akeh panêmune warna-warna tumrape bab iku.

    Pangandikane kiyai Kalamwadi: “Wong kuna lan wong saiki, iku satêmêne iya padha pintêre, mung bae tumrape wong ing jaman kuna, akeh kang durung bisa mujudake kapintêrane, mula katone banjur kaya dene ora pintêr. Ana dene wong ing jaman saiki ênggone katon luwih pintêr iku amarga bisa mujudake kapintêrane. Wong ing jaman kuna kapintêrane iya wis akeh, dene kang mujudake iya iku wong ing jaman saiki. Saupama ora ana kapintêrane wong ing jaman kuna, mêsthi bae tumrape wong ing jaman saiki ora ana kang kanggo têtuladhan, amarga kahanan saiki iya akeh kang nganggo kupiya kahanan ing jaman kuna. Wong ing jaman saiki ngowahi kahanan kang wis ana, êndi kang kurang bêcik banjur dibêcikake. Wong ing jaman saiki ora ana kang bisa nganggit sastra, yen manusa iku rumasa pintêr, iku têgêse ora rumasa yen kawula, mangka uripe manusa mung sadarma nglakoni, mung sadarma nganggo raga, dene mobah mosik, wis ana kang murba. Yen kowe arêp wêruh wong kang pintêr têmênan, dununge ana wong wadon kang nutu sabên dina, tampahe diiseni gabah banjur diubêngake sadhela, gabah kang ana kabur kabeh, sawise, banjur dadi beda-beda, awujud bêras mênir sarta gabah, nuli mung kari ngupuki bae, sabanjure dipilah-pilah. Têgêse: bêras yen arêp diolah kudu dirêsiki dhisik, miturut kaya karêpe kang arêp olah-olah. Yen kowe bisa mangreh marang manusa, kaya dene wong wadon kang nutu mau, ênggone nyilah-nyilahake bêras aneng tampah, kowe pancen wong linuwih, nanging kang mangkono mau dudu kawadjibanmu, awit iku dadi kawajibane para Raja, kang misesa marang kawulane. Dene kowe, mung wajib mangrêti tataning praja supaya uripmu aja kongsi dikul dening sapadhaning manusa, uripmu dadi bisa slamêt, kowe bakal dadi têtuwa, kêna kanggo pitakonan tumraping para mudha bab pratikêle wong ngawula ing praja. Mula wêlingku marang kowe, kowe aja pisan- pisan ngaku pintêr, amarga kang mangkono mau dudu wajibing manusa, yen ngrumasani pintêr, mundhak kêsiku marang Kang Maha Kuwasa, kaelokane Gusti Allah, ora kêna ginayuh ing manusa, ngrumasanana yen wong urip iku mung sadarma, ana wong pintêr isih kalah pintêr karo wong pintêr liyane, utawa uga ana wong pintêr bisa kasoran karo wong kompra, bodho pintêring manusa iku saka karsane Kang Maha Kuwasa, manusa anduweni apa, bisane apa, mung digadhuhi sadhela dening Kang Maha Kuwasa, yen wis dipundhut, kabeh mau bisa ilang sanalika, saka kalangkungane Gusti Allah, yen kabeh mau kapundhut banjur diparingake marang wong kompra, wong kompra banjur duwe kaluwihan kang ngungkuli kaluwihane wong pintêr. Mula wêlingku marang kowe, ngupayaa kawruh kang nyata, iya iku kawruh kang gandheng karo kamuksan”.

    Ki Darmagandhul banjur matur maneh, nyuwun têrange bab tilase kraton Kêdhiri, iya iku kratone Sang Prabu Jayabaya. Kiyai Kalamwadi ngandika: “Sang Prabu Jayabaya ora jumênêng ana ing Kêdhiri, dene kratone ana ing Daha, kaprênah sawetane kali Brantas. Dene yen Kêdhiri prênahe ana sakuloning kali Brantas lan sawetaning gunung Wilis, ana ing desa Klotok, ing kono iku ana bata putih, iya iku patilasane Sri Pujaningrat. Dene yen patilasane Sri Jayabaya ika ana ing daha, saikine jênênge desa Mênang, patilasane kadhaton wis ora katon, amarga kurugan ing lêmah lahar saka gunung Kêlut, patilasan-patilasan mau wis ilang kabeh, pasanggrahan Wanacatur lan taman Bagendhawati uga wis sirna, dene pasanggrahan Sabda, kadhatone Ratu Pagêdhongan uga wis sirna. Kang isih mung rêca yasane Sri Jayabaya, iya iku candhi Prudhung, Têgalwangi, prênahe in sa-lor-wetane desa Mênang, lan rêca buta wadon, iya iku rêca kang diputung tangane dening Sunan Benang nalika lêlana mênyang Kêdhiri, rêca mau lungguhe madhêp mangulon, ana maneh rêca jaran awak siji êndhase loro, panggonane ana ing desa Bogêm, wêwêngkon dhistrik Sukarêja, mula Sri Jayabaya yasa rêca, mangkene caritane, (kaya kang kapratelakake ing ngisor ini)”.

    Ing Lodhaya ana buta wadon ngunggah-unggahi Sang Prabu Jayabaya, nanging durung nganti katur ing ngarsa Prabu, buta wadon wis dirampog dening wadya cilik-cilik, buta wadon banjur ambruk, nanging durung mati, barêng ditakoni, lagi waleh yen sumêdya ngunggah-unggahi Sang Prabu. Sang Prabu banjur mriksani putri buta mau, barêng didangu iya matur kang dadi sêdyane. Sang Prabu banjur paring pangandika mangkene: “Buta! andadekna sumurupmu, karsaning Dewa Kang Linuwih, aku iku dudu jodhomu, kowe dak-tuturi, besuk sapungkurku, kulon kene bakal ana Ratu, nagarane ing Prambanan, iku kang pinasthi dadi jodhomu, nanging kowe aja wujud mangkono, wujuda manusa, aran Rara Jonggrang”.

    Sawise dipangandikani mangkono, putri buta banjur mati. Sang Prabu banjur paring pangandika marang para wadya, supaya desa ing ngêndi papan matine putri buta mau dijênêngake desa Gumuruh. (11) Ora antara suwe Sri Jayabaya banjur jasa rêca ana ing desa Bogêm. Rêca mau wujud jaran lagaran awak siji êndhase loro, kiwa têngên dilareni. Patihe Sang Prabu kang aran Buta Locaya sarta Senapatine kang aran Tunggulwulung padha matur marang sang Prabu, kang surasane nyuwun mitêrang kang dadi karsa-Nata, ênggone Sang Prabu yasa rêca mangkono mau, apa mungguh kang dadi karsane. Sang Prabu banjur paring pangandika, yen ênggone yasa rêca kang mangkono itu prêlu kanggo pasêmon ing besuk, sapa kang wêruh marang wujude rêca iku mêsthi banjur padha mangrêti kang dadi tekade wong wadon ing jaman besuk, yen wis jaman Nusa Srênggi. Bogêm têgêse wadhah bangsa rêtna-rêtna kang adi, têgêse wanita iku bangsa wadhah kang winadi. Laren (12) kang ngubêngi jaran têgêse iya sêngkêran. Dene jaran sêngkêran iya iku ngibaratake wong wadon kang disêngkêr. Sirah loro iku dadi pasêmone wong wadon ing jaman besuk, kang akeh padha mangro tingal, sanadyan ora kurang ing panjagane, iya bisa cidra, lagaran, iku têgêse tunggangan kang tanpa piranti. Ing jaman besuk, kang kêlumrah wong arêp laki-rabi, ora nganggo idine wong tuwane, margane saka lagaran dhisik, yen wis

    Sang Prabu ênggone yasa candhi, prêlu kanggo nyêdhiyani yen ana wadyabala kang mati banjur diobong ana ing kono, supaya bisa sirna mulih marang alam sêpi. Yen pinuju ngobong mayit, Sang Prabu uga karsa rawuh ngurmati.

    Kang mangkono iku wis dadi adate para raja ing jaman kuna. Mula kang dadi panyuwunku marang Dewa, muga Sang Prabu karsa yasa candhi kanggo pangobongan mayit, kaya adate Raja ing jaman kuna, amarga aku iki anak dhalang, aja suwe-suwe kaya mêmêdi, duwe rupa tanpa nyawa, bisaa mulih marang asale.

    Samuksane Sang Prabu Jayabaya, Patih Buta Locaya sarta Senapati Tunggulwulung, apa dene putrane Sang Prabu kang kêkasih Ni Mas Ratu Pagêdhongan, kabeh banjur padha andherek muksa.

    Buta Locaya banjur dadi ratuning dhêdhêmit ing Kêdhiri. Tunggulwulung ana ing gunung Kêlut, dene Ni Mas Ratu Pagêdhongan banjur dadi ratuning dhêdhêmit ana ing sagara kidul, asmane ratu Anginangin.

    Ana kêkasihe Sang Prabu Jayabaya, jênênge Kramatruna, nalika Sri Jayabaya durung muksa, Kramatruna didhawuhi ana ing sêndhang Kalasan. Sawise têlung atus taun, putrane Ratu ing Prambanan, kêkasih Lêmumbardadu iya Sang Pujaningrat, jumênêng Nata ana ing Kêdhiri, kadhatone ana sakuloning bangawan (3), kêdhi têgêse wong wadon kang ora anggarap sari, dene dhiri iku têgêse anggêp, kang paring jênêng iku Rêtna Dewi Kilisuci, dicocogake karo adate Sang Rêtna piyambak, amarga Sang Rêtna Dewi Kilisuci iku wadat, sarta ora anggarap sari. Dewi Kilisuci nyawabi nagarane, aja akeh gêtihe wong kang mêtu. Mula Kêdhiri iku diarani nagara wadon, yen nglurug pêrang akeh mênange, nanging yen dilurugi apês. Kang kêlumrah pambêkane wanita ing Kêdhiri iku gêdhe atine, amarga kasawaban pambêkane Sang Rêtna Dewi Kilisuci. Dene Rêtna Dewi Kilisuci iku sadhereke sêpuh Nata ing Jênggala. Sang Rêtna mau tapa ana ing guwa Selamangleng, sukune gunung Wilis.

    WUWUHAN KATÊRANGAN.

    Kanjeng Susuhunan Ampeldênta pêputra ratu Fatimah, patutan saka Nyai Agêng Bela. Ratu Fatimah krama oleh pangeran Ibrahim, ing Karang Kumuning Satilare Pangeran Karang Kumuning. Ratu Fatimah banjur tapa ana ing manyura, karo Pangeran Ibrahim Ratu Fatimah pêputra putri nama Nyai Agêng Malaka, katêmokake Raden Patah.

    Raden Patah (Raden Praba), putrane Prabu Brawijaya patutan saka putri Cêmpa kang katarimakake marang Arya Damar Adipati ing Palembang, barêng Raden Patah wis jumênêng Nata, jêjuluk Sultan Syah ‘Alam Akbar Siru’llah Kalifatu’lRasul Amiri’lMu’minin Rajudi’l’Abdu’l Hamid Kak, iya Sultan Adi Surya ‘Alam ing Bintara (Dêmak).

    Putri Cêmpa nama Aranawanti (Ratu Êmas) kagarwa Prabu Brawijaya, pêputra têlu: mathuk pikire, iya sida diêpek rabi, nanging yen ora cocog , iya ora sida laki-rabi.
    1. Putri nama Rêtna Pambayun, katrimakake marang Adipati Andayaningrat ing Pêngging, nalika jaman pambalelane nagara Bali marang Majapahit.
    2. Raden Arya Lêmbupêtêng Adipati ing Madura.
    3. Isih timur rêmên marang laku tapa, nama Raden Gugur, barêng muksa kasêbut nama Sunan Lawu.

    Panênggak Putri Cêmpa nama Pismanhawanti kagarwa putrane Jumadi’lKubra I, patutan saka ibu Sitti Fatimah Kamarumi, isih têdhake Kangjêng Nabi Mukammad, asma Maulana Ibrahim, dêdalêm ana ing Jeddah, banjur pindhah ing Cêmpa, dadi Imam ana ing Asmara tanah ing Cêmpa, banjur kasêbut nama Maulana Ibrahim Asmara, iku kang pêputra Susuhunan Ampeldênta Surabaya. Dene putra Cêmpa kang waruju kakung, nama Awastidab, wus manjing Islam, nyakabat marang maulana Ibrahim, jumênêng Raja Pandhita ing Cêmpa anggênteni ingkang rama, pêputra siji kakung kêkasih Raden Rachmat. Kang ibu putri Cêmpa (garwa Maulana Ibrahim), pêputra Sayid ‘Ali Rachmat, ngêjawa nama Susuhunan Katib ing Surabaya, dêdalêm ing Ampeldênta, kasêbut Susuhunan Ampeldênta. Cêmpa iku kutha karajan ing India buri (Indo china). Sayid Kramat kang kasêbut ing buku iki pêparabe Susuhunan ing Bonang (Sunan Benang).
    ………………………………………….
    Kitab Dharma Gandul telah diterbitkan di Surakarta Th 1959.
    Marilah kita sikapi dengan kearifan .
     
    Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
    Copyright © 2011. Agus Prasetyo - All Rights Reserved
    Template Created by Creating Website Published by Mas Template
    Proudly powered by Blogger