Headlines News :
Home » » Perilaku-perilaku perusak amal saleh

Perilaku-perilaku perusak amal saleh


Amal saleh itu dapat meningkatkan iman kita hingga dekat dengan Allah kalau kita lakukan dengan ikhlas (semata-mata karena Allah), karena ikhlas merupakan syarat diterimanya amal.
Rasulullah saw. Bersabda:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبَلُ مِنْ الْعَمَلِ إِلَّا مَا كَانَ لَهُ خَالِصًا وَابْتُغِيَ بِهِ وَجْهُهُ. رواه النسائى
Allah tidak menerima amalan, melainkan amalan yang khalis untuk-Nya dan yang dituntut dengannya keridaan Allah. (H.R.Nasaa'i).

Kalau kita menginginkan keikhlasan dengan mudah ketika beramal, hendaklah kita menempatkan diri pada kedudukan yang tidak membuat diri kita menjadi tersohor. Kalau kita beramal demi untuk mencari kemashuran, maka sia-sialah amal kita.
Kita dilarang Allah merusakkan amal sendiri dengan perilaku kufur, karena kufur dapat meleyapkan pahala amal saleh.
Selain perilaku kufur, perilaku lain yang dapat merusakkan amal saleh antara lain:
1. Amal yang disertai riya', yaitu melakukan sesuatu amal tidak untuk mencari keridhaan Allah akan tetapi untuk mencari pujian atau kemasyhuran di masyarakat.
قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ فَمَنْ عَمِلَ لِى عَمَلاً أَشْرَكَ فِيهِ غَيْرِى فَأَنَا مِنْهُ بَرِىءٌ وَهُوَ لِلَّذِى أَشْرَكَ . رواه ابن ماجه
Allah swt. berfirman: Aku (Allah) yang paling tidak perlu kepada sekutu; maka barangsiapa beramal sesuatu amalan, yang Aku dipersekutukan dengan selain-Ku, maka Aku terlepas daripada persekutuan itu dan amal yang dikerjakan itu bagi Dia yang Ia persekutukan. (H.Q.R.Ibnu Majah)

2. Amal yang disertai nifaq, yaitu amalan yang dilakukan semata-mata supaya dilihat orang dan batin/hati yang beramal tidak membenarkan amalan itu.
Allah swt. berfirman:

يَقُولُونَ بِأَفْواهِهِمْ مَا لَيْسَ فِي قُلُوبِهِمْ
Mereka mengatakan dengan mulutnya apa yang tidak terkandung dalam hatinya. (Q.S.Ali Imran:167).

3. Amal yang sisertai sum'ah, yaitu amalan yang diceritakan atau diperdengarkan kepada orang lain supaya orang lain simpati, memberikan perhatian, dan keistimewaan.
Rasulullah saw. Bersabda:
مَنْ سَمَعَ سَمَعَ اللهُ بِهِ وَمَنْ يُرَائِي يُرَائِي اللهُ بِهِ. رواه البخارى
Barangsiapa memperdengarkan jasa-jasanya, niscaya Allah memperdengarkan keburukan-keburukannya, dan barangsiapa memperlihat-lihatkan kebaikan-kebaikannya, niscaya Allah memperlihatkan kejelekan-kejelekannya. (H.R.Bukhari dan Muslim)

4. Amal yang disertai ujub (berbagga diri dengan amal yang dilakukan).
Amal saleh kita akan rusak manakala kita berperasan bahwa salat kita, puasa kita, zakat dan sedekah kita, tilawat Al-Qur'an kita, wirid kita, dzikir kita, dan do'a kita itu sudah cukup untuk melepaskan kita dari hukuman (adzab) Allah dan menutup segala dosa-dosa yang pernah kita lakukan. Lantaran itu kita merasa tidak akan memberatkan diri, bila kita mendengki, mendendam, mengumpat, dan menyakiti orang lain. Padahal kesalahan-kesalah (dosa-dosa) itu dapat meleyapkan segala amal saleh yang kita lakukan.
Rasulullah saw. Bersabda:
ثَلاثٌ مُهْلِكَاتٌ شُحٌّ مُطَاعٌ ، وَهَوًى مُتَّبَعٌ ، وَإِعْجَابُ الْمَرْءِ بنفْسِهِ .رواه الطبراني
Tiga perkara yang membinasakan, pertama, perangai kikir yang ditaati; kedua, hawa nafsu yang diikuti; ketiga, 'ujub kepada diri. (H.R.Tabrani).

5. Amal yang disertai takabur, (membangga-banggakan amal)
Bila kita punya perasaan bahwa amal saleh yang kita lakukan itu lebih banyak dan lebih baik dibandingkan dengan amal saleh yang dilakukan oleh orang lain, maka rusaklah amal saleh kita.
Pernahkan kita punya perasan bahwa salat kita lebih benar, puasa kita lebih sempurna, zakat dan sedekah kita lebih banyak, tilawat Al-Qur'an kita lebih tartil dan lebih bagus, wirid kita lebih banyak dan lain sebagainya. Jika pernah! Buang jauh-jauh dan jangan sampai terulang lagi, karena perasaan itu merupakan sifat takabur yang dapat melenyapkan pahala amal saleh kita.

Perlu diketahui! Bila di dalam jiwa kita bersemi penyakit ujub (berbangga diri) maka tumbuhlah dalam jiwa kita penyakit takabur (merasa besar diri). Apabila rasa takabur itu muncul dari berbagai gerak dan kelakuhan kita, maka kita disebut orang-orang mukhtal (sombong).
Apabila rasa takabur itu muncul dari ucapan-ucapan kita, maka kita disebut fakhur (membangga-banggakan diri).
Orang yang mukhtal dan fakhur, semuanya dibenci oleh Allah. Sebagaimana firman-Nya: Sebagaimana firman-Nya:
إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri. (Q.S.An-Nisaa':36)

Sebagai orang beriman, kita diperintah untuk ta’at kepada Allah dan ta’at kepada Rasul-Nya. Kita dilarang merusakkan pahala amal kita dengan perilaku sebagaimana di atas. Oleh karena itu jangan sia-siakan ketaatan kita kepada Allah dan Rasul-Nya, dengan berbagai macam dosa-dosa (maksiat).
Allah swt. berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَلَا تُبْطِلُوا أَعْمَالَكُمْ
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul dan janganlah kamu merusakkan (pahala) amal-amalmu. (Q.S.Muhammad:33).

Mudah-mudahan kita tidak termasuk orang-orang yang merusakkan amal salehnya sendiri.
Share this post :
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Agus Prasetyo - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger